Malam sebelum gala, Damar mengundang Laras makan malam. Bukan di restoran ramai — di restoran kecil di puncak gedung, meja sudut yang menghadap kota, hanya berdua.
Anisa datang dengan kewaspadaan penuh. Ia mengira ini jebakan: bukti log IT, konfrontasi, mungkin polisi menunggu di lobi. Ia bahkan sudah mengatur kode dengan Ratih — satu pesan kosong berarti 'panggil pengacara'.
Tetapi tidak ada polisi. Yang ada hanya Damar yang tampak tidak tidur dua malam, dan sepasang mata yang menatapnya seperti orang yang akan melompat dari tebing.
'Aku harus mengatakan sesuatu sebelum besok,' kata Damar setelah pelayan pergi. 'Dan aku tidak tahu cara mengatakannya, jadi aku akan mengatakannya begitu saja. Bulan depan aku menceraikan istriku. Berkasnya sudah di pengacara.'
Anisa menjaga wajahnya tetap tenang. 'Kenapa Bapak ceritakan ini ke saya?'
'Karena aku sudah mengakhiri semuanya dengan Rania.' Damar menatap gelasnya. 'Kemarin malam. Dia mengancam akan membocorkan segalanya ke media kalau aku meninggalkannya, dan aku bilang silakan — aku sudah selesai berbohong.' Ia mengangkat wajah. 'Dan karena aku jatuh cinta padamu, Laras. Aku tahu ini gila. Aku tahu aku bahkan belum bercerai. Tapi tiga bulan terakhir ini, kamulah orang pertama yang membuatku merasa... dilihat. Bukan ditakuti, bukan dimanfaatkan. Dilihat.'
Ada jeda panjang. Kota berkelip di bawah mereka.
Anisa seharusnya merasa menang. Ini puncaknya: suaminya mencampakkan selingkuhannya demi istrinya yang menyamar — lelaki itu jatuh cinta pada perempuan yang sama dua kali, dan tidak tahu. Semua yang ia rancang berjalan sempurna.
Yang ia rasakan justru seperti ditikam dari dua arah sekaligus.
Karena ada bagian dari dirinya — bagian bodoh yang tiga tahun mencintai lelaki ini, bagian yang masih berdesir setiap kali Damar tersenyum pada Laras — yang berbisik: dia mencintaimu. Dia selalu mencintaimu. Dia hanya tersesat. Kamu bisa berhenti sekarang, membuka penyamaranmu, memaafkannya, dan menyelamatkan pernikahanmu.
Dan karena itu, Anisa memutuskan memberi suaminya satu kesempatan terakhir. Bukan untuk Damar — untuk dirinya sendiri, supaya tidak ada keraguan yang tersisa.
'Boleh saya tanya satu hal, Pak?' Suaranya keluar lebih pelan dari yang ia rencanakan. 'Istri Bapak. Selama tiga tahun pernikahan ini... apakah Bapak pernah menyakitinya? Berbohong padanya? Mengambil sesuatu yang seharusnya jadi haknya?' Ia menatap langsung ke mata Damar. 'Kalau Bapak pernah melakukannya, dan Bapak jujur malam ini juga, mungkin masih ada jalan untuk memperbaikinya. Orang bisa berubah. Tapi jujur itu harganya.'
Di sinilah, pikirnya, di meja ini, malam ini. Kalau lelaki itu mengaku — perselingkuhannya, asetnya, draf gugatannya — aku akan membuka wig ini dan kita akan menangis berdua dan mencari jalan keluar bersama. Aku bersumpah aku akan melakukannya.
Damar menatapnya. Dan Anisa melihat seluruh perjuangan itu lewat di mata suaminya: kejujuran yang mengetuk, lalu ketakutan yang menolak membukakan pintu.
'Tidak,' kata Damar akhirnya, lembut, meyakinkan, seperti orang yang sudah terlalu lama berbohong sampai lupa bunyinya. 'Pernikahan kami hanya tidak berjalan, itu saja. Tidak ada yang disakiti. Dia perempuan baik-baik, dia akan baik-baik saja — semuanya dibagi adil. Kamu tidak perlu memikirkannya.'
Semuanya dibagi adil.
Anisa menunduk, mengangguk kecil, dan di balik meja ia meremas ujung serbet sampai buku-buku jarinya memutih — bukan karena sedih. Karena lega. Lega yang paling pahit: lelaki itu sudah diberi pintu keluar terakhir, dan ia sendiri yang menutupnya dari dalam.
'Bapak benar,' katanya, mengangkat wajah dengan senyum Laras yang sempurna. 'Saya tidak perlu memikirkannya lagi.'
Sisa makan malam itu berjalan hangat dan hambar. Damar bercerita tentang rencananya setelah perceraian, tentang perusahaan, tentang masa depan yang di dalamnya ia melukis Laras. Anisa mendengarkan seperti orang mendengarkan radio di ruang tunggu — sopan, jauh, sudah pergi.
Di parkiran, sebelum masuk mobilnya masing-masing, Damar berkata, 'Besok malam besar kita. Setelah gala selesai, ada satu pertanyaan yang mau kutanyakan padamu. Jawabnya nanti saja, setelah kamu tahu semuanya tentangku.'
'Baik, Pak.' Anisa menatapnya untuk terakhir kalinya sebagai Laras yang ia cintai-cintakan. 'Sampai besok.'
Di dalam mobil, ia tidak langsung menyalakan mesin. Ia duduk diam di basement yang sepi, lalu mengambil ponselnya dan mengetik pesan untuk Ratih — bukan pesan kosong, melainkan satu kalimat:
'Gugatan masuk besok pagi. Tidak ada yang berubah. Justru malam ini semuanya jadi pasti.'
Ia menekan kirim, menyalakan mesin, dan tidak menangis setetes pun sepanjang jalan pulang.
Perang batinnya sudah selesai. Yang tersisa hanya perang.