Mata semua orang di sana terbelalak, kecuali Zhuo Zu dan Ying Hua. Raja muda itu tampak tenang menikmati situasi yang kini berangsur tegang. Ruangan itu semakin lama terlihat semakin kaku.
"Bisa kalian jelaskan ini?"
Ketiga pelayan itu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Serentak mereka menjatuhkan tubuh, menumpu tubuh menggunakan kedua lutut mereka.
"Maafkan kami nona muda, kami tidak tahu jika di dalam makanan yang kami sediakan terdapat racun." Tutur salah satu dari mereka, kedua tangannya saling meremat satu sama lain di depan perut. Menyalurkan rasa takutnya. Bahkan terlihat gemetar.
Ying Hua berdiri, berjalan dengan tenang dan menatap ketiga pelayan itu bergantian. Wajahnya yang tenang menampilkan keseriusan yang membuat siapa saja enggan untuk sekedar melemparkan sebuah candaan untuknya.
"Apa masakan itu sudah di cicipi sebelumnya?" Tanyanya dengan suara yang terdengar mengintimidasi.
Pelayan berbadan lebih gemuk dari dua lainnya mengangguk cepat, "Saya yang memasaknya, dan saya yang mencicipinya pertama kali tadi."
Mata tajam Ying Hua menelisik ketiganya, "Berarti makanan itu di racun dalam perjalanan kemari." Tebaknya.
Ying Hua menghela nafas pelan, "Mengakulah, maka aku akan memaafkan kalian. Siapa yang manaruh racun jenis yang menyerang sistem saraf dan tak berbau itu?"
Ketiga pelayan itu langsung menggeleng dan memohon pengampunan. Semuanya mengatakan jika tidak ada yang menaruh racun tersebut.
"Bagaimana kau mengetahui jika terdapat racun di makanan yang mulia?" Fen bersuara, tatapan matanya yang tajam setia mengikuti gerak-gerik gadis yang merangkap sebagai pelayan pribadi suaminya itu selama tiga bulan. Ya, ia memang sudah mendengar jika gadis itu telah melakukan taruhan dengan suaminya, "Bukan kau yang menaruh racun itu kan?"
Ying Hua berbalik menghadap permaisuri, "Saya sedari tadi berada di kamar pangeran Hong Hui yang mulia, dan Yang Mulia Zhuo Zu sendiri juga tahu saya berada disana selama penyajian makanan di hidangkan." Jawabnya dengan sopan.
"Mungkin saja kau menyuruh para pelayan."
"Jika saya memang berniat meracuni yang mulia, saya tidak akan repot-repot untuk menghentikannya memakan makanan itu. Dan lagi, jika saya memang ingin membunuh seseorang, saya lebih memilih menantangnya bertarung dari pada harus memberikannya racun."
Fen mendengkus sinis, "Tapi, jika kau memang bukan kau yang menaruh racun itu, lalu bagaimana kau tahu ada racun di makanan itu. Bahkan kau sampai mengerti jenis racun apa itu. Kau tidak sedang mencari muka, kan?"
Ying Hua mengulas senyum tipis, "Saya mengerti dengan kekhawatiran anda permaisuri." Tatapan Ying Hua beralih pada kepala ikan yang masih tersisa. Ia meraih sapu tangan miliknya dan mengambil kepala ikan itu, "Bertahun-tahun tinggal di padepokan dan menjadi pendekar, mau tidak mau kami harus belajar mengetahui hampir semua jenis racun. Dari yang berbau menyengat, sampai yang tidak ada baunya sama sekali. Dan kita harus teliti dalam mengenali ciri-ciri racun tersebut."
Ying Hua berjalan mendekat ke arah permaisuri, menaruh kepala ikan itu di atas meja, "Racun ini tidak berbau, namun memiliki ciri yang cukup sulit untuk di kenali. Seperti ini, dalam sekilas ikan ini terlihat seperti ikan goreng biasa. Tapi jika kita jeli, akan ada hal yang cukup ganjil, seperti ini." kemudian ia menunjuk mata ikan yang terlihat sedikit berwarna merah yang cukup tidak wajar.
Permaisuri Fen terdiam, ia menatap Ying Hua sejenak. Setelah itu menggulirkan kedua matanya ke arah ikan goreng di atas meja itu. Menatap lamat-lamat apa yang di tunjuk oleh Ying Hua. Ia mendengkus lirih, namun tak lagi membuka mulutnya.
