Maya hampir tidak tidur semalaman setelah menyelesaikan kelas malam dan memastikan Jamil meminum obat-obatannya, waktu hampir menunjukkan pukul dua dini hari. Dia hanya sempat terpejam sebentar sebelum alarm berbunyi pada pukul 04.15. Hanya dua jam dia tidur. Dan entah bagaimana, itu harus cukup. Memang seharusnya begitu.
Dia berdiri di depan cermin kamar mandi sepetak sambil mengoleskan concealer di bawah mata, seolah benda itu mampu menghapus seluruh jejak lelah yang menumpuk selama berhari-hari. Lampu tua di atas kepala terus berkedip sebelum mengeluarkan desisan pelan. Seperti dirinya, sama-sama berusaha bertahan sebelum akhirnya padam.
Maya mengikat rambutnya rendah, tapi memastikan tidak ada sehelai rambut pun yang lepas. Setelahnya, ia memandang bayangannya sendiri selama beberapa detik. Blus yang dikenakannya bersih, meski sebagian warna di jahitan itu mulai memudar. Celana panjang hitamnya masih layak digunakan. Dan dia memakai sepatu yang sama—yang ujungnya tergores. Tidak apa-apa, gumamnya.
Dia menarik napas panjang sebelum menegakkan bahu.
“Kamu pasti bisa melewati hari ini,” bisik Maya pada dirinya sendiri.
Jamil masih tertidur di sofa saat dia hendak berangkat. Dengan pelan, Maya mengecup kening sang adik, menarik selimutnya sedikit lebih tinggi hingga menutupi bahu, lalu meninggalkan catatan kecil di dekat kotak obat jika sewaktu-waktu ia harus pulang larut malam lagi.
Maya menuju MRT. Berjalan kaki menuju lift. Dan itu menjadi rutinitas yang biasa membawanya kembali menuju dunia berbeda yang dimiliki Balakosa Enterprises.
Saat itu waktu bahkan belum menunjukkan pukul 07.30 pagi. Namun, gedung itu sudah terasa hidup. Bukan karena dipenuhi orang. Melainkan karena suasananya yang selalu siaga. Seolah tempat tersebut memang sudah hidup jauh sebelum para pegawainya datang.
Saat Maya melewati petugas keamanan di lantai empat puluh dua, pria itu memberinya anggukan singkat. Maya tidak pernah mengharapkan senyuman di tempat seperti ini. Saat tiba di ruang kerja yang biasa digunakan, dia belum melihat kehadiran Ella.
Keheningan itu terasa melegakan sekaligus mengganggu pikirannya. Dia meletakkan tas, masuk ke sistem perusahaan, lalu mulai menyortir dokumen yang telah ditandai sejak malam sebelumnya.
Tangannya bergerak dengan cepat, tepat, dan efisien. Di tempat seperti ini, efisiensi adalah caranya untuk bertahan hidup. Sekitar tiga puluh menit kemudian, Ella muncul tiba-tiba. Suara hak tingginya menggema di lantai marmer.
"Kamu akan dipindahkan."
Kalimat itu terucap begitu saja bersamaan dengan sebuah map yang dijatuhkan ke meja Maya. Tidak ada sapaan selamat pagi atau basa-basi. Maya mendongak dengan raut wajah bingung.
"Saya ... dipindahkan?"
Ella tetap berdiri. Dia tidak duduk ataupun tersenyum.
“Pak Damian mau kamu dipindahkan ke ruang di sisi barat.”
“Sisi … barat?”
“Hmmmm. Area yang lebih dekat dengan unit strategi eksekutif dan hubungan masyarakat."
Jantung Maya seolah berhenti berdetak selama beberapa detik.
"Tapi ... kenapa?"
Tatapan Ella sedikit menyempit.
"Kamu tidak punya hak untuk bertanya alasannya.”
Maya langsung tertunduk.
“Maaf, saya mengerti.”
“Bawa semua barangmu. Sekarang, seseorang akan mengantarmu ke sana."
