Beberapa orang muncul dari tempat persembunyian mereka begitu Ying Hua bisa menampik satu panah yang melesat. Mereka adalah kelompok yang sama ketika menyerang yang mulia beberapa hari yang lalu saat keluar istana. Mata Ying Hua menajam, dengan raut wajah yang serius. Meski wajahnya kini sedikit terlihat buruk sehabis menangis, itu tak menyurutkan aura ketajamannya.
"Berlagak seperti pahlawan lagi? Sebaiknya kau pergi dan melanjutkan tangisanmu nona." Jawab pemimpin pasukan bercadar hitam itu.
Ying Hua mendengkus sinis, tak menjawab ucapan sang musuh yang datang, "Kau datang pada waktu yang salah. Kebetulan sekali saat ini aku memang membutuhkan pelampiasan. Maaf-maaf saja, kali ini aku tidak akan memaafkan kalian."
Pemimpin pasukan itu tertawa, terbahak mendengar ucapan Ying Hua, "Kau yakin? Lihat ke sekelilingmu."
Mata Ying Hua berpendar sekeliling. Beberapa orang lagi muncul. Dan kali ini lebih banyak dari pada beberapa hari yang lalu.
"Kau hanya berdua, apa yakin bisa mengalahkan kami? Apalagi aku tak yakin jika yang mulia membantumu."
Sejenak Ying Hua melirik Zhuo Zu yang selalu berwajah datar, "Dan kau yakin sekali bisa mengalahkanku juga." Sudut bibir Ying Hua naik ke atas, "Seberapa banyaknya pasukanmu. Aku tak akan pernah mundur." Desisnya dengan amarah yang tersembunyi.
"Bagus, aku juga memang niat untuk menghabisimu. Serang mereka!!" Teriaknya pada bala pasukannya.
Ying Hua maju, ia merendahkan badannya dan berputar saat dua orang melayangkan pedang kearahnya. Kemudian ia menampik pedang yang mengarah ke kakinya. Lalu menangkap tangan salah satu musuh yang mengarahkan pedang ke arahnya, memutar lengan itu dan merebut pedang milik sang musuh. Menusuk perut musuh itu, dan menyabetkan pedang ke musuh lainnya.
Zhuo Zu kali ini juga tak tinggal diam. Para musuh juga menyerangnya. Dirinya menghalau semua serangan musuh dengan menggunakan satu tangannya saja, sedangkan tangan lainnya tetap bersembunyi di belakang tubuh. Wajahnya tetap tenang, tak merasa takut apa lagi tertekan. Ia dengan santai menampik dan membalikkan serangan ke musuh dengan santainya.
Ying Hua melompat ke atas, berputar dan menendang tiga musuh yang hendak menusuknya, merendahkan badan ke belakang dan memberi pukulan pada dua orang lainnya. Wajah gadis itu sangat serius. Tanpa basa-basi dan belas kasihan yang biasa ia berikan pada musuh, dirinya menghabisi para penyerang itu tanpa ampun.
Pemimpin kelompok penyerangan itu menyeringai di balik cadar miliknya kala melihat pertarungan itu. Ia menoleh ke atas pohon rindang yang tak jauh dari tempat penyerangan itu. Memberi kode, dan melesatlah sebuah anak panah menuju punggung Zhuo Zu.
Kedua mata hitam Ying Hua yang menangkap anak panah itu segera menendang dua musuh yang menyerangnya. Ia lantas segera melompat, melindungi Zhuo Zu dengan tubuhnya. Hingga akhirnya panah itu menancap tepat di punggung sebelah kanannya.
Zhuo Zu yang mendengar sebuah pekikan dari arah belakang menoleh, matanya sedikit terbelalak saat melihat Ying Hua terkena panah. Dengan segera ia menggerek leher musuh yang tertangkap olehnya tadi dan menendang tiga musuh yang datang, lalu kemudian dirinya membalikkan tubuh kebelakang dan menangkap tubuh Ying Hua yang limbung ke arahnya. Membuatnya jatuh terduduk dengan Ying Hua yang di dekapnya.
Pemimpin penyerangan itu semakin menyeringai, kemudian ia berteriak untuk segera pergi dari sana. Tujuan mereka telah terlaksana. Dan ia tanpa banyak waktu lagi meninggalkan tempat itu beserta segelintir anak buahnya yang masih hidup.
Ying Hua yang terjatuh dalam pelukan Zhuo Zu terbatuk hingga mengeluarkan darah segar. Wajahnya perlahan memucat dan juga nafasnya yang semakin lama semakin lemah. Ia merasakan sesuatu yang membakar di luka panah yang ia terima. Menjalar masuk keseluruh tubuh dan membuat pernapasannya terasa begitu sulit.
