Ying Hua naik ke atas kuda, menarik tali kekang dan menjalankannya untuk sejajar dengan Huo Ying dan Jenderal Eng Li. Ia berada di tengah-tengah keduanya.
"Kenapa tidak bersama pangeran Hong Hui di kereta?" Tanya Huo Ying saat menyadari kehadiran Ying Hua.
"Saya lebih suka naik kuda." Jawab Ying Hua sopan, "Lagipula ini memudahkan saya menghalau musuh jika datang menyerang."
"Aku tidak menyangka jika si jelek ini ternyata lumayan hebat." Eng Li tersenyum begitu lebar, hingga rasanya Ying Hua ingin sekalian merobek mulut si Jenderal itu.
Ying Hua hanya melirik sekilas Eng Li. Tak berniat sekalipun membalas ucapan menyebalkan pria itu. Wajahnya kini tampak datar dengan pancaran rasa kesal di mata hitamnya.
Kini mereka melanjutkan perjalanan. Meninggalkan hutan dan mulai menapaki pemukiman. Semua orang segera menyingkir guna memberi mereka jalan. Seolah mengerti jika yang saat ini mereka adalah bukan orang biasa. Tebakan mereka tak salah karena yang tengah melewati pemukiman mereka adalah rombongan sang penguasa negeri Anming.
Tiga pemukiman sudah terlewati dengan mudah. Dan kini mereka memasuki pemukiman keempat. Hari mulai petang, dan mau tak mau mereka berhenti disana. Mencari sebuah penginapan di pemukiman untuk sejenak bermalam dan beristirahat di sana.
Huo Ying turun dari kudanya saat melihat sebuah penginapan yang cukup besar. Ying Hua ikut turun, di ikuti oleh Eng Li. Kemudian gadis itu berjalan mendekat ke kereta kuda yang di naiki oleh pangeran Hong Hui, melihat anak didiknya tersebut. Dan senyumannya mengembang saat melihat sang pangeran ternyata tengah terlelap.
"Hamba sudah menyewa seluruh kamar yang kosong di penginapan itu yang mulia." Kata Huo Ying setelah kembali ke penginapan yang di sewanya.
Zhuo Zu hanya mengangguk, kemudian ia menoleh ke dalam kereta, melihat permaisuri yang hendak turun di bantu oleh dayang pribadinya. Setelah itu, ia menggulirkan tatapan matanya melihat ke arah kereta kuda yang di tumpangi oleh putranya. Dan matanya tanpa sengaja bersinggungan dengan mata Ying Hua.
Ying Hua berdeham kecil ketika matanya bersirobok dengan mata tajam Sasuke. Dengan cepat ia melepas tatapan mereka, ia langsung naik ke dalam kereta dan menggendong Hong Hui. Menghela nafas pelan, ia berjalan ke arah Huo Ying dengan Hong Hui di punggungnya.
"Seharusnya kau membangunkannya dan tak harus menggendongnya. Ia bisa bersikap manja jika terus seperti itu." Fen yang berdiri di samping Zhuo Zu bersuara. Permaisuri yang kini mengenakan pakaian sederhana namun tetap terlihat mewah itu menatap Ying Hua datar.
Ying Hua menunduk sejenak memberi salam sebelum menjawab, "Saya hanya tidak tega membangunkannya yang mulia. Pangeran terlihat sangat lelah." Ucapnya kalem.
"Dia bisa manja jika seperti itu. Kau gurunya, seharusnya bisa mendidiknya dengan tegas. Dia adalah calon penerus kerajaan, jika selalu bersikap manja, akan jadi apa kerajaan Anming nanti." Sindir Fen tajam.
Ying Hua menunduk dalam-dalam, "Mohon maafkan hamba permaisuri. Lain kali hamba akan lebih tegas lagi." Ungkapnya halus.
Fen tak lagi menjawab. Ia hanya melirik ke arah Ying Hua. Setelahnya meluruskan kembali pandangan kedepan.
"Sebaiknya kita segera beristirahat untuk perjalanan besok yang mulia. Mari.." Ujar Huo Ying sembari mempersilahkan junjungannya untuk berjalan lebih dulu.
