Damian Balakosa buka tipe pria yang pernah melirik dua kali. Setidaknya, tidak sampai sekarang. Ruang rapat sudah dipenuhi oleh ketegangan bahkan sebelum dirinya masuk.
Dia tidak perlu melihat secara langsung untuk mengetahui siapa saja yang hadir di dalam ruangan itu.
Kepala divisi, staf komunikasi senior, dan para pemimpin strategi. Mereka semua sudah menunggu. Semuanya sudah dipilih dengan cermat.
Dan semuanya selalu takut untuk bernapas terlalu keras jika pria itu belum duduk.
Damian melangkah pelan dengan ketenangan yang terukur. Berbalut setelan hitam, kemeja putih tanpa dasi … semua telah diperhitungkan.
Setiap jas yang dirapikan, jeda yang diciptakan, serta langkah yang diambil—bukan karena suatu kebetulan. Rapat presentasi seperti ini sebenarnya tidak pernah benar-benar soal presentasi. Ini tentang kendali dan mengingatkan semua orang siapa yang berkuasa di tempat tersebut. Mengingatkan siapa yang membangun perusahaan ini dari nol. Dan siapa yang mampu menghancurkannya kapan saja jika dia mau.
Damian berjalan menyusuri meja rapat panjang yang terbuat dari kaca. Tatapannya bergerak tenang ke seluruh penjuru ruang. Mengamati tanpa benar-benar mengamati. Menilai tanpa memperlihatkan penilaian. Menghitung risiko, kinerja, dan kesetiaan. Serta … memperhatikan secara tidak langsung. Maya Astawinaya. Hanya sekelebat.
Perempuan itu duduk di ujung meja, sebagian tertutupi oleh bahu Trina. Posturnya kaku. Bahkan, terlalu kaku. Kedua tangannya terlipat rapi di atas sebuah buku catatan berlapis kulit.
Tidak ada yang berbeda dari penampilannya dibandingkan sebelumnya. Tidak dengan pakaian mahal atau sesuatu yang mencolok.
Namun, di ruangan ini … hanya dengan berlapis cahaya mentari di balik tubuhnya. Dengan pemandangan kota yang membentang di luar jendela. Maya tidak terlihat seperti anak magang biasa. Dia terlihat seperti sebuah parameter yang belum pernah diperhitungkan. Sesuatu yang tidak seharusnya ada dalam persamaan.
Damian duduk meja pimpinan, tepatnya di ujung. Posisi yang memang menjadi miliknya. Dia tidak langsung berbicara. Mungkin, belum.
Dia membiarkan keheningan menyelimuti terlebih dulu. Mereka bahkan merasakannya, membuat keringat mengucur di tangan.
Trina akhirnya membuka rapat.
"Presentasi hari ini berfokus pada strategi komunikasi internal terbaru untuk kuartal ketiga, termasuk revisi paket bahasa bagi tim yang berhadapan langsung dengan klien serta penyederhanaan pesan untuk pasar global."
Suaranya terus berdengung. Namun, perlahan berubah menjadi latar belakang.
Bukan karena presentasinya tidak penting. Trina sangat kompeten dan tajam. Namun, sayangnya … perhatian Damian justru tertarik ke arah lain. Maya bergerak pelan di kursinya. Dia sedang mencatat. Goresan pena tampak bergerak cepat di atas kertas. Tatapannya berganti dari layar presentasi ke pembicara lalu kembali lagi.
Maya benar-benar fokus, memperhatikan, dan tenang.
Dia tidak menunjukkan kegelisahan. Dia tidak melamun atau mencari perhatian. Dia benar-benar memusatkan fokusnya pada pekerjaan. Damian seharusnya mengabaikan hal kecil itu.
Seharusnya dia memusatkan perhatian pada angka, proyeksi, dan strategi yang dipaparkan di layar. Namun, tatapannya terus tertarik ke arah perempuan itu. Tidak sering, tetapi cukup jelas untuk diperhatikan orang lain. Kecuali mungkin Maya sendiri. Karena perempuan itu tampak menghindari tatapannya yang mungkin terasa begitu mengintimidasi.
Dan hal itu, menyadarkan Damian bahwa, Maya sudah menyadari tatapannya. Maya tahu bahwa dirinya sedang diperhatikan. Dan Maya berusaha keras berpura-pura tidak peduli. Damian menyandarkan tubuh ke kursinya. Jari-jarinya bertaut di bawah dagu. Wajahnya tetap tanpa ekspresi. Dia mencoba tenang dan tetap tidak terbaca.
Namun di balik ketenangan itu, pikirannya terus berkelana. Apa yang sebenarnya dia lakukan di sini? Mengapa keberadaannya terasa penting? Dan mengapa dia belum menyerah?
Damian pernah melihat orang-orang seperti ini sebelumnya. Anak magang yang dipenuhi tekad. Mereka pekerja keras. Cukup rendah hati dan tidak mengeluh. Juga, keras kepala untuk bertahan.
Namun, pada akhirnya mereka selalu menunjukkan warna asli. Ada arogansi, ambisi berlebih, atau rasa berhak yang tersembunyi.
