Jumat minggu itu — telepon ruko berbunyi pertama kali dari nomor tidak dikenal. Anisa angkat: 'Rahmawati Consulting, Anisa.' Perempuan di seberang, suara hati-hati: 'Nama saya Lina Kusuma. Ratih Wijaya kasih nomor ini. Saya belum menikah. Lamaran bulan depan. Keluarga calon kirim draf prenup. Saya tidak punya pengacara. Saya mau baca sebelum cap. Bisa?'
'Bisa,' kata Anisa. 'Selasa depan, jam sepuluh. Bawa draf. Datang sendiri atau dengan orang yang Ibu percaya, asal bukan orang yang menekan cap.'
Lina: 'Sendiri. Kalau saya bawa ibu kandung, calon marah. Saya pilih sendiri dulu.'
Anisa catat. Klien kedua di buku: Lina Kusuma — prenup pra-nikah — Selasa. Pola yang ia mau: sebelum hancur, bukan sesudah panggung.
Sore Jumat Anisa rapikan modul, print set untuk Lina. Ia sadar tangan tidak gemetar menstempel kuitansi Ika yang masih di arsip. Ritme: Selasa–Jumat ruko, Senin administrasi, Sabtu tubuh, Minggu diam. Bukan heroik. Kantor kecil. Printer macet sekali; ia cabut kertas, pasang lagi, tidak marah ke mesin. Marah ke mesin adalah kemewahan orang yang mengira dunia harus mulus setelah menang kertas. Dunia Rawamangun tidak mulus. Itu baik. Mulus adalah ballroom.
Sabtu — Anisa tidak buka ruko. Taman Tebet dua puluh menit. Ratih call: 'Lina telepon?' Anisa: 'Selasa. Ika masih di notaris independen, status tunda cap.' Ratih: 'Dua klien bukan kemenangan pasar. Dua orang. Jangan naikkan tarif gila. Jangan terima klien Mahesa orbit.' Anisa: 'Tidak terima orbit. Dinding.'
Orbit — keluarga, staf, media yang masih mencium nama Mahesa. Pact bisnis: bukan war gallery, bukan klien dendam ke Damar. Kalau seseorang datang karena headline greedy wife, Anisa tolak. Ika datang karena Ratih. Lina datang karena Ratih. Jalur itu yang dijaga.
Minggu Mira SMS: *Distribusi administratif berjalan. Tidak perlu Ibu ke 4C minggu ini kecuali panggilan. Envelope kelima vault — tetap nol tindakan. Saya tidak teruskan isi kecuali Ibu minta.* Anisa balas: *Tidak minta. Nol tindakan.* Belum ritme balasan. Belum teras. Surat suami menumpuk di kantor pengacara, bukan di meja Rawamangun.
Senin administrasi — Anisa bayar listrik ruko, catat pembukuan sederhana buku tulis: fee Ika masuk, sewa keluar, cap dan cat keluar. Laba belum. Itu jujur. Firma baru. Ia tidak campur distribusi perkara ke pembukuan PT. Dua dunia di dua buku.
Selasa — Lina Kusuma datang, draf prenup dua puluh halaman, mata sadar, tidak merah. Lebih siap dari Ika, lebih takut salah langkah sosial. Anisa baca bersamanya sembilan puluh menit. Klausul harta terpisah standar, bukan pengalihan ke mertua; yang berbahaya: denda perceraian tidak seimbang, dan klausul 'istri tidak bekerja di bidang yang bentrok dengan keluarga calon' terlalu lebar. Anisa tandai. Lina catat. Tidak ada air mata. Ada daftar untuk dibawa ke notaris yang Lina pilih sendiri.
