Senin administrasi — Anisa buka ruko pukul sembilan, buku tulis, kuitansi, galon. Tidak ada sidang. Tidak ada notaris. Tidak ada undangan kafe. Ada tagihan listrik yang naik sedikit, ada tinta yang hampir habis, ada papan yang berdebu. Ia lap, catat, transfer sewa. Firma bulan keempat. Sewa tertutup. Gaji direktur tetap hemat. Jujur di angka. Jendela terbuka, knalpot, anak les privat membaca rumus. Hari yang tidak meledak. Itu yang ia kejar tanpa mengumumkannya.
Ratih SMS: 'Media nol. Aku berhenti kirim filter kecuali ada nama kamu. Hidup biasa, ya?' Anisa: 'Biasa. Jam empat kunci.' Tidak emoji. Cukup.
Selasa klien lama Ika WA: addendum tidak muncul. 'Saya cuma mau kabar. Boleh?' Anisa: 'Kabar diterima. Sesi tidak wajib. Kalau kertas baru, janji.' Ika: 'Tidak ada kertas. Terima kasih jam empat dulu.' Anisa senyum di kursi kosong. Batas yang dihormati orang lain adalah bukti batas itu hidup.
Sore — klien baru, calon istri, datang sendiri, draf sedang, sembilan puluh menit, fee, kuitansi. Nama tidak perlu jadi cerita. Anisa baca, tandai, rujuk notaris. Suara rata. Tidak selubung. Tidak Laras. Blus kerja, kacamata baca minus ringan, rambut diikat. Orang di seberang tidak tahu gala. Itu hadiah yang tidak ia minta, lalu ia jaga: tidak menceritakan panggung supaya sesi terasa penting. Calon istri tanya klausul denda, Anisa ulangi dua kali tanpa naik nada. Di luar, klakson. Di dalam, pena klien yang menulis. Firma hidup dari ulang yang sabar, bukan dari cerita yang heboh. Setelah pintu tutup Anisa cuci dua gelas, keringkan, taruh. Rapikan adalah cara baru menghormati nama di papan, sama seperti dulu, masih benar.
Rabu pecel dengan Ratih dua puluh menit. Ratih sengaja cerita klien audit yang membosankan. Anisa dengar. Tidak bandingkan Sudirman. 'Kamu utuh kelihatan,' kata Ratih, lalu segera: 'Maksudku: tidak pecah di wajah. Bukan pujian sinetron.' Anisa: 'Utuh adalah tidak pecah di jam kerja. Malam masih kadang pecah kecil. Cukup.' Ratih tidak mengorek malam. Persahabatan hold. Mereka bagi pisang goreng, minyak di jari, tisu. Anisa pulang jalan kaki lima menit ke angkot, tidak pesan taksi. Ongkos biasa. Wajah tidak pecah di kaca angkot. Itu ukuran yang Ratih maksud, dan Anisa terima tanpa pidato.
Kamis hujan. Atap ruko tetes di pojok rak. Anisa taruh ember, SMS Pak Dedi, tunggu. Tetes, ember, bunyi. Masalah biasa. Bukan krisis dewan. Ia pindahkan map klien ke meja tengah, jauh dari air, satu per satu, label inisial tetap tersembunyi. Kerja tangan, lutut di lantai, bukan pose. Pak Dedi datang sore, naik tangga, tambal sementara, janji tukang atap minggu depan. Anisa bayar dari PT, kuitansi. Punggung pegal karena pindahkan rak. Nyonya tidak pindahkan rak. Direktur pindahkan. Pegal milik sendiri, tidak ditagih ke siapa pun. Pak Dedi turun, cuci tangan di wastafel kecil, 'Hujan tahun ini nakal, Bu.' Anisa: 'Nakal masih bisa ditambal.' Mereka angguk. Kalimat tukang lebih berguna daripada kalimat dewan.
Jumat jam empat kunci, lap papan meski hujan, huruf advisory basah debu. Pulang angkot, berdiri, pegangan. Tebet, masak, cuci. Mira tidak kirim docket. Mira kirim satu baris bulan ini: *Tidak ada langkah. Vault antri. Senin pertama seperti biasa.* Anisa: *Baik.* Ia masak tahu goreng, tidak sempurna, makan. Hari tidak meledak sampai malam. Itu kemenangan yang tidak ia umumkan.
Malam Jumat bukan Senin pertama. Ia tidak buka PDF lama. Aturan dihormati. Tidur lima jam lima puluh. Insomnia turun. Tubuh belajar bosan. Bosan bukan penghinaan. Bosan adalah atap yang hanya tetes, bukan atap yang runtuh.
Sabtu pasar: sayur, tahu, beras. Anisa tawar pelan, bukan dramatis. Tukang sayur tidak kenal Mahesa. Ia belanja seperti orang yang makan malamnya sendiri. Kantong plastik putus, tahu hampir jatuh, ia tertawa pendek, minta kantong kedua. Lucu kecil, bukan simbol. Minggu jemur, tetangga sapa, 'Cuaca bagus, Bu.' 'Bagus.' Dua kata. Dunia tidak minta klarifikasi prenup. Sprei kering, lipat, taruh lemari. Gerakan rumah yang dulu dikerjakan staf Menteng, sekarang dikerjakan tangan yang sama dengan yang stempel kuitansi. Lingkaran kecil, jujur, milik sendiri.
Senin pertama bulan itu — salinan envelope keempat. Anisa baca di dapur, kopi, lampu. Damar pendek. Tidak ada alamat. Tidak ada kafe. Tidak ada teras. Ia tulis kerja kepatuhan, satu kalimat maaf yang tidak diulang seperti mantra, satu kalimat: 'Saya tidak menunggu balasan.' Anisa tutup file. Nol. Tidak mengarang balasan. Cuci cangkir. Titik sampai bulan depan. Kopi pahit, ia minum sampai habis, tidak buang. Tidak ada altar. Ada aturan yang dihormati termasuk ketika isi surat tidak menyakitkan. Surat yang tidak menyakitkan justru godaan untuk membalas ramah. Ramah adalah jembatan. Ia tidak bangun jembatan malam itu.
Selasa ruko lagi. Ember sudah kering. Atap belum permanen. Ia kerja di bawah noda basah yang memudar. Noda itu tidak simbolis kecuali orang memaksa. Anisa tidak memaksa. Noda adalah noda. Klien adalah klien. Surat adalah surat di rumah.
Sore Rina Salim kirim WA: rekening pecah selesai, terima kasih, tidak perlu sesi. Anisa archive. Map Rina tutup. Rak tidak kosong; map lain menunggu. Hidup biasa firma: orang selesai, orang datang, jam empat.
Malam Selasa buku catatan:
*Hari tidak meledak. Atap tetes. Surat empat: tidak menunggu balasan. Nol temu maintain. Utuh di jam kerja. Malam masih latihan.*
Tidur enam jam kurang sepuluh — hampir enam, pertama kali sejak Room 4C jadi kebiasaan. Anisa bangun, heran sebentar, lalu masak air. Tidak rayakan. Enam jam bukan kemenangan. Enam jam izin. Pintu Menteng tidak dibuka. Pintu ruko dibuka. Anisa Rahmawati utuh cukup untuk hari yang tidak meledak, dan itu agenda satu-satunya minggu ini. Di kereta ia pegang tas, tidak pegang ponsel. Wajah di kaca tidak pecah. Hari biasa menumpuk sampai jadi lantai. Lantai belum diberi nama damai. Lantai sudah bisa diinjak. Itu beda, dan itu cukup.