Zhuo Zu segera berjalan tanpa kata, di ikuti Fen dan pelayannya. Sedangkan Ying Hua di belakang mereka bersama Huo Ying dan Jenderal Eng Li.
Ying Hua memasuki kamar di depan kamar yang di masuki oleh Yang Mulia dan Permaisuri. Ia segera membaringkan tubuh Hong Hui ke dipan dengan pelan. Setelahnya berjalan menutup pintu. Sebenarnya ia sudah di pesankan kamar lain oleh Huo Ying, namun ia memilih sekamar dengan Hong Hui karena enggan untuk berjalan lagi.
Ying Hua meletakkan pedangnya di dinding dekat jendela, setelahnya ia duduk di kusen pintu. Menatap orang yang berlalu lalang di bawah. Karena kamar yang di tempati oleh pangeran berada di lantai dua.
Ying Hua diam dengan tatapan yang tampak asik melihat-lihat ramainya jalanan luar. Hari beranjak petang. Lampion dari rumah penduduk dan pedagang di pinggir jalan mulai di nyalakan. Suasana tampak indah, terlebih sekarang terlihat jika di perkampungan itu tengah ada festival musim panen. Ia tersenyum, mengalihkan tatapan matanya menatap Hong Hui. Kemudian beranjak dari sana dan memutuskan untuk membersihkan diri.
~•••••~
"Maaf tuan. Penyerangan kemarin malam juga gagal."
Pria bertopeng tengkorak itu mendesis marah. Ia menatap anak buahnya yang baru saja menghadap penuh emosi dan kekesalan. Ia mendekat, menampar pipi pria bercadar hitam itu kuat-kuat.
"Dasar tidak becus!!" Semprotnya dengan kekesalan yang memuncak. Ia menggeram, menatap tajam sang anak buah, "Kenapa bisa gagal?"
"Wanita yang sama saat kita menyerang Yang Mulia di kedai waktu itu tuan."
Geraman tertahan terdengar keluar dari mulut pria bertopeng tengkorak itu. Kedua tangannya terkepal, hingga urat tangan yang ada di punggung lelaki itu terlihat.
"Satu lagi orang yang ada di sisi penguasa bodoh itu." Desisnya tajam.
"Wanita itu bukan wanita sembarangan tuan, ilmu bela dirinya cukup tinggi. Hingga kita sangat kesulitan melumpuhkannya. Jika kita ingin membunuh Yang Mulia Zhuo Zu. Kita harus menyingkirkannya terlebih dulu." Jelas anak buah tersebut.
Sang tuan itu termenung memikirkan usulan dari anak buahnya. Ia membalikkan badan, menatap beberapa pohon besar yang ada di hadapannya. Udara dingin malam di hutan yang berhembus tak berhasil membuat amarahnya menurun.
"Kau benar, kita harus menyingkirkan orang-orang di sekitar pria b*****h itu terlebih dahulu sebelum mengoyak habis tubuhnya."
Hening melanda sejenak, membuat suasana malam di hutan itu semakin mencengkam dari sebelumnya.
"Aku ingin kau membuat rencana bersama anak buahmu untuk menyingkirkan wanita sialan itu. Dan jangan sampai gagal, Meng." Kata sang tuan dengan nada yang dingin dan mengancam.
"Baik tuan. Saya mengerti."
~•••••~
Ying Hua mengambil satu pakaian yang di berikan oleh Indra pada malam sebelum mereka. Ada dua warna, yang pertama ungu dengan lapisan dalam hijau dan terlihat berat sedangkan yang satu berwarna merah muda dan lebih tipis. Ia mengambil pakaian yang berwarna merah muda, lalu memakainya dengan cepat.
Ying Hua menatap Hong Hui yang masih terlelap, menghela nafas pelan, di hampirinya anak didiknya itu. Ia menggoyangkan bahu Hong Hui sedikit kuat namun tetap lembut. Mencoba membangunkan sang pangeran.
"Ibu.."