Ying Hua berbalik kembali menatap ketiga pelayan, berjalan lagi mendekat ke arah mereka, "Meski kalian tidak mengatakan, namun bahasa tubuh kalian tidak bisa membohongi. Dan aku tahu siapa di antara kalian yang menjadi tersangkanya." Ucapnya membuat salah satu dari ketiga pelayan itu lebih bergetar takut.
Ying Hua tidak bodoh, ia tahu akan hal itu. Hidup di padepokan dan selalu berhadapan dengan berbagai macam peristiwa membuatnya bisa menangkap sesuatu hal yang ganjil. Membaca situasi dan memahaminya bukan hal yang sulit.
Ying Hua menghela nafas, "Baiklah, sepertinya tidak ada cara lain." Ia menghentikan langkah kakinya di depan salah satu pelayan itu. Menatapnya tajam sebelum menunduk dan mengangkat dagu pelayan tersebut, "Katakan siapa yang menyuruhmu memasukkan racun di masakan yang kau buat." Desisnya menakuti.
Semua kembali terkejut. Tak menyangka jika Ying Hua menuduh si juru masak. Padahal tadi pelayan itu sendiri yang mengatakan jika ia yang mencicipi masakan itu sebelum di bawa ke kamar yang mulia.
"Ibu, kenapa kau menuduh juru masak itu. Bukankah tadi dia mengatakan jika ia yang mencicipi masakan ini terlebih dulu." Hong Hui mengutarakan isi hatinya. Dirinya cukup bingung dengan situasi seperti ini.
"Gerak tubuhnya mudah terbaca pangeran." Ying Hua mulai menjelaskan, "Ketakutan yang terlihat di tubuhnya bukanlah jenis ketakutan seperti halnya yang di alami oleh kedua rekannya. Reaksi tubuhnya terlihat berlebihan sehingga tanpa sadar ia telah memberi celah jika memang dirinyalah yang menaruh racun tersebut."
Jeda sejenak, "Sekarang katakan, siapa yang menyuruhmu!"
Pelayan itu menangis, tubuhnya semakin gemetar takut. Bahkan isak tangis pun mulai terdengar. Saat ia hendak membuka suara, sebuah pisau melesat dan menancap tengkuk pelayan itu. Membuat pelayan tersebut mati seketika.
Ying Hua segera melihat arah dari mana pisau itu melesat. Sekelebat bayangan hitam tertangkap kedua onyxnya. Dengan segera ia berlari ke arah jendela tempat ia melihat sosok tersebut. Namun sayang, sosok itu telah lenyap menghilang dan tak meninggalkan satu jejak sekalipun.
"Saya kehilangan jejak." Kata Ying Hua setelah kembali menghadap Zhuo Zu.
Zhuo Zu menghela nafas dalam, kemudian ia berdiri dan memanggil Huo Ying. Huo Ying pun segera datang tak lama dari itu dan terkejut dengan segeletak mayat pelayan.
"Apa yang terjadi?" Tanya Huo Ying dengan keterkejutan yang kentara.
"Yang mulia di racun, tapi kita masih bisa mengatasinya." Ying Hua menjawab.
"Bereskan mayat itu. Dan selidiki siapa orang yang ada di balik peristiwa ini!" Perintah Zhuo Zu datar, "Siapkan kamar lain untukku dan permaisuri." Ujarnya sebelum melenggang pergi.
~•••••~
Matahari telah menyongsong turun. Sinar mentari sore menyambut ketika rombongan Istana Anming baru sampai di kuil bukit selatan. Kedatangan mereka di sambut antusias oleh para murid dari padepokan bukit selatan, tempat si penguasa Anming dulu menimba ilmu bela diri.
Ying Hua turun dari kudanya setelah Huo Ying dan Eng Li turun. Ia langsung berjalan ke belakang, menghampiri kereta pangeran Hong Hui.
"Ayo turun."
Pangeran Hong Hui langsung bergegas turun. Ia menyambut uluran tangan gurunya. Kemudian berjalan mendekat ke arah ayahnya yang juga turun dari kereta kuda.
"Ayahanda."
