Ying Hua melipat kertas berwarna kecoklatan itu menjadi lipatan kecil. Kemudian ia menyembunyikannya di balik baju yang ia pakai. Dan segera duduk dengan tenang di tempat semula. Tak berapa lama, pemilik ruangan tersebut datang dengan wajah yang sedikit menyeramkan bersama Song.
"Aku tidak menyangka jika menteri sialan itu begitu cepat mencurigaiku." kata Chong dengan nada penuh amarah, "Kita harus menyingkirkannya segera. Akan sangat berbahaya bila ia mengetahui apa yang telah kita lakukan." pemimpin daerah itu tampak begitu ketakutan.
"Benar tuan, akan tetapi.. Menyingkirkan Tuan Bi Fang tidak lah mudah. Beliau menteri yang sangat berpengaruh di kerajaan. Pasti banyak orang-orang hebat yang melindunginya. Kita tidak akan sanggup untuk melawannya."
"Aargghh." Chong mengayunkan tangannya menggebrak meja bundar yang di atasnya terdapat vas bunga di samping pintu. Membuat benda keramik malang itu pecah berkeping-keping, "Aku tidak mau tahu, kau harus bisa melenyapkannya!!" perintahnya mutlak.
Song hanya bisa mengangguk mengiyakan. Ia pun segera undur diri dari ruangan pribadi sang tuan. Lebih baik ia pergi daripada menjadi pelampiasan kekesalan tuannya.
Ying Hua yang melihat semuanya hanya bisa terdiam. Ia masih setia memasang wajah polosnya seolah tak mengerti apa-apa. Meskipun dalam hati ia tengah menyusun strategi untuk segera menyelesaikan misinya kali ini.
"Kau mendengar semuanya?" tanya Chong saat menyadari bahwa di ruangannya masih ada orang lain.
Ying Hua mengangguk dan mengulas senyum di bibirnya.
"Jika sampai kau membuka mulutmu pada siapapun, aku pastikan kepalamu terpisah dari lehermu!" ancam pria itu.
"Anda tenang saja, saya akan tutup mulut." utarnya menyakinkan.
"Baiklah, pergilah kekamarmu yang sudah di siapkan oleh pelayanku hari ini, aku sedang malas untuk bermain!" perintah Chong seraya mendudukkan diri di balik meja kerjanya.
Ying Hua hanya mengangguk dan tersenyum. Ia berdiri, memberi hormat pada Chong dan berjalan keluar ruangan. Terpaksa ia harus menunda rencananya. Atau ia harus mengubah rencananya. Dan untuk saat ini, ia hanya bisa menuruti apa yang di katakan pria tua itu. Setidaknya ia juga butuh istirahat sejenak sebelum memulai aksinya.
~•••••~
Pagi hari sebelum sinar sang mentari menapaki bumi sang penguasa yang terkenal dengan kekejamannya itu keluar dari gerbang istana. Rombongan sang raja tampak berjalan tenang dan teratur melintasi ladang persawahan para penduduk. Sang raja yang menunggang kuda hitam kesayangannya tampak tenang menggiring tunggangannya tersebut untuk berjalan santai. Di ikuti oleh sang penasehat sekaligus sahabatnya sedari kecil dan jenderalnya, raja bermata bening itu pergi menuju hutan lebat yang ada di sebelah utara kerajaan. Hutan perbatasana kerajaan Anming dan kerajaan Weisi.
"Yang Mulia, apakah kita tidak perlu menambah pasukan kita?" Huo Ying berujar, ia sedikit khawatir dengan jumlah para pengawal yang mengikuti mereka di belakang. Jumlah itu terkesan terlalu sedikit untuk ukuran kawalan seorang raja.
"Tidak."
"Tapi, "
"Berhenti bicara atau aku merubah keputusanku dan tak menghadiri acara ini!" sergah Zhuo Zu dengan nada dingin.
Huo Ying terdiam seketika. Tak lagi menyahut dan membiarkan sang raja menikmati kediamannya. Kedua matanya bergulir ke kearah samping. Dimana sang jenderal kepercayaan berada. Untuk sejenak mereka berdua saling tatap dalam diam.
Rombongan itu memasuki desa terdekat dengan hutan tujuan mereka tepat saat matahari berada di ujung barat. Sinar keemasan yang bersinar mulai pudar. Dan kegelapan pun mulai menyambut.
Beberapa prajurit menyalakan obor guna menerangi perjalanan mereka. Hutan itu tampak gelap, dan terlihat sedikit menakutkan. Rombongan raja Zhuo Zu memasuki hutan tersebut dan menuju bascamp yang telah di siapkan. Kedatangannya disambut oleh para raja dan pangeran dari kerajaan lain yang sudah tiba di tempat itu terlebih dahulu.
"Yang Mulia Zhuo Zu." sapa salah satu di antara mereka, senyum kecil terbit di wajahnya yang rupawan, "Tak kusangka akhirnya anda menghadiri acara ini juga." tatapan matanya tampak terlihat menyebalkan, "Setelah sekian lama." tambahnya dengan nada yang berbeda dari sebelumnya.
