Matahari sudah bersembunyi saat Ying Hua, Ming Yu dan Xi Feng sampai di padepokan. Bisa dilihatnya dari kejauhan Mei Lan yang berdiri di depan gerbang bersama kakak seniornya, Guo Zhi. Dalam kebungkamannya ia membatin. Apakah pria penyuka warna merah itu juga mengkhawatirkannya? Ah tidak. Itu tidak mungkin. Ia tahu siapa yang di khawatirkan oleh Guo Zhi saat ini.
"Syukurlah kalian sudah kembali." Mei Lan menghampiri Ying Hua yang baru saja turun dari kuda. Wajahnya yang semula menampilkan raut khawatir yang berlebihan kini berganti dengan cepat menjadi penuh kelegaan.
"Aku baik-baik saja kakak Mei Lan, tidak perlu khawatir." Kata Ying Hua kalem.
"Bagaimana bisa kau melakukan tugas kali ini lebih lama Ying Hua? Kau membuat semuanya khawatir. Terlebih dirimu tidak mengirim kabar sedikitpun." Guo Zhi bersuara, pria itu menatap Ying Hua seksama dan tatapannya jatuh pada noda darah yang mengering di pakaian yang Ying Hua kenakan, "Darahmu atau darah musuh?" Tanyanya membuat Mei Lan menatap Guo Zhi tak mengerti.
Ying Hua yang kini membuka cadarnya secara reflek memegang luka yang ia terima, "Darahku, tapi tenang saja, ini hanya luka kecil." Ia melepas jubahnya hingga darah kering di pakaiannya terlihat lebih jelas.
"Jadi kau tidak segera pulang hingga batas waktu yang biasa kau gunakan karena luka ini kak?" Tanya Xi Feng menyelidik, "Dan tadi, kenapa dirimu bisa berurusan dengan orang-orang yang kelihatannya bukan dari kalangan sembarang orang?"
"Salah satu di antara mereka adalah orang yang menyelamatkanku dan mengobati lukaku." Jawab Ying Hua, "Dan untuk misi tenang saja, semua sukses seperti biasanya. Sekarang aku akan melapor pada paman." Ying Hua kemudian berlalu dari sana. Meninggalkan yang lainnya.
"Hei kak, sebaiknya kau istirahat dan menemui paman esok hari." Teriak Xi Feng.
"Tidak ada waktu untuk hari esok. Waktuku melaksanakan tugas ini sudah habis sehari yang lalu. Aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi." Jawab Ying Hua dari kejauhan.
Guo Zhi yang ikut mendengar jawaban Ying Hua hanya menggelengkan kepalanya, "Percuma kau berucap seperti itu pada Ying Hua, dia dan sifat keras kepalanya hanya akan membuat dirimu pusing." Ia terkekeh di akhir kalimat.
Xi Feng dan Ming Yu mendengkus membenarkan, sedangkan Mei Lan hanya menggelengkan kepala memaklumi. Yah, mereka semua sudah hafal akan segala sikap perempuan berambut legam itu.
~•••••~
Permaisuri Fen Fang dan selir Jun Lu menyambut kedatangan Yang Mulia Raja Zhuo Zu dari musim perburuan. Wajah sang raja masih sama, datar dan tak tersentuh. Ia hanya menatap para istrinya sejenak sebelum berlalu begitu saja dari sana. Mengabaikan mereka dan berjalan menuju ke kediamannya.
Fen Fang hanya menghela nafas lelah, sebagai permaisuri seharusnya ia bisa menjadi sandaran dan juga pendukung yang mulia. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa dan hanya diam-diam mengawasinya dari kejauhan. Beruntung keadaan kerajaan masih stabil meski keadaan sang pemimpin masih sama setelah kematian permaisuri terdahulu. Namun ia tidak bisa tenang-tenang saja. Penghianat berada di mana-mana dan tinggal menunggu waktu untuk melakukan kudeta. Ia harus bisa melindungi suaminya itu dari segala terjangan yang ada. Usahanya selama ini tidak boleh sia-sia.
Pangeran Hong Hui baru saja keluar kamarnya dan berpapasan dengan sang ayahanda. Dan seperti biasa, raja berwajah tampan itu hanya berlalu tanpa menengok ke kanan dan ke kiri. Mengabaikan sang buah hati yang dulu sangat ia agung-agungkan. Membuat bocah kecil itu hanya menatap sang raja nanar.
Pangeran Hong Hui menghela nafas, kemudian ia melanjutkan langkahnya keluar istana. Di pintu utama istana ia bisa melihat rombongan para istri raja masih berdiri disana dan belum beranjak sedikitpun. Hong Hui menghentikan langkah kakinya sebentar, sebelum akhirnya ia kembali melangkah. Berjalan dengan tenang dan menampilkan raut datar seperti ayahnya.
"Mau kemana pangeran?" Fen Fang bertanya, ia menatap putra semata wayang suaminya itu.
"Keluar." Jawabnya tanpa menghentikan langkah. Ia pergi di ikuti oleh dua pengawal pribadinya.