Zhuo Zu mencabut panah itu sedikit kuat. Kemudian membuangnya kasar. Ia menatap sekeliling, tak ada satupun musuh yang masih hidup berada disana. Semua musuh yang hidup telah pergi, kabur entah kemana. Sejenak Zhuo Zu berpikir, inikah tujuan mereka? Bukan dirinyalah yang menjadi target pembunuhan, melainkan Ying Hua. Ditatapnya kembali gadis dalam dekapannya itu, dan ia menjadi khawatir saat melihat kondisi dari guru putranya tersebut.
"Y-yang mulia.." ia berkata susah payah. Terbatuk hebat hingga darah yang keluar semakin membasahi pakaiannya dan pakaian yang di kenakan sang raja, "M-maafkan saya.."
Zhuo Zu mulai panik, wajah datarnya perlahan berubah. Kedua mata hazelnya bergerak gelisah kala melihat Ying Hua yang semakin terlihat pucat. Di tangkupnya sebelah pipi Ying Hua. Mencoba memberikan kekuatan agar gadis itu bisa bertahan.
Ying Hua bernapas terputus-putus. Rasa sesak di d**a dan panas yang menjalar ketubuhnya sungguh menyiksa. Ia berusaha mengatur napas, namun semakin ia menarik napas, udara yang terhirup seolah semakin hilang.
"B-berikanlah perhatian anda pada pangeran Hong Hui, d-dia sangat membutuhkan anda.." Ying Hua lagi-lagi terbatuk. Matanya kian meredup, sebisa mungkin dirinya mempertahankan kesadaran, "J-jangan acuhkan dia lagi." Ucapnya semakin lemah.
Zhuo Zu panik, ia mengusap keringat yang membasahi dahi Ying Hua. Napasnya ikut memburu kala ucapan dari gadis di dekapannya terasa menghantuinya. Hatinya berdetak berkali lipat kala ketakutan perlahan masuk merasuki relung hatinya. Membuka paksa luka yang tertoreh beberapa tahun silam.
"Dia juga membutuhkanmu. Kau harus tetap hidup!" Tegas Zhuo Zu dingin. Tangan yang menangkup wajah Ying Hua perlahan gemetar.
Ying Hua mengulas senyum lemah, dimana mengingatkan Zhuo Zu akan suatu peristiwa yang hingga kini tak bisa di lupakannya, "Sakit. Saya tak bisa menahannya lagi." Matanya meredup. Sinar matanya perlahan menghilang. Meski sekuat apapun ia menahan kesadarannya. Kedua matanya terasa begitu berat.
"Tidak, kau harus tetap membuka matamu!" Zhuo Zu berkata keras kali ini, "Kau harus tetap hidup. Jangan membuatku merasa bersalah lagi pada Hong Hui!!" Teriaknya frustasi.
Ying Hua terbatuk hebat. Suara napasnya yang kian memberat semakin menjadi sebuah ketakukan Zhuo Zu. Terlebih kala setetes bening air mata merembes keluar dari mata cantik yang mulai kehilangan sinarnya itu.
"M-maaf yang mulia.." Darah yang keluar dari mulut Ying Hua kian deras, tubuhnya semakin melemah, sekuat tenaga ia meraih tangan Zhuo Zu yang menangkup pipinya, merematnya dengan kekuatan yang lemah. Dadanya semakin terasa lebih sakit dari sebelumnya. Rasa membakar itu semakin menyakiti sekujur tubuhnya. Membuatnya tak bisa lagi mempertahankan kesadarannya, ia merasa, ajal telah menjemputnya, ia tersenyum, tersenyum lembut untuk terakhir kali, "Tolong, sayangi pangeran Hong Hui." Ucapnya lemah sebelum menutup matanya. Dan tangan yang memegang punggung tangan Zhuo Zu itu perlahan terlepas lemah.
'Sayangi pangeran Hong Hui.'
Zhuo Zu terpaku. Matanya terbelalak mendengar perkataan terakhir Ying Hua. Telinganya seketika berdengung mendengar angan-angan suara halus permaisuri pertama yang masuk ke telinganya. Semua sama persis seperti terakhir kali sang permaisuri berucap. Membuat luka lama kembali tertoreh semakin dalam.
"Ying Hua!!" Zhuo Zu menepuk-nepuk pipi Ying Hua, telapak tangannya kini ternodai darah yang keluar dari mulut Ying Hua, "Ku perintahkan kau membuka kedua matamu!!" Teriaknya semakin frustasi. Ketakutan menggerogotinya perlahan. Ia menggoyang-goyangkan badan gadis itu, berharap agar mata cantik wanita itu kembali terbuka. Namun sayang, tubuh itu sudah tergeletak lemas tak berdaya.
