Waktu cepat berlalu. Matahari pun sudah tergelincir hendak menyembunyikan diri kembali. Zhuo Zu berdiri di taman lapang belakang padepokan. Menatap luasnya sawah para penduduk yang membentang luas jauh di hadapannya dari tempatnya berdiri.
Setelah penjamuan dan pertunjukan yang di adakan dari pagi hingga sore hari, Zhuo Zu langsung beranjak pergi kala semua hiburan sudah selesai. Dirinya langsung menuju ke tempat dimana ia berpijak sekarang. Merenung diri, menikmati kesendiriannya dan mengenang sosok yang di cintainya. Ya, ia dan permaisuri pertama, pertama kali bertemu di tempat ini. Wanita cantik manis dan lemah lembut itu tengah membaca di bawah pohon belakangnya. Dan ia yang baru saja datang dan kesasar, tak sengaja bertemu dengan sosok indah tersebut. Dan pada akhirnya hubungan mereka dimulai pada saat itu.
Zhuo Zu tersenyum sendu kala ingatan itu berputar dengan tajam. Semua kilasan-kilasan memori berputar apik memenuhi pikirannya. Tak ada satupun yang terlewat. Semuanya tersusun secara keseluruhan.
Di sisi lain, Ying Hua yang baru saja keluar dari kamar tempatnya berada, dikejutkan oleh sosok Guo Zhi yang menungguinya diluar. Dan belum sempat ia bersuara, dirinya sudah di tarik oleh seniornya itu. Berjalan dengan langkah cepat, menuju tempat yang sepi.
“Kenapa kau menolongku saat itu Ying Hua?” cerca Guo Zhi begitu mereka berhenti. Guo Zhi membalikkan diri menghadap Ying Hua, menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit di artikan.
Ying Hua bungkam, ia memandang mata Huo Zhi beberapa saat. Mata itu sangat ia rindukan, namun juga menyakitkan secara bersamaan. Membuat perasaannya campur aduk. Menghela napas samar, Ying Hua berjalan mendekat ke arah Guo Zhi, melewati pria itu. Tatapan matanya menyorot kedepan dengan sendu.
Guo Zhi yang tak mendapatkan jawaban pertanyaannya mengernyit tak mengerti. Hatinya bergemuruh dengan pertanyaan-pertanyaan dan berbagai perasaan. Terlebih perasaan bersalah. Tak sabar ingin mendengar jawaban dari Ying Hua, Guo Zhi mengulanginya, kali ini lebih keras, tak menyadari jika di sana dia tidak hanya bersama Ying Hua saja.
Zhuo Zu yang sibuk melamun menoleh kala ia mendengar suara bercakap-cakap. Lamunannya terhenti kala ia mendengar suara itu. Lantas ia segera berjalan mendekat ke arah sumber suara. Berniat menengok siapa gerangan yang tengah berbicara dan membuatnya sedikit penasaran.
"Jawab pertanyaanku Ying Hua, kenapa saat itu kau menolongku dan membuatmu terusir dari rumahmu sendiri?"
Ying Hua yang berdiri membelakangi Guo Zhi menghela napas keras, sekuat hati ia menekan rasanya untuk tidak memeluk sosok yang diam-diam ia rindukan setengah mati.
"Tidak ada alasan khusus, aku hanya ingin kau dan kak Mei Lan tidak terpisah."
"Tapi tidak dengan cara seperti itu. Kau membuat paman murka, bahkan sampai sekarang ia mendiamkan Mei Lan. Terlebih kita semua kehilangan dirimu." Guo Zhi menatap sedih sosok gadis yang di ketahuinya sangat mencintainya itu.
Tanpa sadar bibir Ying Hua tersenyum miring, "Lalu aku harus memakai cara apa? Berdiam diri dan berdoa pada Dewa? Mengharapkan Yang Mulia melepaskanmu ketika kau hendak di penggal olehnya karena kecerobohanmu?" Ying Hua berbalik dan mendengkus, "Untuk apa kalian merasa kehilangan atas diriku? Bukankah kalian sangat tidak menyukai kehadiranku?" ia menekan empat kata terakhir yang di ucapkannya.
