Seminggu menjelang gala, penyamaran Anisa menghadapi musuh yang tidak bisa ia kalahkan dengan wig dan kacamata: kebiasaan.
Hari itu rapat kecil di ruang kerja Damar — hanya mereka berdua, membahas rundown acara. Anisa sedang menunjuk bagan di layar ketika asisten Damar masuk membawa dua cangkir kopi. Tanpa berpikir, Anisa berkata, 'Pak Damar tidak pakai gula di kopi sore, Mbak. Yang manis untuk saya saja.'
Asisten itu mengangguk dan keluar. Damar tidak langsung bicara. Ketika Anisa menoleh, lelaki itu sedang menatapnya — bukan menatap angka di layar, menatap *dia* — dengan alis yang hampir tak terlihat mengerut.
'Kamu tahu aku tidak minum gula di kopi sore,' kata Damar pelan. 'Aku tidak pernah bilang itu padamu.'
Darah Anisa berdesir turun. Kesalahan bodoh. Tiga tahun menuang kopi untuk lelaki ini setiap sore, dan kebiasaan itu bocor lewat mulutnya sendiri.
'Mbak Sekar yang bilang, waktu saya tanya preferensi Bapak di minggu pertama,' jawabnya, suaranya rata. 'Saya konsultan, Pak. Mencatat detail kecil itu bagian dari pekerjaan saya.'
Damar menatapnya dua detik lebih lama dari yang nyaman, lalu mengangguk. 'Detail, ya.' Ia kembali ke laptopnya, tetapi Anisa menangkap sesuatu yang berubah di matanya — benih kecil yang tertanam.
Benih itu disiram oleh Rania.
Sejak insiden flash drive di ruang kerja Damar, Rania memang tidak melapor — ia memilih jalan lain: mengawasi Laras. Dan perempuan yang mengawasi dengan penuh curiga akhirnya menemukan sesuatu. Sore itu juga, Rania masuk ke ruang kerja Damar tanpa mengetuk, meletakkan map tipis di mejanya.
'Aku menyelidiki Laras Wijaya,' katanya langsung. 'Damar, ada yang tidak beres dengan perempuan itu.'
Damar membuka map itu. 'Menyelidiki konsultan kita sendiri, Ran?'
'Dengarkan aku dulu.' Rania duduk di seberangnya. 'NUS memang punya alumni bernama yang mirip, tapi tahun angkatannya tidak cocok. Tidak ada jejak digital sepuluh tahun di Singapura — tidak ada satu pun orang yang mengenalnya di sana waktu aku tanya lewat kenalan. Semua riwayatnya bersumber dari satu firma: Wijaya & Partners. Semua. Seolah perempuan ini baru lahir bulan lalu.'
Damar membalik halaman-halaman itu tanpa ekspresi. 'Firma Ratih Wijaya itu firma bereputasi. Referensi dari satu firma itu wajar untuk konsultan senior.'
'Atau firma itu sengaja membuatkan identitas untuknya.' Rania mencondongkan badan. 'Damar, pikir. Perempuan asing muncul entah dari mana, langsung masuk ke lingkaran dalam, langsung mengurusi acara terbesar perusahaan, dan dia mengatur *sendiri* rundown gala itu — termasuk slot pidatonya sendiri. Kamu tidak merasa itu aneh?'
Diam. Damar menatap map itu lama sekali.
'Dan satu lagi.' Suara Rania melembut, sengaja. 'Sejak dia datang, kamu berubah. Kamu menatapnya seperti... aku tahu tatapan itu, Damar. Aku tidak keberatan kamu menceraikan istrimu untukku. Tapi aku keberatan kalau ada perempuan ketiga yang tidak kita kenal asal-usulnya.'
'Cukup.' Damar menutup map itu. 'Aku yang putuskan siapa yang aku percaya di perusahaan ini.'
Tetapi malam itu, di mobil menuju rumah, Damar tidak membaca laporan seperti biasanya. Ia menatap lampu-lampu kota dan memikirkan kopi sore tanpa gula. Cara Laras menunjuk bagan dengan jari telunjuk dan tengah dirapatkan — cara yang sama persis dengan... ia menggeleng, mengusir pikiran itu sebelum selesai terbentuk.
Tidak mungkin. Terlalu gila untuk mungkin.
Namun keesokan harinya, ia melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan pada karyawan mana pun: ia menguji.
'Laras,' katanya santai di sela rapat, 'kamu bilang sepuluh tahun di Singapura. Tinggal di daerah mana?'
'River Valley.' Jawaban itu datang tanpa jeda — Anisa sudah menyiapkan biografi Laras sampai ke tingkat nama jalan, sejak sebelum hari pertama. 'Apartemen kecil dekat Mohamed Sultan Road. Kenapa, Pak?'
'Teman lamaku punya kantor di sana. Mungkin kalian pernah papasan.'
'Mungkin.' Anisa tersenyum tipis. 'Singapura kecil, tapi sepuluh tahun itu panjang, Pak. Kalau Bapak mau memeriksa latar belakang saya, silakan — saya justru tersanjung. Artinya Bapak serius menjaga perusahaan ini.'
Damar tertawa kecil, dan ujian itu berlalu. Tetapi Anisa tahu, dari kerut kecil di dahi suaminya, bahwa jam mulai berdetak lebih cepat. Penyamaran itu masih utuh — tetapi retak pertamanya sudah muncul.
Dan retak itu bernama: Damar mulai memperhatikannya bukan sebagai konsultan, melainkan sebagai teka-teki.