Yang Mulia Zhuo Zu menatap sinar mentari yang perlahan muncul dari persembunyiannya. Mata hazel itu berkali lipat menjadi lebih indah kala sinar sang surya tersebut menerpa wajah rupawannya. Silau dari sang penyinar dunia tak di hiraukannya. Seolah ia menantang untuk adu kekuatan manakah yang paling tajam.
Rambut hitam panjangnya yang terikat setengah dan menggulungnya di atas di hiasi oleh mahkota kecil berbentuk elang dan daun. Lambang dari kerajaan yang di pimpinnya. Angin pagi berhembus, menerbangkan helaian hitamnya yang tak ikut terikat. Jubah kebanggaannya pun ikut menari dengan indah.
Ketenangan pagi begitu ia nikmati. Suara burung yang berkicau riang dan terbang menyambut pagi yang cerah itu pun memperindah suasana. Terlebih suara dari para hewan lainnya yang seolah memulai aktivitas seperti manusia.
Namun, ketenangan itu tak berlangsung lebih lama lagi. Dari balik semak-semak belukar di hadapannya terdengar suara gemerisik. Seolah ada seseorang yang sedang menerjang semak tersebut dan berlari kearahnya. Hazelnya menajam, terlebih saat ada beberapa anak panah yang melewati sisi kiri dan kanan tubuhnya. Meski begitu, raja yang di segani oleh para rakyatnya tersebut tak bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri.
Tak lama dari itu, terdengar kikikan kuda yang sangat keras bersamaan dengan kuda yang keluar dari balik semak-semak. Kuda itu melompat dan mendarat dengan tidak sempurna. Kaki depan kuda tersebut menekuk kebawah dan membuat kuda tersebut jatuh tersungkur dan menjatuhkan seseorang yang menungganginya. Sehingga orang tersebut jatuh tepat di bawah kaki sang raja.
Zhuo Zu menatap seseorang yang berada di bawahnya tenang. Tak berniat sedikitpun untuk menolong dan menanyakan apakah dia baik-baik saja. Raja pempimpin Kerajaan Anming itu tetap berada dari posisinya. Dan bersikap acuh pada orang yang di yakininya seorang perempuan tersebut.
Tak berselang lama, orang tersebut mendongak. Menatap dirinya yang juga menatapnya. Hitam bening adalah hal yang pertama menjadi titik fokusnya. Wajah penuh keringat dan sedikit kusam adalah hal kedua yang ia perhatikan. Namun tak melunturkan kecantikan dari perempuan tersebut yang Zhuo Zu yakini memang cantik. Meskipun perempuan itu memakai cadar guna menutupi kecantikannya.
Cukup lama mereka berpandangan dengan tatapan mata yang berbeda. Hingga akhirnya suara ribut dari arah belakang terdengar. Membuat atensi perempuan itu teralih darinya. Tak berapa lama, muncul orang-orang lain yang sepertinya adalah orang yang mempunyai urusan dengan perempuan di bawahnya.
"Sialan."
Terdengar desisan di sertai geraman yang keluar dari mulut perempuan tersebut. Meski kata umpatan tersebut di keluarkan dengan suara yang sangat kecil, namun Zhuo Zu bisa mendengarnya dengan jelas. Kemudian ia bisa melihat perempuan itu berdiri dan berbalik membelakanginya. Menatap beberapa orang dengan jumlah sekitar 20 orang. Zhuo Zu masih diam di tempat. Tak berniat beranjak sedikit pun. Tatapan mata hazelnya menatap setiap gerak dari perempuan asing yang berdiri di hadapannya.
"Kau tidak akan bisa lari nona Harura." Desis Song dengan mata berkilat penuh amarah menatap gadis yang telah menipunya tersebut. Dalam hatinya ia mengutuk kecantikan gadis itu yang telah menipunya.
Ying Hua mengembalikan wajah tenangnya setelah ia sempat terkejut dengan adanya orang yang ada di belakangnya saat ini. Tak di elaknya jika saat ini detak jantungnya bertalu lebih cepat dari sebelumnya karena hadirnya orang tersebut. Hawa dingin nan menusuk yang berasal dari punggungnya ia coba abaikan. Ia merutuk dalam hati. Mengumpati dirinya yang bisa ceroboh kali ini.
"Cepat serahkan semua yang telah kau curi!" Suara Song kembali terdengar.
Ying Hua menelengkan sedikit kepalanya. Memasang wajah sepolos mungkin untuk sedikit bermain dengan lawan tandingnya kali ini, "Memangnya apa yang aku curi tuan Song?"
Song menggeram penuh amarah melihat apa yang di lakukan oleh gadis di hadapannya, "Tentu saja semua koin emas milik tuan Chong!" Bentaknya kembali.
