Ballroom hotel itu penuh seperti yang Anisa inginkan: tiga ratus tamu, dua belas media nasional dengan kamera yang menyala, investor, komisaris, dan seluruh lingkaran yang selama ini memuja nama Damar Mahesa.
Dari balik tirai sisi panggung, Anisa menonton suaminya berpidato. Damar malam itu sempurna — jas gelap, suara tenang, kata-kata tentang integritas dan transparansi yang ia kutip dari laporan yang ditulis Laras. Tepuk tangan bergemuruh. Di barisan depan, Rania duduk dengan wajah yang sengaja datar, map kecil di pangkuannya — Anisa tahu persis apa isinya.
'Dan sekarang,' kata pembawa acara, 'apresiasi khusus dari konsultan yang merancang malam ini. Ibu Laras Wijaya.'
Inilah sepuluh menitnya.
Anisa naik ke panggung. Lampu menyapu wajahnya. Tiga ratus pasang mata. Ia berdiri di tengah, memegang mikrofon, dan untuk satu detik ia membiarkan dirinya merasakan semuanya: takut, sakit, marah, dan — paling akhir, paling jernih — bebas.
'Selamat malam. Sebelum acara puncak, izinkan saya memperkenalkan diri dengan benar.' Ia melepas kacamatanya. Lalu, di depan seluruh ballroom, ia melepas wig-nya — rambut aslinya jatuh tergerai. 'Karena selama tiga bulan ini, Bapak dan Ibu mengenal saya sebagai Laras Wijaya. Nama saya yang sebenarnya... adalah Anisa Mahesa.'
Hening. Hening yang sangat total sampai dengung lampu terdengar.
'Istri sah dari Damar Mahesa.'
Ballroom meledak — bukan dengan suara, tetapi dengan gerakan: kepala-kepala berputar ke arah Damar, kamera-kamera terangkat serempak, bisik yang membengkak seperti air pasang. Damar berdiri mematung di kursinya, wajahnya seputih kemejanya.
'Tiga bulan lalu, saya memergoki suami saya berselingkuh dengan sekretarisnya di ruang kerjanya sendiri, dan mendengar rencananya menceraikan saya dengan tuduhan palsu setelah mengosongkan harta kami.' Suara Anisa tidak bergetar. Ia sudah berlatih untuk ini seumur hidupnya yang baru. 'Malam ini saya tidak datang untuk mengadukan. Saya datang untuk menunjukkan.'
Layar raksasa di belakangnya menyala.
Slide pertama: foto Damar dan Rania — Bali, Singapura, apartemen yang tidak dikenal. Tanggal metadata terpampang besar: empat belas bulan. Slide kedua: draf gugatan cerai, paragraf tuduhan 'tidak menjalankan kewajiban sebagai istri' disorot kuning. Slide ketiga: tabel pengalihan aset — rumah Menteng, rekening Singapura, perusahaan cangkang atas nama ibu Damar — lengkap dengan tanggal dan tanda tangan.
'Mohon maaf pada para pemegang saham,' kata Anisa, menoleh ke barisan komisaris. 'Beberapa transfer yang Bapak lihat melibatkan dana yang seharusnya dilaporkan. Salinan lengkapnya sudah saya kirimkan ke alamat masing-masing pagi ini.'
Di barisan depan, Rania bangkit dari kursinya, map-nya terangkat — tapi panggung sudah bukan miliknya lagi. Dua kamera langsung menyorot wajahnya. Perempuan itu berdiri kaku di tengah lintasan lampu, lalu memilih satu-satunya jalan yang tersisa: keluar, menerobos pintu samping, diikuti kilatan blitz.
'Pagi ini,' lanjut Anisa, 'pengacara saya telah memasukkan gugatan cerai — dengan bukti, bukan tuduhan. Saya tidak mengambil apa pun yang bukan hak saya. Tetapi saya tidak akan membiarkan satu sen pun hak saya dicuri sambil saya difitnah tidak becus menjadi istri.'
Ia menurunkan mikrofon sebentar. Matanya menemukan Damar di antara tiga ratus orang, dan ballroom ikut hening bersamanya.
'Mas,' katanya — satu kata itu, kata dari kehidupan lamanya, dan seluruh ruangan merasakannya. 'Kamu pernah bilang aku menandatangani perjanjian pranikah tanpa membaca. Kamu benar. Tapi malam ini, kamu yang menandatangani kehancuranmu sendiri — tanpa membaca bahwa perempuan yang kamu cintai tiga bulan terakhir adalah perempuan yang kamu khianati tiga tahun terakhir.'
Damar tidak bergerak. Wajahnya bukan wajah marah — lebih mengerikan dari itu: wajah seorang lelaki yang sedang menonton seluruh hidupnya menyala dari kursi barisan depan.
'Aku tidak butuh hartamu, Mas.' Suara Anisa akhirnya melembut, dan justru karena itulah kata-katanya menghancurkan. 'Aku hanya butuh semua orang tahu siapa kamu. Sekarang mereka tahu.'
Ia meletakkan mikrofon itu di podium, berjalan turun dari panggung, menyusuri lorong karpet merah yang terbelah seperti laut — tiga ratus tamu menepi, kamera berputar mengikutinya, tidak ada satu pun tangan yang berani menghadang.
Di belakangnya, perusahaan itu, nama besar itu, pernikahan itu, semuanya terbakar terang seperti kembang api.
Anisa Mahesa berjalan lurus ke pintu keluar dan tidak menoleh satu kali pun.