Usai rapat berakhir, Maya tetap duduk selama beberapa menit. Satu per satu orang mulai meninggalkan ruang rapat berdinding kaca tersebut. Suara kertas yang dirapikan, gesekan lembut kursi di lantai mengkilap, dan bunyi hak sepatu yang menjauh perlahan memenuhi ruangan.
Damian tidak menoleh ke belakang. Tidak seperti yang diam-diam Maya harapkan.
Namun, meski pria itu sudah berpaling, Maya masih bisa merasakan bekas tatapannya. Seperti panas yang tertinggal di kulit setelah tersentuh api. Sulit untuk diabaikan. Dia menunggu sampai sebagian besar peserta rapat keluar sebelum akhirnya berdiri.
Kakinya terasa kebas. Bukan karena duduk terlalu lama. Melainkan karena ketegangan yang terus membelenggu tubuhnya sejak awal rapat.
Kekuasaan yang tidak perlu dipamerkan dan kehadiran yang mendominasi tanpa harus meninggikan suara. Juga … ada perasaan sedang diperhatikan—meski hanya sesaat. Dan itu ternyata jauh lebih melelahkan daripada kurang tidur seperti yang biasa dia alami.
Saat keluar dari ruang rapat, Hazel sudah menunggunya. Wanita itu sedang meminum air dari botol berukuran besar yang bentuknya menyerupai karton s**u.
"Kamu berhasil selamat," ucap Hazel dengan senyum ejekan.
Hazel mengamatinya dari atas sampai bawah.
"Tidak ada luka yang terlihat. Aku kagum sama kamu."
Maya mencoba tersenyum.
"Nyaris saja."
Ketika mereka hendak berjalan menuju area workstation, Hazel langsung berjalan di sampingnya.
"Kamu tahu tidak?" tanya wanita itu, menggebu. "Tadi kamu terlihat seperti rusa yang sedang menunggu diterkam singa.”
Maya mengerang pelan.
"Sebegitu jelasnya?"
"Sweety, kalau aku punya bola bekel, aku sudah lemparkan ke kepalamu saat Damian baru selesai mengucapkan kalimat kedua."
Maya terkekeh. Lebih mirip seperti embusan napas daripada tawa sungguhan. Setibanya di mejanya, ia meletakkan tas dan mulai duduk perlahan. Jarinya tergeletak di atas keyboard. Namun, dia tidak langsung mulai bekerja.
Hazel bersandar di sisi kubikelnya. Rambut ikal kemerahannya itu sedikit bergoyang saat dia memiringkan kepala.
“Hei!”
Seketika Maya menoleh.
"Kamu baik-baik saja, ‘kan?"
Maya mengangguk. Meskipun rasanya dia tidak sedang baik-baik saja.
“Tentu.”
Kemudian terdengar embusan napas.
“Cuma … banyak hal yang harus aku cerna.”
Hazel mengulum senyum.
"Kamu sudah melakukan yang terbaik, Maya.”
Maya mengangkat sebelah alisnya.
“Serius?”
Hazel menunjuk ke arah ruang rapat yang baru saja mereka tinggalkan.
"Kebanyakan anak magang sudah panik bahkan sebelum kopi pertama mereka selesai diseduh."
"Kamu berhasil duduk selama rapat dan tidak menangis setelah selesai.”
Maya langsung tertawa pelan.
“Standarnya rendah sekali."
"Oh, tunggu dulu. Itu belum ada apa-apanya."
Hazel mengangkat satu jari.
"Kamu juga tidak gumoh."
"Lalu?"
"Dan yang paling penting ...."
Hazel mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat.
"Kamu tidak mencoba menggoda bos."
Pipi Maya langsung memanas.
"Apa?"
"Memangnya ada orang yang melakukan itu?"
Hazel hanya tertawa.
“Banyak. Dan kamu akan terkejut."
Wanita itu menggedikkan bahu.
“Pak Damian bisa membekukan satu benua hanya dengan tatapannya saja. Tapi setengah isi kantor ini tetap rela hipotermia demi mendapat perhatiannya."
Maya menggeleng sambil menatap buku catatannya.
“Tidak dengan aku,” gumam Maya.
Hazel memperhatikannya selama beberapa detik.
"Kamu mengatakannya serius sekali.”
Maya langsung berkedip. Karena memang dia bicara serius.
"Aku cuma ...."
Maya tertawa hambar.
"Hidup aku sudah terlalu penuh untuk memikirkan hal seperti itu.”
“Aku rasa begitu.”
Hazel bersandar lebih nyaman.
"Kamu terlihat seperti orang yang hidup dari kafein dan krisis eksistensial."
Maya tidak bisa menyembunyikan tawanya.
"Aku bekerja sebagai barista. Empat hari seminggu."
Mata Hazel membulat.
"Serius?"
Maya mengangguk.
"Aku kerja paruh waktu di pagi hari."
"Lalu kuliah kelas karyawan setiap Senin, Rabu, dan Jumat.”
“...”
"Dan sekarang magang di sini."
Hazel benar-benar terlihat terkejut.
"Tunggu!”
Kemudian wanita itu menunjuk Maya seolah sedang menghitung.
