Senin pagi Rawamangun — Anisa buka kunci ruko pukul delapan. AC hidup, lampu standing nyala, buku tamu di meja depan. Kopi termos dari Tebet, dua gelas cadangan kalau Ratih datang. Tidak ada karangan bunga. Tidak ada spanduk. Tidak ada undangan WhatsApp grup alumni.
Pukul delapan sepuluh ia duduk di kursi kayu, buka laptop, buat folder: *Intake.* Template singkat: nama, status pernikahan, apakah sudah tanda tangan prenup, apa yang ingin dipahami, bukan apa yang ingin digugat. Jasa literacy dan tata kelola — rujukan notaris independen kalau klien butuh akta. Rahmawati Consulting tidak mewakili di pengadilan.
Ratih datang delapan empat puluh, pie singkong dua kotak, duduk di kursi tamu. 'Aku lima belas menit. Lalu kantor ku. Ini bukan soft launch Wijaya. Ini kamu.'
'Ini aku,' ulang Anisa.
Mereka minum kopi. Jendela terbuka. Anak les privat masih belum datang. Ratih lihat papan dari dalam: 'Hurufnya sopan. Bagus. Kamu tidak jualan luka.'
Anisa: 'Luka sudah cukup jadi bukti. Di sini luka jadi pelajaran, kalau klien mau. Kalau tidak mau, saya tidak memaksa.'
Ratih berdiri menit keenam belas. 'Satu rujukan. Bukan minggu ini kalau kamu belum siap dengar orang lain. Tapi siap — Ibu Ika Pramesti, istri distributor di Cakung. Hampir tanda tangan addendum prenup karena tekanan mertua. Dia tanya ke saya, bukan ke pengacara dulu. Saya bilang ada orang yang bisa bantu baca, bukan bantu perang. Kamu yang putuskan kapan.'
Anisa catat nama di buku: Ika Pramesti. Tidak langsung telepon. 'Minggu ini saya buka pintu dulu. Duduk. Kalau masih mampu dengar, saya hubungi.'
Ratih angguk. 'Itu job definition yang benar.' Pergi tanpa foto.
Anisa sendirian sampai siang. Tidak ada yang masuk. Itu bukan kegagalan. Soft open artinya pintu tidak terkunci, bukan artinya antrean. Ia rapikan rak, uji printer, tulis di papan kecil dalam: jam kerja Selasa–Jumat sembilan sampai empat, Senin by appointment. Sabtu tutup. Minggu tutup. Tubuh legal war butuh batas jam, bukan heroik. Pukul sebelas ia makan nasi bungkus di meja belakang, tidak di depan jendela — bukan malu, batas: makan bukan tontonan klien yang belum ada. Sisa sambal di tepi kertas modul. Firma satu orang berantakan kecil, lalu ia lap. Rapikan adalah cara baru menghormati nama di papan.
Sore — Mira call lima menit: 'Pintu buka?' Anisa: 'Buka. Klien nol. Itu sesuai rencana.' Mira: 'Phase three distribusi jadwal hakim minggu depan filter. Client listen only. Firma kamu bukan docket.' Anisa: 'Bukan docket.' Mira tambah, nada datar yang Anisa percayai: 'Kalau media tanya kantor baru, satu kalimat: jasa konsultasi, bukan komentar perkara. Lalu tutup.' Anisa: 'Satu kalimat. Tutup.' Ia tulis di sticky note laci ruko, bukan kulkas Tebet — perkara tidak menempel di pintu klien.
Anisa kunci ruko pukul empat, pulang Tebet. Di kereta, ia sadar bahu tidak setegang Room 4C. Bukan sembuh sempurna. Beda ruangan, beda napas.
Selasa — Anisa di ruko lagi, hari penuh tanpa tamu. Ia susun modul singkat prenup literacy: dua belas klausul yang sering dilompati, bahasa awam, contoh fiktif bukan kasus Mahesa. Ia sengaja tidak pakai nama Mahesa di materi. Pendidikan, bukan war gallery. Print sepuluh set, masuk map *Modul.* Klausul nomor empat — pengalihan ke orang tua suami — ia tulis paling pelan, karena itu luka pribadinya. Tetap fiktif. Nama ibu Damar tidak masuk kertas. Nama Rania tidak. Modul yang jujur tidak perlu musuh bernama.
Rabu — satu orang masuk salah alamat, cari les matematika. Anisa tunjuk sebelah, senyum. Papan nama advisory memang mudah keliru di gang kampus. Itu lucu kecil, bukan penghinaan.
Kamis — Anisa telepon Ika Pramesti dari nomor ruko, bukan nomor pribadi. Perkenalan singkat: Anisa Rahmawati, Rahmawati Consulting, rujukan Ratih, bisa ketemu Jumat atau minggu depan, tanpa kewajiban. Ika suara pelan: 'Jumat pagi, boleh? Suami saya tidak perlu tahu dulu. Saya cuma mau paham kertas sebelum cap.'
'Jumat pagi,' kata Anisa. 'Bawa draf yang ada. Jangan tanda tangan apa pun sebelum ketemu, kalau masih bisa ditahan.'
'Belum cap,' kata Ika. 'Mertua dorong minggu depan.'
Anisa catat. Intake pertama ada di kalender. Bukan kemenangan. Seseorang hampir mengulang ketololannya dulu — dan minta dibacakan.
Jumat pagi belum datang; Kamis malam Anisa duduk di ruko sampai empat, modul di depan, napas latihan. Ia takut suara Laras naik — suara rendah, wig, kacamata, pitch deck. Ia latihan keras: suara Anisa, nada biasa, tidak merendah, tidak menggurui. 'Kita baca baris ini bersama.' Kalimat itu diulang tiga kali ke kursi kosong. Wig dulu di laci apartemen, tidak dibawa ke Rawamangun. Kacamata selubung tidak. Yang ada: kacamata baca biasa, minus ringan, tanpa sandiwara. Ia sentuh bingkai, pastikan. Hidup tanpa selubung kadang dicek di cermin kaca ruko yang masih berjamur di sudut.
Malam Kamis Tebet, buku catatan:
*Pintu buka tanpa pita. Tamu salah alamat satu. Klien pertama Jumat — Ika Pramesti, rujukan Ratih, addendum prenup, belum cap. Respond zero surat. No terrace. Tidak campur docket Mira.*
Letter vault — counsel email satu baris: *Envelope keempat diarsip. Tidak perlu tindakan.* Anisa tidak buka lampiran. Ritme surat suami bukan ritme kantor. Dua dunia.
Sabtu Anisa tidak ke ruko. Jemur balkon Tebet. Sticky note: *Jumat — baca bersama, bukan perang bersama.* Minggu Ratih SMS: 'Ika datang?' Anisa: 'Besok. Aku siap dengar. Belum siap jadi pahlawan.' Ratih: 'Jangan jadi pahlawan. Jadi orang yang baca.'
Senin minggu itu Anisa ke ruko hanya sore, uji kursi tamu, taruh tisu, air minum gelas kaca dua. Firma kecil. Cukup hormat. Bukan ballroom.
Malam sebelum klien pertama, Anisa tidur lima jam dua puluh. Insomnia naik sedikit — bukan Damar. Tanggung jawab dengar orang lain. Besok ia bukan istri di pengadilan. Besok ia konsultan di Rawamangun. Nama di papan sudah benar. Suara harus benar.