Fee transfer PT. Kuitansi kedua. Anisa stempel, napas rata. Setelah Lina pergi, Anisa buka jendela, biarkan knalpot masuk sebentar, lalu tutup. Dua map klien di rak. Rak tidak lagi kosong. Lina di pintu sempat bertanya, pelan: 'Ibu pernah cap tanpa baca?' Anisa diam satu napas. 'Pernah. Itu cukup alasan saya duduk di sini. Bukan alasan Ibu takut. Alasan Ibu baca.' Lina angguk, tidak memojokkan. Batas cerita pribadi dihormati dua arah.
Rabu Anisa tulis di buku catatan ruko, bukan hanya Tebet:
*Ritme ada. Ika tunda cap. Lina baca sebelum cap. Modul hidup. Papan lap. Jam kerja dihormati. Surat Damar tetap vault, bukan meja ini. Maaf untuk diri belum. Teras belum. Nama di akta dan di papan sama: Anisa Rahmawati.*
Kamis — Ratih makan siang singkat di warung pecel depan ruko, bukan di restoran. 'Damai praktik mulai terasa belum?' Anisa: 'Belum damai. Sudah berguna. Bedanya jauh.' Ratih: 'Berguna itu lantai. Damai belakangan. Jangan buru surat suami jadi ritual.' Anisa: 'Tidak ritual. Nol.'
Sore Kamis Anisa dapat WA di nomor ruko dari Ika: notaris independen sarankan tunda addendum enam bulan, suami setuju marah-marah lalu tanda tangan kesepakatan tunda. Ika: 'Ibu selamatkan saya?' Anisa ketik ulang dua kali sebelum kirim: 'Ibu yang tunda. Saya hanya baca bersama.' Kirim. Tidak menerima mahkota pahlawan.
Jumat — Anisa tutup ruko pukul empat, lap papan, kunci. Di Tebet malam, ia buka laci envelope stamped, lihat map cokelat akta, kunci cadangan ruko. Empat tumpuk masa lalu perkara; satu tumpuk kerja. Letter vault tidak dibuka. Ia tulis sticky note baru:
*Ritme kerja ada. Surat vault tetap tertutup. Kalau suatu bulan nanti dibaca, bukan minggu ini.*
Itu benih, bukan ritme. Ritme surat bulanan bukan milik batch ini. Anisa sadar: damai praktik baru berupa jam kerja yang dihormati dan dua orang yang pulang dengan daftar pertanyaan. Cukup untuk berdiri. Belum cukup untuk maaf, belum cukup untuk pintu Menteng, belum cukup untuk 'suatu hari' yang diucapkan keras.
Tidur lima jam lima puluh. Insomnia stabil. Parallel Sudirman: Damar nonaktif, laporan kepatuhan, Anisa tidak urus. Parallel 4C: distribusi berjalan tanpa ia bicara. Parallel Rawamangun: Selasa Lina selesai, Ika tunda, modul di rak.
Minggu pagi Anisa jemur balkon, tetangga sapa, tidak tanya firma. Normal. Ia angkat tangan. Di kulkas tiga note hidup berdampingan: *Nama dulu. Return phased. Hold* — sudah banyak yang selesai; *Pintu Senin — tanpa pita* — sudah; *Ritme kerja ada. Surat vault tetap tertutup.*
Ratih call lima menit: 'Batch depan kamu jaga jam. Jangan terima klien tiap hari. Tubuh masih punya utang sidang.' Anisa: 'Selasa–Jumat. Batas itu.' Persahabatan hold.
Malam minggu Anisa tidak ke Menteng. Tidak ke Sudirman. Tidak buka lampiran envelope kelima. Ia siapkan modul Lina arsip, bantal, lampu tidur. Firma berdiri. Klien istri dan calon istri mulai. Surat suami masih di tempat yang benar: bukan di meja konsultasi, bukan di teras, masih di vault, menunggu keputusan yang tidak diambil malam ini.
Pintu Rawamangun akan dibuka lagi Senin administrasi, Selasa jam kerja. Pintu yang lain — teras, maaf, balasan — tetap tertutup. Anisa Rahmawati terima urutan itu. Kerja dulu. Yang lain belakangan, kalau pernah.