Hujan turun sejak sore. Deras dan dingin, seperti perasaan Alya yang menggigil meski ia telah membungkus tubuhnya dengan cardigan rajut pemberian ibu. Ia duduk di balkon kecil kontrakan mungilnya, memandangi langit kelabu yang tak kunjung cerah. Matanya sembab, tapi ia tak menangis. Bukan karena air mata sudah habis, tapi karena ia sudah tak tahu lagi untuk apa menangis.
Ponselnya tergeletak di meja. Diam. Tak bergetar, tak berbunyi, tak menampilkan satu notifikasi pun dari seseorang yang selama ini selalu ditunggu: Rian.
Sudah tiga hari sejak terakhir mereka bertemu. Pertemuan yang dingin, tanpa pelukan, tanpa cium tangan seperti biasanya. Hanya ada kata “sibuk” yang diucapkan Rian untuk memutus percakapan. Dan sejak itu, hening.
Tiga hari bagi Alya terasa seperti tiga musim. Ia menghitung detik demi detik, mencoba tak menelepon duluan. Ia ingin tahu, seberapa penting dirinya bagi lelaki yang sudah lima tahun menemaninya, namun juga lima tahun menyakitinya secara perlahan.
Alya teringat semua kenangan mereka—bagaimana Rian datang di masa ia hampir kehilangan harapan hidup, menjanjikan bahagia yang tak akan berakhir. Tapi lambat laun, janji tinggal janji. Rian berubah. Perhatiannya terpecah, ucapannya makin kasar, dan hadirnya hanya ketika ia butuh ditemani atau dilayani.
“Aku capek, Alya. Bisa nggak kamu jangan drama terus?” Kalimat itu masih tertanam jelas di benak Alya saat terakhir mereka bertengkar. Padahal ia hanya ingin dimengerti, sekadar bertanya kenapa Rian makin jauh dan lebih sering menghilang.
Hari itu, ia tahu sesuatu telah berubah. Bukan hanya Rian. Tapi dirinya juga.
Dulu, Alya akan memaafkan dan pura-pura kuat. Tapi sekarang, rasa capek itu membesar, memenuhi dadanya. Ia tak lagi ingin menjadi perempuan yang selalu mengalah, hanya agar seseorang tetap tinggal.
Malam makin larut. Hujan belum juga reda. Alya bangkit dari duduknya, berjalan ke dapur kecil dan menyeduh teh hangat. Saat memegang cangkir, ponselnya akhirnya berbunyi. Sebuah pesan dari nomor yang sangat dikenalnya, namun terasa asing sekarang.
“Maaf ya, baru sempat balas. Aku banyak urusan. Nanti kita ketemu, ya.”
Bukan sapaan hangat. Bukan permintaan maaf yang sungguh-sungguh. Hanya satu pesan kering yang semakin menyadarkan Alya: ia sudah tak ada dalam prioritas Rian. Ia hanya seseorang yang dijadikan jeda saat dunia Rian terlalu melelahkan.
Alya tak membalas. Ia menatap pesan itu lama, lalu menutup ponsel dan memeluk dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia merasa mantap dengan satu keputusan: ia harus pergi.
⸻
Esoknya, langit cerah. Aneh, mengingat hatinya masih mendung.
Alya mengemasi beberapa barang ke dalam koper kecil. Tak banyak yang ia bawa—hanya pakaian secukupnya, beberapa buku, dan foto lama yang akan segera ia buang. Ia menulis sepucuk surat, meletakkannya di atas meja, lalu memandangi kontrakan itu untuk terakhir kalinya.
Ia tak menangis. Hanya tersenyum kecil. Senyum yang getir, tapi penuh keteguhan.
Saat taksi online menjemputnya di depan rumah, ponselnya kembali berbunyi. Kali ini, Rian menelepon. Alya menatap layar beberapa detik, lalu menekan tombol “Tolak”. Ia mematikan ponsel sepenuhnya dan menyelipkannya ke dalam tas.
Bukan karena ia benci. Tapi karena ia akhirnya sadar: tidak semua cinta harus diperjuangkan hingga hancur. Kadang, meninggalkan adalah bentuk cinta paling sehat—untuk diri sendiri.
Perjalanan menuju stasiun dipenuhi diam. Di luar jendela, kota perlahan-lahan ditinggalkan. Alya tak tahu akan ke mana setelah ini. Mungkin ke rumah kakaknya di Bandung, atau ke kota kecil yang belum pernah ia datangi. Yang ia tahu, ia ingin mulai dari awal. Tanpa bayang-bayang Rian. Tanpa luka yang setiap hari dibuka kembali.
Di dalam hati, ia berdoa pelan. Bukan untuk Rian kembali, tapi agar hatinya sembuh. Sungguh-sungguh sembuh.
⸻
Di tempat lain, Rian duduk di dalam mobilnya, menatap ponsel yang tak kunjung diangkat Alya. Ia mengetik pesan, lalu menghapusnya. Lalu mengetik lagi, dan menghapusnya lagi. Ia tak tahu harus berkata apa.
Entah kenapa, saat melihat pesan Alya terakhir kali tak dibaca, ada sesuatu yang mengganggu dadanya. Seperti ada ruang kosong yang tiba-tiba menganga.
Dia pikir Alya akan selalu ada. Selalu mengerti. Selalu kembali. Tapi sekarang, ada ketakutan aneh yang merambat: bagaimana jika kali ini Alya benar-benar pergi?
Ia menoleh ke jok belakang. Di sana ada sekotak hadiah ulang tahun yang terlambat ia beli. Ia tahu Alya ulang tahun minggu ini, tapi ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya… dan perempuan lain yang sempat ia temui dalam pelarian dari hubungan yang “membosankan.”
Tapi sekarang, semua itu tak ada artinya. Karena satu-satunya orang yang membuatnya merasa pulang, telah memilih pergi.
Dan untuk pertama kalinya, Rian merasa takut. Takut bahwa ia benar-benar kehilangan sesuatu yang tak bisa ia cari lagi di mana pun: cinta tulus dari seorang wanita yang pernah ia sia-siakan.