Zhuo Zu menoleh, ia lekas menggenggam tangan putranya. Hal yang membuat permaisuri cukup terkejut. Mengeyampingkan hal tersebut, permaisuri menoleh ke arah Ying Hua yang berdiri patuh di belakang Suaminya dan juga pangeran Hong Hui. Mendengkus pelan, ia segera kembali menatap kedepan dan mulai berjalan di samping sang raja.
"Memberi hormat pada Yang Mulia. Yang mulia panjang umur seribu tahun." Para murid serentak memberi salam. Mereka memberi salam ala pendekar.
"Akhirnya anda datang juga yang mulia." Anguo mendekat, ketua pimpinan padepokan itu tersenyum lebar menyambut kedatangan murid kesayangannya. Ia merentangkan tangan, memeluk hangat sang murid setelah tadi sempat memberi salam.
"Guru." Sapa Zhuo Zu datar.
"Apakah ini Hong Hui?" Tanya Anguo saat matanya menangkap sosok anak kecil di samping Zhuo Zu.
Zhuo Zu mengangguk, dan senyum Anguo pun tersenyum semakin lebar.
"Persis sekali." Anguo merendahkan badannya sejajar dengan Hong Hui, "Jika nanti umurmu sudah sepuluh tahun. Datanglah kemari, aku akan melatihmu menjadi hebat seperti ayahmu." Ucapnya sembari mengelus surai hitam Hong Hui.
Hong Hui menoleh menatap ayahnya yang juga menatap dirinya. Satu anggukan di terimanya dari sang ayah dan membuat senyum Hong Hui mengembang.
"Permaisuri Fen." Anguo mengangguk pada Fen dan di balas senyum lembut oleh Fen.
Lalu tatapan Anguo mengedar menatap orang-orang yang ada di belakang Zhuo Zu. Hingga akhirnya kedua matanya menangkap sepasang mata onyx yang di kenalnya.
"Kau?"
Ying Hua mengulas senyum, ia memberi salam ala pendekar pada Anguo, "Master." Sapanya ramah.
Anguo terkekeh, membuat Zhuo Zu dan yang lain sedikit bingung. Tak menyangka jikalau Ying Hua ternyata mengenal guru dari sang raja. Ah, mereka ingat, Ying Hua adalah pendekar wanita. Tak heran jika Anguo dan Ying Hua saling kenal.
"Kau putri Hui Zhong dari padepokan daun, bukan?" Tanya Anguo ramah.
Ying Hua mengangguk patuh, "Benar master."
"Ah, aku tak menyangka jika kau kali ini datang kemari, biasanya hanya Guo Zhi dan kakak perempuanmu yang datang sebagai perwakilan."
Senyum Ying Hua sedikit menyurut. Ia baru ingat jika padepokannya pasti akan menghadirkan dua orang untuk menjadi perwakilan datang di undangan perayaan yang di adakan oleh pemilik padepokan sahabat kakeknya itu.
Anguo menghela nafas lega, kemudian tatapannya beralih dari Ying Hua dan kembali menatap Zhuo Zu, "Mari yang mulia." Anguo mempersilahkan.
Zhuo Zu segera melangkah masuk di ikuti yang lain. Mereka di arahkan ke tempat di mana mereka bisa beristirahat. Setelah tiba, mereka segera masuk ke kamar masing-masing yang sudah di sediakan.
~•••••~
Pagi datang menyambut. Suasana di padepokan bukit selatan mulai ramai. Para murid berbondong-bondong menyiapkan perayaan yang akan di gelar sedari pagi hingga petang. Canda tawa terdengar dari mulut mereka. Kebahagiaan terpancar dari wajah mereka. Suasana yang damai dan indah menambah kesan sempurna untuk mereka.
Ying Hua mendudukkan diri di meja rias. Ia menatap pantulan wajahnya yang ada di cermin dengan pandangan sendu. Wajah yang belum kering sempurna karena sehabis mandi itu mengisyaratkan jika dirinya sedikit tak nyaman jika ikut bergabung dengan yang mulia dan pangeran Hong Hui karena ajakan yang bisa di sebut paksaan anak didiknya itu. Ia tidak siap, lebih tepatnya tidak ingin. Tidak ingin bertemu dengan dua orang yang cukup membuat hidupnya jungkir balik.
Sedari malam Ying Hua tak pernah meninggalkan kamar yang ia tepati semenjak tiba di padepokan itu. Ia mengurung diri, dengan alasan lelah dan butuh mengistirahatkan diri. Bahkan ia melewatkan makan malam dan ajakan Hong Hui untuk berkeliling. Membuat murid kesayangannya itu pergi dengan raut kesal dan berakhir marah padanya.
