Anisa Mahesa berdiri di depan lift gedung Mahesa Group sambil menenteng kotak makan siang yang ia siapkan sendiri sejak pagi. Hari ini ulang tahun pernikahannya yang ketiga. Tiga tahun menjadi istri Damar Mahesa — CEO muda yang dipuja media, lelaki yang dulu menikahinya dengan janji akan menjaganya seumur hidup.
Resepsionis di lantai dua puluh menyapanya dengan canggung. 'Bu Anisa, Pak Damar sedang... ada rapat di dalam.'
Anisa tersenyum. 'Tidak apa-apa, Mbak. Saya tunggu di ruang kerjanya saja. Saya cuma mau menaruh ini.'
Perempuan itu tampak ingin mencegah, tetapi Anisa sudah melangkah lebih dulu menyusuri koridor yang ia kenal betul. Pintu ruang kerja suaminya sedikit terbuka. Ia baru hendak mengetuk ketika suara dari dalam membuat tangannya berhenti di udara.
Suara perempuan. Suara tawa yang terlalu mesra untuk disebut rapat.
'Kamu yakin dia tidak curiga?' Suara Rania, sekretaris Damar. Perempuan yang selama ini selalu membungkuk hormat setiap kali Anisa datang.
'Anisa? Dia tidak pernah curiga apa pun,' jawab Damar, dan nada suaranya membuat dada Anisa mencelos. Nada yang ringan, penuh sayang — nada yang sudah berbulan-bulan tidak ia dengar di rumah. 'Dia sibuk dengan yayasan dan acara sosialitanya. Dia bahkan tidak tahu kita sudah setahun begini.'
Anisa tidak mendorong pintu itu. Ia tidak sanggup. Tetapi lewat celah pintu, ia melihat cukup: Rania duduk di meja kerja suaminya, dan Damar berdiri di belakangnya dengan kedua tangan memeluk bahu perempuan itu, mencium rambutnya.
Kotak makan siang di tangan Anisa mendadak terasa seberat batu.
'Terus kapan kamu mau beres-beres?' tanya Rania. 'Aku capek jadi rahasia.'
'Sabar. Pengacaraku sudah menyiapkan berkasnya. Bulan depan aku ajukan gugatan.' Damar berjalan ke jendela. 'Aku sudah mengalihkan sebagian besar aset atas nama ibuku sejak tahun lalu. Rumah, saham atas namanya, semua sudah aman. Anisa akan keluar dari pernikahan ini dengan tangan kosong. Dia menandatangani perjanjian pranikah tanpa membaca, ingat? Kesalahannya sendiri.'
'Kejam,' kata Rania, tetapi ia tertawa saat mengatakannya.
'Itu namanya pintar. Tiga tahun sudah cukup lama aku bersabar. Setelah cerai, kita menikah. Kamu yang seharusnya jadi Nyonya Mahesa dari awal.'
Anisa mundur satu langkah. Lalu satu langkah lagi. Kakinya bergerak sendiri, menjauh dari pintu itu, melewati resepsionis yang menunduk tidak berani menatapnya, masuk ke lift, dan menekan tombol lantai dasar dengan jari yang gemetar.
Di dalam lift yang kosong, ia menatap bayangannya di cermin dinding. Aneh, pikirnya. Ia tidak menangis. Ia merasa seharusnya menangis — suaminya berselingkuh, merancang perceraian, dan menguras habis harta yang seharusnya menjadi haknya. Tetapi yang ia rasakan bukan sedih. Yang ia rasakan adalah dingin. Dingin yang sangat jernih, seperti air es yang menyadarkannya dari tidur tiga tahun.
Di lobi, satpam menyapanya ramah. 'Sudah selesai, Bu Anisa?'
'Sudah, Pak.' Ia bahkan sempat tersenyum. Kotak makan siang itu ia tinggalkan di tong sampah dekat pintu keluar.
