Saat jam makan siang, suara obrolan memenuhi Departemen PR. Namun, Maya tidak benar-benar mendengarnya.
Dia bergeming di meja, memandang kosong ke arah depan. Tangannya bergumul erat di pangkuan, bahkan terlalu erat, seolah dengan begitu dia bisa menjaga dirinya tetap utuh.
"Hei."
Suara lembut Hazel menyandarkannya dari lamunan.
"Mau makan siang?"
Hazel tersenyum tipis.
"Aku menemukan kedai dekat sini yang punya dumpling enak."
Maya membalas dengan senyuman tipis. Hanya saja, dia langsung menggeleng pelan.
“Terima kasih. Aku mau di sini saja.”
Hazel mengerutkan kening.
"Kamu yakin?"
"Ya."
Maya menjawab terlalu lantang dan cepat.
"Aku lagi butuh waktu sendiri."
Hazel menatapnya sejenak, selama beberapa detik seakan memastikan. Namun, dia akhirnya mengangguk.
"Baiklah."
Kemudian berlalu. Begitu Hazel menghilang dari pandangan, Maya langsung beranjak.
Tanpa pikir panjang, dia melangkah menuju tangga darurat di ujung koridor. Tempat pelariannya. Dia menaiki sepuluh lantai, menuju pintu terakhir dan sampai di sebuah rooftop yang menjadi tempat menyendirinya sejak pertama kali datang.
Dia menemukan tempat itu tidak sengaja, saat masa orientasi.
Sebuah beranda tersembunyi yang jauh dari hiruk-pikuk gedung. Dikeliling panel kaca tebal. Dihiasi tanaman hijau yang tertata rapi.
Dan yang terpenting adalah tidak ada orang yang datang ke sana.
Maya melangkah sampai di pembatas besi lalu menyandarkan tubuhnya di sana.
Di hadapannya, cakrawala membentang luas.
Namun, semuanya tampak kabur. Matanya memanas. Dan untuk pertama kali, dia berhenti menjadi manusia paling kuat. Dia sudah berusaha, sungguhan!
Nqmun, semua tak mampu lagi terbendung. Tubuhnya lelah karena kurang tidur. Otaknya terus berkelebat soal tagihan Jamil. Bahkan, janji temu dengan dokter besok belum tentu bisa dibayar. Tabungannya semakin menipis. Seminggu ini dia tidak punya pendapatan karena harus fokus magang.
Semua pengorban itu seolah terancam hanya karena buket bunga tersebut. Entah lelucon macam apa ini! Sebuah kesalahpahaman yang membuatnya merasa seperti tengah dirundung satu kantor. Dan menempatkan dirinya sebagai objek gosip yang menyedihkan. Kata-kata Trina kembali terngiang.
"Asmara kantor tidak ditoleransi."
"Persepsi bisa sama berbahayanya dengan niat."
Maya memejamkan mata.
"Aku tidak mau kehilangan semua kesempatan."
Suaranya nyaris tak terdengar.
"Tolong ….”
Air mata mulai berjaruhan.
"Aku tidak boleh kehilangan semua ini."
Dan kali ini Maya tidak mampu menghentikan tangisnya. Tubuhnya perlahan luruh, jatuh ke dasar lantai. Dia memeluk lutut, meringkuk seperti tengah menjaga dirinya agar tidak rapuh. Kemudian, tangis itu sayup-sayup terdengar. Hening dan memilukan.
Waktu berlalu, Maya berhasil mengendalikan diri. Dia mengusap wajahnya, merapikan rambut, dan menarik napas panjang. Sebelum akhirnya berdiri dan melangkah menuju ruangannya.
***
Sementara itu, di lantai eksekutif, koridor terasa seperti dunia lain. Ada keheningan yang menyelimuti. Bukan sekadar hening biasa. Melainkan aturan yang harus dijaga. Semuanya tampak bersih dan terorganisir.
Jimmy melangkah menyusuri koridor dengan langkah tenang. Sebuah map tipis terselip di bawah lengannya. Investigasi sudah selesai dengan cepat dan efisien. Tentu saja, tepat sasaran. Tidak butuh waktu lama untuk menemukan jawaban kalau bunga itu berasal dari toko mewah bernama Lilium & Lace yang dikirim oleh Pradipta Sastrajaya. Seorang spesialis PR. Pria itu duduk di dekat meja Maya.
