Ada satu hal yang tidak Anisa antisipasi dari rencananya: rasa sakit itu tidak hilang hanya karena bukti sudah di tangan.
Malam itu, di apartemen kecilnya, Anisa duduk di lantai bersandar ke tempat tidur dengan laptop terbuka. Foto-foto dari folder 'R' memenuhi layarnya. Damar dan Rania di pantai, tertawa. Damar menggenggam tangan perempuan itu di sebuah restoran. Damar — dan ini yang menghancurkannya — Damar dengan ekspresi yang Anisa kenal betul: ekspresi lelaki yang sedang jatuh cinta. Ekspresi yang dulu, bertahun-tahun lalu, pernah ditujukan padanya.
Empat belas bulan. Perselingkuhan itu sudah berjalan empat belas bulan dari tiga puluh enam bulan pernikahan mereka. Artinya, hampir separuh pernikahannya adalah kebohongan. Saat ia sakit dan Damar bilang ada rapat — Bali. Saat ulang tahunnya dan Damar pulang larut — Singapura. Setiap 'aku lelah, Nis', setiap 'lain kali saja kita liburan', semuanya punya alamat dan kuitansi.
Pertahanan yang ia bangun selama sebulan akhirnya jebol. Anisa menangis — bukan isak kecil, tetapi tangis yang keluar dari perut, tangis yang membuat punggungnya bergetar dan napasnya tersendat. Ia menangisi pernikahannya. Ia menangisi dirinya yang dulu, perempuan yang menandatangani perjanjian pranikah tanpa membaca karena cinta tidak butuh membaca. Ia menangisi tiga tahun yang tidak akan pernah kembali apa pun yang ia lakukan.
Tangis itu berakhir hampir subuh. Dan ketika selesai, yang tersisa di dada Anisa bukan kehancuran — melainkan sesuatu yang sudah dibersihkan olehnya, seperti ruangan yang akhirnya kosong setelah semua yang rapuh pecah dan dibuang.
Ia bangkit, mencuci muka, dan menatap cermin.
'Kamu boleh hancur,' katanya pada bayangannya sendiri. 'Tapi kamu tidak boleh berhenti. Bedakan dua hal itu.'
Pagi harinya, Laras Wijaya datang ke kantor lebih awal dari semua orang, dengan presentasi sempurna untuk rapat dewan dan tidak ada satu pun jejak malam yang panjang di wajahnya. Itu bagian dari rencana: menjadi sangat cemerlang sehingga tidak ada satu orang pun di gedung itu yang akan percaya Laras punya agenda lain.
Di rapat itu, Anisa melempar umpan terakhirnya.
'Sebagai penutup,' katanya di depan para direksi dan komisaris, 'restrukturisasi ini akan sia-sia tanpa satu hal: kepercayaan publik. Mahesa Group punya acara gala ulang tahun perusahaan bulan depan, bukan? Media nasional hadir, investor hadir. Saya usulkan acara itu dijadikan panggung transparansi — umumkan struktur baru, umumkan komitmen integritas perusahaan. Publik harus melihat wajah perusahaan ini.'
Para direksi mengangguk setuju. Dan Damar — Damar tersenyum bangga pada konsultannya yang brilian. 'Usul yang bagus. Laras, kamu yang pegang konsepnya. Aku mau acara itu jadi malam terbaik dalam sejarah perusahaan ini.'
Dengan senang hati, batin Anisa. Aku juga mau.
Karena sekarang ia punya panggungnya. Gala ulang tahun Mahesa Group: media, investor, kolega bisnis, seluruh lingkaran yang memuja Damar Mahesa — semua akan berkumpul di satu ruangan. Dan di ruangan itu, di depan semua orang, ia akan membuka selubungnya. Laras akan berdiri di panggung, melepas penyamarannya, dan memperlihatkan pada dunia dua hal sekaligus: siapa dirinya sebenarnya, dan siapa Damar sebenarnya.
Rencana itu kejam, dan Anisa tahu itu kejam. Beberapa malam ia berbaring terjaga dan bertanya pada dirinya sendiri apakah ia sudah menjadi monster — perempuan yang menipu suaminya, mencuri dari komputernya, menyusun kejatuhan lelaki yang masih tidur di rumah yang sama dengannya.
Lalu ia membuka lagi draf gugatan cerai itu. Membaca tuduhan 'tidak menjalankan kewajiban sebagai istri'. Membaca strategi agar ia keluar dari pernikahan 'dengan kewajiban finansial seminimal mungkin' dari pihak lelaki yang bersumpah menjaganya seumur hidup.
Dan keraguannya padam, setiap kali.
Ini bukan tentang dendam buta, ia mengingatkan dirinya. Ini tentang satu hal sederhana: kalau aku diam, dia menang. Dia akan menceraikanku dengan tuduhan palsu, mengambil semua harta, menikahi selingkuhannya, dan dunia akan bertepuk tangan untuknya sementara aku pulang ke rumah orang tuaku dengan tangan kosong dan nama yang tercoreng.
Aku tidak akan membiarkan itu.
Seminggu menjelang gala, Anisa menyelesaikan persiapannya seperti jenderal sebelum perang. Bukti asli di tangan Ratih, salinan di hard drive, satu set lagi di loker bank. Undangan gala sudah disebar — tiga ratus tamu, dua belas media nasional. Konsep acara atas namanya: pidato Damar, pemutaran video sejarah perusahaan, pengumuman restrukturisasi. Ia sendiri yang mengatur urutan rundown, dan tidak ada satu orang pun yang memeriksa ulang konsultan secemerlang Laras.
Di rundown itu, ada satu slot yang ia sisipkan sendiri: 'Apresiasi khusus — sepuluh menit — Laras Wijaya.'
Sepuluh menit. Cukup untuk satu pengakuan, satu pembukaan selubung, dan satu kejatuhan.
Malam sebelum hari-H, ponsel Anisa bergetar. Pesan dari Damar — untuk Laras: 'Besok malam besar. Aku senang kamu ada di sampingku untuk ini.'
Anisa menatap pesan itu lama. Lalu ia membalas dengan tiga kata yang benar dari dua arah:
'Aku juga, Pak.'
Ia meletakkan ponselnya, berdiri di jendela apartemen, dan menatap lampu-lampu Jakarta. Di salah satu gedung di kejauhan, suaminya sedang tidur nyenyak, bermimpi tentang masa depan yang ia rancang bersama perempuan lain.
'Nikmati tidurmu, Mas,' bisik Anisa pada kota itu. 'Besok malam, kamu bangun.'