Namun sejauh ini, Damian tidak melihat semua itu di dalam diri Maya. Dia hanya melihat ketenangan dalam pembawaannya. Ketenangan yang perlahan terkumpul menjadi sesuatu yang lebih besar. Dan kesadaran aneh yang terus mengganggunya tanpa alasan.
"Pak Balakosa?"
Suara Trina menarik dirinya ke dunia nyata. Damian berkedip sekali. Sangat lambat dan presisi. Lalu mendongak, pelan.
“Hmmm?”
“Apa pendapat Bapak tentang struktur pesan untuk fase kedua?"
Damian bahkan tidak melihat layar presentasi.
"Terlalu berlebihan."
Ruangan langsung hening.
"Kurangi tiga puluh persen."
Trina langsung mencatat.
"Tingkatkan elemen emosional."
Pena mulai bergerak lebih cepat.
"Hindari kalimat pasif. Ambil kendali atas narasi."
"Dimengerti."
Trina mengangguk cepat. Dari sudut matanya, Damian melihat pena Maya sempat berhenti. Lalu kembali bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Menarik sekali.
Sisa rapat berjalan biasa saja. Ada suara, slide, data, dan angka yang silih berganti datang. Namun, sebagian pikirannya tetap berada di tempat lain. Dia tetap mengamati Maya. Melihat caranya bereaksi, menahan diri, dan bagaimana keningnya sedikit mengkerut ketika Hazel membisikkan sesuatu.
Ya, Hazel. Siapa lagi?
Di seluruh lantai ini, Hazel mungkin satu-satunya orang yang masih memiliki hati dan kebiasaan untuk mendekati setiap orang baru yang ditemuinya.
Rahang Damian sedikit mengencang saat melihat Maya tersenyum kepada wanita itu. Bukan karena sepenuhnya kesal. Namun, ada sesuatu yang asing. Sesuatu yang terasa terlalu dekat dengan rasa tidak suka. Dan itu berbahaya.
Ketika rapat selesai, suara kursi bergeser memenuhi ruangan. Orang-orang mulai berdiri, mengemasi barang. Lalu keluar satu per satu.
Sebagian memberi anggukan hormat kepada Damian. Sebagian lain bahkan tidak berani melakukannya. Sementara Damian tetap duduk. Dia hanya menunggu.
Dan Maya … menjadi salah satu orang terakhir yang berdiri. Buku catatannya dipeluk di d**a. Beberapa helai rambut terlepas dari ikatannya. Blus dan sepatu yang masih sama. Ada goresan di sepatu yang terus muncul dalam pikirannya.
Dan tetap saja … Maya tidak menatapnya. Namun Damian tahu. Dia bisa merasakannya.
Ketegangan di udara semakin pekat saat Maya melewati meja. Terlalu jauh untuk bisa bersentuhan. Namun, dia cukup sadar. Dan untuk pertama kali, Damian membiarkan dirinya menoleh, membuat tatapan mereka bertemu.
Tidak lama dan tidak ada keberanian disana. Maya langsung memutuskan kontak mata lebih dulu. Bagus sekali! Tetapi tidak cukup cepat.
Beberapa saat kemudian, Damian berdiri. Tangannya merapikan bagian depan jas dengan gerakan tenang. Saat itu pula Ella muncul di sisinya seperti robot yang selalu bekerja sempurna.
"Rapat sore dipindahkan ke pukul dua tiga puluh."
Damian mulai berjalan menuju pintu.
"Dokumen persetujuan merger sudah siap untuk ditinjau."
Ella terus mengikuti langkahnya.
"HR juga menandai permintaan audit etika dari kantor Taiwan."
Damian tetap diam. Lalu Ella menambahkan, "Dan Maya sudah dipindahkan pagi ini. Tidak ada keluhan. Dia ... beradaptasi dengan baik."
Damian tidak menjawab. Mungkin, tidak perlu. Ella cukup cerdas untuk mengetahui kapan harus berhenti berbicara. Mereka berjalan menuju ruangan. Setiap langkah Damian terdengar tajam. Di balik pintu kaca buram itu, dunia seolah sudah menunggunya.
Pasar global, akuisisi, negosiasi, persaingan, perang bisnis.
Namun sekali lagi pikirannya kembali berkelana pada seorang anak magang yang nyaris tidak memiliki apa-apa. Seorang gadis dengan terlalu banyak ketenangan di matanya. Dan parameter yang belum berhasil dia hitung. Damian masih belum tahu apa arti kehadiran Maya bagi hidupnya. Apakah sebuah ancaman, gangguan, atau ujian?
Namun Damian membangun seluruh perusahaannya dengan kemampuan melihat apa yang tersembunyi di bawah permukaan. Dan ada satu hal yang diyakini. Maya tidak seperti yang lain. Bahkan secuilpun.
Dan Damian … tidak pernah percaya pada kebetulan. Dia hanya percaya pada niat dan alasan.
Dia percaya pada tujuan yang tersembunyi di balik setiap peristiwa dan kekuatan apapun yang telah menempatkan Maya di jalannya … belum selesai memainkan peran. Belum sama sekali.
***