"Berengsekk!!" Zhuo Zu mengumpat keras, ia dengan segera bangkit dan membawa Ying Hua dalam gendongannya. Berlari menuju padepokan.
"Kau harus hidup, jangan membuat Hong Hui kehilangan suara tawanya lagi!" Gumam Zhuo Zu di sela larinya, napasnya yang terengah tak menyurutkan semangat untuk membawa Ying Hua ke tabib agar segera di obati, "Jangan membuat rasa bersalahku semakin bertambah, jangan membuat Hong Hui kembali membenciku." Racaunya tak jelas.
"Jangan tinggalkan kami." Gumamnya lebih nelangsa, tangannya yang menggendong Ying Hua semakin mengerat.
Zhuo Zu yang tengah bersantai bersama Huo Ying dan Eng Li langsung berdiri kala melihat sang ayah yang berlari kelimpungan dari jauh. Dengan segera ia berlari kesana kala retina terangnya menangkap seseorang yang sangat ia kenali berada di gendongan sang ayah. Tergeletak lemas seolah tak bernyawa.
"Ibuu!!" Teriaknya membuat Huo Ying dan Eng Li ikut mengejar pangeran Hong Hui. Ia langsung menangkap pangeran saat hampir menubruk tubuh Zhuo Zu.
"Apa yang terjadi dengan Ibu? Kenapa bisa seperti itu?!" Teriaknya marah.
Zhuo Zu mengabaikan, ia menendang pintu ganda kamarnya, membuat Fen yang tengah bersisir terkejut, "Panggilkan tabib cepat!!!" Teriaknya marah, urat-urat lehernya terlihat. Raut wajahnya kini terlihat begitu mengerikan. Tak ada satupun dari mereka yang berani mendekat dan bersuara.
"Ibu!!" Pangeran Hong Hui menerobos, ia segera menghampiri Ying Hua yang baru saja di rebahkan oleh Zhuo Zu, "Apa yang terjadi pada ibu? Kenapa ayah juga membuat ibu Ying Hua seperti ini!" Teriaknya membuat tubuh Zhuo Zu kian menegang.
Huo Ying yang bisa membaca gerak tubuh Zhuo Zu segera meraih pangeran Hong Hui kembali. Ia mengarahkan pangeran Hong Hui untuk menjauh dari sana. Pangeran Hong Hui terus memberontak, membuat Huo Ying mau tak mau menggendong pangeran kecil itu dengan erat dan segera menjauh dari sana.
Tak lama dari itu Eng Li datang bersama beberapa tabib. Mereka segera memeriksa tubuh yang tergeletak tak berdaya di atas ranjang. Tiga tabib itu saling menatap, kemudian bersamaan menatap Zhuo Zu.
"Y-yang mulia.." lirih salah satu dari mereka.
Firasat Zhuo Zu mengatakan sesuatu yang tidak baik. Napasnya semakin memburu dengan emosi yang kian sulit ia kendalikan. Kekalutannya kian bertambah. Di tatapnya tajam ketiga tabib itu.
"Kalian harus bisa menyembuhkannya, jika tidak kepala kalian menjadi taruhan!" Desisnya mengancam, membuat ketiga tabib iti langsung bergetar ketakutan.
Ketiga tabib itu dengan gemetar langsung kembali memeriksa dan mencoba mengobatinya. Hingga satu jam lamanya, namun tak ada tanda-tanda Ying Hua yang membaik dan justru semakin memburuk.
"Y-yang mulia." Salah satu dari tabib itu yang memegang denyut nadi Ying Hua berucap gemetar, ketakutan mereka berkali lipat. Ketegangan di ruangan itu bertambah. Mereka saling tatap, sebelum kedua tabib lainnya mundur dan bersimpuh. Meletakkan kening mereka di lantai.
Rahang Zhuo Zu semakin mengeras dengan gigi yang bergemeletuk. Kedua tangannya yang bertaut di belakang punggung mengepal erat. Tatapanya semakin tajam dan menusuk tabib yang berbicara padanya.
Tabib itu meletakkan tangan Ying Hua di atas perut gadis itu. Ia pun mundur dan bergabung bersama dua rekannya. Duduk bersimpuh dengan kepala yang menunduk dalam. Kepalanya menggeleng lemah, memberitahukan jika usaha mereka telah gagal.
"Maafkan kami yang telah gagal yang mulia. Nona telah pergi."