Judul pertama Anisa baca bukan dari televisi — dari layar ponsel Ratih, diserahkan tanpa komentar sambil sarapan.
ISTRI CEO BONGKAR SELINGKUHAN DI GALA — BALAS DENDAM ATAU KEADILAN?
Di bawahnya, foto blur Anisa melepas wig, wajah Damar mematung, Rania menerobos pintu samping. Anisa menutup layar sebelum artikel selesai ia baca.
'Ada puluhan versi,' kata Ratih dari meja makan. 'Satu menit channel bisnis, lima menit channel gosip. Mira bilang jangan buka thread.'
Anisa tetap membuka — bukan thread, hanya ringkasan yang Mira kirim lewat asisten. Dua arah spin sudah bergerak sejak dini hari.
Televisi di ruang tamu Ratih menyala tanpa suara; gambar gala diputar ulang dengan garis merah pada wajah Damar dan Rania. Tetangga sebelah mungkin sudah mengenali mobil Ratih; mungkin juga belum. Anisa memilih tidak membayangkan klub ibunya, klub ibu mertua, klub semua orang yang tiga tahun hanya melihatnya sebagai pelengkap CEO — dan besok akan memilih sisi tanpa tahu ruang tidur suami seperti apa.
Pihak Mahesa Group — lewat juru bicara yang Anisa kenal sebagai pengacara firma Halim & Rekan — menyatakan 'kekecewaan mendalam atas manipulasi data pribadi dan penyamaran ilegal di lingkungan perusahaan.' Kata kunci: manipulasi, ilegal, privasi. Tidak ada kata perselingkuhan. Tidak ada kata pengalihan aset.
Pihak lain — artikel yang memuat tanggal metadata foto, cuplikan draf gugatan, dan pernyataan singkat komisaris independen yang Anisa tidak kenal namanya — memakai kata berbeda: transparansi, integritas, audit.
'Media butuh wajah,' kata Mira lewat telepon speaker pukul sepuluh. 'Bu Anisa, tiga stasiun meminta wawancara langsung. Satu menawarkan bayaran.'
Anisa duduk tegak di kursi dapur Ratih. 'Tolak semua, Bu Mira.'
'Alasan?'
'Karena saya sudah berbicara di ballroom. Sisanya bukan pertunjukan.'
Hening sejenak di ujung sana. 'Itu keputusan yang tepat — dan yang akan membuat sebagian publik membenci Bapak-Ibu.'
'Biarkan.'
Setelah panggilan berakhir, Ratih menatapnya dengan campur bangga dan khawatir. 'Kamu yakin? Wawancara bisa membalik narasi.'
'Wawancara spektakel membuatku jadi karakter.' Anisa menyeruput teh hangat. 'Mira sudah kirim paket ke pers yang serius. Angka, tanggal, tanda tangan — bukan air mata. Kalau aku tampil di studio pagi, aku jadi istri CEO gila balas dendam. Mereka sudah menulis headline itu tanpa wawancara. Kenapa aku beri wajah untuk versi yang lebih murah?'
Ratih diam, lalu mengangguk pelan. 'Laras tidak akan bilang begitu.'
'Laras sudah selesai.'
Siang hari, firma Ratih sendiri dihujani telepon. Bukan hanya media — klien lama menanyakan apakah Wijaya & Partners 'membantu istri membobol perusahaan suami.' Ratih menjawab dengan tegas lewat pernyataan singkat: firma mendampingi klien dalam sengketa hukum dengan bukti yang diverifikasi, bukan membocorkan data perusahaan.
Anisa mendengar Ratih berdebat di telepon kantor, suara sahabatnya tetap rendah dan tajam. Ia sengaja tidak ikut — bukan malu, tetapi batas. Laras dulu ada di kantor suaminya; Anisa tidak akan menumpuk dua identitas di satu ruangan lagi.