"Jadi kamu bekerja?”
Maya mengangguk.
"Kuliah?”
Mengangguk lagi.
"Dan menjalani magang di sini?"
“Iya, benar.”
Hazel menatapnya dengan binar yang tak bisa disembunyikan. Ada kilatan kagum seperti baru saja melihat transformasi superhero.
“Ckck. Ya Tuhan!”
Hazel lantas mendaratkan tubuh ke kursinya.
"Aku saja selalu mengeluh kalau ada jadwal rapat selama tiga kali berturut-turut."
“...”
“Tapi kamu disini menjalani tiga hal sekaligus?”
Maya tersenyum tipis.
"Itu bukan pencapaian yang harus dibanggakan,” sambar Maya.
“Tidak … tidak,” jawab Hazel seraya menggeleng. “Itu keren sekali! Serius!”
Tatapan Hazel melembut.
"Dan kamu bahkan tidak berkedip selama rapat tadi."
“...”
"Aku pernah melihat eksekutif junior hancur hanya karena harus duduk satu meja dengan Pak Damian."
Maya menunduk.
"Percayalah,” ucap Maya, lirih. “Sepanjang rapat, aku gugup.”
Hazel tertawa. Namun, beberapa saat kemudian ekspresinya berubah menjadi lebih serius.
"Kamu tahu mereka tidak membayar anak magang dengan uang saku yang besar, ‘kan?"
Maya mengangguk.
"Aku tahu."
Hazel lantas memperhatikannya selama beberapa detik. Lalu melanjutkan, “aku hanya bertanya karena semua yang kamu lakukan ini ...."
Dia menunjuk Maya.
"Aktivitas yang tidak manusiawi."
"Kuliah, magang, stres, dan kebanyakan orang cuma bisa menghandle satu dari semua itu.”
Maya menghela napas.
"Aku tahu seperti apa rasanya bekerja sekeras ini.”
Maya menelan ludah. Tenggorokannya terasa tercekat. Kemudian, Hazel melanjutkan dengan suara yang lebih lembut.
"Kamu tidak seharusnya berjuang sekeras ini hanya untuk bertahan hidup."
Maya menatap layar komputer selama beberapa detik. Lalu tersenyum tipis.
"Aku tahu. "Tapi tetap saja ….”
Maya menarik napas pelan.
“Kesempatan ini terlalu besar untuk dilewatkan. Setiap tahun mereka hanya memilih satu mahasiswa. Meskipun uang sakunya tidak besar, tapi pengalaman dan koneksinya bisa mengubah segalanya."
Hazel memandang cukup lama. Tidak ada candaan atau ejekan. Dia hanya mendengar tanpa menghakimi. Kemudian, mengangguk pelan.
“Kamu luar biasa, Maya.”
Perempuan itu hanya tersenyum tipis.
"Tidak, itu hanya tuntutan hidup.”
Hazel menggeleng tak percaya.
"Tapi gila saja, sih. Kamu menjalani tiga kehidupan sekaligus dan masih terlihat seperti manusia normal."
"Manusia normal adalah istilah yang cukup diterima," gumam Maya.
Hazel tertawa pelan.
“Jujur saja, kapan kamu terakhir tidur nyenyak?”
Maya terkekeh.
"Kadang-kadang."
Jawaban itu terdengar biasa saja. Namun, kenyataannya membuat d**a Hazel berubah sesak.
“Aku berusaha mengaturnya.”
Ekspresi Hazel kembali berubah, lebih lembut dan hati-hati. Seolah untuk pertama kali dia benar-benar melihat apa yang tersembunyi di balik senyum Maya. Seorang perempuan yang bertahan hidup hanya dengan tekad. Tanpa pelindung, cadangan, atau tempat jatuh yang aman.
“Kamu melakukan semua ini untuk seseorang, ya?"
Pertanyaan itu terlontar pelan. Namun, tepat sekali! Maya mengangguk.
“Ya, adikku.”
Suaranya nyaris goyah.
“Jamil.”
Maya menatap meja. Ada jeda yang membuat atmosfer menjadi lebih sesak. Hazel bahkan merasakannya.
“Dia segalanya bagiku.”
Maya menelan ludah susah payah.
“Aku mau membawanya hidup lebih baik dan melewati semua ini.”
Hazel bergeming. Sejak mereka bertemu, ini kali pertama dia menghembuskan napas panjang. Sial. Hanya itu yang bisa dia katakan dalam hati.
“Pasti berat sekali, ya?”
Maya tidak menjawab. Dia hanya menundukkan kepala. Jari-jarinya menyusuri tepi meja. Mencari sesuatu untuk membuat dirinya tetap tegar.
Setelah beberapa saat, Hazel pun menegakkan tubuh kembali. Senyumnya muncul dan lebih tulus.
“Baiklah.”
Dia memecah hening selama beberapa detik.
"Kalau suatu hari nanti kamu perlu tempat untuk bersembunyi dan berteriak, kamu bisa pakai rak persediaan camilan. Dan aku akan membawakannya untukmu."
Maya tertawa.
"Camilan seperti apa?"
"Sesuatu yang renyah."
