Suasana hati Damian sedang tidak dalam keadaan baik. Tentu saja, tidak ada seorangpun yang berani untuk mengatakan hal itu langsung di hadapannya. Bahkan Jimmy sekalipun.
Pria yang telah menghabiskan hampir sepuluh tahun bekerja di sisinya dan memahami setiap bentuk keterdiaman Damian seolah tahu itu merupakan bahasa yang hanya mereka berdua ketahui.
Namun kali ini, Jimmy memilih diam saat mereka berjalan kembali menuju area eksekutif. Mereka hampir menuju lantai atas, namun Damian tiba-tiba menekan tombol keluar.
Jimmy tidak bereaksi. Setidaknya tidak secara terang-terangan. Sementara itu, Elle mendongak dari tabletnya.
"Pak?"
"Tinggalkan kami."
Itu jelas perintah, bukan sekadar permintaan. Ella langsung mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut. Dia melangkah keluar dari lift dan membiarkan pintu tertutup kembali. Keheningan langsung menyelimuti ruang sempit itu. Kini hanya ada Damian dan Jimmy disana. Pria itu sedikit berdiri di belakang sang majikan dengan posisi tegak. Kedua tangannya terlipat di depan tubuh. Ekspresi wajahnya datar seperti biasa.
Damian tidak langsung berbicara. Tatapannya tertuju pada panel logam di depan mereka. Seolah angka lantai yang menyala di sana telah melakukan kesalahan terhadapnya.
"Saya ingin kamu cari tahu siapa yang melanggar aturan perusahaan,” ucap pria itu dengan nada datar, dingin, dan tajam seperti sembilu. Jimmy tidak perlu meminta penjelasan.
Dia langsung tahu aturan yang dimaksud. Damian tidak menjelaskan lebih lanjut.
"Seseorang melanggarnya."
Sedikit jeda.
"Atau mengira terkecuali dirinya."
Jimmy mengangguk sekali.
"Akan saya selidiki."
Tidak ada pertanyaan. Tidak ada klarifikasi. Tidak ada reaksi. Namun, di balik ekspresi tenangnya, Jimmy sudah mulai menyusun potongan-potongan informasi. Dia melihat semuanya tadi. Jeda singkat itu. Tatapan Damian yang berhenti terlalu lama. Perubahan kecil di rahang Damian saat mereka memasuki departemen PR.
Jimmy melihat bagaimana mata Damian berhenti pada buket bunga yang terlalu elegan dan seperti disengaja itu. Bunga yang ada di atas meja seorang anak magang. Dan dia juga melihat bagaimana wajah Damian sama sekali tidak berubah. Dan justru berarti ada sesuatu yang berubah.
Karena Jimmy mengenal Damian dengan baik. Bahkan, lebih dari itu.
Dia tahu kalau bosnya tidak akan pernah mengaku, apalagi dengan dirinya sendiri bahwa saraf-sarafnya mungkin telah berubah.
Hanya sebuah buket bunga, tetapi mampu membangkitkan sesuatu yang tajam dan tidak nyaman di bawah ketenangannya. Jimmy tahu ada sesuatu yang memah sudah berubah.
Damian tidak mengulangi perintahnya.
Sementara lift turun dengan mulus menuju lantai eksekutif, Damian tetap berdiri tegak. Satu tangannya ada di dalam saku celana. Satu lagi menggantung santai di sisi tubuh. Namun, Jimmy tetap memperhatikan. Gerakan kecil ibu jari yang nyaris tak terlihat.
Ketegangan pada garis rahangnya. Tanda-tanda yang tidak akan disadari orang lain.
Di dunia seorang Damian, tidak ada ruang untuk romansa. Mungkin, tidak ada waktu atau toleransi. Aturan itu bukan sekadar formalitas. Itu adalah hukum.
Tidak ada hubungan yang mengganggu pekerjaan. Tidak ada gosip. Tidak ada drama.
Balakosa Enterprises dibangun atas dasar kedisiplinan, fokus, dan kendali. Jadi Jimmy berpikir, mengapa seorang anak magang dengan buket bunga mampu mengguncang kendali itu?
Damian tidak memberikan jawaban. Akan tetapi, Jimmy merasa dia sudah tahu. Ini bukan soal kebijakan perusahaan. Namun, sesuatu yang lebih pribadi.
