Damian Balakosa tidak pernah memperhatikan para peserta magang. Dia rasa tidak perlu melakukan itu. Sebagian besar dari mereka bahkan tidak cukup penting untuk menarik perhatiannya. Mereka hanya mahasiswa-mahasiswa yang berhasil melewati proses seleksi universitas yang panjang dan melelahkan demi mendapatkan satu posisi magang yang sangat diperebutkan di Balakosa Enterprises.
Program itu lebih seperti simbol daripada kebutuhan. Sebuah langkah pengabdian masyarakat, cara ntuk mempertahankan koneksi dengan universitas-universitas elit.
Setiap tahun, hanya satu universitas yang dipilih dan hanya satu mahasiswa yang diberi kesempatan. Biarkan kampus-kampus itu membanggakan diri dan biarkan para mahasiswa bermimpi.
Semua itu membantu menjaga ilusi bahwa Balakosa Enterprises dapat dijangkau oleh siapa saja, sementara pada saat yang sama mengingatkan dunia betapa sulitnya benar-benar masuk ke lingkaran Balakosa yang sesungguhnya.
Lagi pula, mereka tidak pernah bertahan lama. Cepat atau lambat, mereka akan menyerah di bawah tekanan. Atau menyerah begitu menyadari bahwa bekerja untuk Balakosa bukanlah fantasi yang selama ini mereka bayangkan.
Damian tidak mentoleransi kelemahan, kegagalan, dan kebisingan. Karena itulah dia merasa heran, bahkan terganggu. Saat tanpa sengaja memperhatikannya. Dan itu terjadi begitu saja.
Hari itu Damian baru kembali dari perjalanan bisnis selama dua minggu di Tokyo. Rasanya campur aduk, antara lelah dan jengkel. Namun, di lain sisi sangat menguntungkan.
Dia sedang berjalan cepat melintasi lantai empat puluh dua menuju suite pribadinya. Namun, tiba-tiba sebuah kilatan tipis di sudut ruangan menarik perhatian. Sampai sekarang dia tidak tahu mengapa dirinya menoleh. Namun, dia tetap melakukannya.
Melalui salah satu ruang tambahan yang ada di sepanjang koridor. Jika ingatannya tidak salah, ruangan itu dulunya merupakan ruang penyimpanan yang kemudian diubah menjadi ruang kerja.
Permukaan kaca yang menyekat ruangan sedikit berkabut oleh kelembaban pagi. Namun, dia masih bisa melihat sosok di dalamnya dengan jelas. Seorang perempuan muda dengan tubuh yang ramping.
Kepalanya tertunduk fokus pada tablet yang ada di atas meja, sementara salah satu kakinya bergerak gelisah di bawah meja. Blus yang dikenakannya jelas bukan keluaran desainer terkenal. Rambutnya juga tidak ditata secara profesional. Dan sepatunya–-tergores bagian ujungnya, dia tak sengaja melihat itu. Terlihat usang sekali. Seolah sudah menempuh perjalanan yang terlalu panjang selama bertahun-tahun.
Perempuan itu tidak menyadari keberadaannya, tentu saja. Dia tidak melihatnya sama sekali. Namun, Damian melihatnya.
Dan entah mengapa, pemandangan sederhana itu menempel di benaknya seperti sengatan listrik yang tidak bisa langsung hilang.
Sesampainya di ruangan, Damian melepas mantel jas dan melemparkannya ke atas sofa. Ella tetap mengikuti di belakang tanpa ketinggalan jejak, dia melanjutkan laporan harian seperti biasa.
"Masalah pemasok di Zurich berpotensi tertunda di pengiriman selama dua minggu, tetapi saya sudah menyerahkannya kepada tim Salena. Divisi legal ingin meninjau ulang klausul garansi untuk proyek Haven."
Dia terus berbicara sambil mengikuti langkah Damian.
"Oh, ya. Peserta magang baru sudah mulai bekerja dua hari yang lalu."
Damian yang sedang membuka jasnya berhenti sejenak. Hanya sepersekian detik.
"Namanya Maya Astawinaya," lanjut Ella sambil melihat layar tabletnya.
"Usianya dua puluh lima tahun. Mahasiswi penerima beasiswa penuh di universitas swasta. Tinggal di kontrakan kecil. Tidak punya mobil. Tidak ditemukan kicauan di sosial media atas nama dia.”
Ella menggulir layar.
"Paginya kerja di kafe. Malamnya mengikuti kelas karyawan. Mengambil jurusan administrasi bisnis. Tidak ada yang mencolok darinya. Atau sesuatu yang berbahaya. Dia gadis pendiam dan mampu berkonsentrasi. Saya menempatkannya di salah satu ruangan kecil supaya tidak mengganggu."
Damian tidak menoleh atau memberikan komentar. Dia hanya berjalan menuju meja kerjanya dan duduk di kursi kebesarannya bak jenderal yang baru memasuki medan perang.
Laptop di hadapannya menyala menampakkan laporan keuangan, kontrak, dan sebelas jadwal rapat yang sudah tersusun rapi serta menunggu untuk diselesaikan.