Ying Hua menghela, ia meraih sisir yang tergeletak di meja rias. Menyisir rambut halusnya dengan lembut. Tatapan matanya tertuju pada hiasan rambut yang di berikan oleh Hong Hui tadi malam. Bocah itu berkata jika ia ingin melihat ibunya mengenakan hiasan itu di perayaan yang akan ada. Tersenyum kecil, mungkin jika ia memakai itu sekarang akan membuat Hong Hui mengurangi rasa marahnya.
Ying Hua segera merias diri. Dan ia terlihat cantik seperti biasa. Setelah memoles bibirnya dengan kertas pemerah. Ia segera berdiri dan memakai lapisan terakhir pakaian pemberian pangeran Hong Hui. Setelah di rasa selesai, Ying Hua memberanikan diri untuk segera keluar.
Hong Hui memasang wajah sedatar sang ayah. Ia meminum teh melati yang tersedia di meja di hadapannya. Pangeran itu tampak bersuasana hati buruk. Terlebih saat melihat permaisuri yang seolah mempunyai hubungan yang sangat akrab dengannya. Dan ayahnya pun sangat tidak membantu, sang raja itu tampak tak mengindahkan sikap dari permaisuri keduanya.
"Kau tidak ingin makan ini pangeran, lihatlah. Sup sarang burung walet ini tampak sangat lezat." Permaisuri tersenyum manis, ia mengambil beberapa sendok sup sarang burung walet dan mengangsurkannya pada Hong Hui yang duduk di tengah-tengah antara dirinya dan sang raja.
Hong Hui hanya menerima itu tanpa minat. Di letakkannya kembali ke atas meja mangkuk berisi sup itu. Wajah yang datar dan tatapan yang datar pula membuat semua orang tak tahu apa yang ada di dalam hati pangeran.
Menghela nafas sedikit kasar, Hong Hui mengedarkan pandangannya menatap sekeliling. Dan matanya segera berbinar kala menangkap seseorang yang sedari tadi di tunggunya. Dengan segera ia berdiri, membuat permaisuri terkejut.
"Ibu."
Pekikan semangat Hong Hui tak hanya mengagetkan permaisuri saja. Semua orang yang berada di halaman padepokan dan sudah di sulap menjadi tempat penjamuan itu menatap ke sumber suara. Lalu pandangan mereka ikut beralih menatap seseorang yang di panggil oleh sosok anak kecil itu.
"Ying Hua." Gumam Guo Zhi dan Mei Lan bersamaan. Mereka yang duduk di samping tamu padepokan lain cukup terkejut, tidak, bahkan sangat terkejut. Terlebih kala ia melihat sosok Ying Hua yang tampak berbeda.
Ying Hua mengambil nafas dalam guna menetralisir rasa gugupnya yang mendadak hadir. Bahkan ia menahan napas, kala matanya lagi-lagi bersinggungan dengan mata tajam Zhuo Zu yang kali ini menatapnya lebih intens. Dan saat matanya menatap dua pasang mata milik orang yang sangat di kenalnya, tubuhnya sedikit menegang. Meski begitu, ia tetap berusaha agar terlihat seperti biasa. Dengan langkah mantap, akhirnya ia mendekat dan memberi salam pada semuanya.
"Ayo duduk, ibu." Hong Hui dengan semangat menghampiri Ying Hua dan menyeret wanita itu untuk duduk di tempat di samping Zhuo Zu yang kosong. Lalu, Hong Hui menyuruh Huo Ying memindahkan mejanya agar di letakkan di samping Ying Hua. Hal itu membuat semua yang hadir kembali terkejut. Dan Ying Hua berusaha untuk tidak memukul kepala anak didiknya karena telah membuatnya menjadi pusat perhatian.
Ying Hua mendudukan dirinya dengan sedikit kaku. Wajahnya yang tenang dan sedikit sendu, mengisyaratkan jika dirinya tak cukup nyaman berada di sana. Apalagi ketika empat pasang mata berbeda masih menatapnya sedari tadi. Yang bisa di lakukannya hanyalah duduk diam dan mencoba bersikap sebiasa mungkin. Karena ia merasa terbakar saat sepasang mata yang lebih tajam darinya menatapnya tanpa berkedip.