Ying Hua mengulas senyum, "Bangun dan bersihkan dirimu. Di luar ada perayaan, kau tak ingin melihatnya bersamaku?" Ujarnya lembut.
"Perayaan?" Mata Hong Hui mengerjap menyesuaikan penglihatan, "Kita ada dimana sekarang?"
"Di penginapan, sudah jangan banyak bertanya, ayo cepat sebelum terlalu malam dan keadaan semakin ramai."
Dengan sedikit malas Hong Hui bangun. Setelahnya ia berdiri dan berjalan keluar menuju kamar mandi yang di beritahukan Ying Hua.
Ying Hua menatap pintu yang menelan punggung Hong Hui. Kemudian ia mendudukkan diri di kursi meja rias. Menatap pantulan wajahnya yang sedikit pucat. Setelah itu ia mulai berias diri dan berkutat dengan rambut panjangnya. Mengandalkan apa yang tersedia di sana, Ying Hua menghias rambutnya sedemikian rupa hingga membuatnya terlihat begitu cantik.
Ying Hua menyelesaikan ikatan terakhir di ujung rambutnya. Kemudian ia menatap pantulan diri di cermin. Sedikit puas dengan hasil riasannya. Tak sia-sia ia belajar merias diri dari kakak tirinya dulu meski sedikit enggan. Kini ia tampak sedikit berbeda. Bersamaan dengan itu, pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok tegap yang sedikit mematung di depan pintu.
Zhuo Zu menatap gadis yang tak menyadari kehadirannya. Gadis itu tampak asik memperhatikan diri sendiri di depan cermin. Bergelung dengan lamunannya sendiri. Sedikit ada raut sendu di wajah yang terpantul di depan cermin itu. Sinar kesenduan yang di lihatnya pada malam sebelum berangkat pergi. Sinar kesenduan yang terpatri sebelum Hong Hui menghampiri wanita itu di malam dua hari yang lalu. Ia mendekat ke arah guru sang anak, berdiri di belakangnya. Menatap dalam diam gadis yang kini mulai tersadar dengan ke hadirannya. Menikmati raut terkejut yang di tampilkan oleh wajah cantik yang berbeda malam ini.
Ying Hua yang melihat seseorang di balik cermin segera berdiri dan membalikkan badannya. Menatap orang tersebut dengan rasa keterkejutannya. Dan lagi, mata hitam kelamnya terpaku dengan mata bening dan terang milik orang tersebut. Seolah membuatnya tenggelam dalam beningnya mata itu. Membuatnya jatuh, jatuh kedalam dan ingin menjelajah mata berkilau tersebut.
Tersadar dengan apa yang ia lakukan, Ying Hua kembali berdeham, menetralisir rasa aneh yang menjalar setiap ia bersinggungan dengan mata Yang Mulia. Dengan segera ia mengalihkan tatapannya, menunduk menyembunyikan wajahnya yang sedikit memerah tanpa sebab. Ia berusaha keras menahan ekspresi tenang guna menyembunyikan kegugupan yang tiba-tiba melanda.
"Dimana Hong Hui?"
Butuh beberapa saat untuk Ying Hua mengumpulkan suara, berdeham sekali lagi, lantas ia segera menjawab, "Pangeran sedang membersihkan diri."
Zhuo Zu diam tak lagi menyaut. Namun tatapannya masih setia menghunus wajah ayu Ying Hua, seolah betah menatap gadis cantik tersebut. Hal yang membuat Ying Hua semakin gugup dan ia menyadarinya. Meski begitu, dirinya tak sekalipun berniat memutuskan pandangan.
Beruntung, tak lama dari itu pintu kembali terbuka. Hong Hui yang datang dengan wajah yang sudah segar kembali. Raut lelahnya hilang dan di ganti dengan raut semangat. Bahkan berkali lipat ketika melihat penampilan gurunya itu. Dengan penuh bangga ia mengangkat tangannya. Menunjukkan ibu jari kecilnya ke atas.
"Cantik." Katanya dengan senyum lebar hingga deretan giginya terlihat. Sekilas, dirinya mirip dengan ibu kandungnya yang telah tiada dan membuat Zhuo Zu terdiam dengan tubuh yang sedikit tegang.
