Bandung menyambut Alya dengan udara dingin yang menenangkan. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan saat ia melangkah keluar dari stasiun. Kota ini tak asing, tapi rasanya seperti dunia baru setelah semua yang terjadi.
Kakaknya, Maya, sudah menunggu di pintu keluar. Mereka berpelukan lama tanpa banyak kata. Maya tahu. Alya tak perlu menjelaskan apa pun.
“Alya yang dulu beda banget sama yang sekarang,” gumam Maya ketika mereka sudah di mobil.
“Yang sekarang udah nggak bodoh, ya?” jawab Alya pelan, dengan senyum getir.
Maya meliriknya sekilas, lalu mengeratkan genggaman di tangan adiknya. “Yang sekarang lebih sayang sama dirinya sendiri.”
Alya diam. Kata-kata itu seperti pelukan hangat yang selama ini ia butuhkan. Bukan belaian palsu dari Rian yang hanya datang saat merasa sepi, tapi kepedulian murni dari seseorang yang tak pernah meminta apa-apa sebagai balasan.
⸻
Hari-hari berikutnya berjalan lambat. Alya mencoba membangun kembali dirinya yang dulu: perempuan yang senang membaca, menulis puisi di sudut kafe, dan bercanda dengan anak-anak kecil di taman. Ia ikut kursus desain grafis yang sudah lama ingin ia pelajari. Ia bahkan mulai membuka blog pribadi, menuliskan perasaannya tanpa menyebut nama siapa pun—hanya potongan kenangan dan pelajaran yang ia peluk dengan tenang.
Dan di antara semua itu, satu hal menjadi nyata: hidup ternyata tidak berhenti hanya karena seseorang pergi.
Rian tak lagi menghubunginya. Atau mungkin saja ia masih mencoba, tapi Alya tak tahu, karena sejak tiba di Bandung, ponselnya yang lama sudah ia matikan dan simpan di laci. Ia membeli ponsel baru, nomor baru, hidup baru.
Setiap malam, sebelum tidur, ia menatap langit dari jendela kamar dan mengucapkan satu kalimat:
“Alya, terima kasih sudah bertahan.”
Bukan untuk siapa-siapa. Bukan untuk Rian. Tapi untuk dirinya sendiri—perempuan yang hampir hancur karena terlalu mencintai orang lain dan lupa mencintai dirinya.
⸻
Sementara itu, di kota tempat mereka dulu tinggal, Rian mulai kehilangan arah.
Awalnya, ia mengira Alya hanya ngambek seperti biasanya. Lalu ia berpikir mungkin perempuan itu butuh waktu. Tapi ketika minggu berganti bulan dan tak ada satu pun balasan dari Alya, ia mulai panik.
Ia mendatangi kontrakan Alya. Kosong. Pemilik rumah bilang, Alya sudah pergi, tak meninggalkan alamat baru.
Ia mencoba menghubungi teman-teman Alya, tapi mereka semua diam. Mungkin sudah diberi pesan, atau mungkin mereka sendiri sudah bosan melihat Alya terus disakiti.
Ia membaca ulang semua pesan lama mereka. Foto-foto liburan. Video suara tawa Alya. Ia tak percaya semua itu sekarang tinggal jejak digital yang dingin dan tak bernyawa.
Dan di titik itu, Rian mulai sadar. Bukan kehilangan Alya yang menyakitkan. Tapi menyadari bahwa ia adalah alasan kenapa Alya harus pergi.
“Aku pikir kamu akan selalu ada…” bisiknya suatu malam di kamar kosong yang dulu sering ditemani suara Alya membaca novel keras-keras.
Ia duduk di tepi ranjang, memandangi bingkai foto yang sudah lama tergeletak miring. Di dalamnya, Alya tersenyum memeluk Rian, dengan mata yang penuh cinta. Sekarang, senyum itu tak lagi untuknya. Dan mungkin tak akan pernah lagi.
⸻
Di Bandung, kehidupan Alya semakin stabil. Ia mulai mendapat klien desain. Blognya ramai pembaca. Bahkan, salah satu puisinya dipinang untuk dibukukan.
Di sebuah kafe kecil, ia duduk sendirian menatap laptop sambil menyesap kopi. Hari itu, ia menulis satu paragraf yang kemudian menjadi viral di media sosial:
“Ada perempuan yang pergi bukan karena benci, tapi karena ia lelah menunggu dicintai dengan benar. Dan saat ia memutuskan pergi, percayalah—itu bukan lagi tentangmu.”
Ketika ribuan orang mulai membagikan tulisan itu, ada satu orang yang diam-diam membacanya juga. Dengan mata yang berkaca-kaca dan hati yang tak bisa lagi bersembunyi di balik kesibukan.
Dan di detik itulah, penyesalan itu menjadi nyata. Karena cinta yang dulu ia anggap biasa, kini sudah menjadi milik orang lain: milik perempuan yang akhirnya mencintai dirinya sendiri lebih dari siapa pun.