Serangan ke Wijaya & Partners datang hari kesembilan — bukan lewat gugatan resmi dulu, melainkan lewat reputasi: artikel bisnis dengan judul setengah tanya, *Apakah Firma Konsultan Membantu Istri Membobol Perusahaan Suami?*
Anisa membaca di ruang kerja Ratih lantai empat belas, duduk di kursi tamu yang dulu ia pakai sebagai Laras saat pertama kali presentasi tender — ironi yang Ratih tidak komentari, hanya dengan menyajikan kopi lebih pahit.
'Channel ini biasanya netral,' kata Ratih, membalas telepon sambil speaker. 'Sekarang mereka pakai sumber anonim dari "mantan klien" yang kecewa firma terlibat sengketa keluarga.'
Di ujung telepon, staf marketing firma melaporkan: dua klien ritel menunda kontrak, satu proyek pemerintah daerah minta klarifikasi, tiga email dari mitra internasional menanyakan apakah Wijaya & Partners masih "independen."
Mira, via video call, menambahkan: 'Halim & Rekan menyebarkan memo ke jaringan hukum-konsultan — narasi Laras Wijaya bukan konsultan sungguhan, melainkan istri CEO yang diselundupkan lewat firma sahabat. Itu serangan ke Ratih, bukan cuma ke Bu Anisa.'
Anisa menyilangkan tangan. 'Batalkan kontrak saya dengan firma? Saya bisa pindah pengacara—'
'Tidak.' Ratih mematikan speaker, menatap Anisa tajam. 'Kalau kamu pindah, mereka menang narasi: Wijaya & Partners sadar salah dan buang klien. Firma-ku yang rekomendasikan Laras ke Mahesa Group — legal, kontrak bersih, track record asli. Kita tidak mundur.'
'Reputasi kamu—'
'Reputasi firmaku tahan gosip sejak aku diperceraikan sendiri lima tahun lalu.' Ratih duduk di meja kerjanya — meja yang sama saat ia menyetujui rencana gila Anisa. 'Ini garis depan. Kamu diam di belakang. Aku yang keluar.'
Pagi itu, Anisa sempat menelepon Mira — bukan minta pindah firma, hanya konfirmasi: apakah gugatan nanti bisa disampaikan tanpa menyeret Wijaya & Partners ke depan kamera? Mira menjawab: firma Ratih adalah jalur kontrak Laras; menyangkal keterkaitan justru memberi amunisi Halim. Kejujuran terbatas, bukan teater.
Siang hari, Ratih mengadakan briefing pers singkat di ruang rapat firma — tanpa Anisa di kamera. Anisa menonton dari ruang sebelah lewat monitor internal, jantung lebih kencang dari saat gala.
Ratih berdiri tegak, blazer hitam, suara rendah dan jelas: 'Wijaya & Partners mendampingi klien dalam sengketa hukum dengan bukti yang diverifikasi. Konsultan Laras Wijaya bekerja lewat kontrak firma kami untuk proyek restrukturisasi ritel — scope of work jelas, deliverable tercatat, pembayaran dari perusahaan, bukan dari istri CEO. Firma tidak membocorkan data perusahaan; klien kami melaporkan dugaan penggelapan melalui jalur hukum yang benar.'
Pertanyaan wartawan: 'Apakah Bu Anisa menyamar?'
'Identitas pribadi klien kami relevan ke pengadilan, bukan ke showroom pers.' Ratih tidak tersenyum. 'Yang relevan publik: apakah transfer miliaran ke rekening ibu CEO sah atau tidak. Itu pertanyaan audit dewan — bukan firma konsultan.'
Pertanyaan kedua, lebih tajam: 'Apakah firma akan drop klien?'
'Tidak.' Ratih tidak berkedip. 'Kami drop klien yang minta kami memutar angka. Bukan klien yang minta kami membela angka.'