Zhuo Zu tak menjawab, dirinya tetap tenang mendengar semua ucapan dari orang yang sedari dulu memang tak pernah memiliki hubungan yang baik dengannya.
"Maaf, Yang Mulia Dong Pi. Saya rasa kita lanjutkan ini besok. Yang Mulia Zhuo Zu ingin segera istirahat." Huo Ying mencoba menengahi. Meskipun terkesan kurang sopan dan terlihat seperti pengecut yang menghindar. Namun itu yang terbaik sebelum pertumpahan darah yang terjadi.
"Oh, ya. Tentu saja." nada bicara penguasa kerajaan Weisi itu tampak terdengar di buat-buat. "Istirahatlah, yang mulia." sebelah tangannya terayun mempersilahkan rombongan Zhuo Zu untuk segera memasuki tempat tersebut lebih dalam.
Zhuo Zu melangkahkan kakinya tanpa suara. Ia hanya melirik singkat nan datar raja yang ada di hadapannya. Tak ada setitik emosi pun yang terlihat di wajahnya. Ia tetap tenang meski sang lawan tadi sempat mencoba menyulut emosi dalam dirinya.
~•••••~
Ying Hua terbangun di tengah malam. Gadis itu mendudukkan diri di dipan tempatnya berbaring beberapa saat yang lalu. Kedua mata gadis itu menelisik ruangan tersebut sebentar, sebelum akhirnya mulai beranjak dari sana. Ia berjalan kearah pintu. Mendekatkan telingannya dan menajamkan pendengaran. Dan saat dirasa aman, ia segera menyaut pedang miliknya yang ia sandarkan di samping dipan, kemudian keluar ruangan dengan wajah yang tertutup kain cadar miliknya.
Kediaman tersebut tampak begitu sepi. Dan itu kesempatan yang sangat baik untuknya melakukan aksi. Ia telah merubah rencana yang di susunnya tadi dan melakukan rencana lain. Ia tak punya banyak waktu lagi saat ini. Ia harus segera menyelesaikan dan pulang kembali ketempat tinggalnya.
Mendorong pintu ganda itu dengan begitu pelan, Ying Hua masuk dan segera memulai aksinya. Setelah ia keluar dari ruangan pribadi sang pemilik rumah, dirinya mulai menjelajah hingga ia menemukan apa yang ia cari.
Ia mengeluarkan sebuah kantong berwarna hitam berukuran sedang. Kemudian dengan segera membuka beberapa peti dan laci yang ada di ruangan tersebut. Memasukkan benda bulat kecil berwarna emas dan perak kedalam kain yang di bawanya. Ia melakukannya dengan cepat. Tak memperdulikan bunyi gesekan koin tersebut yang terdengar cukup nyaring.
"Hei, kau siapa?!"
Tubuh Ying Hua sedikit menegang saat ada suara yang terdengar dari belakangnya. Ia mengambil lebih banyak dan segera memanggul kain hitam di tangannya yang sudah penuh dengan koin-koin tersebut. Kemudian tanpa banyak tingkah ia melompat pada jendela yang tertutup rapat. Menendang benda itu hingga terbuka dan membuatnya berhasil keluar ruangan. Gadis itu berlari pergi dengan memanggul hasil curiannya.
"Pencuri.. Pencuri!!" orang yang memergoki Ying Hua tadi berteriak saat sadar jika orang berpakaian merah muda dan bercadar itu telah mengambil koin pajak dari tempat penyimpanan.
Kediaman pejabat tersebut akhirnya menjadi ramai dan ricuh. Ying Hua memutar kedua bola matanya malas. Kenapa pula ia harus ketahuan. Namun kemudian ia menyeringai di balik cadarnya. Ia akan bersenang-senang sedikit guna melampiaskan kekesalannya pada pejabat tamak tersebut.
Langkah kakinya berhenti tepat saat Song dan beberapa anak buahnya menghadang pintu utama kediaman tersebut. Ia bisa melihat betapa tajamnya tatapan pria tersebut yang di tujukan kepadanya.
"Beraninya kau melakukan ini terhadap tuanmu?!"
Ying Hua tersenyum miring di balik cadarnya. Ah, sepertinya Song sudah bisa menebak dirinya siapa. Oh, ia lupa, pakaian yang dipakainya adalah penanda dirinya di kenali.
"Sejak kapan aku memiliki tuan?" tanya Ying Hua dengan enteng. Onyx tajam matanya menatap mengejek pada pria di hadapannya.
"k*****t, dasar belatung busuk!!" Song mengumpat, "Habisi dia!!" perintahnya pada anak buahnya.
Ying Hua segera mengambil ancang-ancang saat para anak buah Song menyerang dirinya. Gadis berhelaian legam tersebut tampak sedikit kesulitan menghadapi para musuh yang tak seimbang tersebut karena pakaian dan beban yang di bawanya. Walau begitu, ia masih bisa menghindari semua serangan.