"Sekiranya saat itu kau bisa menawarkan dirimu menggantikan posisi Mei Lan untuk menjadi selir raja." Guo Zhi menatap Ying Hua bersalah, "Itupun jika kau memang niat membantu hubungan kami."
"Dan menjadikanku tumbal kesekian Yang Mulia seperti yang kau katakan pada waktu itu?" dengus Ying Hua tak terima, "Aku lebih memilih mati bertarung dari pada harus mati konyol dengan alasan yang bahkan tidak aku ketahui!!" pekik Ying Hua sakit hati.
"Aku memang mencintaimu, tapi aku masih bisa berpikir secara baik apa yang seharusnya aku lakukan." imbuhnya dengan suara yang lebih rendah. Sekuat tenaga ia menekan rasa sakit kala ingatannya berputar mengingat apa yang di ucapkan oleh pria yang dicintainya kala itu.
Guo Zhi terdiam, ia mengakui jika pada waktu itu sangat emosi. Dan amarahnya ia lampiaskan pada Ying Hua yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya sama sekali.
"Kau menyuruhku menggantikan posisi kak mei Lan pada saat itu, kau pikir paman akan menyetujuinya. Kau tahu sendiri jika paman sama sekali tak pernah menganggapku anaknya!!" pekik Ying Hua lagi. Nafasnya terengah, ia terlalu kecewa dengan semuanya.
Guo Zhi masih bungkam, pancaran matanya terlihat sangat bersalah. Ia berjalan mendekat, berniat memeluk gadis yang pernah di lukainya secara sadis. Namun, tanggapan Ying Hua membuat Guo Zhi kembali berdiam di tempat.
"Jangan mendekat dan jangan katakan apapun lagi kak. Jangan membuatku lebih sakit dari ini. Berbahagialah dengan kak Mei Lan, jaga dia dan sayangilah dia sebesar ia menyayangimu. Jangan buat pengorbananku untuk kalian sia-sia." sendu Ying Hua. Air mata kian menumpuk di mata hitamnya.
"Katakan pada paman permohonan maafku meski aku tahu ia tidak akan pernah memaafkanku. Katakan pada kakek bahwa aku sangat menyanginya. Katakan pada Ming Yu dan Xi Feng jika aku baik-baik saja." ujar Ying Hua sembari mengulas senyum, "Aku mencintaimu, dan aku sadar jika cinta tak harus memiliki. Melihat betapa hancurnya dirimu ketika waktu itu membuatku mengerti. Jika cinta tak akan bisa di paksakan."
Jeda sejenak, Ying Hua mengambil nafas dan menghembuskannya perlahan, "Bohong jika aku tak senang saat kau dan kak Mei Lan akan berpisah kala itu. Aku bahagia, sangat bahagia. Aku berpikir, dengan begitu tak ada halangan lagi untuk bisa dapat bersamamu. Hidup berdua denganmu. Namun yang terjadi sebaliknya. Kau hancur, dan kak Mei Lan hancur. Lalu diriku pun ikut merasakan kehancuran itu lebih dari apapun."
"Jangan ungkit hal ini lagi kak. Semua hal yang membuatku sakit, jangan kau bahas lagi." Imbuhnya dengan nada yang lemah.
"Aku minta maaf, Ying Hua." Guo Zhi mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh, "Karena keegoisanku dan amarahku pada waktu itu, aku membuat dirimu terluka."
Ying Hua menghela nafas lagi, "Aku sudah memaafkanmu. Jauh sebelum kau melukai hatiku, kak."
"Untuk menebusnya, aku berjanji akan membuat paman memaafkanmu dan membuatmu kembali pada padepokan. Aku akan membuat paman mengakuimu sebagai putrinya." Kata Guo Zhi penuh harap, "Aku akan membuatmu bahagia meski kau dan aku tak akan pernah bisa bersama."
Ying Hua menggeleng, senyum sendu tertoreh di kedua sudut bibirnya, "Jangan berjanji hal yang sia-sia. Selamanya paman tak akan pernah bisa menerimaku." Ia mengalihkan padangannya dari Guo Zhi sejenak, menatap hamparan sawah yang bida di lihatnya, "Aku bahagia dengan kehidupanku sekarang."
"Kau bahagia?"
"Ya, aku bahagia."
Guo Zhi terdiam lagi, ia telah kehilangan kata-katanya.
