Damian menatap langit-langit beberapa saat sebelum akhirnya menjauh dari meja kerjanya. Dia berjalan melintasi ruangan menuju lemari minuman yang tersembunyi di salah satu sisi dinding kantor. Dengan gerakan yang sudah menjadi kebiasaannya, dia menuangkan segelas whiskey. Bukan karena dia membutuhkan minuman itu. Setidaknya, bukan untuk sebuah alkohol.
Lebih kepada ritualnya. Seperti mendengar suara gemericik air memenuhi gelas. Dentingan lembut kaca. Serta, sensasi hangat yang menunggu di tenggorokannya.
Ada sesuatu dalam rutinitas sederhana itu yang selalu membantunya tetap berpijak.
Dan …. Fokus. Mengingatkan pada dirinya sendiri.
Akun Lawson membutuhkan perhatiannya. Memo investor harus selesai sebelum akhir pekan. Ada banyak hal yang jauh lebih penting untuk dipikirkan. Namun anehnya, tidak satu pun dari itu berhasil menarik fokusnya. Tidak ketika wajah itu terus muncul tanpa izin di benaknya.
Maya Astawinaya.
Dia terlihat tidak cocok ada di ruang rapat tadi. Terlalu lembut untuk dunia yang dibangun dari sudut-sudut tajam dan ambisi yang bahkan lebih kejam. Damian masih mengingat bagaimana perempuan itu duduk di sudut ruangan. Nyaris tidak bergerak dan bernapas.
Mata yang bulat dan tangan yang membeku, hampir seekor mangsa yang berusaha tidak menarik perhatian predator. Awalnya Damian mengira dia hanya kelelahan karena keluar malam atau mungkin mabuk karena terlalu banyak berpesta.
Beberapa anak magang memang seperti itu. Mereka datang dengan wajah cantik, nilai akademik tinggi, dan rasa percaya diri yang berlebihan, lalu tersandung begitu harus menghadapi tanggung jawab yang sesungguhnya.
Namun, entah mengapa Maya tidak cocok dengan gambaran itu. Tidak ada kilau yang dibuat-buat. Tidak ada pesona yang dipoles dengan sengaja. Tidak ada keputusasaan yang disamarkan menjadi kepercayaan diri. Yang dia lihat hanyalah rasa lelah yang nyata. Dan sesuatu yang tersembunyi di bawahnya.
Pertahanan, bukan ketakutan atau kelemahan. Lebih seperti seseorang yang sudah terlalu lama hidup sambil bersiap menghadapi benturan berikutnya. Mungkin dia bekerja hingga larut malam.
Bukankah dia bekerja di kafe? Damian samar-samar mengingat informasi itu dari berkasnya. Berarti dia bukan hanya mahasiswa. Dia bekerja sambil kuliah. Dan mungkin melakukan hal lain yang tidak diketahui Damian.
Apa itu sebabnya dia terlihat begitu lelah? Apa sekolah menguras energinya? Atau hidupnya?
Damian mengerutkan dahi. Kesal pada dirinya sendiri. Semua ini bukan urusannya. Anak magang bisa datang dan pergi. Beberapa ada yang bertahan dan mungkin juga tidak.
Dia tidak punya waktu untuk memikirkan seorang gadis yang jelas-jelas tidak seharusnya mendapat perhatian sebanyak ini. Namun, kenyataannya tetap sama. Dia masih memikirkannya.
Maya berhasil mengendalikan dirinya dalam rapat tadi. Dan tampak lebih baik daripada sebagian besar eksekutif junior. Dia tidak berbicara. Namun, tidak pula mengecilkan diri. Dan itu mengganggu pikiran Damian.
Pria itu perlahan menyesap whiskey. Sensasi hangatnya membantu menjernihkan pikiran. Namun, keheningan kantor malam itu justru terasa sangat sunyi.
Ada sesuatu yang tidak sesuai. Dan Damian tidak menyukai hal-hal yang tidak sesuai. Terutama ketika parameter yang belum terpecahkan itu memiliki mata gelap yang tampak terlalu lelah di usianya. Dia meletakkan gelasnya dengan bunyi pelan. Lalu menekan tombol interkom di mejanya.
"Ella."
Suara Damian terdengar tenang.
"Saya butuh bantuanmu."
"Saya segera ke sana, Pak."
Jawaban Ella langsung meluncur. Tak lama kemudian pintu terbuka. Ella masuk sambil membawa tablet di tangannya. Penampilannya tetap sempurna seperti biasanya.
“Ada apa, Pak?"
Damian tidak langsung menoleh.
"Saya melihat wajah yang tidak dikenal selama rapat pagi tadi."
Ella menunggu.
"Duduk di sebelah Hazel."
Hanya butuh satu detik bagi Ella untuk memahami.
"Ah!”
Dia mengangguk.
"Itu Maya Astawinaya, Pak. Anak magang baru. Dia dipindahkan ke sisi barat pagi ini sesuai instruksi Anda. Dan sekarang berada di bawah pengawasan Trina."
"Hm."
Damian bersandar sedikit ke belakang.
Jarinya mengetuk sandaran kursi sekali.
"Panggil Trina."
Ella langsung mencatat.
"Saya ingin catatan mentah milik anak magang itu dari rapat tadi."
Untuk pertama kali, ada sedikit perubahan pada ekspresi Ella. Hanya sepersekian detik. Namun, Damian menangkapnya.
"Catatan mentah?" ulangnya.
“Iya.”
Damian menatap ke luar jendela.
"Tidak boleh diedit. Jangan diperhalus atau di paraphrase.”
Ella segera mengangguk.
"Tentu."