Permaisuri Fen Fang lagi-lagi menghela nafas, dan untuk kali ini ia mencoba menekan amarahnya. Sikap yang di tunjukkan pangeran Hong Hui kepadanya sungguh keterlaluan. Ingin rasanya ia menghukum pangeran kecil itu. Namun ia urungkan. Sekarang bukan saatnya dirinya melakukan sebuah tindakan yang bodoh dan ceroboh.
"Kembali ke kamarmu selir Jun Lu." Perintah permaisuri. Ia ikut beranjak dari sana dan berlalu menuju pavilliun miliknya. Wajahnya kini terlihat menyimpan kekesalan. Wajah ayunya terlihat sedikit menakutkan.
Tanpa banyak kata selir Jun Lu mengangguk dan segera memberi salam pada sang permaisuri. Dan setelah punggung sang permaisuri hilang dari pandangan dirinya baru melangkahkan kaki ke paviliun miliknya di ikuti oleh para dayang yang bertugas melayaninya.
~•••••~
Ying Hua berjalan santai sembari mengawasi sekitar. Pasar desa kali ini terlihat lebih ramai dari biasanya. Dan ia cukup kesulitan untuk membuntuti seseorang yang menjadi targetnya.
"Sial." Umpatnya saat kehilangan jejak.
Ying Hua menghela nafas, ia menyandarkan dirinya di tembok bangunan yang ada di belakangnya. Ia tidak mendapatkan misi sekarang karena luka yang ia dapatkan pada misi terakhir kemarin. Maka dari itu, untuk membunuh kebosanannya di padepokan ia diam-diam mengikuti dua orang yang di kenalnya pergi.
"Sebenarnya mereka kemana?" Tanyanya entah pada siapa. Ia mendongak, menatap langit yang mendung. Hari masih siang dan awan gelap menyelimuti membuat sinar matahari meredup. Hujan sepertinya akan turun.
Tak berselang lama dari itu rintik hujan mulai membasahi bumi. Ying Hua segera berlari dan berteduh. Ia meneduhkan diri di sebuah rumah yang tak jauh dari tempatnya berdiri tadi.
Raut sendu sedikit terlihat di saat hujan bertambah deras. Di tambah dengan dua orang yang kini terlihat samar di depannya. Kedua orang itu berteduh di rumah yang berjarak beberapa meter darinya. Mereka terlihat mesra. Si pria tampak memakaikan baju lapisan luarnya pada si wanita. Sedangkan si wanita tampak tersenyum malu. Mereka seperti sepasang kekasih yang sangat saling cinta. Atau, memang seperti itu? Tak sadar, Ying Hua mencengkeram kuat tiang bambu yang di pegangnya.
Ying Hua menghirup nafas dalam dan dikeluarkan dengan pelan. Ia menggigit bibir bawahnya sedikit kuat. Lalu tanpa banyak kata lagi ia berbalik, hendak pergi dari sana dan menerobos hujan. Namun saat satu langkah ia berjalan dirinya merasa di tabrak oleh seseorang.
Ying Hua menunduk, melihat siapa yang menabraknya. Dan bisa di lihat oleh kedua Onyxnya seorang anak kecil yang tengah terduduk di tanah. Dengan segera ia mengulurkan tangan dan di sambut oleh anak tersebut.
"Seharusnya saat berbalik dan mau jalan, kau lihat-lihat dulu sekitarmu." Nasehat anak itu datar.
Ying Hua terdiam, jadi dirinya yang menabrak, bukan anak kecil itu? "Maaf." Kata Ying Hua lirih. Dan saat ia meneliti penampilan dan wajah anak kecil tersebut, dirinya sedikit tersentak, "Apa yang kau lakukan disini?" Tanyanya dengan nada yang di pelankan.
"Kabur." Hong Hui menjawab singkat dan datar.
"Kabur?" Kedua alis Ying Hua bertaut. "Kenapa kabur?"
"Bosan."
"bosan kenapa?"
"Kau banyak bertanya."
Ying Hua mendengkus, kemudian ia melipat kedua tangannya di depan d**a, "Ibu dan ayahandamu pasti akan mencarimu." Katanya menasehati.
Hong Hui terdiam, untuk sesaat sinar matanya meredup dan itu tidak lepas dari pengamatan Ying Hua. Membuat gadis itu merasa ia salah berkata, "Mereka tidak akan mencari."
Ying Hua tak menjawab, atau lebih tepatnya tidak ingin menjawab, "Mau ikut denganku?" Tawarnya mengalihkan pembicaraan.
"Kemana?"
Ying Hua tersenyum, "Ketempat yang sunyi dan bisa membuat tenang."
~•••••~
Hujan sudah berhenti. Bau tanah basah dan dedaun menguar. Ying Hua dan Hong Huo mendudukkan diri di sebuah gazebo sederhana yang ada di hutan.
Suara binatang bersahutan membelah kesunyian. Memberi ketenangan tersendiri untuk mereka berdua. Dalam hening yang nyaman, mereka berdiam dengan pikiran masing-masing.
