"Jika ayahanda menjatuhkan Ibu, aku akan memukul Ayahanda."
"Justru aku berniat melemparkanya kejurang saat perjalanan nanti."
"Coba saja, Ayahanda akan aku dorong ke jurang juga."
Ying Hua yang berada dalam gendongan yang mulia saat ini hanya bisa terdiam dan menyimak pertikaian yang terjadi semenjak mereka sarapan pagi bersama. Dari meributkan hal apa yang baik di makan olehnya dan apa yang baik untuknya. Seperti sekarang, dirinya kembali menjadi alasan ayah dan anak itu adu mulut. Hal yang sangat langka terjadi mengingat keduanya adalah seseorang yang irit bicara.
Sedangkan Huo Ying, pria itu diam-diam tersenyum tipis di balik punggung ketiga orang yang berjalan di depannya. Merasa cukup bersyukur karena hubungan ayah dan anak itu kini semakin dekat seperti dulu. Dan juga sikap dari