Huo Ying tengah berbincang-bincang dengan Jenderal Chen saat ia melihat sosok rajanya yang tengah berjalan dari arah timur. Kedua matanya memicing kala ia menangkap sosok lain yang berada di dalam gendongan sang raja. Ini aneh, ada apa gerangan hingga membuat sang raja melakukan hal semerepotkan itu?
"Chen." Huo Ying lantas memberi kode jika sang raja tengah berjalan ke arah mereka. Dengan segera kedua pria tersebut langsung berbaris dan membungkuk memberi salam saat sang junjungan sudah berada di hadapan mereka.
"Yang Mulia.."
Zhuo Zu tak menjawab panggilan Huo Ying dan terus berjalan kearah tenda miliknya. Ia membaringkan wanita yang ada di gendongannya di dipan tempatnya istirahat.
"Panggil tabib." hanya dua kata itu yang keluar dari mulut sang raja setelah lama bungkam. Ia berjalan menuju meja rendah yang ada di sudut ruangan dan mendudukkan diri di bantalan berwarna merah. Setelah itu ia mengeluarkan kertas yang di berikan oleh wanita yang di tolongnya dan kembali memeriksanya.
Huo Ying terdiam mendengar perintah dari Zhuo Zu. Pria itu berkedip beberapa kali dan melabuhkan pandangan dari sang raja ke wanita yang di tolongnya bergantian.
Mata hazel Zhuo Zu bergulir kembali menatap sang tangan kanan kala ia melihat tingkah Huo Ying. Mata tajamnya menghunus Huo Ying yang tengah mencoba memahami maksud dari ucapannya.
"Kau tidak punya telinga?" ujar Zhuo Zu datar. Ia meraih kertas kosong di ujung meja sebelah kanan dan menggulirkan tinta hitam di sana.
Huo Ying mengerjap dua kali, "B-baik yang mulia." ia segera melaksanakan perintah dari junjungannya setelah tersadar dari keterkejutannya. Berlari keluar dan kembali dengan membawa seorang tabib dengan wajah yang masih terbilang muda.
"Periksa perempuan itu." ucap Zhuo Zu tanpa repot-repot menunjuk seseorang yang dia maksud.
Tao segera melangkah menuju satu-satunya perempuan yang ada di ruangan tersebut. Sedikit kikuk karena ini pertama kalinya ia memeriksa seseorang di bawah pengawasan sang raja. Biasanya ayahnya lah yang melakukan semua yang berhubungan dengan penguasa kerajaan Anming tersebut.
"Luka yang di alaminya tidak terlalu dalam yang mulia." ia berucap sehati-hati mungkin. Mencoba untuk tidak menyulut kemarahan raja yang bisa kapan pun terjadi. Gemetar di suaranya di tekannya agar tidak terlihat jika dirinya tengah panas dingin, "Namun ada racun yang bersarang di tubuhnya akibat luka ini." lanjut Tao.
Zhuo Zu tetap diam dan terus melanjutkan apa yang tengah di kerjakannya saat ini.
"Saya akan segera meracik penawar racun yang mulia." Kata Tao saat ia tak mendengar jawaban dari Zhuo Zu.
"Apa racun itu berbahaya?" Zhuo Zu akhirnya kembali bersuara setelah beberapa saat membiarkan ruangan miliknya hening.
"Tidak terlalu, beruntung nona ini hanya mendapat luka yang tidak dalam."
"Aku ingin dia sadar sebelum matahari tenggelam!" Perintah Zhuo Zu tegas dan tak terbantahkan.
Tao tersentak dan segera mengangguk cepat saat mendengar perintah dengan nada penuh ancaman tersebut, "B-baik yang mulia.."
Zhuo Zu melirik Tao yang tergesa meninggalkan ruangannya. Kemudian tatapannya beralih pada Huo Ying yang sedari diam mendengarkan pembicaraannya dengan Tao.
"Kenapa kau masih berdiri di sana? Bantu Tao!"
Huo Ying tersentak dan segera mengangguk tanpa berfikir. Lalu ia berbalik hendak keluar ruangan. Namun dalam langkah ketiganya ia berhenti dan mengerjapkan matanya beberapa kali, "Anda menyuruh saya membantu tabib, yang mulia?" Tanyanya lebih pada diri sendiri.
