'Tring'
'Trang'
'Sring'
"Apa yang membuat pangeran kecil menjadi sesemangat itu?"
Huo Ying yang tengah mengawasi Hong Hui latihan pedang sedikit mengernyitkan dahinya. Ia merasa sedikit heran. Dengan keteguhan dan keseriusan sang pangeran kecil yang tiba-tiba. Hong Hui yang biasanya ogah-ogahan belajar ilmu peperangan kini menjadi semangat. Bahkan wajah datar yang di turunkan oleh sang ayah pun tampak menunjukkan keseriusan.
Panglima Chen mengulas senyum tipis sebelum menjawab, "Saya sendiri tidak tahu, tuan. Tapi saat pangeran datang tadi, dia berkata pada saya bahwa ia ingin belajar semua senjata."
Hong Hui menghela nafas, kemudian sudut-sudut bibirnya sedikit terangkat, ikut tersenyum dengan perubahan sang pangeran kecil, "Ini berita baik, setidaknya pangeran bisa mulai menjaga dirinya sendiri. Kita tidak boleh lengah panglima."
"Saya mengerti tuan.",
'Lain kali, jika kau bisa memakai pedang. Lawanlah lawanmu dengan keahlianmu itu. Musuhmu semakin banyak dan berkeliaran di luaran sana. Jangan kau hanya mengandalkan para pengawalmu. Karena sesungguhnya, yang bisa menjaga dirimu adalah dirimu sendiri'
Hong Hui menangkis dengan kuat serangan dari prajurit yang di tugaskan untuk melawan dirinya. Nafas pangeran kecil itu terengah. Peluh pun membasahi sebagian tubuhnya. Raut wajahnya menampakkan keseriusan yang jarang ia tampilkan. Dan ucapan-ucapan dari sang penyelamat nya terus membayangi benaknya, membuatnya merasa tertantang untuk melakukan apa yang di ucapkan oleh sang penyelamat.
Hong Hui mundur dua langkah, tangannya yang memegang pedang berukuran sedang mengerat pada ganggang pedang tersebut. Kemudian ia berputar, menghindar dari sabetan pedang sang prajurit. Dan sebuah tendangan ia layangkan pada lutut dalam prajurit itu dengan keras, membuat sang prajurit yang tidak siap dengan serangan itu terjatuh di tanah. Dan dengan segera pula Hong Hui tak menyia-nyiakan celah tersebut. Ia ikut membanting dirinya dan mengarahkan sikunya pada punggung sang prajurit.
"Cukup!!" Panglima Chen berteriak saat melihat bagaimana gerakan sang pangeran yang melumpuhkan lawan. Ia berjalan, menghampiri Hong Hui dan membantu bocah itu untuk berdiri, "Sudah cukup untuk hari ini pangeran, anda bisa istirahat sekarang."
Raut datar Hong Hui telah kembali, ia mengangguk tanpa kata. Setelah itu berlalu meninggalkan arena latihan. Tak lupa pula ia mengangguk pada tangan kanan ayahnya yang kebetulan juga ada di sana.
Huo Ying menatap punggung pangeran kecil yang berjalan tenang meninggalkan area latihan. Ia menghela nafas kecil, kemudian mengangkat sudut bibirnya tipis. Mengulas senyum, senyum tulus namun sendu. Rasa sesak saat melihat bocah berumur 9 tahun itu selalu membayangi nya kala menatap mutiara hitam yang terdapat kekosongan disana.
"Bagaimana pun juga, kita harus menjaga pangeran, tuan. Kondisi yang mulia saat ini sangat membahayakan keadaan pangeran. Hanya dia penerus yang kita punya sekarang."
Huo Ying menoleh pada Chen, ia mengangguk mengiyakan, "Ya, aku mengerti panglima. Bukan hanya yang mulia saja yang rapuh, pangeran pun sama." ucapnya dengan tatapan yang menerawang ke langit biru yang tampak cerah.
