Yang mulia Zhuo Zu menghela nafasnya samar, rambut panjangnya yang tergerai bergoyang lembut mengikuti semilir angin malam. Matanya menyorot datar kedepan, menatap bias lampu lentera yang menerangi taman kediamannya. Lama ia larut dalam lamunannya, raja penguasa kerajaan Anming itu kembali mengambil napas. Kali ini ia mengeluarkannya dengan lebih keras. Sebelum kemudian ia berbalik dan berjalan keluar. Langkah kakinya bergerak ringan, tanpa suara seperti biasanya. Malam sunyi yang hanya terdengar suara serangga malam menambah ketenangan di kediaman raja.
Langkah Zhuo Zu berhenti di persimpangan koridor. Mata hazelnya melirik sekitar. Memandang masing-masing lorong penghubung kediaman penghuni istana lain. Namun akhirnya ia berbalik, kembali ke kediamannya dan berbelok ke lorong sisi kiri, menuju ke taman dekat kamar yang ditinggali oleh Ying Hua saat ini.
“Ibu.”
Langkah Zhuo Zu berhenti. Kepalanya menoleh ke sumber suara yang di tangkap oleh indra pendengarannya. Dia berjalan lebih dekat ke arah dua orang yang di lihatnya. Dan berdiri tak jauh dari mereka.
“Apa yang kau lakukan disini?”
Suara halus milik Ying Hua menyapa Zhuo Zu.
“Tidak bisa tidur. Aku berjalan-jalan kesini dan menemukanmu.”
“Jangan berbohong pangeran.”
“Maaf. Tapi aku benar-benar tidak bisa tidur.”
“Kembalilah ke kamarmu pangeran. Jka ayahandamu tahu, ia akan marah karena kau melangar perjanjian.”
“Tak masalah, justru aku akan malah sangat sering membuatnya marah dan sedikit perhatian padaku”
Zho Zu tertegun mendengar jawaban bernada datar dari anaknya. Rahangnya mengeras, dengan kedua tangan yang terkepal erat di belakang punggung. Terdengar decakan yang cukup keras, membuat perhatian Zhuo Zu teralihkan.
“Sudah berapa kali aku bilang, bukan begitu caranya kau bisa dekat dengan yang mulia kembali. Gunakan otak cerdasmu!”
Tangan Ying Hua yang terayun memukul kepala Hong Hui yang disusul suara Hong Hui yang megaduh menjadi pusat perhatian hazel Zhuo Zu.
“Saran Ibu sangat lambat sekali, dan itu tidak seru!” protes Hong Hui.
“Terserahlah.” Jawab Ying Hua malas.
Keadaan hening setelahya. Tak ada yang bersuara. Dan Zhuo Zu masih setia berdiri dengan tatapan yang mengarah pada dua orang yang kini juga membisu. Memandang sang anak yang menatap lekat gurunya.
“Berhenti menatapku!” Suara Ying Hua kembali terdengar.
“Tidak mau, aku betah menatap Ibu.”
“Aiissh.. Beruntung kau masih bocah, jika tidak aku pasti akan menyuruhmu segera menikahiku.”
Hong Hui tertawa, dan Zhuo Zu merasakan hangat di dalam dirinya yang telah lama menghilang. Suara tawa putranya masih sama. Terdengar begitu merdu. Entah kapan dia terakhir kali melihat dan mendengar gelak tawa putranya.
“Besok kau pasti akan ikut ayahanda ke kuil dekat bukit selatan. Aku ingin Ibu memakai ini.”
Zhuo Zu melihat putranya memberikan sesuatu pada Ying Hua
“Memangnya disana ada apa?”
“Perayaan musim panen tahunan yang di adakan oleh pemimpin padepokan bukit selatan tempat ayahanda dulu berlatih. Biasanya setiap tahun, ayahanda akan menyempatkan diri untuk datang kesana bersama permaisuri.”
“Kau ikut?
“Tahun-tahun sebelumnya tidak pernah semenjak Ibunda meninggal, tapi untuk tahun ini pengecualian.”
“Kenapa?”
“Rahasia.”
“Sudah sebaiknya kau segera pergi dan kembali kekamarmu!”
“Selamat malam Ibu.” Hong Hui terlihat mengecup pipi Ying Hua.
Mata Zhuo Zu mengikuti kemana perginya Hong Hui. Kemudian ia mendekat. Berbicara sedatar mungkin seperti biasa pada gadis yang memandang punggung putranya menghilang di balik dinding istana.
