Kesempatan itu datang di hari Kamis, pukul setengah tiga sore, lewat sebuah panggilan telepon yang membuat Damar Mahesa berdiri dari kursinya dengan wajah mendung.
'Dewan komisaris mau rapat dadakan. Sekarang. Lantai dua puluh tiga.' Damar menyambar jasnya, lalu berhenti di pintu. 'Laras, presentasi untuk Senin belum final. Bisa kamu rapikan angka di tabel terakhir? Filenya di laptopku, folder Proyek Senja. Aku titip ruangan ini — jangan biarkan siapa pun masuk.'
Anisa menahan napasnya agar tetap rata. 'Berapa lama Bapak pergi?'
'Rapat komisaris? Minimal dua jam.' Damar sudah setengah berlari ke lift.
Dua jam. Sendirian. Di ruang kerja Damar Mahesa, dengan laptop yang terbuka dan tidak terkunci — karena lelaki itu menitipkan ruangannya pada perempuan yang paling ia percaya di kantor ini.
Anisa menunggu tiga puluh detik setelah pintu tertutup, lalu mengeluarkan flash drive kecil dari saku blazernya. Tangannya gemetar saat memasukkannya ke port USB. Layar laptop menyapa tanpa kata sandi.
Pelan-pelan, batinnya. Kamu punya waktu. Kerjakan yang presentasi dulu, lima menit, supaya layar memang terbuka di folder yang benar kalau ada yang mengintip. Baru sisanya.
Ia merapikan dua angka di tabel — sungguhan, karena ia memang profesional — lalu membuka penjelajah berkas. Folder Proyek Senja hanya berisi dokumen kerja. Tetapi tiga tahun menjadi istri Damar mengajarinya di mana lelaki itu menyimpan hal-hal pribadi: folder bernama 'Arsip Pajak' yang tidak pernah dibuka siapa pun.
Di dalamnya, dunia Anisa runtuh untuk kedua kalinya — kali ini lengkap dengan bukti.
Subfolder pertama: 'Legal'. Di dalamnya draf gugatan cerai atas nama Damar terhadap Anisa Mahesa, lengkap dengan tanggal pengajuan bulan depan. Alasan yang tertulis membuat darahnya naik ke kepala: 'ketidakcocokan yang tidak dapat didamaikan' dan — ia harus membaca dua kali untuk mempercayainya — tuduhan bahwa ia 'tidak menjalankan kewajiban sebagai istri'. Di lampirannya, surat kuasa untuk firma pengacara Halim & Rekan, dan memo internal berbahasa dingin tentang strategi 'meminimalkan kewajiban finansial terhadap pihak termohon'.
Subfolder kedua: 'Aset'. Tabel berisi daftar pengalihan — rumah di Menteng dialihkan ke nama ibu Damar sebelas bulan lalu, dua rekening dipindahkan ke perusahaan cangkang di Singapura, saham yayasan diputar lewat tiga badan hukum. Semua diberi tanggal. Semua ditandatangani. Semua dilakukan saat Anisa masih memasakkan sup untuk lelaki itu dan memanggilnya 'Mas'.
Subfolder ketiga tidak bernama resmi — hanya inisial 'R'. Anisa membukanya dan menemukan ratusan foto: Damar dan Rania di Bali, di Singapura, di sebuah apartemen yang tidak pernah Anisa kenal. Tanggal metadata tertua: empat belas bulan lalu. Ada juga pindaian kuitansi hotel, tiket pesawat berdua, dan — yang paling membuat perutnya mual — cincin yang dibeli dua bulan lalu, dengan nota yang bertuliskan 'untuk R, setelah semuanya selesai'.
Setelah semuanya selesai. Setelah aku disingkirkan.
Anisa menyalin semuanya. Folder Legal, folder Aset, folder R. Bilah progres bergerak pelan — empat menit yang terasa seperti empat jam. Ia menatap pintu, mendengarkan lorong, jantungnya berdegup di telinga.
Sembilan puluh persen. Sembilan puluh lima. Selesai.
Ia mencabut flash drive tepat ketika gagang pintu bergerak.
Pintu terbuka — Rania. Perempuan itu berdiri di ambang pintu dengan dua cangkir kopi, dan matanya langsung menyipit melihat Anisa duduk di kursi Damar, di depan laptop Damar.
'Kamu ngapain di situ?' Suara Rania tajam.
Untuk sepersekian detik, Anisa merasa dunianya berhenti. Lalu latihannya mengambil alih. Ia mengangkat wajah dengan tenang, memutar layar laptop ke arah Rania — tabel presentasi terbuka lebar — dan berkata dengan nada bosan: 'Merapikan angka untuk Senin. Pak Damar yang menyuruh. Beliau titip ruangan, katanya jangan biarkan siapa pun masuk.' Ia berhenti sejenak, menatap Rania dari atas kacamatanya. 'Termasuk, sebenarnya, Mbak.'
Rania terdiam. Kalimat terakhir itu menggantung di udara, dan Anisa bisa melihat perempuan itu menghitung: melapor pada Damar berarti mengaku masuk tanpa izin; tidak melapor berarti menelan kecurigaannya sendiri.
'Aku cuma mau naruh kopi beliau,' kata Rania akhirnya, meletakkan cangkir itu di meja dengan bunyi yang terlalu keras. Lalu ia keluar, dan pintu tertutup lebih kasar dari yang diperlukan.
Anisa membuang napas panjang. Flash drive di saku blazernya terasa panas seperti bara.
Dua jam kemudian Damar kembali dengan wajah lelah. 'Beres?' tanyanya.
'Beres, Pak. Angkanya sudah saya rapikan.' Anisa menyerahkan laptop itu dengan tangan yang stabil. Stabil sekali. Ia sendiri kagum pada tangannya. 'Kalau tidak ada lagi, saya pamit. Sampai besok.'
'Laras.' Damar memanggil saat ia di pintu. 'Terima kasih. Aku... jarang bisa percaya orang sepenuhnya. Kamu salah satunya.'
Anisa menatap suaminya — lelaki yang sedang menyusun perceraian darinya, yang baru saja memuji kepercayaannya pada istri yang ia khianati — dan tersenyum.
'Sama-sama, Pak Damar,' katanya pelan. 'Saya juga percaya pada Bapak.'
Malam itu, di apartemennya, Anisa membuka satu per satu berkas curian itu sampai matanya perih. Setiap foto, setiap kuitansi, setiap paragraf draf gugatan. Ia tidak menangis. Ia sudah selesai dengan menangis sejak sore di lift dua minggu lalu.
Yang ia lakukan adalah menyalin semuanya ke dua tempat: hard drive cadangan, dan amplop cokelat tebal yang ia titipkan ke Ratih keesokan harinya.
'Kalau sesuatu terjadi padaku,' katanya pada sahabatnya, 'buka ini.'
Ratih menatap isinya dan memutih. 'Anisa... ini gila. Bukan buktinya yang gila — kamu yang gila. Kamu masuk ke sarangnya dan mencuri ini dari bawah hidungnya.'
'Belum selesai.' Anisa menatap keluar jendela. 'Bukti ini cukup untuk memenangkan perceraian. Tapi aku tidak mau cuma menang. Aku mau semua orang tahu siapa Damar Mahesa sebenarnya.'