Tiga minggu menjadi Laras Wijaya, Anisa belajar satu hal yang menyakitkan: suaminya ternyata bisa menjadi lelaki yang hangat — hanya saja bukan kepada istrinya.
Sebagai Laras, ia melihat sisi Damar yang sudah lama hilang dari rumah mereka. Lelaki itu mengingat kopi yang ia pesan. Membukakan pintu ruang rapat. Mendengarkan — benar-benar mendengarkan — setiap kali ia bicara soal strategi. Di meja makan rumah, Damar selalu setengah hadir; di kantor, bersama Laras, lelaki itu hadir seratus persen.
'Kamu tahu, Bu Laras,' kata Damar suatu sore, saat mereka berdua lembur menyiapkan laporan untuk dewan, 'bekerja denganmu itu... beda. Kamu tidak takut padaku.'
'Kenapa saya harus takut pada Pak Damar?' Anisa tidak mengangkat wajah dari laptop.
'Hampir semua orang di gedung ini takut padaku.' Damar tertawa pelan. 'Kecuali kamu. Kamu bahkan berani mengoreksi angkaku di depan direksi kemarin.'
'Karena angka Bapak salah.'
'Iya. Itu yang membuatku...' Damar berhenti, seolah menyadari kalimatnya sendiri terlalu jauh. 'Yang membuatku senang kamu ada di proyek ini.'
Anisa merasakan jantungnya bergerak aneh — bukan cinta, bukan rindu, tetapi kemarahan yang mendidih pelan. Jadi lelaki ini bisa. Bisa perhatian, bisa menghargai, bisa jadi pasangan yang menyenangkan. Ia hanya memilih untuk tidak melakukannya pada istri sahnya.
Pilihan, batinnya. Semua ini pilihan dia. Ingat itu, Anisa.
Pekerjaan itu sendiri memberinya akses yang ia butuhkan. Sebagai konsultan utama, Laras ikut rapat direksi, membaca laporan keuangan internal, dan pelan-pelan memetakan sesuatu yang janggal: beberapa transfer dana besar ke perusahaan cangkang atas nama ibu Damar, persis seperti yang lelaki itu banggakan di depan Rania. Pengalihan aset. Tetapi laporan resmi tidak cukup — ia butuh dokumen aslinya, emailnya, bukti yang menghubungkan Damar secara langsung.
Dan bukti itu ada di satu tempat: komputer dan ponsel Damar Mahesa.
Kesempatan mulai terbuka lewat kebiasaan Damar sendiri. Lelaki itu sering meninggalkan laptopnya menyala di ruang kerja saat dipanggil rapat dadakan. Dua kali Anisa masuk dengan alasan mengambil berkas rapat, dua kali ia hanya punya waktu tiga puluh detik — cukup untuk melihat layar, belum cukup untuk menyalin apa pun.
Ia butuh waktu yang lebih panjang. Dan waktu itu datang dari arah yang tidak ia duga: Rania.
Sekretaris itu semakin terang-terangan menunjukkan kebenciannya pada Laras. 'Bu Laras,' kata Rania di pantry, nadanya manis berlapis gula, 'sebaiknya Ibu jaga jarak profesional dengan Pak Damar. Beliau itu... sudah ada yang punya.'
Anisa menyeruput kopinya pelan. 'Oh ya? Istrinya?'
Sesuatu berkedip di mata Rania — kemenangan kecil yang bodoh. 'Istrinya tidak perlu Ibu pikirkan. Yang penting, beliau sudah ada yang punya.'
'Astaga, Mbak Rania.' Anisa tertawa kecil, sengaja membuat suaranya merendah. 'Saya ini konsultan. Urusan saya angka dan strategi. Kalau Mbak merasa posisi Mbak terancam oleh perempuan lain di sekitar Pak Damar... itu urusan Mbak, bukan urusan saya.'
Wajah Rania memerah. 'Aku tidak terancam. Aku cuma mengingatkan.'
'Bagus. Kalau begitu tidak ada masalah.' Anisa meletakkan cangkirnya dan berjalan keluar, meninggalkan Rania dengan amarah yang menggantung di udara.
Di balik pintu pantry, Anisa menyeringai kecil. Rania yang panik adalah Rania yang ceroboh. Dan Rania yang ceroboh akan membuat kesalahan — perempuan seperti itu, kalau merasa wilayahnya diserbu, akan melakukan sesuatu untuk menegaskan kepemilikannya. Sesuatu yang terlihat, tercatat, dan bisa dibuktikan.
Benar saja. Jumat sore itu, seluruh lantai dua puluh mendengar kabar: Rania 'tidak sengaja' membalas email grup manajer dengan email pribadi — undangan makan malam romantis di hotel untuk 'D', lengkap dengan emoji hati. Email itu ditarik dalam dua menit, tetapi dua menit cukup bagi selusin pasang mata untuk membacanya. Termasuk mata Anisa, yang langsung menyimpan tangkapan layarnya sebelum email itu lenyap.
Satu bukti kecil, batinnya. Masih jauh dari cukup, tetapi ini awal.
Yang lebih sulit ia jaga ternyata bukan penyamarannya — melainkan emosinya sendiri. Setiap kali Damar tersenyum pada Laras, setiap kali lelaki itu berkata 'kamu hebat', ada bagian lama dalam dirinya yang berdesir. Bagian yang tiga tahun mencintai lelaki ini. Bagian yang berbisik: kalau dia bisa sebaik ini pada Laras, mungkin dia masih bisa kembali padamu.
Anisa membunuh bisikan itu setiap kali ia muncul. Lelaki ini baik pada Laras karena ia mengira Laras perempuan lain. Itu bukan cinta. Itu justru bukti perselingkuhannya — sedang terjadi, di depan matanya, dan kali ini perempuan yang digoda adalah dirinya sendiri.
Betapa aneh rasanya, pikirnya malam itu di apartemen, menjadi saksi suamimu berselingkuh — dengan dirimu yang menyamar.
Ia menatap laptopnya. Tiga minggu, satu tangkapan layar, sejumlah catatan transfer mencurigakan. Belum cukup untuk menghancurkan Damar Mahesa. Ia butuh masuk lebih dalam — ke komputer lelaki itu, ke email pribadinya, ke berkas perceraian yang disusun pengacaranya.
Dan untuk itu, ia butuh Damar mempercayai Laras sepenuhnya.
'Kamu mau Laras masuk lebih dalam, Mas?' bisiknya pada layar yang gelap. 'Baik. Aku akan jadi perempuan yang paling kamu percaya di kantor itu. Dan kamu sendiri yang akan menyerahkan kuncinya.'