Ying Hua tertawa halus, terdengar begitu merdu di telinga siapapun, "Milik tuan Chong? Apakah kau tidak salah?" Ucapnya dengan nada mengejek. Sesaat kemudian pancaran matanya yang semula berkilat jenaka berubah datar, "Ah, tentu saja itu milik tuanmu, karena itu adalah hasil rampasannya dari para penduduk di sekitar wilayahnya." Ucapnya dengan penuh tekanan.
Song mendelik, "Jangan bercanda! Tuanku tidak pernah melakukan itu!"
"Aku punya buktinya tuan." Kata Ying Hua dengan tenang, "Kau dan tuanmu tidak akan pernah bisa menyangkalnya."
"Apa buktinya?" Tantang Song.
Ying Hua tersenyum miring di balik cadar tipisnya, kemudian ia mengeluarkan lipatan kertas yang di sembunyikan di balik bajunya. Melihat itu Song membeliak terkejut kala mengetahui apa isi kertas tersebut, "Bagaimana reaksi yang mulia raja jika ia mengetahui ini." Katanya sembari memamerkan kertas tersebut.
Zhuo Zu sedikit mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan dari perempuan di hadapannya. Meski begitu, ia tak melakukan apapun walau ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia masih setia dengan posisinya saat ini.
"k*****t! Bunuh wanita itu!!" Teriak Song panik.
Semua anak buah Song mulai menyerang Ying Hua. Dan gadis itu dengan senang hati menghadapi. Buntalan kain hitam yang semula bertengger di bahunya ia letakkan begitu saja. Dan dengan cekatan ia mengeluarkan pedang kesayangannya yang semula ia sembunyikan. Tak lupa pula ia melepaskan jubah yang ia kenakan untuk mempermudah gerakannya. Ia akan serius dan berhenti bermain-main sekarang.
Zhuo Zu menatap pertarungan yang sehatusnya jauh dari kata seimbang tersebut. Namun perempuan berpakaian merah muda itu bisa menyeimbanginya. Bahkan terlihat begitu mudah perempuan itu melumpuhkan para musuhnya. Gerakan-gerakan beladiri dan ilmu berperangnya terlihat begitu lihai dan terlatih. Semua itu terlihat bagaimana saat perempuan tersebut menampik, menusuk, memukul, menendang, berputar, melompat, dan merendah dengan begitu indahnya. Seolah pertarungan itu seperti tarian.
Darah mengalir ke ujung pedang Ying Hua setelah dirinya berhasil menusuk perut salah satu anak buah Song. Raut wajahnya terlihat begitu datar saat prajurit tersebut tumbang di hadapannya. Itu adalah prajurit terakhir milik Song yang sudah ia tumbangkan pula.
Wajah Song memerah menahan amarah. Ia melihat bagaimana anak buahnya yang sudah tergeletak tak berdaya di tanah. Tanpa basa basi lagi ia mencabut pedang miliknya. Dan mulai menerjang gadis kecil yang ternyata susah untuk di singkirkannya itu.
Ying Hua melompat mundur saat Song tiba-tiba menyerangnya. Gadis itu kembali mengumpulkan tenaganya setelah ia istirahat sebentar. Serangan Zabuza yang di arahkan kepadanya membuatnya sedikit kesulitan. Kekuatan pria itu tak bisa di abaikannya. Terlebih karena tenaganya yang sudah terkuras dari kemarin. Lengah sedikit saja, nyawanya bisa melayang. Terlebih dengan senjata yang di gunakan Song saat ini.
Ying Hua berputar, menghindar dari sabetan pedang besar milik Song. Dirinya saat ini terus dalam posisi bertahan. Sangat sulit membalikkan keadaan dan ia yang menyerang. Kekuatan tubuhnya saat ini tidak bisa ia paksakan.
Dan benar saja, ia sedikit lengah. Membuat perut sebelah kirinya sedikit tergores oleh pedang musuh. Memang tak dalam, namun mampu membuat dirinya meringis dan darah segar mengalir dari sana. Membasahi dan menodai pakaian merah mudanya.
Melihat gadis yang terkena serangan itu Song tak tinggal diam dan segera mengambil tindakan. Ia kembali menyerang secara membabi buta. Namun gadis itu masih saja mampu menghindar meski nafasnya kini terdengar berat dan tak beraturan. Ia menyeringai, menjilat bibir bawahnya dengan tatapan puas. Gadis itu sudah terkena racun yang ada di pedangnya.
"Kau akan mati kali ini!" Ujarnya begitu senang.
Napas Ying Hua tersengal. Dadanya tiba-tiba merasa sedikit demi sedikit terasa sesak. Luka sabetan itu menjadi begitu perih secara perlahan. Wajah gadis itu perlahan menjadi pucat. Meski begitu ia masih mampun menyeimbangkan tubuhnya.
'Sial' umpatnya dalam hati.