~•••••~
"Wuahhhh..." mulut Ying Hua menganga lebar. Wajahnya tampak sumringah kala melihat semua makanan yang tersaji di hadapannya. Gadis itu mengusap kedua tangan, kemudian mengambil potongan daging yang ada di hadapannya. Namun sebelum tangan mungilnya menyentuh makanan tersebut, ada sebuah tangan yang memukul tangannya.
"Tunggu yang lainnya, Ying Hua."
Ying Hua mendengkus, ia menatap sinis sang pelaku. Dengan gerakan kasar ia mengusap tangannya yang terasa sakit karena pukulan seseorang yang ada di sampingnya.
Xi Feng yang duduk di hadapan Ying Hua terkikik. Ia menertawakan apa yang di alami oleh kakak seperguruannya itu. Membuat Ying Hua semakin jengkel. Dan gadis itu berdesis seraya mengulurkan tangannya berniat memukul kepala Xi Feng.
"Jangan membuat kekacauan Ying Hua."
Ying Hua kembali mendengkus. Lagi-lagi orang yang ada di sampingnya menegur dirinya. Ah, ini membuatnya jengkel.
"Berhenti memasang muka yang tak sedap di pandang."
"Kenapa kau selalu mengomel padaku, kakak senior." Ying Hua akhirnya angkat bicara, ia menyandarkan dirinya pada dinding yang ada di belakangnya, menekuk sebelah kakinya dan menaruh tangan di atas lutut, memasang duduk andalannya, "Itu menyebalkan."
Guo Zhi mendesah lelah. Ia manatap adik seperguruannya dengan tatapan malas. Wajah datar rupawannya tampak tak terpengaruh dengan raut muka Ying Hua, "Kau yang membuatku mengomel."
"Memangnya apa salahku?" sergah Ying Hua tak terima, gadis itu tak sadar diri dengan kesalahannya, "Aku hanya melakukan apa yang ingin aku lakukan."
Guo Zhi kembali menghela nafas, watak keras kepala Ying Hua terkadang membuatnya jengkel juga, "Hm."
Ying Hua kembali melirik kakak seniornya. Kemudian ia mendengkus lagi. Dan kali ini ia mendecih saat seseorang datang dan duduk disamping Xi Feng, berhadapan dengan Gu Zhi.
"Ada apa denganmu, adik?" Mei Lan yang baru duduk bertanya pada Ying Hua yang memasang raut sebal, "Ada sesuatu yang terjadi?"
Ying Hua membuang muka, "Tanyakan saja padanya." ia menunjuk Guo Zhi dengan kepalanya.
"Ada apa kakak?" Mei Lan bertanya pada Guo Zhi.
Guo Zhi mengangkat bahunya acuh, "Hanya sedikit memberi nasehat."
Mei Lan menghela nafas, ia menggelengkan kepalanya maklum. Kedua orang yang saling duduk bersampingan itu memang sering berdepat karena hal sepele, "Sudah-sudah, sebaiknya kita mulai makan. Selagi masih hangat." ujarnya memutus keheningan yang sempat terjadi. Dan akhirnya mereka makan dengan hikmat.
~•••••~
"Musim berburu akan segera tiba. Apakah nanti yang mulia akan berburu?" Eng Li angkat suara. Pria yang menjabat sebagai Jenderal kepercayaan penguasa Anming itu tengah melamun memikirkan apa yang ada di pikirannya.
Panglima Chen mengangkat sebelah alis rapinya tinggi-tinggi saat mendengar celetukan dari Jenderal Eng Li. Namun tak lama sudut-sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyum kecil dan terlihat tulus, "Entahlah, kurasa akan sama seperti tahun-tahun sebelumnya." jawabnya kemudian.
Eng Li yang tengah berbaring di rumput dan di bawah pohon segera bangun, kedua matanya menatap Chen yang tengah membaca sebuah perkamen yang tak di ketahui apa isinya itu, "Tidak seru jika yang mulia hanya menugaskan kita untuk menghadiri acara itu."
