Dua hari sebelum gala, Damar melakukan sesuatu yang membuat Anisa hampir kehilangan segalanya: ia datang ke apartemen Laras tanpa memberi tahu.
Pukul delapan malam, bel berbunyi. Anisa baru saja melepas wig dan kacamatanya — rambut aslinya tergerai, wajahnya adalah wajah Anisa Mahesa sepenuhnya. Lewat layar interkom, ia melihat Damar berdiri di lobi dengan map di tangan.
Dunianya berhenti satu detik. Lalu naluri bertahannya bekerja.
'Sebentar, Pak!' Ia menekan tombol suara, berlari ke kamar, memasang wig dengan tangan yang berpacu dengan jantungnya sendiri, mengaitkan kacamata, menyambar blazer untuk menutupi daster rumahnya. Empat puluh detik. Ia membuka pintu dengan napas yang sudah ia paksa tenang.
'Maaf mendadak, Laras.' Damar mengangkat map-nya. 'Data untuk pidatoku besok. Aku mau kamu yang periksa langsung malam ini. Tidak ada orang lain yang kupercaya.'
'Seharusnya Bapak telepon dulu.' Anisa menahan pintu setengah terbuka. 'Apartemen saya berantakan.'
'Lima menit saja.'
Damar masuk. Dan Anisa menyadari kesalahannya yang kedua: di gantungan dekat pintu, tersampir selendang sutra bermotif parang — selendang yang dulu dibelikan ibu mertuanya, yang pernah ia pakai di acara keluarga Mahesa. Selendang Nyonya Anisa Mahesa.
Mata Damar berhenti tepat di benda itu.
'Selendang itu,' katanya pelan. 'Istriku punya yang sama persis. Pemberian ibuku, batik tulis, hanya dibuat dua lembar.'
Anisa merasa lantai di bawahnya menipis. Ia memutar otak dengan kecepatan yang tidak pernah ia tahu ia miliki. 'Dari Ibu Mahesa?' Ia mengambil selendang itu dengan santai, seolah baru ingat. 'Saya beli di lelang amal yayasan kanker bulan lalu, Pak. Ada dua lembar, kata panitianya — satu dibeli kolektor, satu saya. Yayasan itu... memang yayasan keluarga Bapak, kan?'
Hening. Lelang amal itu nyata — Anisa tahu karena ia sendiri yang mengadakannya, dan ia memang menitipkan selendang itu sebagai barang lelang sebelum 'membelinya kembali' lewat Ratih. Jejak itu sengaja ia bangun untuk skenario persis seperti ini. Tetapi menyiapkannya dan menjalaninya adalah dua hal yang berbeda.
Damar menatapnya. Satu detik. Dua detik. 'Kamu juga pakai parfum yang sama dengannya,' katanya akhirnya, dan suaranya bukan tuduhan — lebih seperti orang yang tenggelam dan menyebut nama pelampung terakhir.
'Parfum ini best seller, Pak.' Anisa tertawa kecil, kering. 'Separuh perempuan Jakarta memakainya. Termasuk, saya dengar, istri Bapak.' Ia menatap balik, dan memilih serangan sebagai pertahanan: 'Bapak datang jam delapan malam ke apartemen konsultan Bapak, memeriksa selendang saya, mencium parfum saya. Kalau Bapak sedang mencari alasan untuk tidak mempercayai saya, katakan saja langsung. Saya bisa mengundurkan diri malam ini juga dan gala tetap berjalan tanpa saya.'
Itu berhasil — setengahnya. Wajah Damar melunak oleh rasa bersalah. 'Maaf. Aku... akhir-akhir ini aku melihat bayangan di mana-mana.' Ia meletakkan map di meja. 'Periksa datanya. Sampai besok, Laras.'
Pintu tertutup. Anisa bersandar ke pintu itu dan baru sadar seluruh punggungnya basah.
Tetapi malam itu belum selesai mengujinya. Sejam kemudian, ponselnya bergetar — Ratih, dengan suara yang menekan:
'Nis, ada masalah. Orang IT Mahesa — dibayar oleh sekretaris suamimu — menarik log akses laptop Damar. Ada catatan penyalinan file besar Kamis minggu lalu, tanggal dan jamnya pas dengan waktu kamu di ruangannya. Rania sekarang pegang bukti itu.'
Anisa menutup matanya. 'Dia bisa melaporkan Laras ke polisi untuk pencurian data.'
'Bisa. Tapi menurut orang dalamku, dia belum melakukannya. Dia bawa bukti itu ke Damar dulu.' Ratih berhenti sejenak. 'Dan Damar... menolak melaporkanmu. Dia bilang dia akan menyelesaikannya sendiri. Nis, dia menutupi untukmu. Kamu mengerti artinya?'
Anisa mengerti. Damar menutupi Laras dari kejahatan yang Laras lakukan terhadapnya sendiri — karena lelaki itu sudah jatuh cinta pada perempuan misterius bernama Laras Wijaya.
'Sampai kapan dia menahan Rania?' tanya Anisa.
'Tidak ada yang tahu. Rania bukan perempuan yang suka disuruh diam. Kalau dia tidak bisa menghancurkanmu lewat Damar...' Ratih tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu.
Anisa menatap rundown gala di laptopnya. Slot 'Apresiasi khusus — Laras Wijaya' masih di sana, sepuluh menit, tidak tersentuh.
Dua hari. Ia punya dua hari, dan sekarang dua orang sedang bergerak ke arahnya dari arah yang berbeda: Damar dengan cinta yang salah alamat, Rania dengan bukti yang benar tentang perempuan yang salah.
'Kalau begitu kita percepat semuanya,' katanya akhirnya. 'Ratih, siapkan pengacara. Gugatanku masuk sebelum gala dimulai.'