Song kembali menyerang. Dan Ying Hua hanya bisa mundur menghindari serangan. Tangannya yang perlahan melemas ia gerakkan sekuat mungkin menangkis pedang Song yang mengarah padanya.
Pertarungan dua orang itu masih terlihat sengit. Meski Yang Mulia Zhuo Zu menyadari jika perempuan itu sudah kehabisan tenaga dan menahan rasa sakit. Ia terus memperhatikan, hingga dirinya melihat perempuan itu terpental kearahnya akibat tendangan dari pria dengan pedang besar ditangannya. Dan ia dengan spontan menangkap tubuh perempuan itu.
Ying Hua mendesis saat tubuhnya bertabrakan dengan tubuh pria berjubah hitam yang memperhatikan pertarungan mereka sedari tadi. Kepalanya terasa pening saat kepalanya terbentur d**a bidang pria tersebut. Beruntung ia tidak tersungkur kedepan karena sebelah tangan pria itu menopang tubuhnya. Namun sialnya telapak tangan pria itu menyentuh dan menekan lukanya.
"Lepaskan!" Teriak Ying Hua tiba-tiba karena sakit yang ia rasakan. Dan pria itu melepaskan tangannya begitu saja saat menyadari dirinya telah menekan luka Ying Hua. Membuat gadis itu merosot dan tesungkur ketanah tanpa bisa di cegah. Dan secara bersamaan, sebuah pedang besar terayun kearahnya, ah tidak, lebih tepatnya kearah perempuan yang terjatuh di hadapannya. Dan ia pun tanpa basa-basi menarik pedang miliknya yang ada di pinggang. Menusukkan benda tajam kebanggaannya itu tepat pada jangung pria yang menjadi musuh perempuan tersebut.
Song terdiam dengan mata melotot menatap mata hazel yang datar menatapnya. Darah segar perlahan mengalir dari mulutnya. Tubuhnya terasa kaku dan perlahan menjadi mati rasa. Dirinya tidak menyadari jika sedari tadi ada orang lain diantara mereka. Dan ia semakin terkejut saat tahu siapa orang itu. Namun semua sudah terlambat baginya. Dan ia kini harus siap menutup mata selamanya akibat orang tersebut.
Zhuo Zu menarik pedangnya dan menatap tak berminat tubuh pria yang tumbang karena ulahnya. Kemudian hazel miliknya bergulir menatap perempuan yang kini semakin lemah di hadapannya. Setelah itu ia berbalik, berniat meninggalkan tempat tersebut.
"Tunggu!" Ying Hua menahan jubah pria tersebut. Membuat sang empunya menghentikan jalannya, "Aku butuh bantuanmu."
Zhuo Zu hanya melirik, tak berniat menolong gadis yang nafasnya semakin terlihat berat.
Dengan tangan gemetar, Ying Hua merogoh sesuatu di balik pakaiannya. Ia menyerahkan kertas yang ia curi dari kediaman pejabat Chong pada pria yang secara tidak langsung tadi telah membantu dan menyelamatkannya.
"Tolong antarkan ini pada tuan Wang Weo." Ungkap Ying Hua dengan nada tersendat. Ia mencoba mempertahankan kesadarannya, "Atau kau bisa memberikannya langsung pada Yang Mulia."
Zhuo Zu masih terdiam. Raja itu tak sedikitpun menjawab. Ia hanya menatap gadis di hadapannya yang tengah sekarat.
Tak mendengar jawaban, Ying Hua melanjutkan, "Aku sudah tidak sanggup untuk meneruskan ini. Tapi misi ini harus selesai dengan baik." Ia kembali mengambil nafas dalam dan terbatuk sebentar, namun cukup membuat mata gadis itu tertutup sesaat karena sakit di dadanya, "Aku tahu akan merepotkanmu. Tapi ku mohon, bantu aku."
"Untuk apa?" Suara Zhuo Zu akhirnya terdengar meski begitu datar.
"Demi rakyat." Mata Ying Hua terpejam. Ia sudah di ambang batas kesadaran, "Aku percaya kau bisa membantuku karena pakaian yang kau gunakan adalah lambang dari kerajaan Anming. Kau pasti salah satu anggota keluarga istana." Suaranya makin melemah, "Dan aku yakin kau bisa melakukannya." Ucapnya sebelum benar-benar kehilangan kesadaran. Gadis itu tak sadarkan diri dengan wajah yang kian memucat dan membiru.
Zhuo Zu menatap perempuan itu sedikit lebih lama. Sebelum pada akhirnya ia menyarungkan kembali pedang miliknya yang masih ternoda oleh darah. Di raihnya kertas yang ada di tangan gadis itu. Melihatnya sebentar, kemudian menyimpannya di balik pakaian. Setelah itu ia mengangkat gadis tersebut dalam gendongannya. Melangkah meninggalkan para mayat yang bergelimpangan di sana.