Jimmy membaca biodata pria itu sekali lagi. Riwayat tentangnya bersih. Dia bekerja di perusahaan sudah empat tahun. Disukai banyak rekan-rekanya. Tidak pernah membuat masalah, melakukan pelanggaran.
Tiba di depan ruangan Damian, Jimmy masuk tanpa membuang waktu.
"Dia yang mengirim bunga itu."
Jimmy meletakkan map tersebut di atas meja. Damian tidak langsung menoleh. Tatapannya masih tertuju pada layar laptop yang menampilkan laporan produktivitas, dashboard KPI dan data departemen. Hal yang biasanya penting, tetapi tidak menjadi prioritasnya saat ini.
"Namanya?"
"Pradipta Sastrajaya."
Kali ini, mata Damian berkedip, menunjukkan reaksi.
"Spesialis PR."
Jimmy melanjutkan.
"Sudah bekerja selama empat tahun. Riwayatnya bersih. Tidak ada pelanggaran sebelumnya."
Sejenak hening.
"Saya mau dia pergi."
Jimmy tertegun dengan ekspresi tenang.
"Dipecat?"
"Tidak."
Suara Damian terdengar dingin.
"Pindahkan."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
"Ke luar negeri."
Tatapannya tidak berubah.
"Lakukan secepat mungkin."
"Buat terlihat seperti program kolaborasi strategis antar cabang. Pengembangan kompetensi karyawan. Atau sesuatu yang lebih masuk akal.”
Damian mengambil jeda.
"Lalu hari senin, kirim dia ke kantor cabang di Seoul."
Jimmy mengangguk.
"Saya mengerti."
Namun, ternyata kalomatnya belum selesai.
"Beritahu HR bahwa ini termasuk tindakan disipliner preventif. Kaitkan dengan kode etik. Pelanggaran kebijakan. Dan pastikan semuanya bersih."
"Baik, saya akan urus."
Jimmy mengangguk sekali lagi. Tentu saja, dia akan mengurus semua itu.
***
Di sisi lain lantai PR … Pradipta tertegun di kursinya. Dia tidak bisa berhenti memperhatikan Maya. Awalnya tidak sengaja. Lambat laun, dia tidak mampu mengalihkan pandangan sama sekali.
Pagi itu, dia melihat Maya datang dengan wajah yang tampak lesu dan lelah. Dia melihat reaksi perempuan itu ketika menerima bunga tersebut.
Dan sekarang, dia melihat Maya mengangkat vas tersebut seolah benda itu bisa membakar tangannya. Sesuatu dalam dadanya terasa berdenyut. Pradipta hampir beranjak, menghentikan atau mengatakan sesuatu. Apa saja. Karena sebenarnya dia hanya ingin melihat Maya tersenyum.
Seminggu ini dia diam-diam memperhatikan perempuan itu.
Cara Maya menulis catatan ketika tidak ada yang memperhatikan. Cara dia memandang keluar jendela saat istirahat. Seolah sebagian dirinya berada di tempat lain. Jelas, ada sesuatu tentang dirinya. Perempuan itu lembut namun berpura-pura kuat. Kesepian namun tidak pernah berkecil hati.
Pradipta bahkan tidak mencantumkan namanya di kartu. Dia tidak pernah membayangkan semua akan berakhir seperti ini.
Namun, saat melihat Maya berjalan menuju tempat sampah dengan membawa buket itu, entah mengapa dadanya terasa sesak. Pradipta merasa sudah membuat semuanya jadi lebih buruk. Dan dia tidak tahu bagaimana memperbaikinya.
***
Maya tidak menyadari kalau ada seseorang yang sesang memperhatikannya.
Dia terus berjalan melewati meja-meja, tatapan orang-orang, serta bisikan yang terus mengikuti langkah kakinya.
Kemudian menuju tempat sampah besar di sana. Seolah itu merupakan garis finish perlombaan yang tidak pernah ingin dia ikuti.
Tanpa ragu, Maya membuang vas bunga itu. Suara kaca menghantam bagian bawah tempat sampah hingga terdengar pelan namun tajam.
Air tumpah, kelopak bunga rontok dan hancur—seperti sisa-sisa yang sudah berakhir.
Maya bergeming sejenak. Napasnya jadi tidak beraturan. Bahunya uruh. Kali ini, lebih cepat.
Dia berhalik dan melangkah menuju sudut dekat area lift. Tempat yang cukup sepi dari lalu lalang karyawan.
