Damar Mahesa tidak pulang ke rumah Menteng malam gala.
Itu kabar pertama yang sampai ke Anisa lewat Mira, bukan lewat media — asisten komisaris yang Mira kenal dari perkara lama menelepon pagi hari ketiga: CEO Mahesa Group menginap di suite hotel dekat kantor, rapat telepon sampai subuh, pintu suite tidak dibuka untuk staf pribadi.
Anisa mendengar tanpa ekspresi. Rumah Menteng — rumah yang seharusnya juga miliknya, rumah yang namanya sudah dialihkan ke ibu Damar sebelas bulan lalu — terasa seperti gedung asing di peta.
'Apa itu penting untuk kita?' tanyanya pada Mira lewat video call.
'Penting karena lelaki yang panik tidak tidur di rumah istrinya.' Mira menyesuaikan kacamata tipisnya. 'Penting juga karena pagi ini Halim & Rekan mengirim surat: klien mereka menyangkal sebagian bukti dan meminta penundaan sidang. Mereka mulai bergerak.'
Surat itu Anisa baca sendiri — kata-kata hukum yang membungkus amarah: bukti digital tidak sah, foto metadata bisa dimanipulasi, penyamaran Laras Wijaya melanggar NDA perusahaan. Di paragraf terakhir, kalimat yang lebih personal: 'Klien kami siap menyelesaikan secara kekeluargaan jika pihak termohon menghentikan kampanye publik.'
Kampanye publik. Seolah ballroom adalah iklan, bukan konsekuensi.
'Tolak,' kata Anisa.
'Sudah.' Mira mengangguk. 'Dan untuk "menyelesaikan kekeluargaan" — semua komunikasi lewat saya. Tanpa pengecualian.'
Sore itu, ponsel Ratih bergetar lagi. Nomor yang tidak disimpan — tetapi Anisa tahu pola digit belakangnya. Damar dulu memakai nomor itu untuk urusan pribadi yang tidak lewat sekretaris.
Ratih menatap Anisa. Anisa menggeleng.
Panggilan masuk ke voicemail. Lima menit kemudian, pesan suara: suara Damar, serak, bukan suara CEO di panggung.
'Nis... Anisa. Aku tahu kamu dengar ini. Aku tidak minta maaf lewat pesan — belum. Aku cuma... kita perlu bicara tanpa kamera. Satu kali. Kamu boleh bawa pengacaramu. Aku cuma...' Jeda panjang. 'Aku tidak tahu siapa kamu malam itu. Bukan Laras. Bukan istriku. Aku tidak tahu siapa aku sejak kamu turun panggung.'
Anisa mendengarkan sekali. Wajahnya tidak berubah. Ia menghapus pesan itu tanpa membalas.
Ratih yang mendengar speaker tanpa Anisa minta. 'Itu bukan permintaan maaf,' kata sahabat itu pelan. 'Itu permintaan kontrol. Kalau kamu jawab, dia dapat rekaman suara istri yang "masih peduli."'
Anisa mengangguk. 'Mira sudah bilang.'
Malam hari, firma Halim & Rekan lebih agresif — bukan ke Anisa, ke media. Bocoran 'sumber internal' bahwa Laras Wijaya adalah operasi jahat istri yang cemburu; bahwa Anisa pernah memeriksa laptop suami tanpa izin; bahwa perusahaan akan gugat balik.
Damar sendiri tidak tampil di layar. Namanya muncul di pernyataan, bukan di wajah. Anisa tahu itu taktik — pengacara menahan klien yang bisa salah bicara.
Keesokan pagi, Mira meneruskan email resmi: permintaan pertemuan Damar Mahesa dengan Anisa Mahesa, lokasi netral, dengan atau tanpa mediator.
Balasan Mira — yang Anisa setujui kata per kata:
'Klien kami tidak available untuk pertemuan informal. Semua komunikasi tertulis melalui kuasa hukum. Klien kami terbuka pada proses pengadilan yang sedang berjalan.'
Tiga jam kemudian, telepon Mira ke Anisa: 'Halim marah. Itu bagus.'
Anisa berdiri di balkon guest room Ratih, angin pagi Jakarta basah. 'Dia marah atau Damar?'
'Keduanya. Tapi yang Bapak-Ibu perlu tahu: Damar datang ke kantor Mira siang tadi.'
