Rania Pratiwi tidak muncul di kantor Mahesa Group hari keempat — itu sudah diduga. Yang tidak diduga: perempuan itu juga tidak muncul di apartemennya di Senopati, tidak di bandara yang biasa dipakai eksekutif perusahaan, dan tidak diam total.
Ia hilang setengah — cukup untuk tidak bisa diinterogasi, cukup terlihat untuk menggigit.
Kabar pertama datang dari jurnalis bisnis yang Mira kenal: Rania menolak wawancara resmi, tetapi mengirim cuplikan chat ke redaksi — kalimat tentang 'lelaki yang menjanjikan pernikahan' dan 'istri yang memasang jebakan'. Redaksi belum terbitkan; mereka menunggu konfirmasi.
'Itu ancaman mundur,' kata Mira di ruang rapat firma Ratih. 'Atau tawaran, tergantung siapa yang bayar lebih dulu.'
Anisa duduk di sisi Ratih, rambut sudah tidak disembunyikan — di ruangan ini, semua orang tahu siapa dia. 'Dia akan salahkan Damar.'
'Kemungkinan besar.' Mira membuka tablet. 'Atau salahkan Bapak-Ibu — "Laras memanipulasi Rania". Halim sudah menyiapkan narasi perselingkuhan sebagai "hubungan kantor yang disalahartikan". Rania adalah bukti hidup mereka.'
Ratih menyilangkan tangan. 'Kalau Rania bicara ke media tanpa pengacara, bisa kacau.'
'Kalau Rania bicara dengan pengacara Halim, lebih kacau.' Anisa menatap foto CCTV gala yang Ratih simpan — Rania menerobos pintu samping, map di tangan, wajah pucat. 'Dia kabur sebelum slide ketiga selesai. Map itu isinya apa?'
'Log IT,' jawab Ratih. 'Penyalinan file dari laptop Damar. Rania sudah pegang bukti teknis sebelum kamu naik panggung. Dia bisa klaim kamu pencuri data, bukan dia selingkuhan.'
Anisa teringat map di tangan Rania saat berdiri kaku di lintasan lampu — panggung sudah bukan miliknya, tetapi perempuan itu masih membawa senjata lama. Senjata yang Damar tolak laporkan karena Laras lebih penting dari keadilan.
Anisa mengangguk pelan. 'Dua pisau. Satu dari aku, satu dari dia. Damar di tengah.'
Sore hari, pisau Rania bergerak.
Bukan wawancara — video empat puluh detik dikirim ke tiga redaksi sekaligus, wajah Rania setengah tersembunyi scarf, suara bergetar yang direkayasa atau tidak:
'Saya tidak menyangka dijadikan pion. Saya cinta dia. Tapi saya tidak merampok istri siapa pun — yang merampok adalah perempuan yang menyamar masuk kantor suaminya sendiri.'
Video itu belum viral. Redaksi menahan — bukti belum lengkap, risiko gugatan. Tetapi cukup untuk sampai ke meja Halim & Rekan dan, dalam satu jam, ke meja Damar.
Satu redaksi hampir terbitkan — judul sudah diset — sampai Mira menelepon redaksi dengan cuplikan email Rania tahun lalu yang meminta tunjangan apartemen 'sampai pernikahan resmi.' Redaksi menarik artikel; video tetap bocor ke grup WhatsApp eksekutif. Anisa tidak membaca thread; cukup tahu Rania belajar main dari playbook yang sama: publik dulu, fakta belakangan.
Anisa membayangkan reaksi Damar — marah, malu, dan sekarang: dikhianati dari dua arah oleh perempuan yang sama-sama pernah ia anggap bisa dikendalikan.
'Mira, gugatan cerai kita sudah cantumkan Rania?' tanya Anisa.
'Sudah — sebagai pihak ketiga dalam lampiran bukti perselingkuhan. Belum gugatan terpisah ke Rania. Bisa ditambah jika perlu.'
'Tambah belum. Biar dia sibuk dengan Damar dulu.'
Malam itu, Ratih menerima telepon dari nomor privat — Rania.
Anisa mendengarkan speaker mode, jari Ratih gemetar sedikit.
'Ratih, aku tahu kamu di sana dengan dia.' Suara Rania lelah, bukan agresif seperti di pantry dulu. 'Bilang Anisa: aku tidak mau jadi monster di headline. Aku mau bicara. Aku punya email Damar — yang belum pernah kamu lihat. Email tentang prenup. Tentang ibunya. Tentang rencana "bersih-bersih" sebelum cerai.'
Anisa dan Ratih saling pandang.
'Kondisinya?' tanya Ratih dingin.
'Immunitas narasi. Aku tidak mau dipenjara pers. Damar yang rusak, bukan aku. Aku sudah kehilangan pekerjaan, reputasi, apartemen — landlord minta saya keluar minggu ini.'
'Kamu telepon kami bukan karena benar,' kata Anisa, mengambil alih telepon. 'Kamu telepon karena sudah tidak ada tempat di tim Damar.'
Hening di ujung sana. Lalu Rania, pelan: 'Benar. Tapi email-email itu nyata. Halim yang arahkan prenup ke ibu Damar. Damar hanya tanda tangan strategi.'
'Kirim ke pengacara Mira. Bukan ke aku.' Anisa menutup telepon sebelum Rania menyelesaikan kalimat.
Ruangan hening.
'Percaya?' tanya Ratih.
'Separuh.' Anisa berdiri. 'Email nyata mungkin benar — tapi Rania tidak pernah jadi korban polos. Kalau kita gigit umpan tanpa verifikasi, headline berubah: istri balas dendam dan selingkuhan rebutan bukti.'
Mira, di telepon balik lima menit kemudian, setuju: 'Surat elektronik bisa diautentikasi. Tapi Rania bisa edit thread. Kita minta metadata server, bukan screenshot. Dan Bu Anisa — jangan jumpa dia tanpa saya.'
'Saya tidak akan.'
Ratih menambahkan: 'Kalau Rania kirim, kita verifikasi lewat IT forensik firma — bukan lewat perasaan kamu atau rasa bersalah.' Anisa mengangguk. Empat belas bulan Rania ada di foto metadata; tujuh tahun di kursi sekretaris. Perempuan itu bukan korban, tapi juga bukan titan — hanya manusia yang kepepet dan punya pisau.
Hari kelima, Rania benar-benar hilang lagi — telepon mati, video dicabut dari redaksi setelah tekanan hukum Halim. Seolah perempuan itu kembali ke bayangan, tetapi bayangan yang now memegang sesuatu.
Anisa tidur lebih ringan malam itu. Bukan karena aman — karena peta musuh berubah: Damar tidak lagi satu front, Rania bukan lagi sekadar selingkuhan di foto metadata, melainkan saksi liar yang bisa meledak ke arah siapa saja. Anisa tidak akan mempercayai Rania; ia hanya akan memverifikasi pisau sebelum memegang gagangnya.
'Setengah hilang,' bisik Ratih dari sofa tamu, membaca pesan Mira. 'Tapi setengah itu yang paling berbahaya.'
Anisa mematikan lampu. 'Besok dewan rapat. Rania bisa tunggu. Aku mau lihat apakah ibu Damar sudah bangun.'
Di keheningan guest room, ia membayangkan Rania di apartemen yang diusir — bukan untuk iba, hanya untuk peta. Musuh musuh belum tentu sekutu; kadang musuh musuh justru memberi ruang napas seminggu, selama Anisa tidak salah genggam pisau itu.