Tatapan tajam Zhuo Zu langsung menghunus Huo Ying, "Apa aku perlu mengulang ucapanku Huo Ying?" Tanyanya datar.
Huo Ying segera menggelengkan kepala, "Mohon maafkan sayaYang Mulia." Ucapnya sembari membungkuk, lalu tanpa kata lagi ia beranjak pergi menyusul Tao.
Zhuo Zu menatap punggung Huo Ying sampai hilang tertelan tirai tenda ruangannya. Kemudian ia menatap perempuan yang di selamatkannya sejenak, sebelum pada akhirnya ia kembali melakukan apa yang tengah di kerjakannya.
~•••••~
Hutan pada hari menjelang siang tak terlalu terik. Sengat sinar sang surya tak sampai memanaskan tanah hutan. Rimbunan dedaun pohon yang tinggi menghalangi cahaya matahari.
Dua pemuda tengah duduk di atas bebatuan yang ada di pinggir sungai. Salah satu di antaranya tengah sibuk menombak ikan, sedangkan yang lain tengah sibuk menyiapkan kayu bakar. Keadaan hening untuk beberapa saat, dan hanya di isi oleh suara riak air dan dedaun yang bergesekan akibat hembusan angin.
"Hahh, apakah seperti ini yang di rasakan oleh kak Ying Hua setiap aku telat atau hampir gagal dalam misiku?" Pemuda yang tengah asik mengupas ranting pohon akhirnya bersuara.
"Kemungkinan besar 'iya'." Jawab pemuda yang tengah sibuk menombak ikan, "terlebih ini pertama kalinya Ying Hua telat dalam melakukan misi yabg selalu di anggap mudah oleh dirinya."
"Ming Yu, bagaimana jika.."
"Aku tidak berani berfikir yang tidak-tidak, Xi Feng." Potong Ming Yu, ia kembali mengarahkan tombaknya ke dalam air sungai, "Tapi aku yakin Ying Hua baik-baik saja." Imbuhnya.
Xi Feng terdiam, raut wajahnya menyiratkan kekhawatiran dan kegelisahan. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia takut akan kehilangan yang sangat besar.
"Sebaiknya kita bakar dan makan ikan ini. Setelah itu kita lanjutkan perjalanan kita mencari Ying Hua." Ming Yu datang menghampiri Xi Feng dengan empat ekor ikan di tangannya.
Xi Feng mengangguk, ia segera menyalakan api. Dalam keheningan mereka menikmati ikan bakar sebagai makan siang.
"Aku sudah kenyang, ayo lanjutkan perjalanan." Xi Feng berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke sungai, mencuci tangan dan meminun air sungai yang jernih.
"Kau baru memakan separuh makananmu dari jatahmu Xi Feng." Ucap Min Yu sembari memakan ikan bakar miliknya. Tatapannya menatap punggung junior di padepokan tempatnya tinggal tersebut.
"Aku tidak nafsu makan sebelum menemukan kak Ying Hua."
Ming Yu menghela nafas, kemudian ia meletakkan ikan bakar miliknya. Berjalan menghampiri Xi Feng dan melakukan apa yang di lakukan oleh remaja tersebut, "Baiklah, lebih cepat lebih baik." Ungkapnya.
Xi Feng mengangguk membenarkan, "Semakin cepat kita menemukan kak Ying Hua, rasa khawatir ini akan cepat menghilang."
"Ya, ya, ya. Lebih baik kita segera berangkat sekarang. Agar tidak terlalu malam sampai di desa tempat Ying Hua menjalankan misinya." Ming Yu berdiri, merapikan sedikit pakaiannya, ia berbalik meninggalkan sungai jernih tersebut menuju kudanya yang ia ikat di salah satu pohon, "Ayo!".
Xi Feng mengambil nafas dalam, kemudian ia ikut berdiri dan berbalik. Berjalan kearah Ming Yu yang kini sudah duduk di atas kudanya. Kemudian ia naik ke kuda miliknya dan mereka pun melanjutkan perjalanan yang sempat mereka tunda.
