Jumat pagi — Ika Pramesti datang pukul sembilan sepuluh, tas kain, draf addendum terlipat rapi, mata merah bukan karena menangis di depan Anisa, karena semalaman baca sendiri tidak ketemu. Umur tiga puluh empat, rambut diikat, tanpa perhiasan mencolok. Anisa persilakan duduk, air minum, tidak rekam, tidak foto draf.
'Ratih bilang Ibu tidak mengadili,' kata Ika. 'Saya bukan mau cerai. Saya mau paham. Kalau saya cap, apa yang hilang.'
'Kita baca,' kata Anisa. 'Saya tidak mewakili Ibu di pengadilan. Kalau nanti butuh notaris atau pengacara, saya rujuk orang yang bukan saya. Di sini: literasi.'
Ika angguk. Anisa buka draf. Bahasa standard firma keluarga suami: pengalihan hak atas saham di perusahaan distributor ke nama mertua sebagai 'amanah keluarga'; waiver klaim atas aset yang diperoleh selama perkawinan kecuali rumah tinggal; klausul diam — Ika tidak boleh membicarakan isi ke pihak ketiga termasuk konsultan, yang sudah dilanggar dengan duduk di sini.
Anisa tunjuk klausul diam dulu, pelan. 'Kalimat ini mau menutup Ibu sebelum Ibu paham. Bukan normal. Banyak keluarga pengusaha pakai ini supaya istri tidak tanya. Ibu sudah di sini — artinya Ibu pilih paham dulu. Itu sah.'
Ika gigit bibir. 'Mertua bilang formalitas. Suami bilang jangan ribet, biar bisnis lancar.'
Anisa tidak cerita prenupnya sendiri utuh. Satu kalimat cukup, tanpa nama: 'Saya pernah cap tanpa baca. Saya tahu rasanya dibilang jangan ribet. Ribet itu sering satu-satunya pelindung.'
Mereka baca saham. Anisa gambar di kertas: kotak perusahaan, panah ke mertua, Ika di luar kotak. 'Kalau bisnis besar, Ibu tidak otomatis ikut. Kalau bisnis jatuh, kadang utang tetap nyangkut ke rumah tangga — tergantung struktur. Ini yang harus ditanya ke akuntan, bukan ke saya sendirian. Saya bisa siapkan daftar pertanyaan. Bukan jawaban pengadilan.'
Dua jam. Istirahat teh. Ika tidak menangis dramatis. Ika marah pelan, lalu capek, lalu minta Anisa ulangi klausul waiver. Anisa ulangi. Tidak mempercepat. Tidak menjual paket perang. Di luar, anak les privat membaca rumus keras-keras; di dalam, dua perempuan membaca rumus lain: siapa punya apa jika rumah tangga retak. Anisa tidak samakan suaranya dengan guru les. Ia duduk setara, kertas di tengah meja, pena Ika yang menulis, bukan pena Anisa yang mendikte.
'Saya tidak bisa cap minggu depan,' kata Ika di menit terakhir. 'Saya bilang ke suami: saya belum paham. Kalau itu dianggap ribet, biar dianggap ribet.'
Anisa: 'Itu keputusan Ibu. Saya tulis ringkasan satu halaman bahasa biasa, plus daftar pertanyaan untuk notaris independen. Ibu bawa itu, bukan bawa saya ke rumah mertua.'
Ika bayar fee intake sesuai tarif yang Anisa tempel kecil di laci — bukan tarif Sudirman, bukan gratis belas kasihan. Transfer ke rekening PT. Anisa kasih kuitansi stempel Rahmawati Consulting. Tangan sedikit gemetar menstempel. Bukan euforia uang. Bukti firma hidup dari kerja, bukan dari escrow perkara.
Ika pergi pukul sebelas dua puluh. Anisa duduk sendirian, tutup mata, napas. Suara Laras tidak naik. Suara Anisa cukup. Ia tulis di buku tamu: Ika Pramesti — intake prenup addendum — ringkasan dikirim Senin. Lalu tutup buku.
Sore Jumat Anisa kirim ringkasan email ke Ika, cc nol, lampiran satu halaman. Bahasa ringkasan ia tulis ulang tiga kali supaya tidak meniru nada Mira di docket — terlalu tajam untuk orang yang belum ingin perang. Nada di sini: jelas, tidak merendahkan, tidak menyuruh cerai. Ratih SMS: 'Selesai?' Anisa: 'Selesai dengar. Dia tunda cap. Saya bukan pahlawan. Saya pembaca.' Ratih: 'Cukup.'
Malam — Mira weekend brief phase three: distribusi supervised mulai eksekusi administratif minggu depan, Anisa tetap listen only kalau ada panggilan. Mira: 'Klien firma kamu jangan sampai ke folder perkara. Dinding.' Anisa: 'Dinding ada. Rekening PT terima fee intake. Rekening perkara tidak.'
Anisa tidak buka letter vault. Damar bukan bagian hari Ika. Pact hold.
Sabtu Anisa ke ruko dua jam, arsip map Ika, kode inisial bukan nama penuh di punggung map — kebiasaan hati-hati setelah hidup di headline. Minggu diam di Tebet, yoga sepuluh menit, jemur balkon. Sticky note: *Fee masuk PT. Bukan escrow. Dua dunia.*
Senin Anisa di ruko, tulis modul tambahan dari sesi Ika: klausul diam, pengalihan ke mertua, waiver. Contoh fiktif. Nama Ika tidak masuk modul.
Selasa — Ika WA singkat ke nomor ruko: 'Suami marah dua hari, lalu diam. Mertua masih dorong. Saya bawa daftar pertanyaan ke notaris yang Ibu rujuk. Terima kasih tidak disuruh perang.' Anisa balas: 'Sama-sama. Kalau draf baru, bisa intake lanjutan. Tidak wajib.' Profesional. Hangat terbatas. Bukan sahabat baru yang menumpang luka.
Rabu Room 4C listen only singkat — distribusi administratif confirm, delay residual mati. Anisa keluar tanpa byte. Di taksi ke Rawamangun, ia sadar dua kursi hidupnya: kursi pangkuan sidang, kursi kayu ruko. Keduanya Anisa Rahmawati. Tidak perlu selubung di keduanya. Halim sempat menoleh di koridor; Anisa tidak isi byte. Perkara punya jalannya. Firma punya jalannya. Menoleh adalah tiket percakapan yang tidak ia butuhkan.
Kamis Ratih mampir lima menit, tidak tanya detail Ika. 'Ada yang kedua. Istri klien audit kami — belum siap nama di telepon. Baru tanya apakah Ibu terima klien yang belum menikah, literasi sebelum cap pertama. Saya belum kasih nomor kamu.'
Anisa: 'Terima. Prenup sebelum cap pertama justru lebih bersih. Kasih nomor ruko, bukan pribadi.'
Ratih: 'Minggu depan dia telepon. Kamu yang jadwalkan.'
Cliff pelan: klien kedua belum duduk. Tapi pintu sudah bukan teori. Anisa kunci ruko sore itu, papan nama terkena debu jalan, ia lap dengan tisu. Kerja tangan kecil. Hidup tanpa selubung kadang cuma lap papan.
Malam Kamis buku catatan:
*Klien pertama selesai dengar. Fee PT. Klausul diam, saham mertua, waiver. Klien kedua seed — belum nikah, literasi sebelum cap. Surat vault tidak dibuka. Pintu tanpa pita sudah ada isinya satu orang. Cukup.*
Tidur lima jam empat puluh. Insomnia turun. Bukan karena menang. Karena hari Jumat itu berguna.