Rapat darurat dewan komisaris Mahesa Group diadakan pukul delapan pagi hari keenam — bukan di ballroom hotel, bukan di ruang rapat kaca lantai dua puluh tiga yang Anisa kenal dari sisi Laras, melainkan di ruang keamanan tinggi di gedung induk, tanpa media, dengan notaris eksternal.
Anisa tidak hadir. Tidak perlu — paket yang ia kirim pagi gala sudah cukup untuk mengisi meja mereka selama berjam-jam.
Isi rapat sampai ke Anisa lewat tiga saluran berbeda sebelum siang: Mira dari juru bicara komisaris independen, Ratih dari kontak investor, dan — paling dingin — ringkasan resmi yang Halim & Rekan kirim ke kantor Mira sebagai 'permintaan tenggat jawaban gugatan.'
Dewan bergerak.
Pertama: audit eksternal penuh atas transfer dana tiga tahun terakhir, khususnya transaksi ke badan hukum atas nama Nyonya Surya Mahesa — ibu Damar. Bukan audit internal yang bisa diredam; firma audit Big Four yang namanya Anisa baca di slide investor. Ruang rapat hening ketika angka pertama slide dibacakan — bukan karena jumlahnya mengejutkan semua orang, tetapi karena jejak tanda tangan Damar ada di setiap baris kedua.
Kedua: pembekuan sementara wewenang tanda tangan Damar untuk transaksi di atas lima ratus juta rupiah, pending hasil audit.
Ketiga — dan ini yang belum Anisa duga secepat ini — pembentukan komite krisis yang secara de facto mengambil alih komunikasi publik perusahaan. Damar Mahesa masih CEO di kertas. Namun memo internal yang bocor ke Mira (Anisa tidak tanya bagaimana) memuat kalimat: 'Pak Damar diminta fokus kooperasi audit; keputusan strategis sementara melalui komite.'
Mira membacakan isi memo tanpa dramatis: rapat dimulai dengan komisaris utama memutar ulang slide gala — bukan video sensasional, hanya tabel transfer. Notaris eksternal hadir untuk mencatat siapa yang hadir, siapa yang protes. Damar duduk ujung meja; dua komisaris independen, yang pagi gala menerima paket Anisa, tidak menatapnya sepanjang pembukaan.
'Belum nonaktif penuh,' kata Mira lewat video call, wajah tenang dengan sedikit kepuasan profesional. 'Tapi sudah setengah meja.'
Anisa duduk di ruang rapat firma, teh sudah dingin. 'Investor?'
'Dua pemegang saham minoritas sudah minta call. Satu besar menahan ekspansi ritel yang Damar promosikan di gala — ironis, ya — sebelum audit selesai.' Ratih menyelipkan printout chat anonim dari grup analis: spekulasi CEO akan digantikan interim.
Anisa ingat slide restrukturisasi yang ia tulis sebagai Laras — bagian yang Damar puji di depan investor. Sekarang bagian itu jadi bukti bahwa visi CEO dan integritas keuangan tidak bisa dibaca terpisah.
'Sidang cerai?' tanya Anisa.
'Tetap jalan. Audit perusahaan dan gugatan perdata istri — jalur paralel. Dewan peduli yang pertama karena uang mereka. Pengadilan peduli yang kedua karena Bapak-Ibu.'
Sore hari, reaksi ibu Damar akhirnya muncul — bukan ke Anisa, ke media.
Nyonya Surya Mahesa, sixty-two, mantan direktur keuangan grup sebelum pensiun, tampil di depan rumah Menteng dengan pengacara keluarga. Pernyataan singkat, tajam:
'Transfer atas nama saya adalah investasi keluarga yang sah. Saya tidak menerima fitnah dari mantu yang memasuki perusahaan dengan identitas palsu.'
Di belakang ibu Damar, gerbang rumah yang seharusnya juga milik Anisa — setidaknya separuh, setidaknya di mata hukum yang belum dibaca Anisa tiga tahun lalu — tampak tenang, cat putih, tanpa noda. Anisa menonton cuplikan itu sekali di tablet Mira dan merasakan dingin yang familiar: bukan takut, tetapi clarity. Ibu mertua bukan sekadar penerima transfer; ibu mertua adalah benteng berikutnya.
'Belum menyerang langsung ke Bapak-Ibu,' komentar Mira. 'Menyerang metode Laras. Itu awal benteng.'
'Rumah Menteng,' kata Anisa pelan. 'Rekening Singapura. Perusahaan cangkang. Semua atas namanya.'
'Ya. Bab berikutnya — prenup dan ibu Damar — akan panjang.' Mira menutup tablet. 'Halim sudah minta penundaan sidang dengan alasan "dokumen baru dari pihak ketiga." Mungkin Rania. Mungkin ibu Damar. Kita siapkan counter besok.'
Anisa berdiri, melihat skyline Jakarta dari jendela kantor Ratih. Enam hari lalu ia masih Laras — memegang mikrofon di ballroom, melepas wig, memanggil suaminya 'Mas' di depan kamera. Enam hari ini dewan audit, Damar setengah disandera kursi, Rania hilang dengan email yang mungkin ada, ibu Damar membuka gerbang.
Belum menang. Sudah bergerak.
Di ponsel Ratih — Anisa masih menolak menyalakan ponsel pribadi — bergetar notifikasi sekali: headline baru.
DEWAN MAHESA MINTA AUDIT — CEO DI AMBANG?
Anisa tidak membuka artikelnya. Ia sudah hidup di dalam headline; membaca ulang hanya mengulang napas. Yang ia butuhkan bukan judul baru — melainkan hasil audit yang akan memaksa ibu Damar turun dari gerbang Menteng ke meja notaris.
'Malam ini pindah guest room sudah cukup,' kata Ratih di pintu. 'Minggu depan kita cari tempat lebih permanen. Namamu sudah terlanjur terbuka — tidak perlu sembunyi total, hanya aman.'
Anisa mengangguk. 'Prenup dulu. Ibu Damar tidak akan mundur hanya karena audit.'
'Kita juga tidak,' jawab Ratih.
Anisa mematikan lampu ruang rapat terakhir. Di gedung Mahesa Group beberapa kilometer away, lampu lantai dua puluh tiga masih menyala — komite krisis, bukan Damar sendirian. Lelaki itu masih di ambang, belum jatuh, masih punya ibu yang memegang rumah Menteng dan pengacara yang memegang prenup.
Ratih menyerahkan printout jadwal minggu depan: bedah perjanjian pranikah, pertemuan notaris, briefing soal aset ibu Damar. Anisa melihat angka dan klausul yang dulu ia abaikan — halaman tipis yang mengubah hidup lebih cepat dari sepuluh menit di ballroom.
Anisa turun lift bersama Ratih. Udara malam Jakarta hangat dan berbau knalpot. Ia tidak menoleh ke arah gedung induk — bukan takut, hanya belum waktunya.
Perang di ballroom sudah selesai. Perang di meja notaris, meja audit, dan meja pengadilan baru mulai — dan ibu Damar baru saja menunjukkan bahwa keluarga Mahesa tidak akan runtuh hanya karena anaknya mematung di kursi gala malam itu.