“Kalian melanggar perjanjian.”
Zhuo Zu bisa menangkap keterkejutan gadis itu, Namun hal itu tak bertahan lama. Gadis itu segera bisa menguasai situasi. Terbukti saat gadis itu segera memberi hormat dan memasang wajah tenang miliknya.
“Mohon ampun Yang Mulia, Pangeran Hong Hui hanya mengantarkan ini pada saya.” Ying Hua memperlihatkan pemberian Hong Hui pada Zhuo Zu.
Zhuo Zu tak menjawab dan hanya melirik sekilas. Lalu memilih berbalik dang memunggungi Ying Hua, “Ambilkan aku sepoci arak bunga mawar.” Ucapnya datar.
“Baik Yang Mulia.”
Zhuo Zu menoleh lewat bahu guna melirik Ying Hua. Lalu ia berjalan meninggalkan Ying Hua sendiri dan menuju kamarnya. Menanti keinginannya di bawakan oleh pelayan pribadinya itu. Sedangkan Ying Hua, setelah punggung Zhuo Zu menghilang dari pandangan, gadis itu menghela napas lega. Lalu segera melangkah menuju dapur untuk mengambilkan apa yang diinginkan oleh junjungannya tersebut.
~•••••~
Sekelebat bayangan Zhuo Zu memutar memikirkan kejadian tadi malam di saat dirinya tengah berjalan-jalan di taman. Dimana sosok sang anak yang tampak akrab bersenda gurau dengan gadis yang kini merangkap menjadi pelayan pribadinya selama tiga bulan. Wajah gembira itu, raut bahagia itu. Mau tak mau sedikit mengusik hatinya dan membuatnya merasa tenang. Meski ada setitik rasa sakit yang tidak bisa ia jabarkan.
Kedua tatapan mata Zhuo Zu kini terjatuh pada hiasan rambut yang tengah di pegangnya. Perhiasan itu adalah milik mendiang permaisuri pertama. Sebuah perhiasan yang di buatnya sendiri dan di berikannya secara khusus untuk sang pujaan hati. Dan menjadikannya sebuah benda yang sangat di sayangi oleh pemiliknya itu.
Ibu jari Zhuo Zu mengelus mahkota perhiasan itu. Wajah datarnya tampak sendu. Pancaran kesedihan terlihat jelas di balik mata hazel beningnya. Dalam lamunannya, kepalanya kembali mengenang sosok yang sampai sekarang masih menguasai hatinya meski telah tiada.
Zhuo Zu menghela nafas, kemudian ia meletakkan hiasan rambut itu pada kain coklat yang berada di atas meja kerjanya. Membungkus rapi benda itu, kemudian meletakkannya pada kotak yang berisi satu gulungan kertas. Setelahnya ia menutup kotak itu dan meletaknya di rak buku di sudut ruangan.
Zhuo Zu berbalik, kembali mendudukkan diri di depan meja kerjanya. Tatapannya kini terfokus pada benda yang kini terletak di sudut meja. Di raihnya benda tersebut, kemudian membersihkannya dengan sapu tangan karena telah berdebu. Benda itu adalah hiasan yang di buatnya sebelum sang permaisuri tiada. Sehingga debu mengotori benda indah itu karena telah lama di biarkan begitu saja.
Zhuo Zu meniup pelan hiasan rambut yang di buatnya dari giok berwarna ungu dan putih s**u tersebut. Di raihnya sikat pembersih batu, lalu menggosokkannya di pinggiran perhiasan setengah jadi itu. Kini hiasan rambut itu kembali bersih dan tampak cantik. Membuat Zhuo Zu sedikit mengangkat sudut bibirnya kala mengingat alasan kenapa ia membuat dan memilih warna batu indah itu. Kini, ia memiliki alasan lain untuk melanjutkan pembuatannya setelah sekian lama ia biarkan.
~•••••~
Hong Hui berdecak, sedangkan Ying Hua tertawa merdu sembari mengejek dirinya. Membuat kekesalan bocah itu berlipat ganda. Wajahnya yang biasa datar itu tampak merengut kesal. Ya, hanya dengan Ying Hua bocah itu bisa berekspresi.
Ying Hua berdeham, menyilangkan poni rambutnya kebelakang telinga. Senyum merekah menghiasi bibirnya. Ia meraih kaki Hong Hui yang terluka, membebatnya menggunakan sapu tangan miliknya. Penuh kehati-hatian dan kelembutan.