***
Sementara itu, di Departemen PR ….
Ruangan kembali hidup seperti biasanya. Suara keyboard, obrolan singkat, telepon yang berdering. Namun Maya tetap merasa ada sesuatu yang berbeda. Tatapan-tatapan dan bisikan-bisikan itu terus mengiang. Orang-orang menoleh saat mengira dia tidak melihat. Dan setiap kali Maya mengangkat kepala, mereka buru-buru berpaling. Dia mencoba fokus pada pekerjaannya. Terhadap laporan, dokumen, revisi, dan apa saja yang bisa membuat pikirannya tetap sibuk.
Namun, ketegangan itu terus melekat di dirinya seperti setrum. Mereka pasti melihatnya. Maya duduk di depan meja kerja sambil berusaha menjaga tangannya tetap tenang. Buket bunga itu masih ada di sana. Sebuah bunga bakung putih dan hyacinth biru. Bunga yang tersusun sempurna dalam vas kaca bening di samping laptopnya.
Sementara kartu ucapan, masih terselip di antara bunga-bunga. Dia bahkan tidak berani membacanya lagi. Sekadar melihatnya saja sudah cukup membuat perutnya terasa tidak nyaman.
Hazel akhirnya kembali fokus pada pekerjaannya. Meski sesekali masih melirik ke arah lorong eksekutif.
"Kamu pikir mereka akan mengatakan sesuatu?"
Suara Maya terdengar pelan. Hazel mengangkat bahu.
"Tentang bunga itu?"
“...”
"Entahlah. Mungkin iya. Mungkin tidak."
Kemudian Hazel menatap Maya.
"Kamu tidak melakukan kesalahan apapun, Maya. Tapi kalau ada yang tanya, katakan saja yang sebenarnya."
Maya mengangguk. Sayangnya, dia tidak punya banyak waktu untuk memikirkan hal itu. Karena beberapa menit kemudian Trina muncul.
"Pagi, semuanya."
Nada suaranya tajam seperti biasa. Tatapannya sempat berhenti pada buket bunga tersebut. Matanya sedikit menyipit. Namun, dia tidak berkomentar.
"Maya."
Maya langsung menegakkan badan.
"Saya ingin bicara denganmu."
Perut Maya langsung terasa mulas.
"Ke ruangan saya."
Saat Trina berbalik, Hazel mencondongkan sedikit tubuhnya.
"Tenang saja."
Bisikannya terdengar nyanyian yang hanya untuk menenangkan saja. Maya pun akhirnya berdiri. Lalu berjalan menuju ruangan berdinding kaca milik Trina. Jari-jarinya tanpa sadar bertaut pada buku catatan yang dibawanya. Perutnya masih tidak nyaman. Bunga dan tatapan orang-prang, serta suasana aneh yang menyelimuti seluruh lantai membuatnya tidak nyaman.
Dia mengetuk pintu.
"Masuk."
Maya melangkah pelan. Trina sedang mengetik sesuatu di laptopnya dan bahkan tidak langsung mengangkat kepala. Ruangannya sangat sempurna, seperti penampilannya.
Semua map tersusun rapi. Semua benda tertata rapi. Aroma samar vanila bercampur ambisi memenuhi ruangan.
"Ibu memanggil saya?”
Maya bertanya hati-hati.
"Ya."
Trina akhirnya menatap.
"Duduklah.”
Maya mengangguk.
"Saya sudah membaca catatan rapatmu."
Jantung Maya langsung berdetak lebih cepat.
“Mentah.”
Trina menutup laptopnya.
"Tetapi tajam."
Maya terdiam.
"Kamu menangkap hal-hal yang tidak dilihat orang lain."
Untuk pertama kali, nada bicara Trina terdengar seperti pujian. "Kamu punya potensi, Maya. Pertahankan. Dan mungkin kamu benar-benar bisa bertahan di sini."
Maya langsung mengangguk.
"Terima kasih, Bu. Saya akan berusaha sebaik mungkin."
"Bagus."
Trina menautkan jari-jari di atas meja.
"Tapi potensi tidak ada artinya jika kamu tidak bisa menjaga fokus."
Maya merasakan ketegangan yang luar biasa muncul di dadanya.
“Dan fokus berarti menghindari segala gangguan."
