Senin administrasi — Anisa buka ruko pukul sembilan, bukan untuk klien, untuk buku tulis pembukuan. Listrik, sewa proporsi bulan, tinta printer, tisu, air galon. Fee dua klien belum menutup sewa penuh. Jujur di angka. Ia tidak pindahkan sen dari distribusi perkara. Dua dunia tetap dua buku. Kopi termos, jendela terbuka, knalpot. Jam kerja yang dihormati dimulai dari hari tanpa tamu.
Ratih SMS pagi: 'Ada yang ketiga. Bukan orbit. Istri manajer pabrik Tangerang, cerai damai sudah inkrah, mau paham rekening bersama yang belum dipecah. Literacy pasca, bukan perang. Nama Sinta? Bukan. Nama Rina Salim. Nomor ruko saja.'
Anisa: 'Selasa sore. Batas jam empat.'
Ia tempel sticky di laci: *Tidak terima orbit. Tidak terima dendam ke nama lama. Jam empat tutup.* Pact bisnis hidup di kertas kecil, bukan di pidato.
Selasa pagi — Lina WA singkat: draf direvisi keluarga calon, klausul kerja sudah dipersempit, denda lebih seimbang. Lina akan cap bulan depan dengan notaris pilihannya. 'Saya baca dulu. Terima kasih tidak disuruh batalin lamaran.' Anisa balas satu baris: 'Selamat membaca. Pintu ruko tetap ada kalau draf berubah lagi.' Profesional. Tidak jadi teman lamaran.
Selasa sore — Rina Salim, empat puluh satu, rambut pendek, folder rekening. Suara datar. 'Saya tidak marah. Saya capek. Pengacara cerai sudah selesai. Yang ketinggalan: tiga rekening yang nama berdua, bank minta surat yang saya tidak ngerti. Ratih bilang Ibu bisa terjemahkan, bukan ganti pengacara.'
Anisa baca. Bukan prenup. Tata kelola sisa. Ia gambar kotak, panah, siapa tanda tangan, apa yang bank boleh minta. Sembilan puluh menit. Rina tidak menangis. Rina bilang terima kasih dengan transfer fee di kursi, lalu pergi ke angkot. Anisa stempel kuitansi ketiga. Tangan rata. Rak: tiga map. Setelah pintu tutup, ia cuci dua gelas, keringkan, taruh. Firma kecil hidup dari gerak yang tidak heroik. Ia ingat Room 4C: jari di pangkuan, listen only. Di sini ia yang bicara, pelan, dan orang pergi dengan daftar, bukan dengan dendam yang ia pinjamkan. Beda kursi, sama nama. Anisa Rahmawati.
Rabu — Ika mampir tanpa janji pukul tiga, maaf berlebihan. 'Cuma mau kembalikan ringkasan yang Ibu print, sudah kusai. Dan bilang: mertua mundur enam bulan. Suami masih cemberut. Saya tidur.' Anisa terima kertas, tidak perpanjang sesi. 'Bagus. Kalau addendum muncul lagi, janji dulu. Jam empat saya kunci.' Ika tertawa kecil, pergi. Batas jam adalah hormat pada tubuh, bukan sombong pada klien.
Kamis — Anisa isi modul klausa rekening bersama, contoh fiktif. Print. Map Modul tebal satu senti. Damai praktik masih jauh; berguna sudah jadi kebiasaan. Ia makan pecel sendirian, tidak menunggu Ratih. Sahabat tidak wajib jadi staf. Warung ramai mahasiswa; tidak ada yang kenal headline lama. Itu hadiah lokasi. Ia bayar pecel dari saku pribadi, bukan PT — makan siang bukan biaya firma kecuali rapat klien. Pembukuan jujur sampai sambal. Sore ia uji printer dua halaman, macet, cabut, jalan. Tidak marah. Utang sidang di bahu masih ada, tapi siang ini bahu kerja, bukan bahu saksi.
Jumat tutup pukul empat, lap papan. Debu jalan menempel tiap hari; lap jadi ritual kecil yang tidak heroik. Di Tebet malam, Mira email:
*Distribusi administratif hampir tuntas kertas. Envelope vault: lima plus satu baru minggu ini. Enam. Saya tidak teruskan isi. Kalau Ibu mau jadwal baca — bukan balas — bilang. Kalau tidak, tetap arsip.*
Anisa baca email dua kali. Enam surat. Bukan ritme yang ia pilih; ritme yang Damar kirim ke kantor pengacara. Ia tidak buka lampiran. Ia tulis di buku catatan:
*Tiga klien. Jam dihormati. Enam envelope. Belum baca. Belum balas. Kantor bukan tempat surat suami.*
Tidur lima jam empat puluh. Insomnia tidak naik. Kerja mengisi siang; malam masih kosong map untuk keputusan yang ditunda. Parallel Sudirman: Damar nonaktif, Anisa tidak urus. Parallel Rawamangun: tiga map, papan bersih.
Sabtu taman Tebet dua puluh menit. Ratih datang tanpa pie, duduk di bench. 'Enam surat, Mira bilang ke saya karena kamu cc nol dan saya masih filter media. Media sudah sepi. Kamu yang belum sepi di laci orang lain.'
Anisa: 'Saya sepi di ruko. Itu yang saya jaga.'
'Boleh jaga ruko,' kata Ratih. 'Laci orang lain suatu saat jadi tumpukan yang menekan. Baca bukan balas. Baca bukan datang. Kalau mau, aku temani dapur. Bukan teras Menteng.'
Anisa diam. 'Belum minggu ini.'
Ratih: 'Oke. Tapi jangan tunggu sampai enam jadi dua puluh tanpa keputusan. Keputusan nol juga keputusan — tulis, biar Mira tidak tanya tiap Jumat.'
Anisa angguk. Tugas rumah: putuskan aturan surat, bukan putuskan cinta. Cinta bukan agenda. Aturan adalah. Di bench, anak kecil kejar bola, knalpot, hidup yang tidak menunggu keputusan Anisa. Ratih pergi dulu, rapat Wijaya. Anisa duduk lima menit lagi, hitung napas, tidak buka ponsel. Enam surat di kantor Mira tidak akan meledak hari ini. Yang meledak dulu sudah lewat: gala, media, sidang. Sekarang yang tersisa adalah tumpukan yang menunggu kalimat. Kalimat itu harus ditulis Anisa, bukan Mira, bukan Ratih.
Minggu jemur balkon. Sticky note baru di kulkas, pensil, belum spidol:
*Surat: aturan belum. Kerja: Selasa–Jumat. Dinding: ruko ≠ vault.*
Tetangga sapa. Anisa angkat tangan. Hidup biasa menumpuk di sisi kerja. Sisi surat masih tertutup, tapi tidak lagi tanpa nama — ada angka enam, ada pertanyaan Ratih, ada Mira yang menunggu satu kalimat.
Malam minggu Anisa tidak ke Menteng. Tidak buka vault. Ia cuci gelas, rapikan modul di tas untuk Senin. Firma berdiri karena jam yang dihormati. Damai belum. Berguna ya. Enam kertas di kantor Mira menunggu aturan yang belum ia tulis, dan itu sudah lebih jujur daripada pura-pura tidak ada. Sebelum tidur ia tulis draf aturan di kertas buram, coret, tulis lagi, belum kirim. Draf itu tidur di meja dapur. Besok pagi, kalau masih benar, baru jadi email. Keputusan yang melewati satu malam lebih layak daripada keputusan yang melewati satu marah.