Keesokan harinya, Maya tiba lima belas menit lebih awal. Di tempat seperti Balakosa Enterprises, terlambat bukanlah sebuah pilihan. Semalaman dia hampir tidak tidur. Pikirannya terus mengulang kejadian hari sebelumnya—perjalanan panjang dengan lift menuju lantai eksekutif, keheningan yang mencekam di luar kantor Damian Balakosa dan kata-kata dingin dari sang asisten.
"Tandatangani semuanya. Dia tidak mentolerir kebocoran informasi."
Semakin dipikirkan, magang ini terasa bukan seperti sebuah kesempatan magang dan lebih seperti memasuki kandang singa dengan mata tertutup.
Kini, saat kembali memasuki ruang tunggu pribadi di lantai eksekutif, Maya merapikan blusnya sekali lagi dan berusaha mengatur napas. Tidak ada aroma kopi yang menenangkan di sini atau percakapan santai yang biasa didengar di kafe. Kini, yang ada hanya ketegangan. Jendela besar berlapis baja dan sebuah kontrol.
"Maya?"
Suara tajam itu membuat Maya langsung menoleh. Seorang wanita tinggi berambut pirang melangkah keluar dari sebuah ruangan di dekatnya. Penampilannya begitu rapi dan sempurna hingga mengingatkan Maya pada patung marmer yang dipoles tanpa cela. Di tangannya terdapat sebuah tablet, sementara suara hak tingginya menggema tegas di lantai.
"Aku Ella. Asisten Eksekutif Senior Pak Damian," ucapnya singkat. "Kamu akan bekerja di bawah pengawasanku."
"Ya, Mbak," jawab Maya refleks.
Salah satu alis Ella terangkat.
"Tidak perlu memanggilku Mbak. Cukup lakukan pekerjaanmu dengan baik saja."
Maya langsung mengangguk. Entah mengapa, dia merasa baru saja melakukan kesalahan. Mereka berjalan menyusuri koridor panjang yang dibatasi dinding kaca berwarna gelap.
Dari kejauhan, Maya sempat melihat sebuah pintu tertutup yang dijaga oleh dua pria bersetelan jas hitam. Tidak ada papan nama atau tanda-tanda apapun. Namun, entah bagaimana dia tahu. Atau lebih tepatnya, dia tahu siapa yang ada di balik pintu tersebut.
Suasana di area itu terasa berbeda. Seolah-olah seluruh gedung menyadari keberadaan pria yang bekerja di balik dinding tersebut. Mereka tidak berhenti.
Ella terus berjalan hingga membawa Maya ke sebuah ruangan kecil di sisi lain gedung itu. Ruangan tersebut tertata rapi dengan meja kerja modern, dekorasi minimalis, dan sebuah meja bundar di sudut ruangan. Serta, dipenuhi map serta dokumen pemasaran.
"Kamu akan mulai kerja di sini," ujar Ella tanpa membuang waktu.
“...”
"Kamu akan membantu pengarsipan, penyortiran dokumen, peninjauan data, dan—jika kamu berhasil membuktikan bahwa dirimu lebih dari sekadar anak magang. Kamu bisa membantu penyusunan laporan internal."
Pipi Maya langsung memanas. Sekadar anak magang?
"Aku akan melakukan apapun yang dibutuhkan," jawab Maya, hati-hati.
Ella memandangnya selama beberapa detik. Ada sesuatu di balik tatapan itu yang sulit dibaca. Bukan permusuhan atau persetujuan.
“Kita lihat saja,” ujar Ella.
Kening Maya mengkerut.
"Balakosa Enterprises tidak memberikan apresiasi hanya karena seseorang berusaha."
Akhirnya, pagi itu berlalu dengan ritme ricuh yang terstruktur. Nama, kata sandi, dokumen, prosedur, dan koreksi yang datang hampir tanpa jeda.
Saat pertama kali mengakses sistem database perusahaan, tangan Maya bahkan sempat gemetar. Untungnya, perlahan-lahan dia mulai memahami alurnya. Ella tidak pernah meninggikan suara. Mungkin tidak perlu melakukan itu. Sebab, setiap koreksinya sudah cukup tajam di dengar.
"Jangan gunakan warna merah untuk menandai dokumen. Warna itu hanya untuk kesepakatan yang bermasalah."
"Memo tingkat CEO harus selalu disimpan di drive dengan kata sandi terlebih dahulu."
"Dan tidak ada yang namanya pesanan kopi pribadi di sini. Ini bukan sitkom di televisi."
Maya hanya mengangguk setiap kali ditegur. Dia menyerap semua informasi seperti spons. Namun ada satu hal yang paling membuatnya terkejut. Kehadiran Damian Balakosa. Tepatnya, cara pria itu tetap hadir bahkan tanpa menampakkan wajahnya. Semua orang membicarakannya dengan suara pelan. Seolah dia bisa muncul dari balik sudut manapun dan mendengar semuanya.