"Tak perlu mencemaskan aku lagi, aku sudah bahagia disini. Kau berbahagialah dengan kak Mei Lan sesuai dengan keinginanmu." Ying Hua berbalik membelakangi Guo Zhi, "Pergilah, jangan buat kak Mei Lan cemas karena kau pergi terlalu lama."
Hening, Guo Zhi tak langsung menjawab ataupun pergi dari sana. Yang ada ia langsung mendekat ke arah Ying Hua dan memeluk gadis itu dari belakang. Membuat Ying Hua sedikit tersentak dan menahan air matanya lebih kuat lagi.
"Biarkan aku memelukmu sejenak untuk mengurangi rasa bersalahku meski nyatanya tak mampu berkurang sedikit pun." Kata Guo Zhi lembut dan penuh rasa bersalah, "Maafkan semua kesalahanku meski aku tahu jika kesalahanku tak termaafkan Ying Hua. Ketahuilah, tak ada niat sekalipun aku mengatakan semua hal kejam itu padamu. Semua emosi dan kekalutanku mengambil seluruh egoku. Menghilangkan logikaku. Membuatku tanpa sadar menumpahkan segala kemarahan padamu. Perlu kau ingat, aku menyayangimu, sangat. Seperti halnya Mei Lan menyayangimu, aku pun sama. Kau adalah adikku, adik kecil yang selalu ku lindungi sedari dulu saat kita masih kecil."
Ying Hua tetap diam mendengar semua ucapan Guo Zhi. Hatinya semakin bergemuruh sesak. Tak tahan dengan semua hal yang di ungkapkan oleh pria yang di cintainya itu.
"Maaf karena tak bisa membalas perasaanku lebih dari sekedar rasa sayang kakak ke adiknya. Kau menempati di bagian lain hatiku. Maaf telah membuatmu menderita karena keegoisanku." Pelukan Guo Zhi mengerat, seiring rasa sesak yang telah di pendamnya kala ia melampiaskan amarahnya pada Ying Hua.
Tangan Ying Hua terangkat, menyentuh punggung tangan Guo Zhi, "Aku sudah memaafkanmu kak. Aku mengerti, karena itulah aku memaafkanmu sebelum kau berkata buruk padaku." Ia menjeda sejenak guna menarik napas, "Di sini aku yang salah, aku memanfaatkan situasi dan tak memikirkan perasaanmu."
"Maafkan aku, maafkan kakakmu yang bodoh ini Ying Hua." Lirih Guo Zhi.
Ying Hua mengangguk beberapa kali mengiyakan, "Pergilah, jangan buat kak Mei Lan menunggu lebih lama." Ujarnya lembut.
Guo Zhi menghela nafas panjang, "Jika kau merindukan kami, pintu rumah akan selalu terbuka meski paman menghalangi. Aku akan berusaha membuatmu agar bisa kembali ke padepokan." Janjinya sebelum melepaskan pelukannya.
"Sekali lagi maafkan kami Ying Hua." Ujar Guo Zhi sebelum berbalik meninggalkan Ying Hua sendiri.
Ying Hua luruh, jatuh terduduk setelah Guo Zhi pergi dan tak terlihat lagi. Ia menangis tersedu, menumpahkan rasa sesak yang di tekannya sedari tadi. Terisak pilu karena tak kuasa lagi menahan perih.
Zhuo Zu yang melihat dan mendengar percakapan itu menghela nafas dalam sembari terus menatap Ying Hua yang masih menangis. Suara tangisan pelayan pribadinya itu terdengar pilu. Membuatnya tanpa sadar ikut merasakan rasa sakit yang di alami oleh guru kesayangan putranya itu.
Zhuo Zu melangkahkan kaki, mendekat ke arah Ying Hua yang masih bersimpuh dengan kedua tangan menutup wajah. Berdiri di depan Ying Hua dan merunduk meraih lengan gadis itu. Menariknya agar berdiri lagi.
Ying Hua yang merasakan tarikan kuat namun lembut itu seketika mendongak dan menghentikan tangisannya. Ia teramat terkejut, terlebih melihat wajah datar dan pancaran tenang mata hazel yang kini sedikit terselip kelembutan yang tak pernah keluar semenjak separuh jiwanya pergi. Dan tubuhnya terasa kaku kala jemari kekar milik pria di hadapannya dengan lembut menghapus air matanya.
