Rabu — Mira telepon, bukan email. 'Envelope tiga datang lebih cepat. Bukan bulanannya. Saya tahan sesuai aturan Ibu: antri Senin pertama. Tapi saya perlu sebut satu hal tanpa baca utuh ke Ibu sekarang: di halaman akhir ada alamat kafe di Menteng, bukan teras rumah, tanggal kosong, tulis tangan "kalau suatu saat". Saya tidak anggap janji. Saya anggap tercatat. Ibu tetap baca di Senin pertama, bukan hari ini.'
Anisa berdiri di ruko, klien tidak ada, AC bunyi. 'Tahan. Senin pertama. Jangan kirim sekarang. Kafe Menteng bukan netral bagi saya. Teras lebih buruk. Kafe itu koridor lama.'
Mira: 'Saya tidak kirim. Saya catat keberatan lokasi. Kalau Ibu mau, saya bisa balas administratif ke counsel Damar: korespondensi lewat saya, tidak ada pertemuan, lokasi apa pun. Itu bukan balasan hati. Itu protokol.'
Anisa diam lima detik. 'Tulis protokol. Tidak ada pertemuan. Lokasi apa pun. Surat boleh antri bulanan. Saya yang baca. Saya yang tidak datang.'
Mira: 'Saya kirim protokol hari ini. Counsel lawan sudah biasa. Tidak perlu Ibu tanda tangan publik.'
'Kirim,' kata Anisa. 'Saya tidak ke kafe. Saya tidak ke teras. Saya tidak ke Sudirman.' Setelah tutup telepon, ia duduk, taruh ponsel jauh dari tepi meja. Tangan dingin. Bukan takut Damar. Takut kaki sendiri yang dulu terlatih datang ketika dipanggil. Protokol adalah tali di kaki itu, ditulis orang lain, dikehendaki dia. Ia minum air, napas Room 4C, lalu buka modul Bu Tati karena jam kerja belum empat. Perhatian kembali ke kotak warisan orang lain. Itu latihan: undangan tidak merampas sesi.
Sore itu Ratih dapat tembusan protokol karena Anisa minta satu orang tahu. Ratih WA: 'Ini keputusan batas, bukan drama. Proud, dalam bahasa yang kamu benci. Saya pakai: rapi.'
Anisa di pecel: 'Rapi. Kafe Menteng itu jebakan halus — bukan rumah, jadi seolah netral. Masih kotanya dia, masih jarak ke teras.'
'Kamu tidak wajib netral,' kata Ratih. 'Kamu wajib aman. Rawamangun aman. Tebet aman. Menteng belum.'
Kamis Bu Tati selesai. Jumat klien baru batal. Anisa tetap buka, tulis modul klausul lokasi pertemuan di kepala — bukan untuk klien, untuk dirinya: tempat netral harus benar-benar di luar peta lama. Belum perlu. Protokol sudah. Ia sapu lantai ruko, buang debu ke tempat sampah depan, sapa Pak Dedi yang lewat bawa tangga. 'Kantor masih baca kontrak, Bu?' 'Masih.' Pak Dedi: 'Orang butuh itu.' Anisa senyum kecil. Orang butuh itu. Bukan orang butuh reunion. Ia kembali ke meja, print kuitansi kosong cadangan, stempel tes di kertas buram. Stempel jalan. Nama jalan.
Senin pertama belum tiba; Anisa menepati tidak mengintip envelope tiga. Aturan berlaku saat ingin dilanggar. Ia kerja, lap papan, terima fee sisa Rina yang telat tiga hari, tidak marah. Pembukuan: sewa hampir tertutup fee. Defisit menipis. Jujur.
Malam Kamis ia mimpi koridor Sudirman, bangun, minum air, tidak buka laptop. Mimpi bukan undangan. Mimpi adalah utang tubuh. Ia catat: *tubuh masih ingat gedung. Tidak berarti kaki harus ke kafe.* Duduk di tepi kasur, lampu koridor apartemen bocor di bawah pintu, biasa. Ia hitung napas empat-empat seperti dulu sebelum masuk 4C. Bukan untuk sidang. Untuk tidur lagi. Pukul tiga lebih, mata tutup. Pagi ruko tetap. Mimpi tidak dapat kursi tamu.
Jumat Ratih: 'Media nol. Rania clip mati. Kamu boleh hidup membosankan.' Anisa: 'Membosankan bagus.' Mereka tidak toast. Mereka bagi pisang goreng. Ratih tambah, pelan: 'Ibu Damar diam di berita. Bagus juga. Kamu tidak perlu tahu lebih.' Anisa: 'Tidak perlu. Aset sudah di jalurnya. Saya tidak urus mertua.' Pisang goreng habis. Minyak di jari, tisu. Hidup membosankan berbau goreng, bukan parfum ballroom. Anisa cuci tangan di wastafel warung, kembali ke ruko, kunci. Sore Jumat tanpa krisis. Ia catat di buku ruko: *hari biasa*. Dua kata. Mahal.
Sabtu Anisa ke kampus lama berjalan kaki dari ruko, tidak masuk gerbang, hanya lihat pohon. Dulu ia mahasiswa yang percaya kerja keras cukup. Lalu ia istri yang percaya cinta cukup. Sekarang ia konsultan yang percaya klausul harus dibaca. Tiga kepercayaan, hanya yang ketiga yang ia jual. Yang pertama ia pakai diam-diam. Yang kedua ia simpan di vault, tidak dijual, tidak dibalas. Seorang mahasiswa lewat, tas berat, wajah cemas ujian. Anisa tidak menasihati. Ia bukan dosen. Ia orang yang pernah cap buta. Pohon sama, orang beda. Ia pulang Tebet naik angkot, bayar pas, tidak pesan taksi seperti Nyonya. Hidup tanpa selubung juga soal ongkos.
Minggu Mira konfirmasi: *Protokol diterima counsel Damar. Tidak ada keberatan tertulis. Envelope tiga tetap antri Senin pertama bulan depan. Folder perkara tetap tutup.* Anisa: *Terima kasih. Nol temu maintain.* Ia print konfirmasi, masuk laci envelope stamped, bukan map klien. Bukti batas, bukan bukti cinta. Ratih SMS: 'Diterima?' Anisa: 'Diterima. Saya tidak datang.' Ratih kirim stiker anggukan, lalu diam. Diam sahabat lebih mahal daripada nasihat.
Sticky note kulkas:
*Tidak ada pertemuan. Lokasi apa pun. Surat bulanan boleh. Kafe Menteng = bukan netral. Teras = tidak.*
Anisa tidur lima jam empat puluh. Insomnia stabil. Keputusan batas tertulis di dua kantor: Mira dan kulkas. Damar boleh menulis tiap bulan. Anisa boleh tidak datang seumur hidup. Itu bukan kejam. Itu jam yang dihormati, versi surat. Sebelum tidur ia baca ulang draf protokol yang Mira tembuskan, satu halaman, bahasa kering. Tidak ada kata maaf. Tidak ada kata cinta. Ada: tidak ada pertemuan. Itu kalimat yang ia butuhkan dari sistem, bukan dari hati. Hati boleh ramai. Sistem harus sepi.
Pintu Rawamangun Senin akan buka untuk pembukuan. Pintu kafe tidak. Pintu teras tidak. Anisa Rahmawati pilih tempat: dapur baca, ruko kerja, bukan Menteng. Tempat yang tidak dipilih tetap tercatat, supaya tidak mengganggu seperti hantu yang belum dinamai. Ia padam lampu dapur. Cukup.