"Dua puluh tiga." kata Ying Hua lantang. Sebelah kakinya bergerak menginjak punggung musuh yang baru saja ia lumpuhkan. Dalam beberapa menit, gadis berusia 20 tahun itu sudah melumpuhkan 23 orang.
Sang pemimpin terlihat semakin marah. Kemenangan yang ia dapatkan sebentar lagi menjadi sirna karena kedatangan orang asing yang terlihat bodoh itu. Bahkan orang itu bertingkah layaknya bocah kecil, dan itu membuatnya semakin naik pitam.
"Jangan menyerah, hancurkan keduanya!!" teriaknya pada prajurit yang tersisa.
Ying Hua mendengkus, hari kini sudah berganti menjadi gelap. Pasti paman pemimpin padepokan akan menghukumnya karena pulang terlambat. Sialan, ia harus menyelesaikan pertarungan ini.
Kedua mata Ying Hua menatap bergantian prajurit yang berlari kearahnya secara serentak. Dia menghitung, ada sekitar 14 lagi lawannya. Baiklah, itu perkara yang sedikit mudah. Ia akan menyelesaikannya dengan cepat dan tanggap.
Ying Hua melompat keatas saat para prajurit itu mengayunkan pedang mereka dengan serentak. Ia memutar tubuhnya, melancarkan lima tendangan pada lima orang prajurit. Membuat prajurit itu terjerembab di atas tanah. Gadis itu terkekeh puas setelah kedua kakinya kembali menginjak tanah, "Dua puluh delapan!!" ucapnya dengan nada yang mengejek, tak lupa pula sebuah seringai terbit di bibirnya.
Geraman kemarahan sang pemimpin itu kembali terdengar. Kemurkaannya menjadi saat melihat bagaimana prajuritnya satu persatu tumbang tanpa perlawanan berarti dari orang berbaju abu-abu itu. Bahkan orang itu sama sekali tak mengangkat dan mengeluarkan pedang yang di pegang nya. Dan mengalahkan prajuritnya hanya dengan tangan kosong. Ia merasa di permainkan. Siapa sebenarnya orang itu?
Bocah yang berdiri di belakang Ying Hua cukup terperangah dengan aksi orang berpakaian abu-abu yang menyelamatkannya itu saat melawan para musuh. Dirinya bahkan tak berkedip saat kelincahan orang tersebut tertangkap oleh kedua mata hazelnya. Ia kagum sekaligus mengutuk orang itu yang sepertinya bermain-main. Oh, ia ingin semuanya ini segera berakhir dan ia dapat pulang tanpa mendengar ceramah dari nenek sihir yang sayangnya sangat cantik dan menjelma menjadi istri kedua ayahnya.
"Kalian, tangkap orang itu!!" perintah pemimpin itu pada prajurit yang menangkap dan mengurung dua orang yang di taklukan. Dan dengan segera di laksanakan oleh para prajurit itu.
"Kakak, hari sudah semakin gelap. Cepat selesaikan pertarungan itu!!" teriak Xi Feng dari kejauhan.
Ying Hua mendengkus kembali, tidak ada cara lain, ia harus segera menyelesaikan ini dengan cepat. Ia kembali memasang kuda-kuda, kemudian merunduk saat ada musuh yang menyabetkan pedang kearahnya. Memutar tubuh dan menendang pinggang prajurit yang mengayunkan pedang tadi.
Ying Hua menangkis serangan prajurit lainnya menggunakan pedang yang masih bersarung. Ia memukul tengkuk prajurit itu. Kemudian melompat dan melayangkan tendangan pada tiga prajurit yang tersisa sekaligus.
"b*****h!!" pemimpin itu mengumpat. Ia melompat dari kudanya, kemudian mengangkat pedang dan mencoba melawan Ying Hua.
Ying Hua mundur tiga langkah saat pemimpin itu menyerangnya secara mendadak, beruntung ia tanggap menahan pedang sang musuh. Ia sedikit mendorong kasar pedang pemimpin itu, sehingga pemimpin itu mundur dua langkah kebelakang. Setelah itu, ia melayangkan pukulan pada wajah sang musuh, namun musuh itu mengelak, membuat Ying Hua hanya memukul udara kosong.
