Ratih usul Jumat sore: 'Enam orang, bukan dua belas. Workshop kecil prenup literacy. Teman istri klien Wijaya, bukan orbit Mahesa. Aku filter nama. Kamu yang isi. Jam dua sampai empat, lalu kunci. Tidak ada media. Tidak ada foto.'
Anisa diam di telepon. Dua belas dulu di dapur adalah bayangan. Enam adalah nyata. 'Syarat: bukan yang datang karena headline. Bukan yang minta cerita gala. Modul fiktif. Nama saya Anisa Rahmawati, konsultan, titik.'
'Setuju,' kata Ratih. 'Aku yang jaga pintu. Kalau ada yang nyimpang ke gosip, aku potong.'
Jumat jam dua — enam kursi tamu, dua tambahan sewa dari warung, Anisa tidak beli. Enam perempuan, umur campur, draf di pangkuan atau tangan kosong yang mau belajar sebelum ada draf. Ratih duduk dekat pintu, bukan di meja Anisa. Anisa buka: 'Ini bukan seminar dendam. Ini dua belas klausul yang sering dilompati. Saya tidak mewakili siapa pun di pengadilan. Kalau Ibu mau perang, itu pengacara lain.'
Tidak ada yang berdiri pergi. Bagus. Ia jalan klausul satu sampai empat pelan, bahasa awam, kotak di kertas. Seseorang tanya soal mertua dan saham. Anisa jawab kerangka, bukan kisah ibu Damar. Nama itu tidak masuk ruangan. Klausul lima sampai delapan. Istirahat teh lima menit. Enam gelas, sendok beradu, bisik yang bukan gosip — orang bandingkan draf masing-masing tanpa menyebut suami. Anisa tidak ikut bisik. Ia isi teko. Klausul sembilan sampai dua belas. Jam tiga empat puluh. Tanya. Seorang perempuan, pelan: 'Ibu pernah cap tanpa baca?'
Anisa napas. Ratih menegang di pintu. Anisa: 'Pernah. Itu alasan saya duduk di sini. Bukan alasan Ibu harus dengar kisah saya. Alasan Ibu baca kertas Ibu.'
Perempuan itu angguk. Tidak memojokkan. Sesi tutup jam empat kurang lima. Fee workshop masuk PT, dibagi rata per orang, tarif rendah sengaja. Ratih bantu bereskan kursi. Anisa kunci, lap papan. Tangan lelah, bukan gemetar. Di trotoar, mahasiswa lewat, tidak menoleh ke papan. Enam perempuan pergi ke angkot dan ojek, draf di tas, bukan bunga, bukan foto. Anisa hitung itu sukses: tidak ada yang viral, ada yang pulang dengan daftar. Sukses yang tidak bisa dijual ke redaksi, justru yang ia mau.
'Utuh,' kata Ratih di trotoar, lalu tertawa. 'Kata itu lagi. Maaf. Maksudku: kamu tidak pecah waktu ditanya.'
'Laras tidak naik,' kata Anisa. 'Itu yang saya ukur. Suara saya. Bukan suara rendah sandiwara.'
Ratih angguk. 'Enam kursi cukup. Jangan jadi dua belas bulan ini. Tubuh.'
'Enam,' ulang Anisa. 'Bukan dua belas.'
Malam Jumat Tebet, ia mandi lama, bahu workshop beda dengan bahu sidang: capek bicara, bukan capek diam. Ia makan, cuci, tidak buka vault. Tidur lima jam empat puluh. Mimpi koridor sebentar, bangun, air, tidur lagi. Mimpi tidak dapat kursi workshop. Pukul tiga ia duduk di tepi kasur, hitung napas empat-empat, bukan untuk sidang, untuk tidur. Pagi Sabtu tubuh ada. Capek sah. Ia tidak mengisi Sabtu dengan klien. Batas tubuh adalah bagian firma, bukan musuh firma.
Sabtu Anisa tidak buka ruko. Taman, dua puluh menit, knalpot. Minggu jemur. Satu peserta workshop kirim email ucapan terima kasih panjang; Anisa balas dua kalimat: terima kasih, pintu ruko untuk sesi individu jika draf ada. Tidak jadi grup WhatsApp. Grup adalah orbit baru. Ia tolak orbit meski hangat. Email panjang ia archive, tidak print, tidak tempel. Hangat tidak wajib jadi altar. Hangat cukup jadi dua kalimat.
Senin administrasi: pembukuan workshop, pajak sederhana dicatat, Mira tidak terlibat. Dinding. Sore Anisa ke bank cabang, urus administrasi PT, petugas panggil 'Ibu Anisa Rahmawati', ia jawab 'Ya' tanpa jeda. Dulu nama itu terasa pinjaman. Sekarang cap di kuitansi, cap di lidah. Utuh di antrian bank adalah utuh yang tidak puitis dan justru yang ia percaya. Antrian panjang, AC rusak, anak rewel di belakang. Anisa tidak minta dilayani lebih dulu. Nyonya dulu kadang dilayani lebih dulu karena nama suami. Anisa antri sampai nomornya. Formulir, cap, terima kasih. Keluar, napas, panas Jakarta. Nama yang dijawab tanpa jeda tahan panas.
Selasa klien individu, draf, sembilan puluh menit. Ia pakai modul yang sama dengan Jumat, lebih dalam. Jam empat kunci. Atap sudah ditambal Pak Dedi, noda memudar. Ember disimpan. Masalah biasa selesai seperti masalah biasa: bayar, selesai, tidak jadi metafora wajib.
Rabu Ratih: 'Ada yang minta wawancara "konsultan pasca-gala". Aku tolak atas namamu. Kamu tidak perlu balas.' Anisa: 'Tolak. Terima kasih.' Tidak victory tour. Hidup biasa termasuk menolak jadi narasumber luka. Ratih tambah: 'Mereka tawar honor. Aku bilang tidak ada harga.' Anisa: 'Tidak ada harga. Luka bukan paket.' Ratih: 'Aku simpan email ditolak, kalau suatu saat ada yang bilang kamu menghindar. Menghindar dari panggung adalah pekerjaan, bukan takut.' Anisa angguk. Archive di kepala, bukan di folder dendam.
Kamis Anisa beli blus baru di pasar, bukan mall. Murah, rapi. Ganti blus sidang yang masih di gantungan. Blus sidang ia lipat, masuk kotak atas lemari, bukan buang, bukan pakai. Kotak itu bukan altar. Kotak itu musim. Ia tulis di buku:
*Enam kursi. Suara saya. Nama di bank tanpa jeda. Wawancara ditolak. Blus sidang dilipat. Tidak temu. Tidak teras.*
Jumat lap papan, pulang, masak. Hari tidak meledak lagi. Dua minggu berturut-turut. Anisa tidak percaya sepenuhnya; tubuh masih siaga. Siaga yang tidak kebagian krisis mulai berubah jadi siaga kosong. Kosong ini beda dengan kosong after win dulu. Kosong ini diisi jam, modul, enam kursi, nasi. Ia terima. Belum menamai damai. Utuh cukup. Malam itu ia cuci blus baru, jemur di kamar, bau sabun, bukan parfum acara. Bau kerja. Ia tidur. Tidak ke Menteng. Tidak buka wig. Enam kursi kemarin masih di otot punggung, capek yang sah, capek yang boleh dibayar dengan tidur, bukan dengan balasan surat.