"Aku tak menyangka jika kau bisa menangis seperti anak kecil. Bahkan suara tangisanmu mengalahkan Hong Hui." Ujar Zhuo Zu datar. Jemarinya telaten mengusap air mata Ying Hua yang membasahi kedua pipi halusnya.
Ying Hua tak menjawab, ia masih terisak kecil. Pandangan matanya kini menatap bawah, tak berani menatap sepasang mata bening yang selalu membuatnya ingin menjelajah dalam.
"Suara tangisanmu mengganggu, sebaiknya kau tidak usah menangis lagi." Zhuo Zu menangkup sebelah pipi Ying Hua dengan telapak tangan lebarnya.
"Maafkan saya yang mulia." Ying Hua menjawab dengan suara serak. Gadis itu sesekali masih sesenggukan karena tangisan kerasnya tadi.
Zhuo Zu tak menjawab, ibu jarinya kembali mengusap setitik air mata yang lagi-lagi turun dari mata onyx indah itu. Kemudian tangannya naik, menyentuh tiara yang tersemat di rambut indah Ying Hua, mengelusnya perlahan.
"Hong Hui yang memberikanmu ini?" Tanyanya tanpa mengurangi nada datarnya.
Ying Hua mengangguk pelan, ia masih tak berani menatap Zhuo Zu. Kedua tangannya saling bertaut di depan tubuh.
"Jaga baik-baik, itu sangat berharga baginya." Ucap Zhuo Zu dengan kelembutan yang sedikit terselip, "Dan bagiku." Imbuhnya lebih lirih.
Ying Hua lantas langsung mendongak menatap Zhuo Zu saat ia terkejut mendengar ucapan dari sang raja barusan. Dan ia segera merutuk karena pandangannya lagi-lagi bersirobok dengan mata bening itu. Membuatnya langsung kembali menunduk.
Tangan Zhuo Zu turun menyentuh dagu Ying Hua, mengarahkan gadis itu untuk langsung menatapnya. Dalam diam ia menatap wajah dan indahnya onyx milik guru anaknya itu. Menikmati keayuan yang di miliki sang gadis dari jarak terdekat.
"Jangan menangis lagi. Suara tangismu sangat buruk!" Ucapnya seperti nada perintah yang mutlak.
Ying Hua hanya mengangguk dengan isakan yang sesekali keluar. Ia dengan segera menghapus air mata di kedua matanya.
"Kenapa yang mulia bisa ada disini?" Tanya Ying Hua setelah bisa menekan isak tangisnya. Suaranya masih terdengar serak.
"Lalu apa yang kau lakukan disini?" Zhuo Zu balas bertanya. Membuat Ying Hua tanpa sadar sedikit merengut.
"Anda tahu jika saya sedang menangis." Jawab Ying Hua asal, ia tak mungkin mengatakan alasan dirinya menangis bukan.
Zhuo Zu tak lagi bersuara, ia hanya melepaskan tangannya dari dagu Ying Hua dan berbalik membelakangi gadis itu. Menatap lagi hamparan luas sawah yang membentang jauh di hadapannya.
Keadaan menghening. Keduanya larut dengan suasana senja yang menyambut. Sinar kemuning mentari semakin meredup, di gantikan jingga kemerahan yang tampak indah memantulkan sinarnya. Angin sore berhembus merdu, menerbangkan dan menggoyangkan dedaun yang ada.
Ying Hua menghela nafas panjang guna menetralisir rasa sesak yang masih tersisa. Ia kembali menghapus air mata yang menerobos keluar, hingga tatapan matanya tanpa sengaja menatap pohon di samping. Dan sesuatu lagi-lagi membuatnya terbelalak. Ia dengan segera berputar ke arah Zhuo Zu dan menghalau sebuah panah yang mengarah pada sang raja.
Zhuo Zu sedikit terkejut akan apa yang terjadi. Ia yang larut dengan lamunannya tak mengetahui bila bahaya datang menyerang. Ia menatap Ying Hua yang sudah memberi benteng untuknya. Bersikap waspada seperti biasa, bahkan sudah memasang kuda-kuda. Di sertai dengan wajah yang sudah beraut serius dan tak lagi sendu.