Apartemen Laras Wijaya di tower Sudirman sudah kosong seminggu — Ratih mengosongkannya siang hari gala, sebelum nama Anisa meledak di headline. Anisa menundanya seminggu penuh sebelum mau melihatnya lagi; bukan takut tempat, takut benda.
Hari kedelapan, ia pergi dengan Mira dan Ratih — bukan diam-diam, tetapi dengan protokol: mobil sewaan, masuk lewat basement, tanpa logo firma di pakaian. Lift naik ke lantai dua puluh tiga. Pintu apartemen dibuka dengan kartu akses yang masih aktif sampai akhir bulan; kontrak Laras berakhir, identitas Laras sudah mati di ballroom.
Ruangan itu lebih kecil dari rumah Menteng, lebih besar dari guest room Ratih. Bau netral — deterjen, AC, sedikit parfum yang Laras pakai tiga bulan. Di lemari: blazer abu-abu gelap, wig bob, kacamata tebal, sepatu hak tinggi. Di meja kerja: laptop kontrak firma, catatan restrukturisasi ritel, foto tim kantor Mahesa Group di mana Laras berdiri di barisan belakang tanpa senyum lebar.
Anisa berdiri di tengah ruangan tanpa wig, rambut asli tergerai, wajah tanpa kacamata. Cermin di pintu lemari menangkap bayangan sendiri — satu, bukan dua.
'Ambil apa yang penting,' kata Mira. 'Forensik sudah salin hard drive minggu lalu. Sisanya bisa dibuang atau disimpan chain of custody.'
Anisa membuka laci meja. Kartu nama Laras Wijaya — Konsultan Senior, Wijaya & Partners. Ia memegang kartu itu sejenak, lalu meletakkannya di meja, bukan di tas.
'Buang?' tanya Ratih.
'Arsipkan di firma. Bukan identitas saya lagi.' Anisa menarik wig dari gantungan, memegang fiber sintetis yang tiga bulan menahan napasnya. 'Aneh. Tiga bulan lalu saya pikir ini armor. Sekarang terasa seperti kulit mati.'
Ia duduk di tepi tempat tidur sempit — tempat Laras tidur setelah rapat larut. Di sofa kecil dekat jendela, Damar pernah duduk sambil "membahas proyek" — dua jam analisis margin, lalu tangannya di lutut Laras, lalu Anisa pura-pura tidak pahami rayuan karena butuh bukti. Mual tipis naik; bukan penyesalan, tubuh yang ingat kebohongan.
'Kamu tidak harus ikut forensik emosional,' kata Mira lembut. 'Cukup ambil barang pribadi asli — kalau ada.'
Anisa membuka tas kecil di lemari dapur. Di dalamnya: cincin pernikahan yang ia lepas saat pertama kali menyamar — tidak dijual, tidak dibuang, hanya disimpan seperti bukti museum. Ia menatap cincin itu, lalu memasukkannya ke saku Ratih.
'Simpan di loker firma. Bukan di tangan saya, belum.'
Ratih tidak protes.
Anisa berdiri di depan cermin kamar mandi — ubin putih, lampu terang, tidak ada filter kacamata. Wajah Anisa Mahesa: garis lelah di bawah mata, bibir tanpa lipstik bata, alis alami bukan alis Laras yang dicetak tajam. Perempuan itu, pikirnya, bukan cantik seperti Laras di mata Damar. Perempuan itu lebih nyata — dan untuk pertama kalinya sejak lama, Anisa tidak ingin menukar.
'Siapa saya tanpa wig?' tanyanya pelan — bukan retorika untuk Ratih, pertanyaan ke cermin.
'Sama orang yang lulus NUS,' jawab Ratih dari ambang pintu. 'Yang restrukturisasi ritel lebih dulu dari Laras. Laras cuma kostum.'
'Kostum yang Damar sukai.'
'Kostum yang Damar sukai karena tidak tahu itu istrinya.' Mira menutup laptop forensik. 'Identitas asli Bu Anisa yang Halim akan serang — bukan karena palsu, karena tidak jujur ke perusahaan. Di ruang perdata, Bu Anisa jujur sekarang. Itu yang penting ke pengadilan.'
Anisa membuka lemari dapur lagi — stok instan, teh celup, satu botol anggur merah yang tidak pernah dibuka. Laras tidak minum sendirian di apartemen; Laras hanya memakai ruangan ini untuk tidur dan bekerja. Anisa Mahesa, pikirnya, pernah hidup lebih penuh sebelum menikah — dan akan hidup penuh lagi setelah selubung.
Ia mengambil blazer abu terakhir — bukan untuk dipakai, untuk dibawa sebagai barang bukti gaya hidup Laras jika sidang butuh. Wig ia letakkan di kotak kertas cokelat, ditandai 'Laras — arsip firma.' Kacamata masuk kotak yang sama. Sepatu hak ia biarkan — ukuran sama, tidak perlu dibawa; cukup foto forensik yang sudah diambil.
Sebelum meninggalkan apartemen, ia berhenti di ambang pintu. 'Terima kasih,' katanya — bukan ke Ratih atau Mira, ke ruangan kosong.
'Untuk apa?' tanya Ratih.
'Untuk tiga bulan napas tertahan. Tanpa Laras, saya tidak punya bukti di kantor.' Anisa menutup pintu. 'Tapi tanpa Anisa di balik Laras, saya tidak punya alasan untuk bukti.'
Lift turun ke basement. Mobil menunggu. Anisa tidak menoleh ke tower — bukan dramatis, hanya selesai. Di kaca mobil, bayangannya sendiri: rambut tergerai, mata lelah, tanpa selubung.
Malam hari di guest room Ratih, ia mencuci rambut panjang — air panas, shampoo biasa, bukan styling Laras. Di cermin kecil kamar mandi, ia berlatih memperkenalkan diri: 'Anisa Mahesa.' Bukan 'Laras Wijaya.' Bukan 'Bu Anisa' lembut charity. Nama yang tiga tahun disuruh diam di rumah, sekarang dipakai lagi seperti baju lama yang ternyata masih muat.
Ratih mengetuk pintu. 'Halim kirim surat — ancam gugatan atas "penyamaran ilegal di lingkungan kerja."'
'Besok,' jawab Anisa dari balik pintu. 'Malam ini saya baru saja melepas wig fisik. Besok kita hadapi wig hukum.'
Ia mematikan lampu. Tidur datang lebih ringan — bukan damai, hanya ruang. Laras tinggal di kotak cokelat di loker firma. Anisa Mahesa tidur di guest room, wajah tanpa filter, siap menghadapi dokumen yang akan menempelkan selubung kembali ke namanya — kali ini di kertas pengadilan, bukan di rambut palsu.
Pagi hari, Ratih menyerahkan kunci apartemen sewa — unit kecil di Kemang, nama penyewa Ratih Wijaya, bukan Anisa Mahesa. 'Mulai besok,' kata Ratih. 'Kamu pulang ke tempat yang tidak pernah Laras sentuh.'
Anisa mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak penyamaran, tempat tidur berikutnya tidak akan punya wig di lemari. Ia membayangkan cermin apartemen Kemang — wajah asli, tanpa filter, tanpa nama palsu di kartu akses. Bukan akhir perang; hanya akhir kostum.