Song terdiam. Jelaga tajamnya meneliti gadis cantik dengan senyum manis di hadapannya. Ia akui, gadis di hadapannya lebih cantik dan menarik ketimbang gadis yang di beli nya di penginapan tadi. Bahkan aura yang keluar dari gadis berpakaian merah muda itu begitu kuat dan memikat.
"Lepaskan dia, dan bawa aku menemui tuan besarmu." Ying Hua mengulang ucapannya. Ia semakin menarik kedua sudut bibirnya. Memberi senyuman terbaik guna menyakinkan pria setengah tua di hadapannya.
"Apa yang kau inginkan? Kenapa kau menawarkan dirimu sendiri pada tuanku?" tanya Song curiga, ia merasa aneh dengan gadis dihadapannya. Ia sempat berfikir jika gadis itu adalah wanita penghibur, namun jika di lihat-lihat dari cara berpakaian dan bicaranya ia menjadi ragu.
Ying Hua mempertahankan senyumannya. Ah, sudah dia duga jika pertanyaan itu akan meluncur keluar dari mulut pria tersebut, "Aku tak sengaja melihat anda membeli gadis itu di penginapan yang ada di ujung jalan tadi. Dan aku mendengar semua percakapan kalian." ia menjeda sejenak, mengalihkan netra hitamnya pada langit biru yang cerah, "Kau berkata jika tuanmu akan membuat gadis itu bahagia dan memiliki segalanya, hanya dengan melayani dan memuaskan tuanmu. Tanpa harus bekerja keras. Dan aku menjadi tertarik karena itu."
"Hidupku sangat sulit tuan, berbagai pekerjaan telah aku lakukan. Menanam padi, mencari kayu bakar, menjual sayuran, bahkan aku pernah menjadi pelayan para saudagar yang kikir. Namun itu semua tak mencukupi semua kebutuhanku. Kakekku sakit-sakitan, dan keluarga kami terlilit hutang yang besar. Aku tak tahu harus bagaimana lagi mencari uang." wajah Ying Hua berubah sendu, sangat sendu hingga membuat beberapa anak buah Song menjadi simpati.
"Ketika aku mendengar jika tuan kalian bisa menjamin sebuah kebahagiaan dan kesejahteraan tanpa harus banting tulang, aku menjadi tertarik." kini senyum manisnya kembali terulas, "Ijinkan aku menggantikan gadis itu. Aku janji akan membuat tuanmu puas dengan segala pelayananku." tambahnya kemudian.
Song tampak berfikir, sinar curiga masih ada di kedua matanya. Ia tak segera menjawab atau mengiyakan keinginan gadis di hadapannya.
"Kak, biarkan ini menjadi lebih mudah. Di depanmu ada gadis cantik yang menawarkan dirinya dengan suka rela. Tak seperti gadis ini. Dia sangat menyusahkan. Akan sangat merepotkan jika tuan besar marah karena sikap membangkang gadis ini. Lagipula gadis di hadapanmu lebih cantik dan menarik ketimbang gadis ini." salah satu anak buah Song bersuara, pria yang kini tengah mencoba meredakan berontakan dari hari yang di cekalnya.
Song menoleh kearah anak buahnya tersebut. Kemudian menatap gadis berambut coklat gelap yang tengah menangis dan meraung minta di lepaskan. Setelah itu kembali menatap gadis bermata hitam di hadapannya, "Ahh.. Baiklah-baiklah. Lepaskan dia, dan bawa dia bersama kita." putusnya, ia menunjuk Ning She kemudian Ying Hua.
Ying Hua tersenyum, sebuah senyum yang mengandung arti, "Terima kasih." ucapnya pada Song. Kemudian ia berjalan mendekat kearah Ning She, "Maaf karena telah merebut posisimu." utarnya sembari memeluk gadis tersebut, "Larilah, pergilah sejauh mungkin. Dan jangan sampai mereka kembali menemukanmu!" bisiknya kemudian membuat Ning She membelalakkan kedua matanya.
"Ayo cepat, kita sudah sangat terlambat!" Suara Song kembali terdengar. Pria itu kemudian berjalan lebih dahulu.
Ying Hua segera melepaskan pelukannya dan menatap Ning She dengan senyum manis di bibirnya. Tak lupa pula ia mengangguk samar saat melihat Ning She berucap terima kasih tanpa suara. Dan setelah itu Ning She berlari menjauh dari mereka.
"Hei ayo cepat!"
"Ah, iya."
~•••••~
Huo Ying berjalan mendekat kearah Zhuo Zu yang duduk sembari memeriksa dokumen yang di terimanya dari para petinggi istana. Pria itu memberi salam, kemudian berjalan lebih dekat kepada sang raja dan berdiri tepat di depan rajanya.