"Pak Damian tidak suka orang yang lambat.”
“...”
"Pastikan laporan itu diunggah sebelum pukul tiga. Pak Damian akan memeriksanya sendiri."
“...”
"Jangan berdiri di koridor itu. Itu jalur yang biasa dilewati Pak Damian.”
Namanya tidak pernah diucapkan dengan sebuah kekaguman. Melainkan dengan rasa hormat yang hampir seperti sebuah kewaspadaan. Seolah kekuasaan telah mengambil alihnya dari bentuk manusia. Beberapa kali Maya merasa melihat sosoknya. Atau setidaknya bayangannya. Pantulan jas hitam di kaca. Sekilas bahu lebar yang bergerak cepat di ujung lorong. Selalu dikelilingi orang, dijaga, dan bergerak cepat.
Namun, tidak sekalipun dia berhasil melihat wajahnya.
Tepatnya, belum.
Saat jam makan siang tiba, Maya memilih duduk sendirian di area rooftop yang jarang digunakan karyawan lain. Dari sana, dia bisa melihat kota terbentang luas. Gedung-gedung pencakar langit menjulang. Jalanan yang dipadati kendaraan. Jutaan orang berlalu lalang menjalani hari. Sama seperti dirinya.
Dia mengeluarkan sandwich dari dalam tas lalu menggigitnya perlahan. Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari rumah sakit.
Unknown:
Kondisi Jamil stabil hari ini. Dokter mengatakan kondisinya tetap aman.
Maya langsung mengembuskan napas panjang. Seolah, baru kali ini dia bisa bernapas lega. Satu pesan singkat itu mengingatkannya mengapa dia berada di sini. Ini bukan tentang ambisi, dunia korporat, atau mengejar kemewahan. Dia ada di sini demi Jamil. Adik laki-lakinya. Satu-satunya keluarga yang masih dimiliki.
Jika bekerja di bawah orang-orang seperti Ella, gedung seperti ini, dan di sekitar sosok misterius seperti Damian Balakosa … bisa membawanya selangkah lebih dekat menuju masa depan yang cerah. Maka, dia akan melakukannya. Apapun itu. Dia akan berjuang dan menerima semua.
Saat kembali dari makan siang, Maya langsung merasakan perubahan atmosfer. Ada sebuah ketegangan. Orang-orang bergerak lebih cepat. Percakapan berubah menjadi bisikan. Dia masuk ke ruang kerjanya dan mendapati Ella sudah ada di sana, mengetik email dengan cepat.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Maya, takut.
Ella tidak mengalihkan pandangannya dari layar.
"Pak Damian akan datang ke kantor sebentar lagi.”
Maya menelan ludah.
"Lebih cepat dari jadwalnya."
Tenggorokannya mendadak terasa kering. Dia bahkan tidak tahu kalau pria itu sedang pergi. Ella tiba-tiba berdiri dan merapikan bagian depan dressnya.
"Jangan bicara dengannya."
Maya berkedip.
"Jangan menatapnya secara langsung kecuali dia berbicara kepadamu lebih dahulu."
"Aku … aku memang tidak berniat—"
"Aku serius."
Kali ini Ella memotong ucapannya.
Ekspresinya benar-benar datar.
"Dan apapun yang terjadi, jangan menghalangi koridor lift saat dia lewat."
Maya hanya bisa mengangguk.
"Dia selalu mengamati sekitarnya.”
***
Tiga puluh menit kemudian, berubah menjadi kekacauan yang tidak bisa diprediksi. Ruang tunggu langsung dibersihkan. Koridor menuju area eksekutif diperiksa. Staf bergerak ke sana kemari dengan gugup. Seperti sekawanan burung yang merasakan datangnya badai.
Maya tetap duduk di meja kerjanya. Matanya tertuju pada monitor. Namun, jantungnya berdetak jauh lebih cepat daripada biasanya. Sebagian dirinya tahu bahwa dirinya akan merasakan kedatangan pria itu. Dan ternyata dia benar.
Keheningan datang tiba-tiba. Percakapan yang semula riuh, menghilang. Suara langkah berkurang. Udara seakan menahan napas. Kemudian terdengar suara pelan pintu lift terbuka. Kemudian … langkah kaki berat, terorganisir, dan penuh keyakinan.
Maya tidak berani menoleh. Sungguh!
Namun dari sudut matanya, dia melihat Ella berdiri tegak dengan papan klip di tangan. Melalui pantulan kaca gelap di seberang ruangan, Maya menangkap sekilas sosok tinggi berbahu lebar tengah berjalan melewati koridor. Dikelilingi beberapa orang dan dia hanya sempat melihat garis rahang yang tegas. Kilauan logam yang memantulkan cahaya. Lalu sosok itu menghilang begitu saja. Damian Balakosa. Dia ternyata nyata adanya. Tengah melangkah di lorong-lorong ini. Menghirup udara yang sama. Dan Maya—hanya seorang anak magang yang resmi memasuki dunianya.
***