Hari ketujuh setelah gala, Nyonya Surya Mahesa tidak lagi bersembunyi di balik gerbang Menteng.
Anisa menonton siaran ulang dari ruang rapat firma Ratih — bukan karena ingin melihat wajah ibu mertua, melainkan karena Mira memintanya memahami benteng berikutnya sebelum benteng itu menyerang balik. Di layar, perempuan berusia enam puluh dua tahun itu duduk tegak di kursi kayu antik ruang tamu rumah keluarga, blazer navy, mutiara di leher, suara rendah yang pernah Anisa dengar di acara charity tiga tahun lalu — saat ia masih percaya suara itu ramah.
Kali ini suara itu dingin.
'Transfer atas nama saya bukan pencurian,' kata Nyonya Surya ke kamera, pengacara keluarga di sampingnya. 'Itu investasi keluarga yang sah, didokumentasikan, dan dilakukan sebelum ada gugatan istrinya. Mantu saya memasuki perusahaan dengan identitas palsu. Itu yang ilegal — bukan keputusan keuangan direksi yang sah.'
Anisa tidak berkedip. Ratih, di kursi seberang, mematikan suara televisi sebelum komentator channel bisnis sempat menambahkan kata 'balas dendam.'
'Mira?' tanya Anisa.
Pengacara itu sudah membuka tablet. 'Respons yang kita prediksi. Ibu Damar memindahkan pertarungan dari "suami selingkuh" ke "metode Laras." Pintu masuk untuk menunda sidang dan meminta investigasi internal terhadap Bu Anisa.'
'Audit dewan sudah jalan,' kata Ratih.
'Tapi audit dewan soal uang. Ibu Damar soal moral dan prosedur.' Mira menatap Anisa. 'Halim & Rekan akan klaim Laras Wijaya adalah intrusi — bukan konsultan, melainkan istri yang menyusup. Kalau berhasil, sebagian bukti dari kantor bisa didebat sebagai diperoleh secara melanggar hukum.'
Anisa merasakan dingin familiar — bukan takut, clarity. 'Laras punya kontrak lewat Wijaya & Partners.'
'Punya. Tetapi identitas di balik kontrak tidak pernah diungkap ke Mahesa Group. Itu celah yang mereka gigit.' Mira menggeser dokumen ke tengah meja. 'Hari ini ibu Damar menambah satu langkah: surat terbuka ke komisaris independen. Isinya — transfer ke rekening Singapura, saham cangkang, dan rumah Menteng adalah "perlindungan warisan keluarga Mahesa dari mantu yang tidak setia."'
Ratih membaca cepat printout yang Mira bawa. 'Dia bilang Anisa menandatangani prenup tanpa baca. Jadi apa pun yang Anisa dapat sekarang adalah karma.'
Anisa menunduk sejenak. Kata itu — karma — bukan sekadar spin media; itu narasi yang ibu Damar percayai, atau pura-pura percayai, selama tiga tahun Damar mengalihkan aset ke nama ibunya sambil Anisa disuruh fokus pada acara sosial.
Ia teringat ulang tahun ibu Damar tahun lalu — Anisa membawa bouquet putih, Damar menunda datang karena rapat, ibu mertua memegang tangan Anisa dan berbisik: 'Kamu anak baik. Keluarga Mahesa butuh perempuan tenang seperti kamu.' Tenang, pikir Anisa sekarang, artinya tidak membaca prenup dan tidak bertanya ke mana uang bersama pergi.
'Saya memang tidak membaca,' kata Anisa pelan. 'Itu fakta. Tapi saya tidak menandatangani izin suami saya selingkuh dan menguras harta.'
'Pengadilan perlu keduanya,' jawab Mira. 'Fakta prenup untuk pembagian harta perdata. Fakta transfer untuk audit perusahaan. Ibu Damar mau keduanya disatukan jadi satu cerita: Anisa Mahesa bodoh, Laras Wijaya penipu, keluarga Mahesa korban.'