Begitu sampai di sana, Maya perlahan luruh hingga terduduk di lantai. Tanganya gemetar, menutupi mulutnya agar tidak mengeluarkan suara tangis yang tak bisa lagi tertahan.
Namun, gagal. Dia benar-benar lelah. Terlalu banyak beban yang ditanggung sendirian. Dia meringkuk, menarik lututnya sampai ke d**a. Disaat yang sama, air mengalir tanpa bisa terbendung lagi. Untuk pertama kali, Maya benar-benar ingin menghilang.
Detik itu juga, sebuah lift berdenting, membuat pintu logam terbuka. Dan Jimmy keluar sambil membawa sebuah map yang telah ditandatangani. Dia sedang menuju ruangan Trina untuk mengantar dokumen tersebut. Namun, Jimmy melihat seorang perempuan tengah tersungkur di lantai dengan mata sembab dan bahu bergetar.
“Nona Maya?” bisik Jimmy seraya mendekat. Sementara Maya langsung tersentak ketika namanya dipanggil. Dia buru-buru berdiri, menghapus jejak air matanya.
“Pak Jimmy? Maaf …,” lirih Maya dengan suara terbata-bata.
“Kamu baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja, Pak.”
Jimmy memperhatikan. “Sepertinya wajah kamu tidak bisa menyembunyikannya.”
Intonasi suara itu tetap terkendali. Namun, ada kelembutan yang jarang terdengar darinya.
“Saya tidak bermaksud ….”
Maya menggeleng dengan cepat, seolah meyakinkan bahwa dirinya tidak apa-apa. “Hanya kurang tidur saja. Maaf, ya, Pak.”
Maya langsung merapikan blusnya dengan tangan gemetar. Berusaha mempertahankan harga dirinya.
"Aku baik-baik saja. Aku tidak bermaksud membuat masalah."
Jimmy memandangnya sejenak. Dan barang sesaat, pria yang tampak seperti besi baja, kini melunak.
"Kamu tidak membuat masalah."
Maya memberi senyum tipis yang tampak sangat rapuh.
"Terima kasih."
Jimmy mengangguk.
“Jaga diri, ya.”
Tak berselang lama, Jimmy melenggang. Dia tidak mengatakan sesuatu yang tidak diperlukan.
Di sisi lain, Pradipta melihat semuanya. Ketika Maya menangis dan Jimmy berbicara dengannya. Melihat betapa hancur perasaan perempuan itu membuat dirinya tidak layak mendekatinya—setidaknya untuk saat ini.
Padahal, dia hanya berniat baik. Namun, tidak menyangka itu bisa jadi mempermalukan Maya.
Pradipta memilih kembali ke kursinya. Rahangnya mengeras. Ada penyesalan melingkupi dirinya. Dia hanya ingin membuat Maya tersenyum. Namun, hal itu justru sebaliknya.
***
Di ruang eksekutif, Damian berdiri di depan jendela. Tak lama kemudian, Jimmy kembali.
"Dokumen sudah ditandatangani."
Jimmy meletakkan map di meja.
"Trina sudah menerimanya."
Damian hanya mengangguk. Setelah hening, Jimmy akhirnya beranjak—hendak meninggalkan ruangan. Namun, kakinya terhenti di ambang pintu.
“Oh, ya.”
Nada suaranya terdengar santai. Namun, tersirat sesuatu yang berat di baliknya.
“Saya juga melihat Maya.”
Ketika nama itu terucap, Damian masih bergeming. Dia sama sekali tidak berbalik. Namun, ada yang berubah dari nada bicaranya. Lebih tajam dan dingin.
“Kenapa dia?”
Jimmy melirik ke luar jendela.
"Dia terlihat sendirian. Seperti sedang terpuruk di depan pembuangan sampah.”
Ada sedikit jeda.
“Mungkin dia baru saja membuang bunga itu.”
Damian membisu. Semntara Jimmy terus melanjutkan kalimatnya.
“Dan dia … menangis."
Tak lama, keheningan menyelimuti ruangan. Damian tidak bertanya atau menunjukkan reaksi berlebih. Namun, Jimmy sadar bahwa dari cara tangan pria itu yang tampak santai di sisi tubuh, kini mengepal kuat. Bukan marah yang meluap-luap. Hanya keheningan yang justru jauh lebih berbahaya. Jimmy menanti respon selanjutnya, menunggu perintah yang terasa lama sekali.
“Awasi dia.”
Dan tanpa bertanya lebih jauh, Jimmy sudah bisa memahami maksud ucapan itu.
***