Dengkusan kembali keluar dari hidung Ying Hua. Ini adalah yang terumit. Tenaga dan kekuatan sang pemimpin pasti lebih banyak dari pada semua prajuritnya. Ia tidak bisa memandang remeh pria itu. Dirinya harus lebih hati-hati.
Pemimpin itu kembali menyerang. Kini dengan beringas ia menyerang Ying Hua. Gerakan pedang yang di ayunkan cukup membuat Ying Hua kesulitan sehingga dirinya hanya memasang posisi bertahan untuk beberapa saat. Namun kemudian saat ia mempunyai celah, dirinya dapat memutar balik serangan. Dan membuat goresan pada lengan pemimpin itu. Dan tanpa banyak waktu lagi, ia melayangkan sebuah tendangan keras tepat pada s**********n pria tersebut. Memukul titik terlemah milik pria sehingga pemimpin itu langsung tumbang dengan raungan kesakitan yang di rasakannya.
"Yeah,, rasakan itu pak tua!!" sorak Ying Hua sembari melakukan salto sekali. Kelakuannya yang unik itu membuat bocah yang di selamatkan nya kembali terperangah sekaligus tak percaya, "Hei, bocah, bagaimana hebat bukan?" tanyanya pada bocah tersebut, ia bersedekap d**a dan berdiri pongah.
Bocah itu hanya mengangguk sekilas setelah tersadar dari keterkejutannya. Dirinya masih tak bersuara, dan itu membuat Ying Hua memutar kedua bola matanya.
"Kau hebat kak!" Xi Feng datang, pria itu melirik bocah yang diselamatkan oleh Ying Hua dan juga kedua pengawal bocah itu yang berjalan mendekat ke tuan nya. "Sekarang ayo pulang sebelum paman mengamukmu!"
Ying Hua menendang tulang kering Xi Feng dengan gemas, "Bukannya membantuku melawan mereka, kau malah mengomeliku." gerutunya dengan wajah ketus. Ia mengabaikan ringisan yang keluar dari mulut Xi Feng.
"Tuan, terima kasih telah membantu kami." Shu bersuara, pria itu tersenyum tipis pada Xi Feng, "Biarkan kami membalas budi kepada anda."
Xi Feng mengangguk semangat dengan wajah sumringah. Namun kesenangannya itu sirna saat melihat Ying Hua menggeleng, "kakak." protesnya tak terima.
"Tidak perlu tuan." Ying Hua mengabaikan rengekan Xi Feng, "Aku ikhlas menolong bocah ini." ucapnya seraya berjalan mendekat kearah sang bocah, memukul kepala bocah itu pelan dan mengacak rambut bocah itu gemas.
Kelakuan Ying Hua tersebut membuat dua pengawal pangeran kecil itu mendelik. Ingin mereka menegurnya. Namun gelengan kepala dari sang pangeran membuat mereka mengurungkan niatnya.
"Hei bocah!" panggil Ying Hua, "Lain kali, jika kau bisa memakai pedang. Lawanlah lawanmu dengan keahlianmu itu. Musuhmu semakin banyak dan berkeliaran di luaran sana. Jangan kau hanya mengandalkan para pengawalmu. Karena sesungguhnya, yang bisa menjaga dirimu adalah dirimu sendiri." tutur Ying Hua dengan nada tegas, ia kembali memukul kepala bocah itu dengan ganggang pedangnya pelan, "Kau adalah calon pemimpin. Nasib rakyatmu ada di kedua tanganmu! Belajarlah dengan tekun dan selalu waspada!" tambahnya mengagetkan ketiga orang tersebut, kecuali Xi Feng.
"Anda tahu, siapa dia?" tanya Jie memastikan.
"Tentu saja." Ying Hua kembali mengacak rambut bocah itu, "Apa yang tidak aku ketahui?" tanya nya dengan nada sombong. Membuat Xi Feng memutar kedua bola matanya.
"Siapa namamu?" tanya Ying Hua.
"Hong Hui." jawab bocah itu singkat .
"Nama yang bagus. Sudah ya bocah, sekarang pulang dan belajarlah. Jangan menyusahkan orang lain." tambah Ying Hua, ia tersenyum tipis pada pangeran itu, "Xi Feng, ayo pergi!" ajaknya pada Xi Feng.
Xi Feng mengangguk, kemudian ia berjalan membuntuti Ying Hua yang sudah melangkah terlebih dahulu.