Siang hari, benteng ibu Damar bergerak lagi — bukan ke media, ke meja dewan. Memo bocor ke Mira: komisaris independen menerima permintaan 'verifikasi legalitas kontrak Laras' sebelum audit transfer disebut final. Satu komisaris — yang pagi gala menerima paket Anisa — membalas singkat: audit uang tetap jalan; verifikasi kontrak Laras masuk agenda terpisah, bukan syarat penundaan.
Damar, meski setengah kehilangan wewenang tanda tangan, masih hadir di rapat — Anisa melihat cuplikan CCTV lobi gedung induk yang Ratih terima dari kontak investor; lelaki itu tampak lebih tua dalam seminggu, jas sama, postur lebih kecil. CEO di kertas, tapi memo internal sudah memindahkan keputusan strategis ke komite krisis.
Sore hari, pengacara keluarga ibu Damar mengirim surat ke kantor Mira — bukan ancaman pidana, permintaan 'pertemuan keluarga untuk mediasi aset.' Mira menolak dalam empat baris: semua komunikasi melalui pengadilan atau audit resmi.
'Ibu Damar ingin membuat ini masalah keluarga,' kata Mira. 'Supaya publik melihat Anisa sebagai mantu ingrate, bukan korban penggelapan.'
Anisa membalas dengan pertanyaan praktis: 'Rekening Singapura — audit Big Four bisa lacak?'
'Sudah diminta. Butuh waktu. Ibu Damar tahu itu — makanya serangan ke identitas Laras sekarang, sebelum angka final keluar.'
Malam hari, Anisa duduk di guest room Ratih tanpa wig, tanpa kacamata, rambut asli dikuncir longgar. Ia tidak menonton ulang wajah ibu Damar. Ia membayangkan rumah Menteng — cat putih, gerbang tenang — rumah yang seharusnya juga miliknya di mata hukum pernikahan, tetapi sudah direbut oleh tanda tangan di dokumen yang ia abaikan tiga tahun lalu.
Ratih mengetuk pintu dengan teh. 'Halim minta pertemuan damai besok. Mira tolak.'
'Bagus.'
'Dan ibu Damar...' Ratih berhenti. 'Kontak ibuku — masih satu lingkaran charity lama — bilang ibu Damar telepon ke empat ibu-ibu acara sosial, minta mereka "tidak percaya versi mantu." Bukan serangan langsung ke kamu. Serangan ke lingkaranmu dulu.'
Anisa meminum teh. 'Biarkan. Lingkaran itu sudah lama tidak punya ruang untukku — kecuali sebagai pelengkap CEO.'
'Kamu yakin?' tanya Ratih. 'Mereka bisa tekan ibumu — kalau ibu mau dengar.'
Anisa terdiam. Ibu kandungnya belum menelepon sejak headline gala — Anisa tidak tahu apakah itu dukungan diam atau malu. 'Kalau ibu telepon, saya akan angkat. Tapi saya tidak akan minta maaf atas audit.'
'Itu beda.' Ratih duduk di tepi tempat tidur. 'Ibu Damar memegang Menteng, prenup, dan charity circle. Tiga gerbang. Kita tembus satu per satu.'
Anisa menatap cermin kecil di meja — wajah Anisa Mahesa, bukan Laras, bukan Nyonya Mahesa di charity. 'Ibu Damar membangun benteng karena tahu audit tidak bisa dibalik hanya dengan headline. Dia melindungi aset, bukan cuma anak. Besok kita balas dengan prenup — bukan dengan wawancara.'
Di gedung Mahesa Group, lampu lantai dua puluh tiga masih menyala. Di Menteng, gerbang putih tertutup rapat. Anisa mematikan lampu guest room. Perang ballroom sudah selesai; perang ibu mertua baru membuka gerbangnya — dan Anisa, untuk pertama kalinya sejak gala, merasa siap tidak membuka pintu balik.