"Kau benar." Chen membalas tatapan Eng Li padanya sejenak, sebelum kembali mengalihkan atensinya menatap perkamen yang di terimanya dari Huo Ying tadi, "Tapi mau bagaimana lagi, kau paham dengan keadaan yang mulia saat ini kan?"
Eng Li mengangguk tanpa suara, ia kembali merebahkan tubuhnya di atas rumput. Tatapannya pun juga kembali menerawang menatap birunya langit yang cerah, "Akan sampai kapan yang mulia seperti itu?" gumamnya dengan nada getir.
"Hanya Dewa yang tahu, apapun yang terjadi, kita harus tetap berada di sisi yang mulia. Keadaan yang mulia yang seperti ini adalah sasaran yang sangat empuk untuk para penghianat yang haus akan kekuasaan." kata Chen.
"Hm."
Keadaan menghening, Chen tak lagi bersuara setelah mendengar gumaman dari Eng Li. Pria itu sibuk membaca, sedikit mengabaikan sang kawan yang masih bergelut dengan pikirannya.
"Aha!!"
Chen sedikit terlonjak ketika Eng Li tiba-tiba bangun dan berteriak. Ia melempar tatapan tajam pada Jenderal tersebut seraya mengelus dadanya. Jika ia tidak memiliki jantung yang sehat bisa dipastikan ia akan mati detik itu juga karena teriakan dari sang jenderal.
"Aku punya ide." Eng Li mengabaikan tatapan tajam Chen, ia beringsut mendekat kearah Chen, "Kita paksa saja yang mulia, kalau perlu sedikit memberinya ancaman. Semacam kita yang mengundurkan diri dari jabatan kita atau kita mengancamnya pergi dari yang mulia."
Panglima Chen menatap malas Eng Li yang antusias menjelaskan idenya. Ia menghela nafas dalam, merutuk dalam hati terhadap kepolosan yang dimiliki oleh sang jenderal, "Eng Li berapa lama kau mengenal yang mulia?" tanya Chen malas.
"Hampir separuh hidupku."
"Apa kau tahu apa yang akan dilakukan yang mulia jika kita melakukan itu?"
Eng Li terdiam, wajahnya terlihat sedang berfikir. Dan itu sukses membuat Chen kembali mengambil nafas dalam, meredakan emosinya.
"Kau sudah bosan hidup, Eng Li?" tanya Chen kemudian.
Eng Li menggelengkan kepalanya cepat, ia baru saja paham dengan ucapan Chen, "Tidak, tidak. Aku tidak mau mati."
"Kalau begitu jangan bertindak hal yang konyol dan membahayakan nyawamu, bodoh!" olok Chen pada Eng Li.
Eng Li mengejapkan matanya. Kemudian mengangguk lugu pada Chen. Dan itu membuat sang panglima kembali menghela nafas. Ah, berada di samping Jenderal Eng Li memang membutuhkan kesabaran yang tinggi.
~•••••~
Ying Hua berjalan pelan menyusuri pasar desa yang tengah di kunjunginya. Ia yang kini tengah memakai baju wanita dengan tudung kepala yang di tutupi oleh kain tipis sewarna dengan bajunya itu menatap sekitar secara seksama. Kedua mata hitamnya sedikit di pertajam karena penglihatannya yang sedikit terhalang oleh kain berwarna merah muda itu.
Ia menghela nafas, sebelah tangannya yang memegang pedang kesayangan mengerat. Sedari tadi ia sudah berkeliling, namun tetap saja, ia tak mendapati targetnya kali ini.
"Tentu saja, akan aku pastikan jika tuan besar menyukai wanita ini, hahahahaha .."
Langkah kaki Ying Hua terhenti ketika indra pendegarannya mendengar sesuatu yang ganjil dari dalam sebuah penginapan. Sebelah alisnya terangkat, ketika tawa laknat dari seseorang yang berada di dalam penginapan itu membahana. Lalu, tanpa kata lagi ia melangkahkan kakinya mendekati penginapan itu, mengintip kedalam dari celah jendela yang terbuka.
"Anda benar, pejabat Chong pasti sangat puas dengan wanita ini tuan."