Sepanjang perjalanan pulang, Anisa tidak berkata apa-apa. Sopirnya beberapa kali melirik lewat kaca spion, tetapi ia hanya menatap jalanan. Di kepalanya, potongan-potongan kejadian tiga tahun terakhir tersusun ulang seperti puzzle yang akhirnya menemukan gambarnya: malam-malam Damar pulang larut dengan alasan rapat, parfum asing di kemejanya, ponsel yang tidak pernah boleh disentuh, dan perjanjian pranikah yang dulu ia tandatangani dengan mata tertutup cinta.
Bodoh, batinnya. Aku bodoh sekali.
Tetapi di balik kata bodoh itu, ada hal lain yang tumbuh. Anisa Rahmawati — sebelum menjadi Nyonya Mahesa — bukan perempuan bodoh. Ia lulusan terbaik jurusan manajemen, pernah bekerja sebagai konsultan bisnis di firma ternama, pernah menangani restrukturisasi perusahaan yang lebih berantakan dari rumah tangganya sekarang. Ia melepaskan semuanya karena Damar memintanya menjadi 'istri yang di rumah saja'. Dan ia menurut, karena ia mencintai lelaki itu.
Cinta itu mati siang ini, di depan pintu ruang kerja yang terbuka sedikit.
Yang tersisa adalah pertanyaan sederhana: apa yang harus ia lakukan sekarang?
Opsi pertama: konfrontasi malam ini juga. Menangis, menampar, menuntut cerai. Hasilnya? Damar akan memainkan korban, pengacaranya akan memastikan Anisa pergi tanpa apa-apa, dan Rania akan menang sambil tertawa.
Opsi kedua: diam, terima gugatan, hilang dari kehidupan mereka.
Anisa menatap pantulan dirinya di jendela mobil. Tidak. Dua-duanya tidak.
Ia ingin opsi ketiga. Ia ingin Damar Mahesa merasakan persis apa yang ia rasakan hari ini: dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, dihancurkan di depan semua orang yang memujanya. Dan untuk itu, ia butuh bukti. Bukan gosip, bukan curiga — bukti yang tidak bisa disangkal pengacara mana pun: perselingkuhannya, pengalihan asetnya, rencana liciknya, semua.
Malam itu, Damar pulang pukul sebelas. Anisa menyambutnya di ruang makan dengan sup hangat dan senyum yang sempurna.
'Sayang, kamu tadi ke kantor?' tanya Damar sambil melepas jas. 'Resepsionis bilang kamu mampir.'
Jantung Anisa berdebar sekali, lalu tenang. 'Iya. Tapi katanya kamu rapat penting, jadi aku pulang lagi. Nggak mau ganggu.' Ia menuangkan sup ke mangkuk suaminya. 'Selamat ulang tahun pernikahan, Mas.'
Damar menatapnya sejenak. Ada sesuatu yang melintas di matanya — mungkin rasa bersalah, mungkin tidak. 'Oh iya. Maaf, aku nggak siapin apa-apa. Sibuk banget akhir-akhir ini.'
'Tidak apa-apa.' Anisa tersenyum, dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, senyumnya adalah senyum yang berbohong. 'Aku juga lagi mikir mau cari kesibukan. Bosan di rumah terus. Mungkin aku mau kursus, atau... jalan-jalan sama teman-teman lama.'
'Bagus,' kata Damar, dan benar saja — ia tidak mendengarkan. Matanya sudah kembali ke ponselnya.
Anisa memperhatikan suaminya makan sup buatannya dan berpikir betapa mudahnya lelaki ini ditipu oleh senyum. Selama tiga tahun ia mengira aku perempuan polos yang tidak tahu apa-apa.
Baik. Biar ia terus mengira begitu.
Malam itu, setelah Damar tertidur, Anisa membuka laptop lamanya di kamar kerja kecil yang sudah lama tidak ia pakai. Ia menyusun daftar di kepala: identitas baru, penampilan baru, dan satu tiket masuk ke jantung perusahaan suaminya.
Kalau Damar ingin perang, ia akan mendapatkan perang. Hanya saja, ia tidak akan tahu dari arah mana serangan itu datang — sampai semuanya terlambat.