Maya terbangun dengan kepala yang masih terasa berat, tetapi setidaknya kali ini ia bersyukur karena bisa tertidur selama empat jam. Bahkan, selama itu pun masih belum cukup disebut sebagai kemewahan.
Namun, beruntung masih dua kali lipat lebih lama dibanding malam sebelumnya. Dan satu jam tambahan ternyata mampu memberikan dampak yang cukup besar. Tubuhnya masih pegal. Matanya masih terasa panas akibat lelah yang menumpuk setiap hari. Akan tetapi, setidaknya dia merasa cukup lebih baik untuk menjalani hari.
Hari ini, hari Jumat. Hari terakhir sebelum jadwal magangnya berubah menjadi tiga hari seminggu. Dia hanya perlu bertahan satu hari lagi sebelum alur kehidupannya kembali lebih longgar dan manusiawi.
Selama seminggu terakhir, Maya merasa seperti sedang menjalani empat kehidupan sekaligus. Sebagai barista, mahasiswi, kakak, dan anak magang. Semua hal itu membutuhkan energi penuh, memintanya untuk sanggup menjalani meski tidak semudah itu.
Kata "lelah" bahkan tidak cukup untuk menggambarkannya. Beruntung, manager cafe tempat kerjanya cukup baik, mau memberikan cuti meskipun harus memotong gaji selama seminggu. Artinya tidak ada pemasukan tambahan.
Namun, setidaknya tidak ada shift pagi yang harus dikejar. Jika dia bisa melewati hari ini, maka besok dia bisa menghadiri janji temu dengan dokter Jamil. Itulah kesepakatan yang dibuat dengan dirinya sendiri. Satu hari lagi, cukup satu hati saja.
Saat mengancingkan blus dan mengikat rambut seperti ekor kuda nan rapi, pikirannya kembali pada kejadian kemarin. Rapat mendadak.
Tatapan dingin para eksekutif.
Dan Hazel, sosok teman baru yang lebih terlihat seperti sahabat lama, membuatnya merasa itu lebih baik. Hal itu sebenarnya tidak buruk. Justru cukup menyenangkan. Yang masih mengganggu pikirannya adalah permintaan Trina. Tidak, tidak. Tepatnya, Trina.
"Maya, berikan catatan rapat kamu. Yang kamu tulis selama presentasi. Ya, sekarang. Versi aslinya. Tidak perlu diedit."
Namun tidak ada penjelasan, tidak ada waktu untuk memperbaiki, dan tidak ada kesempatan untuk menyensor isi pikirannya sendiri. Dia hanya menyerahkan buku catatannya begitu saja. Apa adanya.
Dan sekarang dia tidak bisa berhenti berpikir, untuk apa sebenarnya?
Maya menghembuskan napas panjang saat melangkah keluar. Dimana, udara pagi langsung menusuk kulitnya. Seharusnya, hari ini lebih mudah baginya.
Tidak ada rapat, presentasi, atau kejutan lain.
Dia hanya perlu bekerja dengan baik, menyelesaikan tugasnya, lalu pulang dan bergegas demi menemani Jamil ke dokter besok.
Sesimpel itu. Setidaknya, itulah yang dia pikirkan.
Namun, begitu pintu lift terbuka menuju lantai PR, Maya langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda dan terasa aneh. Biasanya area itu dipenuhi suara obrolan pagi dan ketukan keyboard.
Tetapi, tidak dengan hari ini.
Suasana terasa terlalu tenang. Orang-orang mengangkat kepala saat dia lewat. Kemudian buru-buru berpaling. Beberapa bahkan terlihat berbisik satu sama lain. Rasa tidak nyaman langsung merayap memenuhi tengkuknya.
Maya mempercepat langkah. Begitu tiba di mejanya, dia melihat Hazel sudah ada di sana. Dan wanita itu tersenyum seolah baru mengetahui rahasia paling besar sedunia.
"Akhirnya!" seru Hazel, ceria. "Selamat pagi, My Idol."
Maya berkedip bingung.
"Hah ... pagi?"
Mata Hazel berbinar penuh semangat.
"Kamu terlihat tenang sekali buat seseorang yang baru saja dikagumi dan diberikan bunga.”
Maya mengernyit.
"Apa?"
Hazel melangkah ke samping dengan grasak-grusuk. Dan saat itu pula, Maya melihat sebuah buket bunga cantik dan elegan. Bunga bakung putih yang segar. Seperti napas bayi di pagi hari. Dan beberapa tangkai hyacinth biru tua tersusun sempurna dalam vas kaca yang tinggi. Lalu, di antara bunga-bunga itu terselip sebuah kartu berwarna krem. Maya langsung membeku.
"Oh."
Maya menunjuk buket bunga tersebut.
"Itu bukan milikku. Pasti milikmu."
Hazel tampak terkejut. "Milikku?"
Wanita itu tertawa.
“Bukan, sweety. Buket itu sudah ada di mejamu saat aku datang pagi ini."