Maya segera mengumpulkan tablet kerjanya, beberapa dokumen yang sedang ditinjau, dan memasukkan pena ke saku depan tasnya. Telapak tangannya mulai berkeringat. Perasaan asing langsung muncul, membuat perutnya mulas. Entah mengapa, rasanya seperti menghadapi ujian yang tidak sempat dipersiapkan. Atau saat menerima tagihan rumah sakit yang belum tentu mampu dibayar.
Tak lama kemudian, seorang pria bersetelan jas gelap muncul di depan pintu. Pria itu bergeming dan tenang. Cukup profesional. Tidak ada percakapan antara dirinya dan Ella. dan Elle. Pria itu hanya memberi isyarat singkat sebelum Maya mengikutinya.
Mereka tidak berjalan terlalu jauh. Hanya melewati beberapa tikungan dan lorong berlapis kaca yang membentuk labirin elegan di lantai eksekutif.
Namun, perubahan suasananya langsung terasa. Seolah ada energi yang berbeda. Sisi barat jauh lebih tenang. Bukan ketenangan seperti damai yang diharapkan. Tetapi, seperti tenang yang dipenuhi tekanan.
Jenis keheningan yang menandakan keputusan-keputusan besar dibuat di balik pintu tertutup. Tempat kehidupan seseorang bisa berubah hanya karena satu kalimat atau nilai saham naik dan turun berdasarkan keputusan yang dibuat di ruangan-ruangan tersebut.
Meja kerja barunya terletak di luar kantor kaca yang bertuliskan: Strategic Development – Internal Communications
Asisten yang menyambut berbeda dari sebelumnya. Orang itu lebih tua, tegas, dan sepertinya tidak sabaran.
"Kamu akan berkoordinasi langsung dengan tim komunikasi jika dibutuhkan," ucapnya tanpa benar-benar menatap Maya.
"Selain itu, tugasmu tetap sama. Menyortir, mempersiapkan, dan mengelola laporan internal. Deadline diberitahukan setiap minggu. Jangan sampai terlewat."
Maya mengangguk pelan kemudian duduk. Tasnya diletakkan di bawah meja. Kursi baru ini jauh lebih nyaman. Monitor kerjanya lebih besar. Dan pemandangan dari jendelanya …..
Ya Tuhan.
Pemandangan itu membentang luas hingga ke garis cakrawala, seolah kota berada di bawah kaki mereka. Sebuah kemewahan yang bahkan tidak pernah dibayangkan bisa terjadi. Selama beberapa detik, Maya hanya membeku.
Apa sebenarnya yang terjadi? Apa dia melakukan kesalahan? Atau justru melakukan sesuatu yang luar biasa?
Jari-jarinya sedikit gemetar saat membuka kotak masuk email. Disana, terdapat pesan baru.
Dari: e.balakosa@enterprise.com
Subjek: Pemberitahuan Relokasi
Atas instruksi Pak Damian, workstation kerja Anda telah dipindahkan. Harap melanjutkan seluruh tugas sebagaimana yang telah ditetapkan. Untuk pertanyaan lebih lanjut, silakan menghubungi HR. -Damian Balakosa-
Maya menatap nama di email tersebut selama beberapa detik. Pria itu … memperhatikannya? Padahal, dia bahkan belum pernah melihat wajah pria tersebut dengan jelas. Dia hanya melihat dari pantulan kaca serta merasakan kehadirannya yang mendominasi.
Lantas, bagaimana mungkin seseorang seperti Damian mengetahui keberadaannya?
Namun, kenyataannya tidak bisa disangkal. Pria itu memang mengingatnya. Atau setidaknya memperhatikannya.
Pikiran Maya masih dipenuhi argumentasi. Namun, tiba-tiba menguap saat ada yang membuyarkannya.
"Hai! Ya ampun, kamu pasti anak magang yang baru itu, ‘kan?"
Maya sedikit terkejut. Tangannya berhenti di atas keyboard. Seorang wanita berdiri di samping mejanya dengan senyum lebar. Dia mengenakan kacamata besar, memiliki rambut ikal berwarna kemerahan, dan entah bagaimana berhasil terlihat mencolok tanpa melanggar aturan berpakaian perusahaan.
Perhatian Maya langsung tertuju pada sepatu hak tinggi yang dikenakannya. Di ujungnya terdapat hiasan matahari kecil berwarna kuning. Kontras dengan wajahnya yang ekspresif.