~•••••~
Ying Hua membuka kedua matanya perlahan. Pandangannya kabur dan ia merasa sedikit pening di kepala juga nyeri di perut bagian kirinya. Ia berdiam beberapa saat, membiarkan penglihatannya semakin jelas. Setelah itu ia menoleh kearah samping kanan untuk melihat dimanakah ia sekarang.
Sedikit susah payah Ying Hua bangun dari tempatnya berbaring. Pandangannya mengedar kesegala penjuru arah. Meneliti setiap sudut ruangan tempatnya berada. Ia mencoba mengingat. Dan kilasan terakhir ingatannya memenuhi kepalanya saat itu juga.
'Apa pria itu menyelamatkanku?' Tanyanya dalam hati.
Ia menoleh ke arah meja kecil yang ada di sebelah dipan dan dapat melihat pedang miliknya bertengger rapi di sana. Terdapat pula jubah miliknya yang terlipat rapi di sana. Setelah itu pandangannya kembali beredar dan ia melihat dirinya di pantulan cermin besar di sudut ruangan. Ia sedikit bernafas lega karena cadar miliknya tidak terlepas. Atau lebih tepatnya, tidak di lepas.
Suara langkah kaki mengalihkan perhatian Ying Hua. Gadis itu mencoba untuk bangun dan berjalan keluar ruangan yang di yakininya sebuah tenda tersebut. Sedikit tertatih karena menahan rasa nyeri dari luka yang di dapatkannya. Setelah ia berada di pintu tenda, gadis itu menyibak tirai yang menutupi pintu tersebut. Dan pandangannya terpaku akan apa yang di lihat oleh kedua mata hitam miliknya.
Keadaan semakin ramai dengan banyaknya orang yang datang bergantian. Pakaian yang di kenakan oleh mereka membuat Ying Hua berfikir jika mereka adalah bukan sembarang orang. Beberapa simbol kerajaan dapat ia lihat di pakaian yang mereka gunakan. Dan ia terperangah akan hal yang terjadi. Mereka membawa beraneka hewan yang sudah tak bernyawa.
'Mereka berburu?' Tanyanya pada diri sendiri.
"Oh, kau sudah sadar?"
Atensi Ying Hua beralih saat ia mendengar suara ringan yang menyapanya. Seorang pria dengan pakaian biru datang menghampiri dengan langkah tertata. Dan Ying Hua menyimpulkan jika pria itu bukan sembarang orang.
"Sebaiknya kau istirahat di dalam sembari menunggu yang.."
"Huo Ying, siapa dia?"
Ucapan Huo Ying terhenti saat Eng Li datang dan bertanya padanya, "Entahlah, aku juga tidak tahu, ia datang dengan yang mulia." Bisik Huo Ying pada Eng Li.
"Jadi dia wanita yang di katakan oleh Chen tadi. Sangat jelek." Kata Eng Li polos. Membuat Huo Ying mendelik karena Jenderal murah senyum itu tidak bisa menyaring ucapannya.
Ying Hua yang mendengar itu mendelik tak terima pada pria asing yang baru saja mengejeknya. Demi tongkat kayu milik kakek Han, ia bersumpah suatu saat akan menyumpal mulut pria tersebut dengan pakaian milik anjing Ming Yu. Kata jelek adalah hal tabu yang di dengar oleh telingannya.
Menekan rasa jengkel yang hinggap, Ying Hua bertanya, "Dimana ini?" Ia berucap dengan tenang.
"Hutan perbatasan." Jawab Huo Ying, "Sebaiknya kau beristirahat dan menunggu.."
"Kau sudah menyampaikan apa yang aku sampaikan?" Ying Hua tiba-tiba bersuara saat ia melihat sosok pria yang diyakininya telah menolongnya.
Lagi-lagi ucapan Huo Ying terhenti. Membuat pria itu menghela nafas sabar. Kemudian pria itu berbalik saat merasa ada seseorang yang berada di belakangnya. Ia pun lantas membungkuk dengan bibir tertutup saat melihat Zhuo Zu berjalan mendekati mereka.
Keadaan hening sejenak. Zhuo Zu tak menjawab pertanyaan yang di yakini tertuju padanya. Raja itu lebih memilih diam dan menatap gadis yang di tolongnya. Mata bening miliknya menelusuri wajah tertutup cadar tipis tersebut.