Jantungnya langsung melonjak. Trina berdiri dan berjalan mengelilingi meja. Tatapannya tajam sekali.
"Satu nasihat saya.”
Trina menghentikan ucapannya.
"Asmara kantor tidak bisa ditoleransi di sini."
Maya langsung mendongak.
"Jadi jika saya jadi kamu, saya akan meminta pacar kamu untuk tidak lagi mengirimbunga ke kantor."
"Apa?"
Maya hampir tersedak.
"Saya tidak punya pacar."
Salah satu alis Trina terangkat. Jelas tidak terkesan.
"Saya serius."
Maya buru-buru melanjutkan.
"Saya baru empat hari di sini. Dua hari di departemen ini. Saya tidak akan melakukan sesuatu yang bisa merusak kesempatan ini."
Suara Maya sedikit bergetar di akhir. Dan dia, membenci itu. Namun, ini sebuah fakta. Dia sudah berkorban terlalu banyak untuk mendapatkan magang ini. Jika semua itu hancur hanya karena buket bunga—Maya tidak tahu harus bagaimana.
Trina memperhatikannya beberapa saat. Dia menilai dan mengamati. Alhasil, dia mengangguk pelan.
"Baik."
Tatapannya tetap tajam. "Kalau begitu pastikan itu yang dilihat orang."
Maya mengernyit.
"Di tempat ini, persepsi bisa sangat berbahaya daripada niat.”
Suara Trina terdengar datar. "Kamu masih baru. Orang-orang sedang memperhatikanmu. Jangan beri mereka bahan untuk digosipkan."
Maya menelan ludah.
"Ya, Bu."
Trina mengetuk meja sekali.
"Kamu bisa kembali bekerja."
Maya segera berdiri. Buku catatannya masih dipeluk erat di d**a seperti perisai.
"Terima kasih."
Maya keluar dengan telinga yang memanas. Kepalanya semakin penuh oleh pertanyaan. Dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Tidak tahu pula tahu siapa yang mengirim bunga itu. Mungkin memang salah kirim? Atau orang yang salah? Lebih buruk lagi, seseorang sedang menjebaknya?.
Namun, dia tidak punya waktu untuk memikirkan semua itu. Dia harus bekerja. Harus menemani Jamil ke dokter besok. Harus membayar sewa bulan depan. Harus mencari cara membayar biaya kuliah yang masih tertunggak.
Magang ini adalah kesempatan terbaik yang pernah dia dapatkan. Menjadi jalan keluar. Dan dia, tidak ingin kehilangan itu hanya karena buket bunga tersebut.
***
Di lantai eksekutif, Damian duduk di mejanya. Langit kota membentang, di balik dinding kaca kantornya. Namun, lagi-lagi perhatiannya tidak tertuju ke sana. Jari-jarinya bercokol di atas keyboard laptop. Tidak bergerak sama sekali. Karena sebuah kilasan terus muncul di benaknya. Bunga bakung putih dan hyacinth biru serta kartu ucapan berwarna krem itu. Ada sesuatu dalam dirinya yang menegang. Bukan amarah atau rasa cemburu. Setidaknya—bukan itu. Hanya seperti sebuah gangguan.
Perasaan tidak nyaman yang membuat kulitnya terasa terlalu sempit. Damian tidak menyukai kejutan. Dia tidak suka kehilangan keseimbangan. Dan siapapun yang mengirim bunga itu sudah menyentuh sesuatu yang ada di dalam dirinya. Sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan dengan kebijakan perusahaan.
Tiba-tiba dia mendorong kursinya ke belakang lalu beranjak dengan kasar. Damian mengitari meja. Inilah alasan dia tidak mentoleransi kekacauan. Ada sebuah gangguan dan drama emosional. Semua itu ada di bawah kendalinya. Di perusahaannya.
Namun … tatapannya kembali terarah ke laptop. Jimmy akan mengurus masalah itu.
Tentu saja dia selalu melakukannya.
Beberapa detik kemudian Damian kembali duduk. Lalu membuka dasbor internal perusahaan. Dia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ini hanya untuk memantau kinerja. Efisiensi, produktivitas departemen dan murni urusan bisnis. Tidak lebih.
Dia bergumam sekali lagi dalam hati.
Dan entah mengapa, untuk pertama kali, bahkan Damian tidak mempercayai alasannya sendiri.
***