Selasa sampai Jumat berikutnya berjalan tanpa kejadian yang pantas jadi headline. Itu poinnya. Rina selesai di bank, kirim WA 'rekening pecah, terima kasih daftar'. Lina cap prenup, kirim bunga kecil ke ruko — Anisa tolak bunga di WA, 'cukup kabar, bunga kasih ke orang lain'. Lina tertawa di teks, 'Oke. Ibu aneh. Anomali bagus.' Dewi undur diri setelah keluarga setuju revisi, tidak perlu sesi dua. Ika diam, yang artinya tidak ada addendum baru.
Anisa tetap buka ruko. Modul. Pembukuan. Lap papan. Klien kelima: ibu rumah tangga yang suaminya mau wariskan PT ke anak dari istri pertama, ia minta paham posisi, bukan minta perang. Nama Bu Tati. Dua jam, gambar kotak, rujuk notaris waris, bukan Mira. Mira perkara Anisa, bukan perkara Tati. Dinding antar klien juga. Bu Tati bawa kotak kue, Anisa tolak pelan: 'Fee sudah cukup. Kue bikin batas kabur.' Bu Tati mengangguk, simpan kotak. Hormat dua arah: Anisa tidak jadi ibu penghibur, klien tidak jadi anak asuh. Kursi tamu tetap kursi kerja.
Ratih: 'Ini dia. Damai praktik. Kamu bosan belum?'
Anisa di warung pecel: 'Belum damai. Sudah tidak siaga seperti 4C. Bosan belum. Berguna masih aneh di tubuh. Tubuh ingat perang lebih mudah daripada ingat jam empat.'
'Itu normal,' kata Ratih. 'Jangan cari krisis supaya terasa hidup. Krisis sudah cukup seumur hidup.'
Anisa angguk. Ia tidak mencari Damar di berita. Filter media Ratih: sepi, kadang sidebar audit selesai, nama Anisa jarang. Greedy wife hampir mati. Correction dulu sudah cukup. Ia tidak victory tour. Di pecel, mahasiswa di meja sebelah bahas skripsi; Anisa dengar tanpa ikut. Dunia kampus jalan tanpa dia. Firma jalan tanpa headline. Ratih bayar pecelnya sendiri, Anisa sendiri — kebiasaan baru, bukan pelit, batas uang sahabat. 'Kamu jangan treat aku terus,' kata Anisa. Ratih: 'Oke. Kita orang dewasa yang baca kontrak.' Mereka ketawa pendek. Ketawa itu tidak menghapus enam surat. Ketawa itu mengisi siang.
Minggu itu fase tiga kertas Mira: folder distribusi ditutup administratif, sisa eksekusi bank yang tidak butuh Anisa di ruangan. Mira: 'Ibu boleh tidak datang. Saya tutup folder, copy ke Ibu.' Anisa terima PDF folder, archive, tidak rayakan. Menang kertas sudah lama. Tutup folder adalah rapikan, bukan pesta. Ia print satu lembar ringkasan penutup, masuk envelope stamped lama di laci Tebet — tumpuk perkara yang selesai, terpisah dari map cokelat akta PT. Jari tidak gemetar. Ia taruh laci, tutup. Selesai administratif tidak menghapus tiga tahun. Selesai administratif menghapus kewajiban datang ke 4C. Itu cukup untuk bahu.
Senin pertama bulan baru — salinan envelope kedua masuk email Tebet. Anisa baca malam, dapur, kopi. Damar lebih pendek. Ia cerita kerja kepatuhan yang membosankan, bukan pujian pada diri. Ia tidak sebut Rania. Ia tidak sebut Laras. Ia tulis: 'Saya kirim sebulan sekali supaya tidak menumpuk jadi teriakan. Ibu tidak wajib baca. Ibu tidak wajib balas. Kalau suatu saat Ibu mau bicara di tempat netral, bukan rumah dulu, saya datang. Kalau tidak pernah, saya tetap kirim sampai Ibu minta berhenti.' Tulisan rapi, tidak ada coretan. Anisa bayangkan Damar di meja bukan CEO, meja orang nonaktif yang belajar kalimat pendek. Ia tidak wajib membayangkan. Ia tutup bayangan bersama file.
Anisa tutup file. Kalimat tempat netral ia tandai di buku, bukan di balasan.
*Undangan netral tercatat. Tidak disetujui. Tidak ditolak keras. Antri di aturan: anggap tercatat.*
Tidur lima jam tiga puluh. Tidak ke Menteng. Tidak cari alamat netral. Ruko Selasa tetap buka.
Bu Tati sesi dua, membawa anak tiri yang sopan, bukan drama sinetron. Anisa jelaskan batas: ia bukan mediator keluarga, ia penerjemah kertas. Anak tiri mengangguk, Bu Tati capek, fee lunas. Anisa kunci jam empat kurang lima. Hormat jam adalah damai yang belum ia namai damai — Ratih yang suka nama itu. Anisa masih bilang: berguna. Anak tiri sempat tanya di pintu, 'Tante Anisa kenal kasus besar itu?' Anisa: 'Saya kenal kertas Ibu. Itu saja.' Pintu tutup. Headline tidak diundang masuk meski sudah menunggu di lidah orang. Dinding juga untuk rasa ingin tahu yang sopan.
Jumat malam sticky note tambahan:
*Folder perkara tutup administratif. Surat dua. Undangan netral tercatat. Kerja lima klien. Tidak temu.*
Sabtu Anisa masak sayur sendiri, bukan karena pulih sempurna, karena lapar biasa. Normal yang dulu mewah. Minggu jemur, tetangga tanya 'Bu Anisa buka les?' — salah alamat papan, sudah biasa. 'Bukan les. Baca kontrak.' Tetangga: 'Oh.' Selesai. Dunia tidak meledak. Anisa angkat tangan, masuk, rebus air. Teh. Tidak ada sidang Senin. Tidak ada notaris. Ada jam ruko dan satu undangan yang tidak diisi tanggal. Ia biarkan tanggal kosong tetap kosong. Mengisi tanggal adalah datang. Kosong adalah tinggal.
Ratih call: 'Undangan netral?' Anisa: 'Tercatat. Tidak datang.' Ratih: 'Bagus. Jangan datang karena rasa bersalah sudah baca. Baca bukan tiket dia. Baca tiket kamu: tahu isi, pilih nol.'
Anisa: 'Nol.'
Ratih diam sebentar di telepon. 'Kalau suatu hari kamu mau berhenti baca juga, itu boleh. Aturan boleh diubah ke nol baca. Bukan kewajiban pada dia.'
'Belum,' kata Anisa. 'Saya masih mau tahu isi supaya tidak dikarang di kepala. Karangan lebih berbahaya daripada PDF.'
'Oke,' kata Ratih. 'PDF. Dapur. Bukan kafe.'
Parallel Damar kirim, Anisa baca bulanan, ruko tidak kena percikan. Damai praktik terasa di tubuh sebagai bahu yang tidak naik tiap dering telepon. Telepon ruko adalah klien, bukan suami. Itu dinding yang berhasil. Belum teras. Belum maaf diri penuh. Belum 'suatu hari'. Cukup untuk bulan ini: jam, modul, dua PDF, nol balas, undangan netral yang tidak diisi tanggal. Malam itu Anisa setrika blus kerja, gerakan rumah tangga biasa, uap, kain. Selubung dulu adalah wig dan suara. Sekarang selubung yang ditolak adalah drama yang dipaksa masuk ke hari Selasa. Blus rata, gantung, siap jam sembilan.