Gugatan formal dari Halim & Rekan datang hari ke sepuluh — bukan ke Anisa dulu, ke Wijaya & Partners dan Mahesa Group sekaligus, dengan salinan ke pengadilan.
Anisa membacanya di ruang rapat Mira, pagi hari, cahaya Jakarta abu-abu setelah hujan. Judul internal memo Halim: *Tuntutan Pembatalan Bukti dan Gugatan Perdata — Penyamaran Ilegal dan Manipulasi Data.*
Mira membacakan poin demi poin tanpa dramatis:
'Pertama: Laras Wijaya bukan konsultan independen, melainkan istri CEO yang menyusup ke lingkungan kerja dengan identitas palsu — melanggar kebijakan internal dan itikad baik kontrak.'
'Kedua: seluruh bukti yang diperoleh Laras selama masa konsultasi — termasuk salinan draft gugatan, metadata foto, log transfer — diperoleh secara melawan hukum dan harus dikecualikan dari sidang.'
'Ketiga: presentasi gala adalah manipulasi publik menggunakan data perusahaan yang dicuri, bukan whistleblowing sah.'
Ratih, di samping Anisa, membacanya sekali lagi. Wajahnya pucat — bukan takut, marah tertahan. 'Mereka serang firmaku dan kamu dalam satu dokumen. Dewan diminta "menunggu investigasi internal" sebelum audit Big Four lanjut.'
'Dewan tidak akan menunggu,' kata Mira. 'Komisaris independen sudah konfirmasi audit lanjut. Tetapi gugatan ini memberi Halim dasar untuk penundaan sidang cerai — dan headline: *bukti direkayasa.*'
Anisa menatap poin kedua — bukti direkayasa. Ia teringat map di tangan Rania saat kabur dari ballroom; log IT yang Rania salin sebelum slide ketiga selesai. Halim sedang menyiapkan dua pisau: Anisa pencuri data, Rania saksi liar — keduanya saling membatalkan jika perlu, asalkan Anisa yang jatuh.
'Rania?' tanya Anisa.
'Belum tercantum sebagai saksi resmi.' Mira membuka lampiran. 'Tetapi ada ruang kosong "Saksi Ahli Digital — identitas dilindungi." Mungkin Rania. Mungkin staf IT yang Halim paksa.'
Sore hari, headline datang — persis seperti Mira prediksi:
*PENGAKUAN HUKUM: ISTRI CEO MANIPULASI BUKTI?*
Subjudul lebih kejam: *Firma konsultan sahabat diduga ikut operasi penyamaran.*
Anisa tidak membuka thread. Mira melarang — bukan karena lemah, karena energi harus disimpan untuk counter filing besok.
Counter filing disiapkan semalaman: kontrak Laras Wijaya dengan scope tertulis, rekomendasi tender dari Wijaya & Partners yang Damar sendiri setujui, email Damar yang memuji analisis Laras di rapat direksi — bukti bahwa perusahaan menerima konsultan, bukan "istri menyusup tanpa sepengetahuan siapa pun."
Plus: chain of custody log bukti gala — siapa mengarsip, kapan hash file dibuat, notaris independen yang verifikasi salinan digital pagi hari acara. Plus: laporan IT firma Ratih soal probing server semalam — IP ke vendor keamanan Mahesa Group, diserahkan ke pengadilan sebagai indikasi intimidasi.
'Kita tidak menyangkal penyamaran identitas pribadi,' kata Mira ke Anisa saat fajar. 'Kita menyangkal bahwa penyamaran identitas membatalkan bukti penggelapan yang independen dari cara diperoleh. Transfer bank tidak dicuri dari laptop Damar — transfer bank ada di sistem perusahaan yang audit Big Four sedang bedah.'
Anisa minum teh dingin. 'Dan kalau hakim tidak setuju?'
'Maka kita ajukan banding, dan dewan tetap audit.' Mira menatapnya lurus. 'Medan pertempuran berubah, Bu Anisa. Bukan lagi ballroom — meja hukum dan meja komisaris. Bu Anisa sudah lepas wig. Sekarang lepas ilusi bahwa satu serangan balik bisa menghentikan kita.'
Anisa hampir tersenyum — hampir. 'Saya tidak punya ilusi menang cepat.'
'Bagus.'
Telepon Ratih berdering — staf IT firma melaporkan: server Wijaya & Partners menerima probing aneh semalam, IP trace ke vendor keamanan yang pernah bekerja untuk Mahesa Group. Bukan breach — percobaan.
'Halim tidak hanya gugat di kertas,' kata Ratih. 'Dia tes pertahanan kita.'
Anisa berdiri, melihat skyline dari jendela ruang rapat — gedung Mahesa Group di kejauhan, gedung firma Ratih di bawah kaki, gedung pengadilan entah di mana. Tiga pilar perang: audit, cerai, reputasi. Serangan balik Halim menyatukan ketiganya dalam satu dokumen — penyamaran ilegal, bukti direkayasa, firma sahabat ikut terlibat.
'Langkah berikutnya?' tanya Ratih.
'Minggu depan sidang penundaan,' jawab Mira. 'Halim akan bawa Rania atau staf IT. Dewan audit lanjut — tapi Damar minta "review etis" identitas Laras. Ibu Damar siapkan pernyataan prenup. Kita balas dengan forensik metadata dan email Rania yang belum diverifikasi.'
Anisa mengemas binder — prenup, chain of custody, kontrak Laras. Tangan stabil. 'Ballroom sudah selesai. Serangan balik baru mulai.'
Ratih menahan pintu lift. 'Kamu aman malam ini?'
'Guest room. Ponsel mati. Protokol Mira.' Anisa melangkah masuk lift. 'Besok apartemen sewa. Nama asli.'
Lift turun. Di lobby gedung, wartawan dua orang — Mira sudah briefing security, Anisa keluar lewat loading dock. Tidak ada foto. Tidak ada wawancara spektakel.
Di mobil sewaan, ia membuka satu halaman gugatan Halim lagi — poin kedua, bukti direkayasa — dan membayangkan Rania setengah tersembunyi scarf, video empat puluh detik, email prenup yang mungkin ada atau mungkin edit.
Musuh musuh belum sekutu. Audit belum selesai. Cerai belum diputus. Anisa Mahesa, tanpa wig, tanpa kacamata, tanpa ilusi menang cepat — melihat jalan berliku di depan dan tidak mundur.
Malam sepuluh hari setelah gala, lampu Jakarta sama seperti malam pertama ia turun panggung. Kota tidak peduli. Tetapi di tiga gedung — Mahesa Group, Wijaya & Partners, pengadilan — meja-meja penuh kertas dengan namanya, dan serangan balik Halim & Rekan baru saja membuat semua pihak tahu: perang jauh dari selesai.
Anisa mematikan lampu guest room. Besok sidang penundaan, forensik metadata, dewan audit — bukan napas panjang istirahat, hanya jeda sebelum ronde berikutnya. Bukti versus gugatan. Audit versus etika. Anisa versus selubung yang sudah ia buang — dan selubung yang lawan masih coba tempelkan kembali ke wajahnya.
Sebelum tidur, Mira mengirim satu pesan singkat: counter filing masuk pukul tujuh pagi. Lampiran: email Damar puji Laras, hash file gala, laporan probing server. Anisa tidak membalas — cukup membaca, lalu menyimpan ponsel Ratih di laci. Sepuluh hari setelah melepas wig di ballroom, perang pindah ke kertas. Itu jauh lebih lambat. Itu juga jauh lebih sulit dibalik dengan headline semalam.