Sekali, Ratih membacakan pertanyaan wartawan word for word: 'Apakah Bu Anisa menyesal mempermalukan suami?' Ratih menjawab, 'Bu Anisa menyesal perusahaan suaminya tidak punya audit internal yang jujur.' Anisa mendengar dan merasa sesuatu di dadanya condong — bukan bangga, lebih dekat ke tegak. Laras tidak akan membalas begitu; Laras akan tersenyum dan mengalihkan topik. Anisa Mahesa tidak punya alasan lagi mengalihkan.
Sore itu, Mira datang membawa printout. 'Ini yang perlu Bapak-Ibu lihat.'
Halaman pertama: komentar analis pasar — saham Mahesa Group turun delapan persen sebelum bursa tutup. Halaman kedua: editorial yang membela Damar ('tekanan rumah tangga CEO'). Halaman ketiga: kolom wanita yang membela Anisa ('perjanjian pranikah dan istri yang dibodohi').
'Publik belah,' kata Mira. 'Sementara belah, pengadilan dan dewan yang menentukan. Bapak-Ibu tidak perlu memenangkan internet.'
Anisa membaca headline sekali lagi — Istri Balas Dendam — dan merasakan sesuatu mengeras di dadanya.
Channel gosip siang itu memutar rekaman tanpa izin: suara Anisa 'Mas' di ballroom, dipotong sebelum kalimat berikutnya. Komentator berkata 'teatrikal.' Anisa mematikan televisi sebelum Ratih masuk.
'Bukan balas dendam,' katanya pelan. 'Saya tidak datang ke gala untuk judul itu.'
'Tidak.' Mira melipat kertas. 'Tapi lawan Bapak-Ibu butuh judul itu. Kalau Bapak-Ibu jadi "korban", mereka jadi "penyalah gunaan data". Narasi lebih mudah dibaca daripada tabel transfer.'
Sebelum pulang ke guest room, Mira menyerahkan satu hal lagi: rekaman tanpa gambar dari radio bisnis — analis yang netral membandingkan metadata foto dengan tanggal rapat direksi. 'Simpan untuk hati hati,' kata Mira. 'Bukan semua headline jahat. Yang jahat yang paling keras.'
Malam hari, Anisa naik ke kamar tamu tanpa menonton siaran ulang gala. Dari jendela, lampu Jakarta sama seperti semalam — kota tidak peduli satu perempuan baru saja melepas selubung di depan tiga ratus orang. Tetapi di gedung-gedung tinggi itu, ada meja-meja yang kini penuh berkas dengan namanya.
Ratih mengetuk pintu sebelum tidur. 'Halim & Rekan minta pertemuan damai minggu depan. Mira tolak dulu.'
'Bagus.'
'Dan Damar...' Ratih berhenti.
Anisa menunggu.
'Ada tiga missed call dari nomor asing ke ponsel daruratmu. Mira blokir. Tapi namanya muncul di log — lewat aplikasi pesan, bukan suara.'
Anisa memandang langit-langit. 'Apa isinya?'
'Satu kalimat. "Kita perlu bicara."'
'Tidak.'
Ratih duduk di tepi tempat tidur. 'Aku tahu.'
Anisa memejamkan mata. Headline akan berganti besok — istri nekat, istri pintar, istri gila. Yang tidak akan berganti semalam: bukti di meja komisaris, gugatan di pengadilan, dan suaminya yang sekarang tahu persis siapa Laras sebenarnya.
Sebelum tidur, Mira mengirim daftar titik bicara — bukan untuk wawancara, untuk jaga-jaga kalau ada paparazzi: jangan tanggap provokasi, jangan sebut nama Rania di koridor, jangan tanda tangan apa pun. Anisa membaca bullet point itu seperti checklist restrukturisasi. Publik sedang menulis ceritanya; ia hanya bisa menolak jadi aktor di versi murah.
Ia tidur lebih cepat malam kedua. Bukan karena tenang. Karena lelah yang akhirnya menang.