Bisa di lihat oleh Ying Hua, terdapat sekitar 17 orang yang ada di dalam. Dan diantara 17 orang itu, ada seorang wanita dengan paras cantik di tengah-tengah yang sedang menangis. Bisa di tebaknya jika wanita itu adalah korban dari jual beli wanita.
"Berhenti menangis manis, kau tenang saja, hidupmu akan sangat bahagia bersama pejabat Chong. Kau akan mendapatkan segalanya. Asal kau bisa membuatnya senang dan puas dengan pelayananmu."
"Lepaskan aku." lirih wanita itu. Raut wajahnya terlihat begitu memohon.
"Melepaskanmu? Oh, tidak-tidak. Tuan besar sudah membelimu dengan harga yang sangat mahal." pria dengan wajah yang tertutup sebelah itu menggoyangkan jari telunjuknya ke kiri dan ke kanan.
"Sebaiknya anda segera membawa Ning She ke tuan Zhong, tuan Song." ucap orang yang di yakini Ying Hua adalah pemilik penginapan sekaligus tuan besar yang menjual para wanita.
"Kau benar. Kalian, ayo bawa nona ini!" perintah Song pada dua anak buah yang berada di belakang Ning She, "Kalau begitu, saya permisi dulu. Senang berbisnis dengan anda. Ahahahaha .." ia tertawa, kemudian berdiri dari duduknya dan melangkah keluar.
"Tidak. Lepaskan aku!! Aku tidak mau ikut kalian!!" Ning She berteriak, ia mencoba melepaskan cekalan tangan dari anak buah orang yang di suruh membelinya. Air matanya kian tumpah saat tak ada satupun orang yang ada di penginapan itu menolongnya. Ia semakin histeris, dan Song hanya tertawa melihatnya.
Ying Hua menghela nafas, sebelum akhirnya ia tersenyum kecil. Ia lalu beranjak, meninggalkan penginapan itu dan berjalan mengikuti segerombolan orang yang baru saja keluar. Tak lupa pula ia menyembunyikan pedang miliknya di balik punggung dan tertutup oleh jubah yang sewarna dengan bajunya.
Ning She terus menangis dan berteriak. Meminta tolong pada orang-orang yang ada di sekitar mereka. Namun sayang, tak ada satupun dari penduduk itu yang ingin menolongnya. Mereka terkesan enggan, bukan karena tak kasihan. Tapi karena mereka tahu siapa yang telah menyeret gadis itu. Dan mereka tak ingin mendapat masalah karena ikut campur dalam urusan mereka.
"Tunggu!"
Langah kaki Song terhenti, yang membuat para anak buahnya pun ikut berhenti. Pria dengan mata seram itu kemudian berbalik, hendak menghardik orang yang berani menghentikan langkahnya. Kini bisa di tangkap oleh retina kedua matanya seseorang dengan tudung kepala tertutup berdiri di belakang rombongannya. Orang yang di yakininya seorang perempuan karena melihat dari pakaian yang di kenakan oleh orang tersebut.
"Siapa kau? Berani sekali mencampuri urusanku!!" gertak Song. Suara kerasnya membuat beberapa warga yang melihat mundur teratur menjauh dari sana.
Ying Hua terdiam sejenak, sebelum kemudian ia berjalan mendekat kearah Song. Tatapan matanya mengarah pada Ning She yang masih menangis ketakutan, "Lepaskan gadis itu." tuturnya tenang dan tak merasa takut sekalipun.
Tawa Song membahana, "Apa melepaskannya? Berani sekali kau memerintahku?!" bentaknya setelah tawanya reda.
Ying Hua tak menghiraukan gertakan dan bentakan itu, ia tetap berjalan, menghampiri Song dan berdiri tepat di depan pria itu, "Lepaskan dia, sebagai gantinya, kau bawa aku ke hadapan tuan besarmu." ucapnya kalem sembari melepaskan tudung kepalanya, membuat semua orang melihat kecantikannya secara langsung. Dan membungkam mulut Song.