'Aku harus segera keluar dari sini.' pikirnya di tengah-tengah posisi bertahan. Keadaan tak memungkinkan dirinya untuk menyerang.
Jelaga kelam miliknya menelisik sekitar sembari dirinya yang terus menghindar dari semua serangan. Hingga sepasang mata indah itu menemukan seekor kuda coklat berada di samping pohon mangga yang terletak tak jauh darinya.
Dengan sigap, ia mencoba menggiring para musuh yang menyerangnya mendekati kuda tersebut. Dan saat dirasa sudah sangat dekat, ia memulai aksinya. Dirinya yang mulanya hanya menghindari kini berusaha menyerang balik. Dan tanpa banyak waktu ia bisa membuat para musuh jatuh tersungkur. Kemudian ia segera melompat ke atas kuda setelah sebelumnya memotong tali yang mengikat kuda tersebut di pohon.
"Cepat, kejar dia!!" Song yang melihat Ying Hua berhasil melarikan diri semakin geram. Pria itu ikut berlari, menghampiri kuda miliknya dan segera mengejar gadis tersebut bersama beberapa anak buahnya.
~•••••~
Pangeran Hong Hui merenung menatap rembulan di balik jendela kayu berukir di kamarnya. Pangeran kecil itu memandang datar dan tenang. Sedatar dan setenang mimik wajah sang ayah. Kedua tangannya bertaut di belakang. Untuk sesaat, ia benar-benar mirip sang ayah.
Suara pintu terbuka dan langkah kaki mendekat tak membuat sang pangeran untuk beranjak atau menoleh ke arah tersebut. Ia mengabaikan, membiarkan orang tersebut terus melangkah dan mendekatinya.
"Kau belum tidur, pangeran?" suara itu mengalun indah. Terdengar begitu lembut dan anggun, "Ini sudah larut malam, sebaiknya kau segera tidur." orang tersebut mendudukkan diri di kursi meja belajar sang pangeran.
"Untuk apa anda kemari, permaisuri?" suara kecil berintonasi datar itu akhirnya keluar dari mulut Hong Hui. Meski begitu, ia tak mengalihkan tatapannya dari sang rembulan yang mengintip malu-malu di balik awan.
"Menemui putraku, memastikan apakah sudah terlelap atau masih terjaga." sahut sang permaisuri tenang.
Hong Hui berbalik, menatap langsung seseorang yang duduk dan membolak-balikkan sebuah buku yang ada di atas mejanya, "Anda tak perlu melakukan itu. Saya tidak butuh."
Gerakan tangan permaisuri terhenti. Mata indah miliknya menatap jelaga hazel milik sang pangeran, "Aku hanya mencoba menjadi ibu pengganti yang baik." ujarnya kali ini datar.
Hong Hui tak langsung menjawab, ia berbalik dan berjalan menuju peraduan miliknya, "Berhentilah berpura-pura. Itu membuat saya semakin membenci anda." ucapnya sebelum berbaring dan membiarkan sang permaisuri menatap dirinya tajam di belakang.
~•••••~
Ying Hua terus memacu kudanya. Tak menghiraukan langit yang perlahan terang. Pagi telah menyambut, namun tak sedikitpun para musuh berhenti mengikutinya.
Derapan langkah kuda yang di tungganginya membelah kerumunan penduduk yang berlalu lalang di di depannya. Membuat para penduduk tersebut segera menyingkir dan mengumpat padanya. Namun ia tak peduli. Yang di lakukannya sekarang adalah pergi jauh-jauh dari pemukiman agar bila ada serangan mendadak tak melibatkan korban tak bersalah.
Ia menggiring kuda itu menuju hutan. Memasuki hutan lebat tersebut tanpa melambatkan langkah cepat kudanya. Ia menyempatkan diri menengok kebelakang, dan dengan segera menunduk saat melihat sebuah anak panah melesat dengan cepat kearahnya.
"Sial." desisnya saat melihat rombongan Song semakin dekat dengannya. Kakinya menghentak, mencoba membuat laju kuda bertambah semakin cepat dari sebelumnya. Ia tak memperdulikan ranting-ranting pohon yang menggores tubuhnya. Yang terpenting sekarang adalah mencari tempat yang aman untuk bertarung.
'set'
Anak panah kembali melesat kearah Ying Hua dan menancap tepat di pohon sebelah gadis itu melaju. Ia kembali berhasil menghindari, hingga akhirnya satu panah berhasil mengenai p****t kuda yang di tungganginya. Membuatnya terjatuh dan berguling-guling di tanah. Dan ia berhenti tepat di sebuah kaki berbalutkan sepatu berwarna putih serta sedikit tertutupi jubah hitam bersulam daun dan elang dari benang emas. Sebuah lambang yang sangat ia kenali. Perlahan ia mendongak, dan tatapannya pun langsung terpaku pada sepasang Hazel yang juga tengah menatapnya datar nan tenang.