"Apa kau selalu kesini jika sedang banyak pikiran atau gundah hati." Hong Hui menatap Ying Hua yang kini berdiri di depan pembatas Gazebo. Wanita itu tampak tenang memandang ke depan.
"Heem." Ying Hua bergumam singkat.
"Siapa yang membangun ini disini?" tanya Hong Hui lagi.
"Kenapa kau bertanya? Tertarik juga membuat gazebo di tengah hutan?" Ying Hua berbalik, menatap pangeran kecil itu dengan alis terangkat sebelah.
"Tidak." Hong Hui menjawab singkat, "Tapi jika aku sedang ingin menyendiri, apa boleh aku kemari?" lanjutnya.
Ying Hua tersenyum tipis, "Tentu saja."
Ia menatap bocah yang berstatus sebagai pangeran itu lembut, "Dan jika kau mau, aku bisa mengajarimu beberapa ilmu bela diri agar kau bisa menjaga dirimu tanpa harus bantuan atau pertolongan orang lain." Ujarnya membuat Hong Hui terkejut dan menatap dirinya tak percaya, "Lagi pula kau adalah calon penerus kerajaan kan?" Imbuhnya kemudian.
Hong Hui terdiam, ia menatap cukup lama wanita cantik yang pernah menolongnya tersebut. Kemudian ia memberikan senyum tipis yang sangat jarang ia keluarkan pada Ying Hua.
"Kalau begitu sebagai gantinya aku akan memanggilmu,." Hong Hui terdiam sejenak, berfikir nama apa yang cocok untuk wanita itu. Dan saat ia berfikir dengan menatap seksama Ying Hua, entah kenapa sekilas bayang ibunya terlihat di sosok Ying Hua yang memandangnya lembut. Ia mengerjap. Ya, pandangan lembut itu mengingatkan bagaimana lembutnya ibunya dulu, "Ibu."
Ying Hua yang tadi tersenyum tipis segera melenyapkan senyumnya dan berganti dengan wajah tertekuk yang terlihat kesal, "Kenapa memanggilku ibu? Demi Dewa, aku masih muda dan berumur 20 tahun. Kenapa kau tidak memanggilku guru, atau kakak saja." Protesnya.
Hong Hui menggelengkan kepala, "Aku ingin memanggilmu ibu. Titik." Putusnya sebelah pihak. Wajahnya kembali terlihat sangat datar.
Ying Hua mendengkus, "Terserah." Jawabnya pasrah. Ia tidak ingin berdebat. "Ayo iku aku!" Ajak Ying Hua kemudian, gadis itu beranjak turun dari gazebo dan berjalan menembus semak-semak.
Hong Hui lantas ikut berdiri. Berjalan mengikuti Ying Hua walau ia sedikit mengernyit. Ia tidak akan jadi korban pembunuhan hanya karena memanggil wanita cantik itu 'ibu' bukan?
Terlihat Ying Hua menyikap sebuah ranting pohon yang menjulang menutup jalan mereka. Ia melakukan hal sama, menyikap ranting tersebut walau sedikit kepayahan karena ukuran ranting tersebut cukup besar. Dan setelah melewati ranting pohon itu, kedua hazel Hong Hui bersinar dan menatap kagum apa yang ia lihat.
"Kita nanti bisa latihan disini." Ying Hua tersenyum, kedua matanya mengedar sekeliling.
"Pantas saja tadi aku samar mendengar suara riak air." Gumam Hong Hui, ia mendekat ke tepi danau tersebut, "Apa ini dalam?"
Ying Hua terkekeh, "Cukup mampu membuat siapa saja tenggelam jika tidak bisa berenang dengan tepat." Katanya. "Tapi tak perlu khawatir, aku sering mandi disini. Jika kau mau, nanti aku akan mengajarimu berenang juga."
Pancaran mata Hong Hui semakin berbinar. Sudah lama ia tak merasakan sensasi seperti ini. Sensasi kebahagiaan, "Mungkin aku akan sering kemari."
"Tidak masalah, kau bebas kemari sesering kau mau." Ying Hua mengusap kepala Indra, "Sebaiknya kau segera kembali, sebelum kedua pengawalmu semakin panik dan membuat orang-orang istana khawatir." Lanjutnya membuat Hong Hui kembali menampakan raut datar. Dan entah kenapa raut datar Hong Hui mengingatkan Ying Hua dengan seseorang.
"Hari sudah beranjak malam, kita bisa kembali esok hari. Sekarang pulanglah." Mengabaikan pemikirannya barusan, Sakura kembali berucap.
Hong Hui terdiam sejenak sebelum menghela nafas, "Antar aku kalau begitu."
"Aish, dasar bocah." Ying Hua memukul kepala Hong Hui pelan, meski begitu ia tidak menolak. "Ayo!"
Hong Hui mengangguk dan kembali mengikuti Ying Hua. Senyum tipis kembali tersirat di bibir pangeran kecil itu saat melihat punggung Ying Hua. Yah, setidaknya ia bisa menemukan pelipur laranya saat ini.