"Hn." Hanya itu yang keluar setelah lama ia berdiam.
Ying Hua sedikit mengernyit mendengar jawaban ambigu tersebut. Namun ia menghela nafas lega. Setelah itu mata kelamnya kembali menelusuri tempat di mana ia berada.
"Kalian sedang berburu?" Entah kenapa ia bertanya padahal jawabannya sudah bisa di dapatkan dengan jelas.
"Kau bisa melihat sendiri, jelek."
Ying Hua melempar tatapan sinisnya pada pria pucat yang berada di sisi pria berbaju biru. Ia bisa melihat pria tersebut meringis dengan tangan yang memegang perutnya. Sepertinya pria berbaju itu telah menyodoknya dengan siku pria tersebut.
"Aku harus segera kembali kalau begitu, terima kasih karena telah menyelamatkanku." Kata Ying Hua pada pria penyelamatnya yang masih setia menatap datar dirinya.
"Anda tidak istirahat dulu? Luka nona masih belum pulih." Huo Ying yang bertanya. Pria itu seakan mewakili Zhuo Zu, padahal rajanya tersebut tidak bersuara apapun.
Ying Hua menggeleng dan tersenyum tipis di balik cadarnya, "Aku harus segera pulang secepatnya, sebelum yang lain menghawatirkanku." Ia berkata sedikit ragu, entah ia kembali atau tidak, mungkin tidak ada yang memikirkannya.
Ying Hua kembali masuk kedalam, mengambil jubah dan pedangnya. Setelah selesai memakai jubah miliknya, ia kembali keluar dan mendapati ada seorang asing lagi disana. Pria dengan tatapan tajam walaupun tak setajam penyelamatnya.
"Aku tidak tahu jika kau membawa salah satu gundikmu." Pria itu berujar sangat menyebalkan. "Tapi ide bagus, apa kau sudah melupakannya sehingga kau bisa menyetubuhi wanita itu?" Tambahnya dengan senyum miring di sudut bibirnya.
Keadaan tiba-tiba mencekam dan terasa berat. Zhuo Zu hanya menatap lawan bicaranya dengan tenang dan datar. Walau begitu kedua tangannya terkepal erat. Seseorang memancing emosinya karena telah membahas hal yang sangat ia hindari. Terlebih orang itu..
'Bugh'
Zhuo Zu sedikit terkejut saat ia mendapati perempuan yang di tolongnya ada di depannya dan tengah berdiri dengan tenang. Bisa ia lihat lawan bicaranya tadi sedikit mundur kebelakang seraya memegang perutnya. Sepertinya gadis itu baru saja melayangkan bogem mentah pada Dong Pi.
"Aku tahu kau bukan sembarang orang tuan. Di lihat dari pakaianmu kau pastinya dari kalangan keluarga kerajaan atau pejabat. Tapi maaf, ucapanmu sungguh menyakitiku." Ying Hua tersenyum hingga matanya menyipit, "Aku tahu aku cantik, tapi aku akan berfikir seribu kali untuk menjadi seorang gundik." Imbuhnya.
Tak berselang lama dari kejadian itu, beberapa orang berpakaian prajurit mengepung Ying Hua dan menyilangkan pedang mereka ke lehernya. Ying Hua bergeming, tetap diam dan tak bergerak sedikitpun. Tak ada raut takut sama sekali yang terpancar di matanya. Yang ada hanya amarah dan kekesalan.
"Cih, beraninya main keroyokan." Decihnya sembari melipat kedua tangan di d**a.
"Suruh prajuritmu menurunkan senjatanya."
Ying Hua menoleh pada Zhuo Zu yang baru saja berbicara. Pria itu berjalan tenang melewatinya dan berdiri di depan pria yang di pukulnya tadi, "Atau akan ada peperangan di sini."
Dong Pi menyeringai, "Wow, kau membelanya." Ia bertepuk tangan, "Suatu rekor baru melihatmu yang tak peduli apapun tiba-tiba menjadi sok pahlawan untuk seorang pe-la-cur." Ia mengeja di akhir kata.