"Yang Mulia.."
"Aku menolak pergi ke Hutan perbatasan Huo Ying." Zhuo Zu menyela ucapan Huo Ying.
Huo Ying mengambil nafas pelan dan dalam. Ia sudah mengetahui jawaban itu akan terlontar sebelum ia bertanya.
"Yang mulia, anda tidak.."
"Aku tidak akan pergi!" tatapan Zhuo Zu tak beralih pada dokumen yang sedang di bacanya.
"Anda tidak bisa seperti ini terus."
Tak ada jawaban dari Zhuo Zu. Dan Huo Ying kembali bersuara.
"Semua raja dan pangeran dari kerajaan tetangga akan datang. Dan jika anda hanya memerintahkan Chen dan Eng Li saja sebagai perwakilan dari kerajaan ini, pandangan mereka terhadap anda akan semakin buruk."
"Aku tidak peduli."
"Tapi semua orang peduli, yang mulia." Huo Ying mencoba menyakinkan, dalam hati ia sudah bertekad untuk membawa sang raja kembali tampil ke permukaan setelah tenggelam lama di dalam kerajaan, "Terlebih para rakyat anda, anda tidak inginkan mereka kecewa terhadap anda."
"Untuk kali ini saja, hamba mohon yang mulia bersedia untuk kembali bangkit dari semua keterpurukan ini." tambah Huo Ying.
Jelaga hazel Zhuo Zu bergulir menatap Huo Ying. Raja satu anak itu menatap tak minat Huo Ying yang kini membungkuk memohon kepadanya.
Tak mendapat respon berarti dari sang junjungan, Huo Ying segera menjatuhkan dirinya di atas lantai beralaskan permadani merah tersebut. Ia bersujud pada sang raja agar mau menuruti permintaannya.
"Demi nama Kerajaan Anming, hamba mohon dengan sangat, Yang Mulia."
Zhuo Zu mengambil nafas pelan dan dalam. Ia menatap sang abdi yang masih bersujud memohon padanya.
"Baiklah." putus nya membuat Huo Ying merasa bebannya terangkat begitu saja.
"Terima kasih yang mulia, terima kasih."
~•••••~
Ying Hua tersenyum semanis mungkin pada pria paruh baya dengan wajah yang menurutnya sangat mengerikan. Pria seusia dengan paman padepokan tempatnya tinggal itu memiliki wajah yang membuat gadis mana saja pasti akan memilih mati daripada harus melayani nya. Termasuk dirinya, ingin rasanya ia mengubur dirinya sendiri dalam tanah yang sangat dalam. Ah, andai saja ia tahu target dari tugas yang di berikan oleh paman padepokan seperti ini, ia akan lebih memilih segera menggorok leher sang target tanpa basa-basi dan tidak memainkan drama seperti ini.
"Inikah gadis yang kau maksud Song?" pria itu bersuara dan Ying Hua mati-matian mempertahankan senyumannya, "Cantik. Sangat cantik."
Song yang berdiri di samping Ying Hua membungkuk sekilas, "Benar tuan."
Chong tersenyum, ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan menatap gadis cantik di hadapannya dari atas sampai bawah, "Bagus." pujinya membuat Song ikut tertular senyumannya.
"Siapkan kamar untuk nona ini!" perintah Chong pada pelayan yang ada di rumahnya.
"Kalau begitu saya undur diri tuan." pamit Song saat ia merasa tak ada lagi yang harus ia lakukan.
Chong mengangguk, "Ya, pergilah." tatapan mata Chong beralih pada gadis yang di bawa Song, "Ah, siapa namamu?"
"Namaku," Ying Hua menjeda sejenak, ia berjalan mendekat kearah Chong yang tengah duduk, gadis itu bersimpuh di dekat Chong dan memijat lengan pria itu pelan, "Harura." lanjutnya dengan senyuman yang sama.
Chong tampak senang mendapat perlakuan Ying Hua, "Nama yang indah seperti orangnya." pujinya membuat Ying Hua memasang wajah tersipu sebaik mungkin.
"Tuan bisa saja." elak Ying Hua dengan nada manja.
Chong semakin merapatkan dirinya pada Ying Hua, pria paruh baya itu merangkul gadis yang di ketahui bernama Harura itu dengan erat, membuat Ying Hua tak nyaman dan ingin sekali menendang wajah pria tersebut.
"Tuan," Ying Hua sedikit menjauh saat Chong hendak menciumnya, hal itu membuat pria tersebut mengerutkan keningnya tak terima, "Maaf, tapi," mata Ying Hua menghindar dari tatapan Chong dan menatap keseliling ruang pria tersebut, "Nanti ada yang tahu." bisiknya mencoba menyakinkan.