"Wah.. sudah ku duga jika pakaian ini sangat cantik dan indah jika kau pakai, ibu." Ujar Hong Hui semangat, ia berjalan mendekat ke arah Ying Hua dan ayahnya, "Sangat mempesona." Imbuhnya dengan tatapan yang mengarah pada Zhuo Zu.
Ying Hua memutar kedua bola matanya bosan, ia tersenyum malas, "Aku memang selalu mempesona jika kau tahu."
Hong Hui mencibir, "Terlalu percaya diri sekali."
Ying Hua bersedekap, menatap Hong Hui seolah menggurui, "Itu sangat penting pangeran."
"Aku menyesal memujimu." Hong Hui mendengkus, menatap Ying Hua dengan kesal. Setelah itu ia mengalihkan perhatiannya pada sang ayah, "Ada apa ayahanda kemari?"
Zhuo Zu terdiam sejenak, "Makan malam." Ucapnya kemudian sebelum berjalan keluar, meninggalkan sang putra dengan gurunya.
Hong Hui dan Ying Hua saling tatap, kemudian Ying Hua tersenyum begitu manis sambil mengusap kepala Hong Hui saat melihat senyum tertahan dari bibir pangeran kecil itu.
"Makanlah," ucapnya kalem.
Hong Hui mengangguk, kemudian ia meraih tangan Ying Hua dan menggenggamnya. Mengajaknya berjalan keluar.
"Tunggu, kenapa kau mengajakku?" Tanya Ying Hua memberhentikan langkahnya.
Hong Hui menoleh, "Kenapa tidak?"
"Itu makan malam anggota keluarga istana. Aku tidak bisa ikut. Aku akan malam bersama tuan Huo Ying dan Jenderal Eng Li."
Hong Hui menghendikkan bahunya acuh, "Kau keluargaku. Dan aku akan makan malam denganmu juga."
"Pangeran Hong Hui!"
Hong Hui kembali berdecak, "Ayolah ibu, jangan mempersulit ini." Rengeknya kesal. Ia menyeret kembali tangan gurunya itu.
Ying Hua menghela nafas pasrah, mau tak mau mengikuti keinginan anak didiknya. Meski hatinya merasa tak enak, tapi ia bisa apa? Menolak pun sudah percuma.
Pintu kamar tempat ayahandanya tidur pun terbuka, Hong Hui segera masuk dengan menyeret Ying Hua. Membuat permaisuri yang menghidangkan makanan untuk yang mulia terkejut.
"Kenapa kau mengajaknya kemari pangeran?" Tanya Fen lembut, meski terselip rasa tak suka yang tidak ia sembunyikan.
Ying Hua selepaskan tangan yang di pegang Hong Hui. Ia memberi salam pada Yang mulia dan permaisuri.
Hong Hui tak segera menjawab, ia yang melihat Ying Hua telah selesai dengan salamnya segera mendorong Ying Hua untuk segera duduk berhadapan dengan ayahnya. Setelahnya ia mendudukkan diri di samping Ying Hua.
Fen yang melihat itu menatap tajam Ying Hua. Sedangkan Ying Hua yang merasakan tatapan menghunus Fen hanya bisa terdiam dan mencoba bersikap setenang biasanya meski dirinya kini merasa tak nyaman.
Menghela nafas sepelan mungkin, Fen menekan kekesalannya. Terlebih saat suaminya itu tak mau tahu dengan keberadaan orang asing di sekitar mereka. Suaminya tersebut tetap tenang sembari menyesap teh dari cawan miliknya.
Fen mengangsurkan satu mangkuk makanan berisi nasi dan lauk pauk yang di ambilnya untuk sang suami. Setelahnya ia mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Dan saat ia hendak memasukkan daging sapi berbumbu, sebuah suara mengintrupsi dan membuat gerakan tangannya terhenti.
"Tunggu!" Ying Hua menatap sang raja yang hendak memakan ikan goreng yang di ambilnya dari mangkuk, tangan gadis itu terulur memegang lengan kekar berbalutkan pakaian berwarna putih itu.