"Aku Hazel. Hazel Lin," ujarnya seraya mengulurkan tangan.
“...”
“Aku spesialis PR sekaligus penjaga resmi persediaan camilan kantor."
Maya menahan senyum.
"Dan kamu," lanjut Hazel, "terlihat seperti seseorang yang baru saja tersesat ke markas penjahat dalam film."
Maya mulai terkekeh pelan.
"Aku Maya. Maya Astawinaya."
"Nama yang cantik!"
Hazel tersenyum semakin lebar.
"Kamu memang terlihat seperti ilusi (arti nama Maya)."
Sekilas Hazel menatap pakaian Maya.
"Dan aku langsung tahu kamu bukan bagian dari mereka."
"Mereka?" tanya Maya bingung.
"Para pekerja korporat yang sudah lupa cara tersenyum."
Hazel mengangkat bahunya santai.
"Tenang saja, sebagian besar dari mereka sebenarnya tidak berbahaya."
Kemudian dia menambahkan dengan bisikan pelan, “cuma jangan pernah dekat-dekat sama pria dari divisi merger. Sumpah, mereka bahkan seperti tidak berkedip selama lima belas tahun.”
Kali ini bukan kekehan. Tetapi sebuah tawa yang bahkan membuat Maya sedikit terkejut dengan dirinya sendiri.
Hazel bersandar di sisi meja seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama.
"Selamat datang di tengah kekacauan."
"Kamu beruntung. Sisi kami termasuk yang paling sedikit merusak mental."
Maya terkekeh.
"Komunikasi strategis memang kaku, tapi tim PR masih manusiawi.”
Hazel menunjuk ke arah beberapa meja di belakangnya.
"Apalagi, kami punya laci camilan yang paling banyak seantero lantai ini."
Dia menepuk dadanya dengan bangga.
"Dan aku satu-satunya yang tahu kode lacinya."
"Terima kasih," ucap Maya dengan tulus. "Sejujurnya, aku sudah siap-siap menghadapi suasana yang jauh lebih dingin."
"Oh, percayalah, Maya. Dingin itu akan tetap ada.”
Hazel menyeringai.
"Tapi lama-lama kamu akan terbiasa."
Dia berhenti sejenak sebelum menambahkan, "Atau kamu bisa membawa gas torch sendiri."
Maya kembali tertawa.
"Apapun itu, sekarang kamu sudah menjadi bagian kita.”
Hazel mengedipkan sebelah matanya.
“Itu artinya, kamu resmi mendapatkan hak untuk bertahan hidup."
"Hampir."
Maya masih tersenyum ketika atmosfer di sekitar mereka tiba-tiba berubah. Bukan karena suara. Melainkan karena kehadiran yang bahkan dirinya tidak perlu menoleh untuk tahu siapa disana.
Seseorang berjalan melewati area itu. Cukup dekat hingga Maya bisa menangkap aroma samar yang terasa mewah dan entah kenapa terasa berbahaya.
Tangannya bergerak menyentuh permukaan meja saat duduk di suatu tempat tak jauh dari sana. Gerakannya biasa saja. Namun, cukup untuk membuat seluruh ruangan menegang.
Kemudian terdengar suara rendah, tenang dan lembut. Dipenuhi dengan keyakinan yang tidak pernah meragukan dirinya sendiri. Semua orang di ruangan itu tunduk pada keberadaannya. Bahkan waktu seolah ikut melambat.
Meskipun Maya tidak menoleh, dia tetap merasakan sesuatu, yaitu tatapan seseorang. Tatapan yang cukup lama dari seharusnya. Itu bukan hanya kebetulan atau sekadar lewat.
Maya akhirnya memilih diam. Tetap tenang, menatap layar komputer. Dia berpura-pura tidak menyadari apapun. Namun, detak jantungnya berkhianat. Sebab, jauh di lubuk hatinya, Maya tahu. Bahwa, sesuatu yang berubah ini bukan karena kebetulan atau kesalahan administrasi. Tetapi karena Damian Balakosa sedang memperhatikannya. Dan Maya belum tahu apakah itu akan menjadi sebuah anugerah … atau justru awal dari sebuah kutukan?
***