Kini mereka berada di tengah hutan. Mendirikan tenda dan bermalam disana. Mengistirahatkan diri karena seharian melakukan perjalanan menuju kuil bukit selatan. Perjalanan menuju kesana memakan waktu tiga hari dua malam. Sehingga mau tak mau mereka harus beristirahat kala tubuh sudah merasa lelah.
Hong Hui menatap Ying Hua yang telaten merawat luka akibat terjatuh dari pohon kala dirinya berniat mengintip apa yang di lakukannya bersama dengan sang ayah. Dengan seksama ia menatapi wajah ayu nan manis itu. Sama, semua kelembutan yang di berikan oleh gurunya itu sama persis dengan kelembutan milik ibunya. Membuatnya menjadi semakin rindu pada sosok sang ibunda yang telah lama pergi meninggalkannya. Tak terasa, setetes air mata keluar dari matanya dan dengan segera ia menghapusnya.
Ying Hua mendongak setelah selesai, ia mengacak gemas rambut pangeran kecil itu. Tak peduli jika ayah dari sang pangeran berdiri di belakangnya. Ia sudah cukup gemas untuk sekedar mengacak rambut atau bahkan memukul kepala bocah 9 tahun itu.
"Sebaiknya kau istirahat di tendamu sekarang." Ying Hua berdiri, bersedekap menatap Hong Hui yang masih menunduk, "Ini sudah malam, akan bahaya jika kau keluyuran terlebih di tengah hutan seperti ini."
Hong Hui mendongak, tatapan matanya jatuh pada Ying Hua, kemudian ia menatap sang ayah yang sedari tadi bungkam.
"Aku ingin tidur dengan Ayahanda." Katanya sedikit merengek.
Ying Hua menggelengkan kepalanya, kemudian ia menatap Zhuo Zu yang kini tengah menatap putranya.
Tangan Zhuo Zu terulur, meminta sang anak untuk menyambut tangannya. Lalu dengan senyum lebar Hong Hui meraih tangan kekar itu. Berdiri perlahan karena luka di kakinya, ia berjalan tertatih-tatih di samping ayahnya yang menyamakan langkah kakinya dengan sang anak.
"Sebaiknya kau juga istirahat ibu." Kata Hong Hui sebelum menghilang di balik tirai tenda.
Ying Hua tersenyum lembut mendengar dan melihat itu. Kemudian ia mendongak, menatap rembulan yang terang seolah mengejeknya. Mendengkus samar, lantas ia segera menuju ke arah tendanya yang bersampingan dengan tenda Huo Ying.
Ying Hua merebahkan diri di matras yang tersedia. Ia meletakkan pedangnya di samping tubuhnya. Menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, Ying Hua lantas segera memejamkan mata.
Baru beberapa saat hendak terlelap, Ying Hua merasakan sebuah pergerakan di belakang tubuhnya. Kedua matanya terbuka lebar, melirik sejenak kebelakang lewat bahu, tanpa babibu lagi ia menyerang sosok di belakangnya.
"Aduh."
Ying Hua terkesiap, ia segera melepaskan cekalan tangannya dari sosok yang tidur menyusup di belakangnya. Ia menghela nafas antara lega dan kesal. Di pukulnya pelan kepala bocah tersebut.
"Kenapa kau ada disini?"
Hong Hui memasang wajah muram. Ia menatap Ying Hua dengan kekesalan yang di simpannya untuk sang ayah.
"Aku mau tidur disini." Katanya ketus.
Ying Hua mengangkat sebelah alisnya, ia merasa heran, "Bukankah kau tadi bersemangat untuk tidur bersama yang mulia?"
"Tidak lagi."
"Kenapa?"
Hong Hui tak langsung membalas, ia membalikkan badan memunggungi Ying Hua, menarik selimut sebatas bahu, "Ayahanda ternyata satu tenda dengan permaisuri."
Ying Hua menghela nafas, ia dirinya kemudian membaringkan badannya menghadap punggung pangeran Hong Hui. Beberapa minggu tinggal di istana membuatnya tahu dan mengerti hubungan sang pangeran dan permaisuri kedua. Karena hal itu, ia tak akan membahas lebih banyak lagi tentang sangkut pautnya permaisuri sekarang dengan yang mulia.