Anisa menegang. 'Tanpa janji?'
'Tanpa janji. Security menahan di lobi. Mira turun lima menit — hanya lima — dengan witness.' Mira menjelaskan pelan: Damar tampak kurus, mata merah, jas masih rapi tetapi kerahnya salah lipat. Lelaki itu tidak meminta maaf. Lelaki itu meminta jalan keluar.
Di lobi, kata Mira, Damar sempat berkata hal yang tidak masuk surat resmi: 'Kamu tidak pernah bilang Laras itu kamu. Kamu membiarkanku jatuh cinta pada bayangan.' Mira menjawab bahwa kliennya tidak berutang penjelasan romantis — hanya proses hukum.
'Katanya: "Saya akan kembalikan aset. Saya akan akui di depan dewan. Tapi jangan hancurkan perusahaan — ada ribuan karyawan."'
'Dan Mira?'
'Mengulang: proses pengadilan. Bukti sudah di meja komisaris. Pengembalian sukarela dicatat, bukan ditukar dengan cabut gugatan.'
Anisa menutup mata sejenak. Ada bagian kecil — bagian yang sudah ia bunuh di meja makan malam sebelum gala — yang merasakan getar di suara itu. Bukan belas kasihan. Kenangan suara yang sama pernah memanggilnya 'Nis' dengan hangat, sebelum suara itu merencanakan kehancurannya di ruang kerja lantai dua puluh.
'Shock,' kata Anisa pelan. 'Lalu marah. Lalu malu. Sekarang negosiasi. Urutannya masuk akal.'
'Benar.' Mira di layar mengangguk. 'Malu paling berbahaya karena bisa jadi kekerasan. Jangan pulang ke rumah lama. Jangan terima paket. Ratih sudah saya minta cek driver.'
Hari itu juga, Anisa merasakan malu itu dari arah lain — telepon dari ibunya, pertama kali sejak berita meledak.
'Anisa, ibu lihat di TV...'
'Ibu, aku baik-baik saja.'
'Orang-orang bicara di klub. Mereka bilang kamu mempermalukan keluarga.' Suara ibu Anisa retak. 'Kenapa harus di depan umum?'
Anisa menahan napas. 'Karena kalau di depan umum saja aku kalah, di ruang tertutup aku tidak akan diberi kesempatan bicara.'
'Apa Damar benar-benar...' Ibu tidak menyelesaikan. 'Ibuku bilang perempuan baik-baik menyelesaikan di meja makan, bukan di layar.'
'Meja makan kami sudah penuh draf gugatan, Bu.' Anisa merendahkan suara. 'Aku tidak telepon untuk debat. Aku telepon supaya Ibu tahu aku hidup dan ada pengacara. Jangan buka pintu untuk siapa pun atas nama keluarga tanpa tanya Mira dulu.'
Panggilan berakhir dengan ibu yang menangis dan Anisa yang duduk lama di lantai kamar tamu. Shock, marah, malu — bukan hanya milik Damar.
Malam ketiga, Damar mengirim surat fisik — bukan tangan, kurir — ke alamat kantor Mira. Isinya dua halaman: pengakuan perselingkuhan tanpa detail, penyangkalan pengalihan aset 'yang tidak sesuai prosedur perusahaan', dan permintaan agar Anisa 'mengingat tiga tahun pernikahan sebelum semua hancur.'
Mira memindai surat itu dan mengirim ke Anisa tanpa komentar berlebihan.
Anisa membaca sampai akhir. Lalu membalas Mira: 'Arsipkan sebagai bukti. Jangan dibalas.'
Surat itu tidak menyentuh hatinya; justru memperjelas lawan. Damar masih percaya nostalgia bisa ditukar dengan pengakuan setengah. Anisa membayangkan lelaki itu menulis di suite hotel, bukan di rumah Menteng — karena rumah itu sudah bukan tempat pulang, hanya bukti di slide gala.
Ia tidak tidur. Bukan karena surat itu menyentuh — karena di baris 'tiga tahun pernikahan' ia melihat usaha terakhir Damar menukar fakta dengan nostalgia. Lelaki itu masih percaya ada sesuatu yang bisa ditukar.
Anisa tidak akan menawarkan apa pun lagi.