"Kakak, siapakah nama kakak?!"
Langkah Ying Hua terhenti. Kemudian ia menoleh kembali kebelakang. Tersenyum pada pangeran kecil yang di tolong nya tadi, "Aku Ying Hua. Panggil aku Ying Hua, bocah!" ucapnya sebelum kembali melangkah pergi.
Pangeran kecil itu terdiam sejenak. Begitupun dengan para pengawalnya, "Ying Hua?" gumamnya pelan.
"Orang tadi perempuan?" tanya Shu entah pada siapa. Ia hanya tak percaya dengan orang yang menyelamatkan tuannya tadi.
"Dia perempuan." mata Jie terus menatap punggung kokoh milik orang bernama Ying Hua, ia juga sama seperti halnya Shu. Terkejut dengan kenyataan, "Perempuan yang hebat."
Hong Hui tersenyum tipis. Kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan para pengawalnya yang masih terpaku di tempat.
"Pangeran, tunggu kami!!" teriak Jie saat menyadari pangeran kecilnya sudah berlalu. Dirinya berlari menghampiri sang pangeran dengan Shu yang masih terlihat linglung.
~•••••~
"Darimana saja, pangeran?"
Hong Hui yang baru saja menginjakkan kakinya ditangga istana depan memutar kedua bola matanya saat mendengar suara halus dari permaisuri. Ia dengan segera berdiri tegak dan membungkuk memberi salam. Pangeran berusia 9 tahun itu berusaha menekan kejengkelannya dalam hati.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku pangeran." permaisuri menatap tenang pangeran satu-satunya di kerajaan Anming itu. Dan ketenangannya membuat para pelayan yang ada di belakangnya menunduk dalam. Mereka tahu, jika permaisuri tengah menahan amarahnya.
"Saya dari berkeliling desa, Permaisuri." jawab pangeran datar.
"Dan sampai selarut ini?"
Hong Hui kembali terdiam. Tak berniat untuk menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh pengganti ibunya itu. Ia sama sekali tak ingin menceritakan kejadian yang menimpanya tadi.
"Kau sudah besar pangeran. Kenapa kau selalu melakukan hal yang tidak berguna? Seharusnya kau mengikuti semua pembelajaran yang ada di istana. Bukannya malah berkeliaran tidak jelas hingga larut malam seperti ini." permaisuri kembali berbicara. Dirinya menatap tegas pangeran kecil Anming yang kini memasang wajah datar dengan tatapan yang mengarah kebawah.
Hong Hui mengambil nafas diam-diam, mencoba menekan kembali rasa kesalnya, "Maafkan saya Permaisuri, saya mengaku salah." ia menjeda sejenak, "Sekarang ijinkan saya untuk istirahat, saya permisi." kemudian membungkuk, memberi salam pada permaisuri. Dan tanpa jawaban dari permaisuri, Hong Hui kembali melangkahkan kakinya menaiki tangga dan melewati permaisuri dengan langkah tenang.
Permaisuri melirik pangeran kecil itu lewat bahunya. Ia mengambil nafas dalam. Mencoba menetralisir amarah yang hampir saja menguasainya. Rasa kesal akibat sikap pangeran satu-satunya kerajaan Anming tersebut kembali menaungi hatinya. Kenapa membuat pangeran kecil itu menurut padanya sangat susah sekali? Oh andai saja ia melahirkan putranya sendiri. Ia pasti tidak akan mencoba merebut dan menguasai hati putra dari permaisuri terdahulu itu.
"Permaisuri."
Panggilan dari pelayan kepercayaannya membuat lamunan singkat sang permaisuri buyar. Ia melirik sekilas pelayan itu, setelahnya ia melangkahkan kakinya untuk kembali ke pavilliun pribadinya. Sudah saatnya dia beristirahat.
~•••••~
Xi Feng memasukkan tali tambang yang mengait ember ke sumur di belakang padepokannya dengan malas . Dengan asal-asalan ia menarik kembali tali tersebut. Dan dengan ogah-ogahan pula ia mengisikan air yang sudah di timbanya ke ember yang berada di bawahnya. Mengabaikan air yang tumpah karena perbuatannya itu.