Kerutan kening Chong hilang saat mendengar alasan gadis di pelukannya, pria itu tertawa hingga membuat Ying Hua ingin muntah saat mencium bau nafas pria itu, "Tenang saja. Tidak akan ada yang berani masuk ke sini tanpa ijin dariku."
Ying Hua menggeleng manja, "Tapi tuan, saya tidak nyaman jika melakukannya disini." Ying Hua mengalihkan wajahnya sejenak dan mengambil nafas karena sejak tadi ia menahannya, "Saya ingin melakukannya lebih romantis di kamar." alasannya.
Chong kembali terdiam, ia menatap lekat wajah ayu gadis di pelukannya yang kini memasang wajah manja dan merajuk. Membuatnya tak bisa menolak keinginan gadis itu dan membuat miliknya ingin segera di lepaskan untuk memuaskan gadis tersebut, "Baiklah, kita akan melakukannya di kamarku." ucapnya sembari meraba punggung Ying Hua.
Ying Hua tersenyum semanis mungkin, meskipun dalam hati ia merutuk, ingin sekali ia mematahkan lengan keriput milik pria yang memeluknya.
"Tunggu, apa ini."
Tubuh Ying Hua menegang saat ia merasa jika Chong menyentuh pedang miliknya yang di sembunyikan nya, ia sedikit bergerak gelisah saat pria itu hendak mengambil benda tersebut. Akan tetapi beruntung, seseorang datang dan menghentikan keinginan Chong.
"Tuan, utusan menteri Bi Fang sudah datang."
Chong melepaskan pelukannya dan berdiri, menatap anak buahnya yang melapor, "Aku akan menemuinya." kemudian ia menoleh pada Ying Hua, "Tunggulah disini sebentar Harura." pintanya lembut.
"Baik tuan." jawab Ying Hua dengan senyuman manis.
Pintu ruangan tertutup rapat setelah punggung Chong melewati pintu ganda tersebut. Dengan segera Ying Hua berdiri, wajah manjanya yang ia pasang kini telah berganti dengan keseriusan.
"Aku harus mencari barang bukti." gumamnya sembari mulai menggeledah ruangan tersebut.
~•••••~
Mei Lan berjalan mondar-mandir di teras rumahnya. Kedua mata coklatnya menatap gerbang padepokan. Berharap seseorang yang di tunggu nya segera menampakkan diri di balik pagar kayu tersebut.
"Mei Lan, berhentilah gelisah. Adik tidak akan apa-apa."
Kedua mata Mei Lan bergulir menatap sejenak seseorang yang baru saja berbicara, kemudian ia kembali memfokuskan pandangannya pada gerbang padepokan, "Ini sudah hampir tengah malam, dan adik belum juga kembali. Tentu saja aku khawatir kakak senior."
Mata coklat milik Guo Zhi melembut mendengar penuturan Mei Lan, pemuda itu berjalan mendekat, meraih kedua bahu anak dari pemilik padepokan tersebut dan mengarahkannya agar menatap dirinya. Sebuah senyum lembut ia ulas, "Ying Hua adalah gadis yang cerdas, ia pasti akan melakukan misinya dengan sangat baik." tuturnya selembut mungkin.
Kedua netra Mei Lan terpaku pada netra teduh milik Guo Zhi, "Tapi ini tak seperti biasanya, kakak. Adik tak pernah menyelesaikan misinya lebih lama dari ini."
"Mungkin ada sesuatu yang membuatnya menunda melakukan misi dengan cepat, Mei Lan."
"Ayah memberinya misi yang terlalu rumit."
Guo Zhi menggeleng, "Paman memberi misi pada anak didiknya sesuai kemampuan yang di miliki oleh anak didiknya, Mei Lan. Aku yakin, Ying Hua pasti bisa menyelesaikan misi ini." tangan Guo Zhi terangkat menangkup wajah Mei Lan penuh perhatian, "Lagi pula, Xi Feng dan yang lainnya juga ikut, mereka akan membantu adik di saat yang tidak di inginkan terjadi."
Mei Lan terdiam, rasa gelisah dan khawatir masih hinggap di hatinya. Ia tak meremehkan kemampuan Ying Hua, namun tetap saja, perempuan berambut hitam bak arang yang sudah di anggap nya adik itu membuatnya khawatir. Tandingan Ying Hua kali ini sangat beresiko untuk keselamatan gadis bermata gelap itu.
"Berdoa saja pada Dewa, semoga adik bisa menyelesaikan misinya dengan baik." tutur Guo Zhi yang langsung mendapat anggukan samar dari Mei Lan.