Senin pertama bulan itu — salinan envelope tiga masuk email, sesuai antri, sesuai aturan. Anisa baca di Tebet malam, bukan siang ruko. Kopi. Lampu. PDF.
Damar menulis lebih hati-hati. Ia sebut sudah terima protokol Mira. Ia tidak marah di kertas. Ia coret alamat kafe di salinan yang sama — Mira lampirkan catatan: 'halaman akhir dihapus pengirim, diganti satu kalimat.' Kalimat itu: 'Saya tidak menunggu di tempat mana pun. Saya hanya menulis. Kalau suatu hari Ibu yang pilih tempat, itu hak Ibu. Kalau tidak, surat ini cukup.'
Anisa duduk lama. Bukan euforia. Bukan kemenangan kedua. Ada lega yang tidak ia rayakan: ia tidak harus menolak tatap muka di meja kafe, karena tatap muka sudah dicabut pengirim setelah protokol. Batas sampai. Dua arah, terlambat, tapi sampai. Ia ingat gala, tiga ratus tamu, selubung terbuka. Dulu Damar mematung. Sekarang Damar menulis kalimat pendek dan mencoret alamat. Bukan penebusan penuh. Cukup sebagai bukti ia dengar protokol. Anisa tidak mengirim bunga. Tidak mengirim satu baris. Dengar dua arah tidak wajib jadi percakapan.
Ia tidak balas. Nol tetap nol. Lega bukan tiket menulis 'terima kasih'. Terima kasih adalah jembatan kecil. Ia tulis di buku, bukan di email:
*Envelope tiga. Kafe dicoret pengirim. Surat cukup, katanya. Saya tetap nol. Tidak pilih tempat. Tidak suatu hari malam ini.*
Tidur lima jam lima puluh. Pagi Selasa ruko, lap papan, klien baru: calon istri yang datang bersama kakak perempuan, draf tebal, sesi dua jam, fee, jam empat kurang sepuluh kunci. Suara Anisa rata. PDF semalam tidak bocor ke modul. Dinding. Kakak calon istri tanya di akhir, 'Ibu yakin kami tidak perlu pengacara hari ini?' Anisa: 'Hari ini baca. Pengacara kalau Ibu mau cap atau tolak. Saya rujuk nama, bukan saya.' Mereka pergi dengan daftar. Anisa cuci gelas, keringkan. Kerja selesai pada jam, bukan pada perasaan semalam.
Rabu Ratih pecel: 'Sudah baca yang ada kafe?' Anisa: 'Kafe dicoret. Dia bilang surat cukup. Saya tidak balas.' Ratih: 'Batas cukup untuk hidup biasa?' Anisa: 'Hidup biasa mulai. Surat masih datang. Saya masih baca bulanannya. Tidak temu. Cukup.'
Ratih senyum. 'Cukup. Saya berhenti tanya Menteng.'
'Berhenti,' kata Anisa.
Mereka makan pecel sampai piring bersih. Ratih cerita klien Wijaya yang membosankan, sengaja, hadiah. Anisa dengar, angguk, tidak bandingkan dengan Damar. Percakapan sahabat yang tidak mengorbit perkara. Itu juga dinding. Pulang, Anisa beli galon di warung ruko, angkut sendiri, taruh pojok. Berat. Nyonya dulu tidak angkut galon. Direktur Rahmawati Consulting angkut. Punggung pegal, jujur, milik sendiri.
Kamis pembukuan: bulan ketiga firma, sewa tertutup, sisa kecil untuk tinta dan galon, bukan gaji mewah. Anisa tidak naikkan tarif. Pact Ratih: jangan gila. Ia bayar dirinya transfer PT ke pribadi, nominal hemat, tercatat. Kerja dengan namanya, makan dari namanya, bukan dari dendam, bukan dari escrow yang sudah ditutup folder. Ia tulis di buku PT: gaji direktur — hemat. Tertawa kecil sendiri. Direktur ruko cat krem. Cukup. Malam itu beli sayur pasar, bukan katering. Masak, makan, cuci. Nama di rekening pribadi menerima gaji dari nama di akta. Lingkaran yang dulu putus ketika ia jadi istri di rumah. Lingkaran kembali, kecil, jujur.
Jumat Anisa tutup ruko, lap papan, berdiri di seberang jalan. Huruf advisory masih sopan. Tidak ada yang menoleh. Ia menoleh, sekali, lalu pulang Tebet. Angkot penuh, berdiri, pegangan kotor, hidup biasa yang dulu ia kira hukuman. Bukan hukuman. Ongkos pulang. Malam itu ia rapihkan sticky note kulkas, lepas yang usang, sisakan tiga:
*Jam Selasa–Jumat.*
*Surat: Senin pertama, baca, nol balas, nol temu.*
*Nama: Anisa Rahmawati.*
Mira weekend brief: *Perkara: folder tutup. Vault: antri bulanan jalan. Protokol temu: tetap nol. Tidak ada langkah hukum baru. Ibu boleh hidup tanpa docket.* Anisa: *Saya hidup dengan jam ruko. Terima kasih dinding.* Ia archive email, tutup laptop, tidak scroll nama Damar. Dinding digital. Ponsel lock sembilan malam. Ritual lama yang sekarang isinya bukan waspada media, isi istirahat. Beda alasan, sama otot, sama jam.
Sabtu taman, bukan Menteng. Minggu jemur. Tetangga tidak tanya les. Anisa masak, cuci, tidur siang dua puluh menit — pertama kali siang, tubuh izinkan. Bukan sembuh total. Izin kecil. Bangun dari tidur siang, ia bingung detik, lalu ingat: bukan sidang, bukan gala, Sabtu. Jantung turun. Ia minum air di wastafel. Tubuh masih belajar aman. Firma tidak butuh tubuh yang sempurna; tubuh butuh jam yang sama berulang sampai waspada bosan. Bosan adalah tujuan yang dulu tidak ia impikan.
Malam minggu buku catatan penutup:
*Ritme kerja ada. Damai belum dinamai, terasa di bahu. Surat bulanan: tiga terbaca, sisanya antri. Batas temu dikirim, diterima, kafe dicoret. Tidak teras. Tidak reunion. Tidak maaf diri penuh malam ini. Pintu suatu hari tidak dibuka. Firma berdiri. Klien istri dan calon istri jalan. Damar di kejauhan, di PDF, bukan di kursi tamu.*
Ia tutup buku, taruh laci. Titik. Bukan penutup hidup. Penutup undangan malam ini.
Yang ada minggu depan: jam, modul, Senin pertama, nol temu. Undangan sudah lewat dan dicabut. Keputusan batas sudah terkirim. Anisa tidak memilih tempat. Anisa memilih kerja.
Pintu Rawamangun akan buka Senin administrasi. Pintu Menteng tidak. Surat keempat akan antri. Anisa tidak menulis balasan di kepala. Keran ditutup. Lampu dapur padam. Nama di papan dan di akta dan di kulkas sama. Itu cukup untuk menutup bulan, bukan untuk menutup hidup. Hidup tanpa selubung lanjut, biasa, tanpa pita, tanpa kafe, tanpa teras. Ia taruh kunci ruko di laci, di samping map cokelat akta, jauh dari laptop tempat PDF. Dua kunci, dua dunia, satu perempuan. Anisa Rahmawati tidur tanpa lock ponsel sebelum sembilan. Bukan euforia. Izin. Besok kerja. Bukan temu. Bukan suatu hari. Hari Senin.