Hazel berpikir keras.
"Dan membuatmu lega.”
“Sounds good.”
“Benar, ‘kan?”
Maya menggeleng sambil tersenyum.
"Terima kasih, Hazel."
“Dengan senang hati.”
Hazel kemudian mengangkat satu jari.
"Oh, dan satu nasihat."
Nada suaranya berubah. Maya langsung memperhatikan.
"Tundukkan kepalamu. Tapi buka telingamu."
Hazel melirik ke sekeliling sebelum melanjutkan.
"Tempat ini punya banyak lapisan. Dengan semua yang sudah kamu hadapi dalam hidup, percayalah padaku."
“Apa?”
"Drama kantor adalah hal yang tidak perlu kamu campuri.
Maya mengangguk.
"Kerjakan tugasmu, fokus, dan semuanya akan baik-baik saja."
Lalu Hazel tersenyum.
"Aku sendiri tidak pernah mengikuti aturan itu."
Maya tertawa. Hazel menunjuk dirinya sendiri.
"Waktu pertama kali masuk ke sini, semua orang menyuruhku membaur. Diam. Jangan mencolok. Jangan membuat masalah."
Dia mengangkat kedua tangan.
"Tapi itu bukan aku. Aku ini ekspresif. Penuh warna. Kalau bicara selalu keras. Banyak tertawa. Lalu, tebak apa?”
Dia menunjuk lantai tempat mereka berdiri.
"Aku masih di sini."
Maya tidak bisa menahan senyum. Hazel melanjutkan dengan bangga.
"Aku melakukan pekerjaanku dengan baik."
"Itu yang penting."
"Aku mungkin tidak sempurna. Tapi aku tidak akan mengecilkan diriku sendiri hanya untuk membuat orang lain nyaman."
Perlahan Maya mengangguk. Ada rasa hangat yang aneh bersemi di dadanya.
Perasaan yang sudah lama tidak dia rasakan. Hazel tersenyum.
"Semua orang memang sedikit berhati-hati di sekitar bos. Dan itu lumayan masuk akal."
Hazel menggedikkan bahu.
"Tapi aku tetap jadi diriku sendiri."
Lalu mengangkat kedua tangannya seperti sedang memamerkan pencapaian besar.
"Dan lihat, aku masih hidup, bernapas, dan merasa luar biasa!”
Maya tertawa. Kali ini sungguh. Untuk pertama kali sejak memasuki perusahaan tersebut, Maya merasa mungkin dirinya tidak harus kehilangan jati diri hanya untuk bertahan.
Hazel mengetuk sisi kubikelnya sekali sebelum kembali ke mejanya sendiri. Wanita itu bahkan sempat bersenandung bahagia sepanjang jalan. Setelah sendirian lagi, Maya menatap layar monitornya.
Baru tiga hari. Namun, hidupnya terasa sudah bergeser jauh dari tempat semula. Tidak ada yang terasa stagnan.
Bukan tentang rutinitas, pekerjaan, dan napasnya sendiri.
Durasi magang ini selama enam bulan. Dalam waktu itu, dia harus membuktikan bahwa semua pengorbanan ini layak.
Mungkin dia harus menghadapi rasa lelah, mengabaikan ketidakpastian. Dan menunjukkan bahwa dia memang pantas berada di sini.
Karena jika dia berhasil bertahan … mungkin semuanya akan berubah dan menjadi awal dari kesempatan yang nyata. Yaitu jalan menuju kehidupan yang lebih baik lagi. Kehidupan yang tenang, bisa tidur pulas, tidak harus cemas memikirkan tagihan, tidak takut ketika harus membeli obat Jamil.
Kehidupan yang dia harap layak. Tidak harus lagi menghitung uang receh di depan kasir atau berharap manajer kafe tidak memotong waktu istirahatnya lagi. Pokoknya, kehidupan yang membuat Maya tidak takut apapun lagi.
Maya mengembuskan napas perlahan. Sungguhan dia lelah. Lelah bertahan, menghitung, dan khawatir pada keadaan.
Tetapi, dia tidak boleh menyerah sekarang. Tidak sampai dirinya bisa membawa sang adik hidup nyaman. Dia mengepalkan kedua tangannya sebentar. Magang ini lebih dari sekadar pengalaman kerja atau memenuhi portofolio.
Magang ini adalah harapan baru. Cahaya kecil di tengah kekacauan yang telah mengikutinya selama bertahun-tahun. Jika dia bisa melaluinya dan bertahan menghadapi jam kerja yang panjang, standar yang mustahil, dan tatapan dingin yang mengintimidasi—mungkin dia bisa memperbaiki semuanya. Untuk Jamil dan dirinya sendiri. Karena pasti ada sesuatu yang lebih baik daripada sekadar bertahan hidup. Tentu saja.
Dengan tekad itu, Maya mengusir argumentasi pikiran yang mengganggu. Dia mengedipkan mata untuk menghilangkan kabut yang mulai menggenang di kelopaknya, lalu membuka dokumen memo internal yang harus ditinjau.
Dia menolak percaya bahwa bertahan hidup adalah hal terbaik yang bisa mereka dapatkan.
***