"Tidurlah," gumam Ying Hua lembut, ia merengkuh tubuh mungil itu dalam dekapannya. Mencium lembut kepala sang murid seolah itu adalah anak kandungnya sendiri. Kehilangan ibu sejak kecil dan tidak merasakan kasih sayang yang cukup dari sang ayah membuatnya paham dengan situasi yang di alami oleh anak didiknya.
Karena mereka mengalami hal sama, namun dengan alasan yang berbeda.
'Setidaknya Yang mulia masih memiliki kasih sayang untuk Indra.' Benaknya berbicara.
Di luar tenda Ying Hua, Zhuo Zu menatap dua sosok yang tidur membelakanginya. Kedua tangannya seperti biasa bertaut di belakang punggung. Wajahnya yang tak berekspresi membuat semua orang tak tahu apa yang tengah ada di dalam pikirannya. Ia menghela rendah, dengan tatapan yang terus menatap dua sosok yang terlelap itu.
Cukup lama ia berdiri disana, hingga ia berjalan masuk ke tenda Ying Hua dan mendekati dua sosok itu. Berjalan memutari matras, dan berakhir duduk di samping Hong Hui yang terlelap damai bersama Ying Hua yang juga sama terlelapnya. Nafas keduanya teratur, tak terusik dengan kedatangannya yang memang tanpa suara.
Tangan kanan Zhuo Zu terulur mengelus surai hitam putranya. Dalam keheningan malam dan kesunyiannya, ia betah menatap wajah yang hampir sama dengan dirinya. Tak sedikit pun niat ia mengalihkan perhatian, hingga pergerakan dari sosok di belakang putranya itu sedikit mengalihkan atensinya.
"Kak Guo Zhi.."
Zhuo Zu diam melihat wajah sendu yang terlihat di wajah lelap guru anaknya itu. Keringat dingin mulai menghiasi dahi lebar gadis tersebut. Keningnya beberapa kali mengkerut karena ketidaknyamanan dalam lelapnya. Nafasnya memburu, dan kepalanya sesekali bergerak gelisah.
"Ayah, maaf.."
Lagi, bibir itu bergumam dengan bergetar. Keresahan dan kesedihan terlihat jelas di sana. Terlebih dengan air mata yang merembes keluar dari matanya yang terpejam. Mengisyaratkan jika apa yang di mimpikannya terlihat sangat menyedihkan.
Tangan Zhuo Zu meninggalkan surai hitam putranya dan beralih menyeka kening penuh keringat dingin milik Ying Hua. Mengelus penuh kelembutan yang sama seperti dirinya mengusap kepala sang putra. Entah kenapa ia melakukan itu, namun hati terdalamnya seolah menyuruhnya melakukan hal tersebut. Terlebih saat melihat air mata yang merembes keluar dari wanita tangguh yang pernah di temuinya itu.
Keadaan Ying Hua berangsur tenang. Wajahnya yang tadi menyiratkan kesedihan perlahan menghilang. Nafas memburunya pun sedikit demi sedikit menjadi teratur. Gadis itu kembali terlelap dengan damai seperti sebelumnya.
Zhuo Zu menghela nafas pelan, tangannya masih setia menyentuh rambut lembut Ying Hua. Setelahnya ia menarik tangan tersebut. Tatapannya pun beralih menoleh ke luar jendela tenda yang tak tertutup. Menatap gelapnya luar yang di terangi beberapa obor api.
Tak beberapa lama dari itu, mata Ying Hua sedikit terbuka, ia mengubah posisinya menjadi terlentang. Kemudian terperanjat kaget saat ia samar melihat seseorang. Dan ketika ia menoleh ke arah tersebut, keterkejutannya berkali lipat. Dengan segera ia mendudukkan diri.
"Yang mulia." Mata Ying Hua seakan ingin keluar karena rasa terkejutnya.
"Jangan berisik, kau bisa membuatnya bangun." Kata Zhuo Zu tenang tanpa melihat ke arah Ying Hua. Ia masih tetap melihat luar jendela seolah hal yang berada di luar begitu menarik.
"Sejak kapan anda ada disini, kenapa kemari?" Tanya Ying Hua saat tak bisa menahan rasa penasarannya, ia kini lebih memelankan suaranya.
Zhuo Zu tak lantas menjawab, ia hanya menoleh kearah Ying Hua sekilas sebelum kemudian menatap wajah damai putranya. Lalu kembali melihat keluar jendela, "Dia marah, dan aku memastikan dirinya tidak bertindak ceroboh." Ucap datar Zhuo Zu.