Maya menatap bunga-bunga itu dengan khawatir.
"Tidak mungkin. Pasti salah orang. Mungkin bukan buat aku.”
Hazel mencondongkan tubuhnya lebih dekat.
"Aku sudah memverifikasinya. Kurir bilang nama penerimanya kamu."
Maya mengangkat alis.
"Maya Astawinaya. Divisi PR di sisi barat."
"Itu jelas kamu."
Jantung Maya mulai berdetak lebih cepat. Dia bisa merasakan tatapan penuh tanya dari berbagai arah. Pipinya langsung memanas.
"Tapi … aku tidak tahu. Siapa yang mengirim ini?"
Hazel menyentuh lengannya pelan.
"Ada seseorang yang menyukai anak magang misterius kita."
Maya langsung menggeleng.
"Aku tidak punya pengagum rahasia. Ini pasti salah orang. Mungkin hadiah untuk klien atau lainnya."
Hazel mengangkat alis.
"Tentu. Karena perusahaan selalu mengirim buket bunga ke anak magang baru."
Maya memilih mengabaikan sindiran itu.
Dengan ragu, dia mengambil amplop krem yang terselip di antara bunga-bunga tersebut. Tangannya sedikit gemetar saat membuka kartu itu. Tidak ada nama dan tanda tangan. Hanya satu kalimat.
"Maya, semoga harimu seindah dirimu."
Tulisan tangan itu rapi dan tegas. Jelas sekali, tulisan tangan seorang pria. Perut Maya seperti diterbangi ribuan kupu-kupu, tidak nyaman sekali.
"Aku tidak suka ini."
Hazel justru tampak semakin riang.
"Karena so sweet?"
"Karena aneh."
Maya menatap kartu itu lagi. "Aku bahkan tidak tahu siapa pengirimnya."
"Justru itu bagusnya!”
Hazel menghela napas. "Oh, ngomong-ngomong."
Selanjutnya dia menepuk meja. "Trina mengirim memo pagi ini. Kamu sudah baca?"
Maya menggeleng.
"Mungkin terlewat."
"Kita kedatangan salah satu klien internasional terbesar hari ini."
Hazel langsung berubah jadi mode serius.
"Klien ini biasa membuat semua orang panik.
Maya mengangguk, seraya membentuk bibir menjadi huruf O.
“Itu sebabnya, suasananya berbeda."
Hazel menunjuk ke sekeliling.
"Trina menyuruh semua orang untuk merapikan meja, berpakaian bagus, dan bersikap profesional."
Kemudian dia melirik bunga-bunga itu.
"Meski aku cukup yakin yang dia maksud bukan menerima kiriman bunga misterius."
"Itu bukan milikku," gerutu Maya lagi.
Namun, sebelum Hazel sempat membalas, seluruh ruangan mendadak hening. Bukan karena bisikan atau rasa penasaran. Melainkan karena sesuatu yang lain. Sebuah kekaguman, keterkejutan, dan sedikit ketakutan.
Maya mendongak. Damian saja masuk. Dia tidak berjalan sendirian. Di belakangnya Jimmy Hartanto mengikuti. Pria itu merupakan Asisten pribadi senior Damian. Jimmy bukan sekadar karyawan. Dia adalah bayangan Damian. Orang yang dipercaya menangani hal-hal yang bahkan tidak tersentuh orang lain. Jika Ella mengelola internal perusahaan, maka Jimmy mengurus urusan eksternal. Seperti, perjalanan luar negeri, keamanan, negosiasi, dan pertemuan yang memiliki resiko tinggi. Jimmy selalu ada untuk hal-hal seperti itu.
Bahkan beredar rumor bahwa Jimmy adalah salah satu dari hanya dua orang yang mengetahui kode akses ke penthouse pribadi Damian. Dan sekarang dia ada di sini. Di lantai PR. Di samping mereka berjalan seorang pria tua yang kemungkinan besar merupakan klien internasional yang tadi dibicarakan Hazel.
Ella mengikuti satu langkah di belakang. Tablet sudah ada di tangannya. Matanya menyapu ruangan dengan penuh ketelitian. Sungguh menakutkan. Tak seorang pun bergerak dan mengeluarkan suara. Sebagian besar karyawan bahkan tidak berani bernapas terlalu keras. Karena biasanya mereka hanya melihat Damian jika dipanggil.
Kehadiran CEO di lantai PR seperti menyaksikan gerhana matahari muncul di tengah musim dingin. Tidak masuk akal dan tentu asing sekali.
Hal itu jelas membuat seluruh ruangan menegang. Hazel mencondongkan tubuhnya.
“Oke. Tidak ada yang bilang kalau bos akan turun langsung room tour,” bisik Hazel. Dan Maya hampir tidak mendengarnya. Darahnya mengalir panas dan dentuman keras terdengar di telinganya. Damian berjalan dengan langkah tenang dan penuh kendali. Tidak ada gerakan yang terbuang cuma-cuma. Tidak ada pandangan yang sembarang. Pandangannya menyapu ruangan, kemudian berhenti tepat di meja Maya. Tepat pada buket bunga itu.