Anisa mengepalkan tangan. Laras tidak akan berani membalas wartawan begitu; Laras akan tersenyum dan mengalihkan. Ratih membalas tanpa permintaan maaf — dan untuk sejenak Anisa merasa bukan satu-satunya perempuan di ruangan ini yang menolak jadi karakter headline.
Briefing selesai dalam dua belas menit. Dua klien ritel tetap menunda — kerugian nyata, proyek senilai delapan digit tahunan. Tetapi mitra internasional yang Ratih khawatirkan membalas email: 'Kami menunggu hasil audit, bukan gosip.'
Sore hari, serangan second wave: akun LinkedIn palsu mengunggah "testimoni" mantan staf Mahesa Group yang klaim Laras mencuri file dari meja Damar. Anisa mengenali pola — Halim menyiapkan publik sebelum gugatan formal.
Staf IT firma Ratih menelusuri dalam dua jam: akun dibuat tiga hari lalu, foto profil stock, bahasa Indonesia formal yang mirip press release Halim. Ratih mengirim laporan ke Mira — bukan untuk balas di medsos, untuk lampiran counter nanti.
Mira membalas dengan pernyataan tertulis: bukti di gala berasal dari chain of custody tercatat, metadata foto diverifikasi pihak ketiga, transfer bank dari rekening perusahaan bukan dari laptop pribadi Laras. 'Serangan ke firma konsultan adalah distraksi dari audit Big Four,' tutup pernyataan itu.
Ratih menerima telepon dari ibu Damar — bukan langsung, lewat asisten charity yang Ratih kenal dari acara lama.
Anisa hanya mendengar satu kalimat Ratih: 'Saya tidak akan minta Anisa minta maaf ke nyonya Mahesa. Titik.'
Telepon kedua datang dari klien ritel yang menunda — CEO perempuan muda, suara lelah: 'Ratih, aku percaya kamu. Tapi board-ku panik. Beri aku satu bulan.' Ratih menjawab: 'Aku beri audit Big Four, bukan janji kosong.' Anisa mendengar dari ruang sebelah; tidak ikut campur. Itu garis depan Ratih, bukan milik Laras.
Malam hari, firma lebih sepi. Ratih dan Anisa makan mie instan di ruang rapat kecil — bukan karena miskin, karena tidak ada energi untuk pura-pura normal.
'Maaf,' kata Anisa — kata yang jarang ia ucapkan sejak gala.
'Jangan.' Ratih menyeruput kuah. 'Kamu tidak rencanakan Halim serang firmaku. Damar dan ibunya rencanakan curi harta kamu. Aku tahu risiko sejak hari pertama.'
'Kamu bisa saja menolak.'
'Dan kamu bisa saja menangis di rumah.' Ratih menatapnya. 'Kita pilih jalan sulit. Garis depan memang sulit.'
Anisa mengangguk. Di layar laptop, notifikasi email: Mira meneruskan draf gugatan balik Halim — ancaman "penyamaran ilegal" akan diformalisasi minggu depan. Serangan yang Ratih dan Anisa tahu akan datang — tetapi malam ini, firma masih berdiri, reputasi retak tapi tidak runtuh.
Ratih mengunci pintu ruang rapat terakhir. 'Besok Anisa pindah dari guest room ke apartemen sewa atas namaku — bukan Menteng, bukan tower Laras. Tempat baru, nama asli, protokol Mira.'
'Terima kasih,' kata Anisa — kali ini ke Ratih, bukan ke ruangan kosong.
'Jangan ucapkan lagi malam ini. Ucapkan besok dengan tidur cukup.' Ratih tersenyum tipis — senyum sahabat, bukan Laras, bukan CEO wife. 'Garis depan masih panjang.'
Anisa pulang ke guest room dengan langkah lebih ringan. Bukan karena menang — karena tidak sendirian di garis depan. Di gedung seberang Jakarta, headline mungkin masih berkata *istri balas dendam*. Di firma Wijaya & Partners, lampu lantai empat belas padam satu per satu — dan Ratih, bukan Anisa, yang memegang kunci terakhir.