Xi Feng menghela nafas, ia menaruh timba air sumur itu di bibir sumur. Kemudian menatap bosan Ying Hua yang tengah mengisi bak air mandi yang berjarak lima ratus meter darinya. Wajahnya semakin memberengut saat gadis itu mengabaikan kebosanannya.
"Kak, biarkan aku yang mengangkut air itu dan mengisi bak airnya." Keluh Xi Feng entah untuk yang keberapa. Wajahnya kian menyuram saat melihat Ying Hua hanya meliriknya melalui sudut mata gadis tersebut.
Ying Hua meraih bambu yang di sandarkan di dinding kamar mandi tersebut, beserta dengan dua ember yang kini telah habis isinya. Ia berjalan kearah Xi Feng, lalu mengaitkan dua ember di sisi Xi Feng pada bambu dan menggantinya dengan dua ember yang telah kosong, "Sudah, lakukan saja tugasmu dan jangan banyak berbicara. Paman sudah sangat marah dan kau jangan menambah emosinya." ucapnya tak acuh pada Xi Feng.
Xi Feng berdecak, "Seharusnya aku yang melakukan itu kak, kakak yang menimba air ini."
"Sudah kukatakan untuk tidak banyak bicara! Lakukan saja tugasmu, Xi Feng!" tegas Ying Hua, membuat Xi Feng terdiam. Lalu dengan menurut ia kembali mengisi ember kosong yang berada di bawahnya.
Ying Hua menatap Xi Feng sekilas, ia mengambil nafas dalam dan pelan. Kemudian ia memanggul bambu itu dan kembali berjalan menuju bilik kamar mandi dan mengisi baknya. Gadis itu terlihat mudah melangkah dan tidak terlihat keberatan dengan beban air yang di panggulnya.
Dalam hening mereka melakukan tugas masing-masing. Xi Feng tak lagi cerewet, meski begitu raut malas dan bosannya masih terpasang apik di wajah remaja tersebut. Sedangkan Ying Hua juga mengabaikan ketidak senangan adik seperguruannya itu. Ia kembali melakukan tugasnya. Mengisi bak mandi padepokan hingga penuh. Peluh sudah membasahi wajah dan tubuh gadis itu. Walaupun begitu, rautnya sama sekali tak menampakkan kelelahan.
"Kau terlalu berat menghukumnya, Hui Zhong."
Hui Zhong yang sedari tadi memperhatikan dua muridnya -yang sedang di hukumnya- dari kejauhan itu menolehkan kepalanya kebelakang. Menatap pria tua dengan rambut putih dan juga janggut putih. Ia masih diam, tak berniat menjawab perkataan orang yang kini sedang berjalan mendekat kearahnya.
Bunyi ketukan tongkat berhenti saat pria dengan wajah lembut dan tak bisa di katakan muda lagi itu berhenti tepat di samping Hui Zhong. Ia menoleh pada Hui Zhong, sebelum kemudian ikut memfokuskan pandangannya pada dua remaja yang seperti tertukar pekerjaan, "Ingatlah, dia seorang perempuan." tuturnya sekali lagi. Tatapannya sama sekali tak lepas dari gadis yang tengah memanggul bambu dengan dua ember di sisi-sisinya.
"Dia pantas mendapatkan hukuman ayah, dia sudah berani melanggar aturan padepokan ini." Hui Zhong berbicara tenang. Sama sekali tak tersentuh oleh keluhan sang ayah.
Han menghela nafas lelah. Dirinya terlihat pasrah, namun dalam hatinya masih terdapat gejolak ketidak relaan, "Dia pasti punya alasan karena pulang larut malam."
"Apapun alasannya, hukuman akan tetap berjalan. Itu peraturan yang aku buat di masa pemimpinanku di padepokan ini." tegas Hui Zhong, pria itu berlalu meninggalkan teras belakang padepokan. Meninggalkan sang ayah yang menatap murid malang yang tengah di hukum.
Han menatap punggung Hui Zhong setelah pria paruh baya itu berlalu sedikit jauh. Ia tak tahu lagi apa yang harus di perbuatnya. Semua perkataannya selalu dianggap angin lalu oleh sang putra. Dan ia takut penyesalan akan menyertai putranya tersebut.
"Sampai kapan kau membohongi dirimu sendiri, putraku?" gumamnya yang hanya di jawab oleh desauan angin yang berhembus.