"Apa yang kau lakukan?!" Tanya Fen sedikit murka. Ia menatap tajam Ying Hua yang tetap tenang dengan tangan memegang lengan Zhuo Zu dan menatap makanan yang ada di tangan pria itu.
Ying Hua tak mengindahkan, ia dengan sedikit lancang merebut makanan yang ada di tangan Zhuo Zu. Mengendus bau dari ikan dan makanan yang ada di mangkuk tersebut. Lalu Tatapannya beralih menatap satu pelayan yang berdiri di samping permaisuri.
"Bisa panggilkan pelayan yang membawa makanan kemari dan juga yang memasaknya?" Kata Ying Hua dengan suara yang halus nan tenang.
Daiyu menatap permaisuri yang melotot pada Ying Hua. Ia menelan kering. Tak tahu harus bersikap seperti apa.
"Kau tak mendengar ucapan ibu?" Hong Hui menyahut karena tak mendapati pergerakan dari pelayan permaisuri tersebut.
"T-tapi.."
Belum sempat Daiyu melanjutkan bicaranya, permaisuri menyela, "Dia pelayanku pangeran, hanya aku yang bisa menyuruhnya." Ungkapnya tenang.
Hong Hui hendak bersuara, namun di tahan oleh lengan Ying Hua. Dan gadis itu menoleh ke arah pintu lalu berteriak sedikit keras.
"Penjaga!!"
Satu penjaga yang berjaga di depan pintu kamar Zhuo Zu masuk kedalam dan memberi hormat pada Zhuo Zu dan permaisuri.
"Tolong panggilkan pelayan yang membawa makanan ini dan juga juru masaknya. Dan juga carikan satu hewan apa saja yang masih hidup!" Kata Ying Hua tenang nan halus. Namun siapapun yang mendengar seolah enggan untuk menolaknya.
Penjaga mengangguk patuh, dengan segera melaksanakan apa yang di katakan oleh Ying Hua.
"Sebenarnya apa yang sedang ingin kau lakukan?" Desis Fen marah. Sedikit tak terima dengan apa yang di lakukan oleh Ying Hua. Ralat? Ia memang sangat tak terima.
Ying Hua menatap permaisuri dengan ketenangan yang sama, "Anda akan tahu nanti." Jawabnya kalem.
Fen menatap tajam Ying Hua, namun Ying Hua mengabaikannya. Sedangkan Zhuo Zu juga turut menatap wajah ayu Ying Hua, namun dengan pancaran mata yang tetap tenang dan datar. Dan Hong Hui, pangeran kecil itu menatap Ying Hua dengan pandangan bingung. Tak mengerti sikap Ying Hua yang terlalu berani pada ayahnya.
Pintu kembali terbuka dan empat sosok masuk kedalam. Tiga wanita dan satu laki-laki yang merangkap sebagai penjaga pintu kamar raja itu berjalan mendekat ke arah Ying Hua berada. Tiga wanita itu menunduk sedangkan penjaga membawa satu ekor kelinci cukup besar dan menyerahkannya pada Ying Hua.
Ying Hua menerimanya, ia sedikit mengelus bulu halus kelinci itu. Dalam diam ia mengangsurkan ikan dan nasi yang ada di mangkuk makanan yang di rebutnya dari sang raja itu pada si kelinci. Kelinci itu mencium sebentar, sebelum akhirnya melahap makanan itu.
Baru seperempat makanan yang di makan oleh kelinci itu, tiba-tiba kelinci bergerak gelisah. Hingga Ying Hua terkena cakaran di punggung tangannya. Ying Hua tak meringis, ia hanya melepaskam kelinci yang terlihat bergerak agresif itu. Hingga perlahan tubuhnya melemah dan tergeletak begitu saja. Dengan tubuh putih yang perlahan tergenang oleh darah merah yang berasal dari tubuh kelinci itu.
Ying Hua menghembuskan nafas, menatap tiga wanita yang menunduk dalam dan terkejut dengan apa yang terjadi. Dan sekali tatapan ia sudah menduga satu hal apa yang terjadi.
"Bisa kalian jelaskan ini?"