Butuh waktu dua minggu bagi Anisa untuk membunuh dirinya sendiri — secara harfiah, setidaknya secara penampilan.
Rambut panjang sebahu yang selalu ia gerai diganti wig pendek bob berwarna lebih gelap, dipotong asimetris. Ia membeli kacamata berbingkai tebal yang mengubah garis wajahnya. Alisnya dibentuk ulang lebih tajam, riasannya bergeser dari lembut ke tegas — warna-warna gelap, lipstik merah bata. Ia berlatih berbicara lebih rendah dan lebih cepat, menghilangkan kebiasaan lembutnya mengangguk saat orang bicara. Ia bahkan membeli sepatu hak yang lebih tinggi, blazer yang lebih kaku, cara berjalan yang lebih menyerang.
Di cermin, Nyonya Anisa Mahesa menghilang. Yang tersisa adalah perempuan lain.
'Laras Wijaya,' katanya pada bayangan itu, mengulang nama yang ia pilih. Nama neneknya, nama yang tidak pernah sekali pun disebut Damar selama tiga tahun pernikahan mereka. 'Konsultan bisnis. Lulusan NUS, sepuluh tahun di Singapura, spesialis restrukturisasi.'
Identitas itu tidak sepenuhnya bohong — gelar dan pengalamannya memang nyata, hanya namanya yang dipinjam. Dan ia punya satu kartu as: Ratih, sahabat kuliahnya yang sekarang memimpin firma konsultan Wijaya & Partners. Dua jam di kafe, satu cerita jujur tentang perselingkuhan Damar, dan Ratih — yang pernah dikhianati dengan cara yang sama — menyanggupi tanpa ragu.
'Firma-ku yang akan merekomendasikan kamu ke Mahesa Group,' kata Ratih. 'Kebetulan mereka memang sedang membuka tender konsultan untuk proyek restrukturisasi divisi ritel. CV kamu asli, track record kamu asli, cuma namanya beda. Legalitas kontrak lewat firma-ku, jadi rapi.'
'Kamu yakin mau bantu sejauh ini?' tanya Anisa.
Ratih menyeringai. 'Aku sudah lama menunggu ada perempuan yang berani melawan lelaki seperti Damar Mahesa. Maju.'
Seminggu kemudian, email masuk: Laras Wijaya diundang presentasi di hadapan direksi Mahesa Group.
Pagi harinya, Anisa berdiri di depan cermin kamar kerjanya — bukan kamar utama — dan memeriksa penyamarannya sekali lagi. Wig, kacamata, blazer abu-abu gelap. Ia mengatur napas. Di rumah ini, Damar masih tidur di kamar utama; Anisa pamit akan 'retreat bersama teman-teman yayasan di Bogor selama proyek berjalan'. Damar bahkan tidak bertanya retreat apa. Ia hanya berkata, 'Iya, hati-hati,' sambil membaca berita di ponselnya.
Semakin mudah suaminya melepasnya, semakin mudah pula Anisa membencinya.
Gedung Mahesa Group menyambutnya sama seperti dua minggu lalu, tetapi kali ini resepsionis yang sama menatapnya tanpa mengenali sedikit pun. 'Selamat pagi, Bu Laras. Ruang rapat di lantai dua puluh satu, Bapak-bapak direksi sudah menunggu.'
Presentasi itu adalah panggungnya. Anisa — Laras — memaparkan analisis divisi ritel Mahesa Group selama empat puluh menit: masalah rantai pasok, margin yang bocor, manajemen cabang yang tumpang tindih. Ia tahu perusahaan ini lebih dalam dari konsultan mana pun, karena selama tiga tahun ia mendengarkan Damar bercerita di meja makan — dulu ia dengarkan sebagai istri, sekarang ia pakai sebagai senjata.
Di ujung meja, Damar Mahesa memperhatikannya tanpa berkedip.
Tidak ada tanda pengenalan di mata lelaki itu. Tidak ada keraguan. Yang ada justru sesuatu yang lain — ketertarikan yang telanjang, cara seorang lelaki menatap perempuan asing yang membuatnya penasaran.
'Analisis yang tajam, Bu Laras,' kata Damar akhirnya. 'Boleh saya tahu kenapa firma sekelas Wijaya & Partners baru mengirim konsultan terbaiknya sekarang?'
'Karena saya baru pindah ke Jakarta, Pak Damar.' Laras menatapnya lurus. 'Dan karena perusahaan ini tidak butuh konsultan biasa. Perusahaan ini butuh orang yang berani bilang bahwa separuh masalahnya ada di manajemen puncak.'
Ruangan hening. Dua direktur saling pandang. Damar justru tertawa kecil. 'Saya suka orang berani. Proyek enam bulan, mulai Senin. Anda akan bekerja langsung dengan saya.'
Dengan saya. Anisa menelan rasa mual yang naik ke tenggorokan dan mengangguk profesional. 'Dengan senang hati, Pak.'
Hari pertama sebagai Laras berjalan seperti berjalan di atas tali. Ia punya ruang kerja kecil di lantai dua puluh, dua pintu dari ruang kerja Damar — ruang kerja yang sama tempat dunianya runtuh dua minggu lalu. Setiap kali melewati pintu itu, dadanya mengetat, tetapi ia memaksa langkahnya tetap rata.
Rania menyambutnya dengan senyum yang tidak sampai ke mata. 'Bu Laras, kalau perlu jadwal Pak Damar, lewat saya ya. Semua akses ke beliau lewat saya.'
'Tentu, Mbak Rania.' Anisa membalas senyum itu dengan senyum yang sama dinginnya. Jadi ini perempuannya. Dari dekat, Rania memang cantik — dan penuh rasa memiliki. 'Saya dengar Mbak sudah lama jadi sekretaris Pak Damar. Pasti Mbak tahu banyak sekali tentang beliau.'
'Tujuh tahun,' jawab Rania bangga. 'Beliau tidak bisa apa-apa tanpa saya.'
Aku percaya itu, batin Anisa. Termasuk hal-hal yang tidak boleh dilakukan sekretaris.
Malam pertama, di apartemen kecil yang diam-diam ia sewa atas nama Laras Wijaya, Anisa melepas wig dan kacamatanya lalu duduk lama di depan laptop. Di layar: struktur organisasi Mahesa Group, jadwal Damar yang ia salin diam-diam, dan daftar yang ia tulis dua minggu lalu.
Satu per satu, rencananya berjalan. Ia sudah di dalam. Damar tidak mengenalinya. Rania sudah merasa terancam.
Anisa menatap foto pernikahannya yang masih tersimpan di ponsel — satu-satunya hal dari kehidupan lamanya yang belum ia hapus. Lelaki di foto itu tersenyum padanya seperti lelaki paling setia di dunia.
'Tunggu saja,' bisiknya pada foto itu. 'Aku akan membongkarmu dari dalam. Dan kamu sendiri yang akan membukakan pintunya untukku.'