Jarinya mulai bergerak di atas layar tablet.
"Saya akan meminta salinannya."
Beberapa detik berlalu.
"Ada hal lain yang Anda perlukan?"
Damian tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada pemandangan kota yang membentang di balik kaca. Namun, pikirannya berada di tempat lain. Pada seorang perempuan yang duduk diam selama rapat. Dia tidak berusaha menghilang ataupun menonjol. Dia hanya memperhatikan, mengamati dan menyerap. Serta, menyimpan sesuatu yang bahkan belum bisa didefinisikan.
Akhirnya Damian menggeleng.
"Tidak. Itu saja."
“Ella mengangguk lalu pergi tanpa bertanya lebih jauh.
Sementara Damian kembali sendirian. Dia tidak langsung duduk. Sebaliknya, dia tetap berdiri beberapa saat. Laporan-laporan di meja tetap tidak tersentuh. Akun Lawson sudah lama terabaikan karena pikirannya masih tertuju pada satu nama. Maya Astawinaya.
Dia mengulang nama itu dalam hati. Tidak ada yang istimewa dalam portofolionya. Tidak ada pencapaian luar biasa. Tidak ada koneksi penting. Atau hal yang biasa menarik perhatian seseorang seperti dirinya.
Selain satu hal—tekad. Dan mungkin keputusasaan.
Namun, setelah melihat secara langsung, Damian tahu ada sesuatu yang lebih dari itu. Cara dia duduk, rahangnya menegang, bahu tetap tegak meski lelah, dan cara dia menghindari tatapan orang lain tanpa terlihat takut—mengatakan bahwa dia tidak ingin diperhatikan. Jelas sekali! Namun, entah bagaimana … itu justru menarik perhatian Damian sepenuhnya.
Sekali lagi, Damian menyalakan layar komputernya. Lalu membuka direktori internal perusahaan. Sejenak, dia ragu. Kemudian mengetik nama Maya pada kolom pencarian. Datanya langsung muncul.
Maya, mahasiswi tingkat akhir, universitas swasta, peserta magang dengan IPK terbaik. Catatan akademiknya bersih. Rekomendasi dosen sangat positif.
Namun, tidak ada satu pun yang menunjukkan bahwa dia adalah seseorang yang layak dianggap sebagai "material Balakosa".
Tetapi dia tetap berada di sini.
Tatapan Damian menyapu informasi yang terpampang di layar. Lalu berhenti pada bagian kontak darurat. Hanya ada satu nama. Jamil Astawijaya. Saudara laki-laki. Tidak ada nama orang tua.
Damian mengerutkan dahi samar. Kemudian langsung menutup berkas itu. Dia tidak berniat masuk terlalu jauh ke kehidupan pribadi Maya. Tentu saja, ini bukan urusan pribadi. Setidaknya itulah yang dia yakini pada dirinya sendiri. Dia hanya memastikan bahwa setiap orang yang duduk di ruang rapatnya layak ada di sana.
Namun, ada satu hal yang masih mengganggunya. Dia ingin membaca catatan itu. Catatan yang ditulis Maya selama rapat. Dia ingin tahu apa yang dilihat perempuan itu. Karena instingnya mengatakan sesuatu. Maya tidak mencatat seperti mahasiswa yang berusaha memenuhi tugas. Dia mencatat seperti seseorang yang sedang membaca situasi, menganalisis, memahami, dan berbahaya.
Bukan hanya mampu memperhatikan apa yang sedang terjadi. Tetapi juga memperhatikan apa yang tidak terjadi, tidak terucap, tersembunyi, dan tersirat dalam jeda dan keheningan.
Dia tidak berusaha menjadi pusat perhatian. Dia hanya … melihat. Dan mungkin itulah yang mengganggu pikiran Damian. Maya melihat banyak hal daripada yang seharusnya dia lihat. Dan dia memahami arti dari apa yang dilihatnya. Sekarang, dia benar-benar mendapatkan perhatian Damian.
Alis Damian terangkat tipis. Sebagian besar anak magang diajarkan untuk mengulang informasi, menyalin, bermain aman, mengikuti pola.
Namun, catatan Maya berbeda Dia tidak ada usaha untuk mengesankan atau menunjukkan sesuatu. Disana, tidak terdapat ego. Hanya pengamatan yang jujur, mentah, dan tajam.
Damian membaca catatan itu sekali lagi. Lalu untuk kedua kalinya dan ketiga kalinya. Akhirnya perlahan Damian menutup map tersebut.
Jarinya mengetuk sampulnya sekali sebelum meletakkannya di sudut meja.
"Dia melihat banyak hal.”
Suara Damian terdengar pelan hingga terdengar seperti bisikan.
"Pak?"
Ella, yang baru saja kembali membawa dokumen tambahan, mendongak.
"Awasi dia."
Ella berkedip.
"Maya?"
"Ya."
Damian menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Diam-diam. Saya ingin tahu bagaimana cara dia bekerja."
Alis Ella kembali terangkat.
"Apa yang sebenarnya sedang kita cari, Pak?”
Damian terdiam cukup lama. Karena untuk pertama kali, dia tidak memiliki jawaban.
“Saya … belum yakin.”
Ella mengangguk.
“Baik, Pak.”
Ella pun beranjak pergi. Dan meninggalkan Damian dalam keheningan sekali lagi. Damian menatap map yang telah tertutup di atas meja. Semua ini seharusnya berakhir di sana. Namun, intuisinya mengatakan hal lain. Karena jauh di dalam dirinya, Damian merasa bahwa ini bukan akhir dari apapun. Justru sebaliknya, ini adalah awal mula.
***