Ying Hua terdiam mengerti, cukup paham dengan maksud Zhuo Zu. Meski pria itu terlihat dingin dan kehilangan arah, ia masih bisa menangkap rasa khawatir dan sayangnya pada sang putra meski diam-diam.
"Sebaiknya anda istirahat, pangeran aman berada disini." Kata Ying Hua sopan. Berniat agar Zhuo Zu tak mengkhawatirkan putranya.
"Kau mengusirku?" Tanya Zhuo Zu membuat Ying Hua gelagapan.
"Bukan seperti itu maksud saya yang mulia. Hanya saja, ini sudah terlalu malam dan anda harus istirahat." Jawab Ying Hua sesopan mungkin, bermaksud agar tidak terjadi kesalah pahaman.
Zhuo Zu menoleh menatap Ying Hua dengan wajah datar dan tenang andalannya. Ia menatap langsung mata hitam milik Ying Hua dan membuat Ying Hua sedikit gugup. Meski begitu, gadis itu tetap betah dan berani membalas tatapan matanya. Tak seperti semua orang yang takut dengan pancaran matanya.
Cukup lama mereka saling bersitatap. Sebelum akhirnya Ying Hua tersentak dengan pandangan di belakang Zhuo Zu. Dengan segera ia menubrukkan diri ke arah Zhuo Zu sehingga keduanya terguling di tanah. Bersamaan dengan itu sebuah jarum dengan bandul kain merah menancap di tenda Ying Hua.
Nafas Ying Hua memburu dengan tatapan ke arah jendela yang terbuka. Sosok berpakaian hitam yang di lihatnya tadi telah menghilang. Kemudian ia menggulirkan tatapannya menatap jarum yang tertancap itu. Setelahnya ia menatap Zhuo Zu yang di bawahnya dan tengah menatapnya datar dari wajah sangat dekat. Bahkan nafas mereka saling menerpa wajah masing-masing.
"Apa yang kalian lakukan?"
Sebuah suara membuat Ying Hua kembali terkejut. Dengan segera ia bangkit dari tubuh Zhuo Zu dan menatap Hong Hui yang terbangun karena keributan yang terjadi. Dengan sedikit gagap ia menjelaskan apa yang terjadi.
"A-ada yang menyerang Yang Mulia tadi." Ucapnya sembari mengalihkan tatapanya dari Hong Hui dan sayangnya malah bertemu dengan mata bening Zhuo Zu. Ia pun kembali menatap Hong Hui dengan terpaksa.
Mata Hong Hui memicing menatap Ying Hua dan ayahnya bergantian, "Benarkah?" Tanyanya dengan nada yang panjang.
Ying Hua segera bangkit dari duduknya. Ia menepuk pakaiannya yang kotor. Berusaha mengabaikan tatapan menelisik anak didiknya.
"Ya." Jawabnya singkat.
Tatapan Hong Hui berbalik menatap ayahnya yang kini ikut bangkit berdiri, sebelah alisnya terangkat, "Jika ayah ingin memberiku adik tidak masalah jika itu dari ibu." Katanya santai. Membuat Ying Hua tersedak dengan ludahnya sendiri. Sedangkan Zhuo Zu hanya menanggapi itu dengan datar dan tenang seperti biasa.
Ying Hua segera mendekat ke arah Hong Hui dan memukul kepala bocah itu. Lagi-lagi tak peduli dengan sosok ayah dari muridnya itu. Kemudian ia meraih pedangnya dan berjalan keluar tenda.
"Hamba akan memeriksa siapa yang ingin menyerang anda tadi." Pamitnya sebelum berlari keluar tenda.
"Apa?" Tanya Zhuo Zu saat putranya masih setia menatap dirinya.
Hong Hui menghendikkan bahu, kemudian kembali membaringkan tubuh, "Ternyata mata ayahanda masih normal." Katanya sembari memejamkan mata.
Zhuo Zu mengerutkan keningnya mendengar itu. Setelahnya ia berjalan keluar, "Tetap berada di dalam. Keadaan di luar tak aman, ada penyusup." Ucapnya sebelum menghilang di balik tirai.
Mata Hong Hui kembali terbuka saat di rasa ia sudah sendiri. Sebuah seringai terpatri di bibirnya seketika. Kemudian ia terkikik-kikik sendiri.