Namun anehnya, perhatiannya tidak benar-benar tertuju pada semua itu. Jari-jarinya melayang di atas keyboard. Sementara pikirannya, tanpa izin dan sangat mengganggu, justru kembali pada sosok perempuan di balik ruangan kaca. Perempuan itu pendiam dan selalu berkonsentrasi. Sepatunya tergores. Wajah Damian tetap tenang, dingin, dan tak terkendali.
Ada sesuatu yang berubah—sangat jauh di dalam dirinya. Ada gangguan kecil dan riak halus yang memecah pikirannya. Tidak terlihat jelas. Tentu saja, tidak akan pernah diakui. Dia tidak mengerti mengapa dirinya memperhatikan perempuan itu dan dia juga tidak peduli untuk mencari tahu alasannya.
Namun, kenyataannya tetap sama. Nama Maya Astawinaya kini telah menempati satu sudut di pikirannya. Masuk tanpa diundang dan diinginkan.
Malam itu, Damian masih ada di kantor setelah semua pegawai satu per satu pulang ke rumah masing-masing. Di luar jendela setinggi langit-langit, awan sore berubah menjadi perpaduan warna emas dan jingga yang memukau.
Namun, bukan itu yang Damian perhatikan sejak tadi. Melainkan sebuah kertas terbuka di atas meja. Milik Maya Astawinaya.
Makan malam yang sudah dihidangkan untuknya bahkan sama sekali belum tersentuh.
Universitas Sandyakala. Penerima beasiswa penuh. Dia tidak memiliki catatan pelanggaran atas kedisiplinan. IPK-nya tinggi. Bekerja paruh waktu sebagai barista untuk kebutuhan hidup, bukan ambisi karir. Dia merawat adik laki-lakinya. Dia seorang yatim piatu sejak usia delapan belas tahun. Dia tidak punya koneksi, skandal, atau lingkaran sosial yang tinggi.
Maya, hanya punya tekad yang menggebu. Mungkin belum diasah. Akan tetapi, terasa nyata.
Damian teringat cara perempuan itu berjalan. Dia tidak berjalan seperti seseorang yang mencari perhatian. Tidak pula seperti seseorang yang ingin dikagumi. Dia berjalan seperti orang yang sudah tidak lagi memiliki kemewahan untuk berpura-pura.
Ada kelelahan di matanya. Tetapi bukan kekalahan. Kejernihan yang terpancar dari wajahnya bukanlah kelembutan. Melainkan sesuatu yang diperoleh melalui perjuangan panjang.
Jenis kekuatan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang terus bertahan ketika hidup berulang kali mencoba menjatuhkan mereka. Dan itulah yang mengganggunya. Dia tidak mengerti mengapa semua itu menarik perhatiannya.
Tidak. Lebih tepatnya, dia terganggu akan kenyataan, bahwa hal itu memang berhasil menarik perhatiannya. Sepanjang hidup, Damian melihat banyak perempuan cantik meskipun tidak pernah mengencaninya. Dia hanya bermain, tidur bercinta, lalu melupakannya. Itu mudah bagi Damian.
Namun, entah mengapa berbeda dengan Maya. Perempuan itu seakan tidak tersentuh oleh dunia di sekelilingnya. Bukan rapuh atau lemah. Hanya saja … jauh dari jangkauannya.
Dan sekarang? Dia tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ella berdiri di depan mejanya, menyampaikan laporan terakhir sebelum pulang.
"Dewan direksi ingin proyeksi kuartal kedua selesai hari Jumat ini. Tetapi, saya meminta mereka menunggu. Tim PR juga sedang menangani skandal influencer terbaru yang melibatkan mantan duta besar Nexus Tech dan—"
"Apa pendapatmu tentang anak magang itu?"
Damian memotong ucapan Ella dengan sebuah pertanyaan. Wanita itu berkedip sebentar sebelum tersadar.
“Maya?”
“Ya.”
Beberapa detik hening. Sebelum akhirnya Ella menjawab.
"Dia pendiam, penurut, dan bukan trouble maker.”
"Hanya itu?"
Ella berpikir sejenak.
"Dia tidak terlihat seperti orang yang ingin menarik perhatian. Kemungkinan besar dia hanya ingin menyelesaikan program magangnya dan mendapatkan nilai yang bagus.”
Damian mengangguk sekali. Dia diam sambil berpikir. Lalu berkata dengan nada tenang,
"Pindahkan dia ke ruang yang ada di sisi barat.”
Ella langsung menyelak.
"Itu area yang dekat dengan tim internal. Bagian strategi dan hubungan masyarakat ….”
“Saya tahu.”
Intonasi suara itu tidak berubah. Cukup datar dan tenang. Namun, mampu membuat Ella mengangguk.
“Baik.”
Setelahnya, Damian kembali mengalihkan pandangan ke layar laptop. Sementara di tempat lain, di gedung yang sama, Maya tidak tahu bahwa hidupnya baru saja bergeser sedikit lebih dekat ke dalam dunia seorang Damian.
Pria itu sendiri tidak memahami alasannya. Namun satu hal yang pasti, kini Damian mulai menyadari kehadiran perempuan itu. Sebab, dia tidak pernah memperhatikan sesuatu tanpa alasan.
***