Damian berhenti sejenak. Namun, cukup untuk membuat seluruh tubuh Maya menegang. Ekspresi Damian tidak berubah. Tidak ada kerutan di dahi. Tidak ada tanda kemarahan. Tidak ada apapun. Justru terlalu datar dan tenang.
Namun, Maya bisa melihat. Cara rahangnya menegang, pandanganya tertuju ke buket bunga. Lalu kartu yang masih ada di tangannya.
Rahang Damian sedikit bergerak, halus sekali. Bahkan, hampir tidak terlihat.
Lalu matanya beralih kepada Maya. Dan untuk sesaat, dia melihat semuanya. Bunga-bunga itu, kartu di tangan, dan ekspresi sang perempuan yang terkejut.
Tatapannya beralih seolah Maya tidak pernah ada. Namun, sesuatu telah berubah.
Maya bisa merasakannya. Seolah sebuah saklar diam-diam diputar di bawah permukaan.
Damian tidak mengatakan apapun atau menunjukkan reaksi. Namun, entah mengapa suhu ruangan terasa dingin menusuk kulitnya.
Beberapa detik kemudian, dia berjalan kembali. Klien internasional itu terus berbicara. Jimmy ada di sisinya. Ella mengikuti di belakang.
Dan mereka menghilang dari area tersebut. Namun, momen itu tidak luput dari perhatian siapapun. Terutama Hazel.
Wanita itu langsung menoleh dengan mata membeliak.
"Kamu lihat itu?"
Maya berusaha terlihat bingung.
"Melihat apa?"
"Cara dia memandangmu."
Hazel menunjuk bunga-bunga itu.
"Memandang bunga itu atau kalian berdua.”
Maya menelan ludah.
"Mungkin dia tidak suka ada bunga di meja atau perusahaan ada aturan soal buket ini.”
Hazel mendengus. “Atau … mungkin dia mengira ada seseorang yang melanggar aturan soal hubungan romantis di kantor."
Maya mengernyit.
"Aturan apa?"
Hazel tampak terkejut.
"Kamu belum tahu?"
"Damian sangat ketat soal hubungan antar karyawan. Tidak boleh ada drama, gosip, atau romantisme yang menggangu pekerjaan.”
Dia melirik bunga itu. "Lalu tiba-tiba ada buket misterius di meja anak magang baru di hari kunjungan klien penting."
Maya menelan ludah.
"Menurutmu dia akan diam saja?"
Perut Maya langsung terasa mulas.
"Aku akan dikeluarkan?”
Hazel langsung tertawa.
"Apa? Tidak! Kamu bahkan tidak tahu siapa pengirimnya.
"Itulah masalahnya,” cicit Maya. “Itu justru membuat semuanya memburuk.”
Hazel mencoba menenangkannya.
“Sudahlah. Kalau itu membuatmu merasa lebih baik ..."
Hazel berpikir sejenak. “Menurutku dia tidak terlihat marah."
Maya menatap wanita itu.
"Kamu sendiri bilang dia marah."
"Tidak, Maya.”
Hazel tersenyum tipis. “Aku bilang, dia terlihat di depan umum.”
“Lalu?”
Maya memejamkan mata. Hazel mengedip nakal.
"Dia tidak marah. Mungkin … dia cemburu.”
“Hazel!”
Intonasi suara Maya langsung berubah seperti sebuah peringatan.
"Oke, oke."
Hazel mengangkat kedua tangan seperti tanda menyerah.
"Tapi aku serius. Kalau ada yang tanya, katakan yang sebenarnya. Kamu tidak mengirim bunga itu. Kamu tidak tahu siapa pengirimnya. Dan kamu tidak sedang menggoda siapapun. Maka, kamu akan baik-baik saja."
Hazel tersenyum seraya menenangkan.
“Tempat ini ketat sekali. Tapi sangat adil.”
Maya mengangguk. Akan tetapi, jantungnya masih berdetak cepat. Ini bukan akhir pekan yang menyenangkan seperti yang dibayangkan.
Ada bunga misterius, tatapan Damian, dan jelas menjadi gosip tentang hubungan rekan kantor.
Hazel benar. Dia tidak butuh drama. Dia butuh stabilitas. Romansa atau pengagum rahasia, dia tidak punya waktu untuk memikirkan hal-hal tersebut.
Hidupnya sudah terlalu sesak dengan padatnya pekerjaan, kuliah, magang, dan adiknya. Dan semua itu … sudah lebih dari cukup.
Maya kembali memandang kartu ucapan di tangannya. Tulisannya rapi, tegas, dan tanpa nama. Tetapi, dia tidak menyukai ini. Yang lebih mengganggu adalah … dia tidak suka Damian melihat semua ini. Dia juga tidak suka karena dirinya memperlihatkan reaksi itu. Sungguh berbahaya.
***