"Sudah ku peringatkan, terserah padamu." Zhuo Zu berbalik, kemudian berjalan menjauh. Ia sempat bertatapan dengan perempuan yang di tolongnya. Dan sedikit mengangguk kecil. Pria itu berjalan memasuki tenda miliknya di ikuti Huo Ying dan Eng Li. Membuat Dong Pi mengerutkan keningnya.
'Ia tidak menyuruh prajuritnya menyerang dirinya?' Batin Dong Pi.
Belum sempat ia menemukan jawaban dari pertanyaan di pikirannya. Dong Pi di kejutkan oleh suara baku hantam dari arah gadis itu berada. Dan ia tambah terkejut saat melihat para prajuritnya sudah terkapar tak berdaya di tanah.
"Sial, seharusnya aku tadi memukulmu hingga pingsan." Umpat Ying Hua sembari memegangi perutnya yang terluka. Rasa nyeri kembali mendatanginya saat ia bergerak terlalu banyak akibat bertarung kecil. Beruntung luka itu tidak terbuka kembali.
Hening sejenak, tak lama kemudian ia mendengar langkah kaki kuda dan kikikan hewan tersebut. Semakin lama semakin dekat. Dan Ying Hua menoleh ke arah suara itu.
Ying Hua segera berbalik tanpa kata. Meninggalkan Dong Pi yang masih bergelut dengan keterkejutannya. Ia menghampiri dua orang yang di kenalnya dari kejauhan. Menunggu sejenak sampai dua orang itu tiba di tempatnya dan turun dari hewan tunggangan.
"Aku tahu jika itu benar dirimu kak, kau baik-baik saja?" Xi Feng berjalan menghampiri Ying Hua dengan tergesa. Dari kejauhan tadi mata awasnya bisa melihat Ying Hua yang tengah bertarung. Dan tanpa kata lagi ia memutar kemudi kuda dan mengarahkan ketempat tersebut.
"Sudah kuduga, di sana ada keributan pasti ada Sakura." Ming Yu ikut menghampiri, pria itu menyengir memamerkan dua gigi taring miliknya.
Ying Hua memutar kedua matanya, kemudian mendengkus dan tersenyum di balik cadar, "Aku baik-baik saja. Maaf membuat kalian repot hingga mencari diriku."
"Kau membuat khawatir seluruh padepokan."
"Benarkah?" Sebelah alis Ying Hua terangkat, sedikit tak percaya akan ucapan Xi Feng.
Xi Feng mengangguk, mengiyakan ucapannya, "Ayo pulang."
"Aa." Ying Hua mengangguk kecil, "Sebentar." Ucapannya membuat Xi Feng dan Ming Yu yang berjalan berhenti.
Ying Hua membalikkan badannya ke arah tenda milim pria penyelamatnya. Dan ia bisa melihat pria itu berdiri dengan kedua tangan bertaut di belakang di depan pintu tenda. Ia berjalan mendekati dan tersenyum pada pria tersebut. Meski ia tahu pria itu tak melihat senyum bibirnya paling tidak pria tersebut pasti mengerti lewat matanya yang menyipit.
"Terima kasih sudah menolongku. Suatu hari nanti, aku akan membalas dan menjadi penolongmu." Ucapnya ringan. Tanpa mendengar jawaban dari lawan bicaranya yang menatap dirinya datar, Ying Hua berbalik dan menaiki kuda Xi Feng serta menyuruh remaja itu untuk naik kuda bersama Ming Yu. Meski ia mendengar gerutuan junior padepokannya tersebut, namun Xi Feng tetap melaksanakan perintahnya.
Ying Hua menghela nafas, kemudian menoleh kembali kearah pria penyelamatnya yang masih setia menatap tenang dirinya. Pria itu tampan, dan Ying Hua mengakuinya. Mereka saling bertatapan untuk beberapa saat, hingga angin berhembus sedikit kencang dan menyikap sedikit cadarnya. Membuat wajah cantik itu terlihat beberapa detik. Mereka masih terpaku dan mengunci tatapan satu sama lain. Hingga akhirnya Ying Hua memutus tatapan itu dan mulai menjalankan kudanya.
Dengan perasaan jika ia masih di awasi oleh mata tajam sebening madu milik pria rupawan penolongnya.